Bendera One Piece dan Pesan Ulama: Antara Kritik Sosial dan Stabilitas Negara

Bendera One Piece

Belakangan ini, media sosial ramai dengan fenomena pemasangan bendera dari serial anime asal Jepang, One Piece, yang tampak berkibar di sejumlah rumah hingga kendaraan, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Aksi tersebut diduga merupakan bentuk ekspresi simbolik dari kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

Baca juga: Refleksi: Fenomena Konten S-Line, Saat Aib Justru Dijadikan Hiburan Publik

Aspek Hukum: Tidak Melanggar, Tapi Harus Berhati-hati

Secara hukum negara, tidak ada larangan khusus dalam pengibaran bendera dari cerita fiksi seperti One Piece di Indonesia. Namun, jika menyandingkan bendera tersebut dengan bendera Merah Putih, maka perlu memperhatikan aturan dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, yaitu:

  • Bendera Merah Putih harus dikibarkan lebih tinggi atau lebih besar
  • Tidak boleh merendahkan kehormatan bendera nasional

Dengan demikian, selama tetap menjaga kehormatan simbol negara, pengibaran bendera fiksi secara umum tidak melanggar hukum.

Baca juga: Pemimpin Amanah, Pelayan Umat

Pesan Imam Ahmad bin Hanbal

Di sisi lain, bicara soal ketidaksetujuan yang berakhir proses terhadap pemerintah, sebetulnya dalam peradaban sejarah Islam sudah pernah terjadi, salah satunya adalah ketika Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh al-Watsiq. Saat itu, para ahli fikih Baghdad bersepakat menemui Imam Ahmad bin Hanbal untuk membicarakan penyimpangan-penyimpangan Sang Raja, al-Watsiq, sekaligus rencana pemberontakan atas kepemimpinannya.

وقالوا له: إنَّ الأَمْرَ قد تَفاقَمَ وفَشَا، يَعْنُونَ إظْهارَ القَولِ بِخَلْقِ القُرآنِ وغَيْرِ ذلك، ولا نَرْضى بإمْرَتِه ولا سُلْطانِه. فَناظَرَهُم في ذلك

Mereka mengadu kepada Imam Ahmad: “Sesungguhnya perkara ini telah memuncak dan tersebar yaitu ucapan al-Quran adalah makhluk dan hal-hal lain yang tidak kami setujui dengan kepemimpinannya al-Watsiq”.

 Mendengar hal itu, Imam Ahmad menjawab:

وقال: عَلَيْكُم بالإِنكارِ بِقُلُوبِكُم، ولا تَخْلَعُوا يَدًا مِنْ طاعَةٍ، ولا تَشُقُّوا عَصا المُسْلِمينَ، ولا تُسْفِكُوا دِماءَكُم ودِماءَ المُسْلِمينَ مَعَكُم، وانظُرُوا في عاقِبَةِ أَمْرِكُم، واصْبِرُوا حَتّى يَسْتَريحَ بَرٌّ أو يُسْتَراحَ مِنْ فاجِرٍ. وقال: لَيْسَ هذا صَوابًا، هذا خِلافُ الآثارِ.

“Wajib atas kalian mengingkarinya hanya dalam hati kalian. Jangan melepaskan tangan kalian dari kepatuhan kepada pemimpin kalian. Janganlah memecah belah persatuan kaum Muslimin. Jangan menumpahkan darah kalian dan kaum muslimin. Renungkanlah akibat dari pemberontakan yang hendak kalian lakukan. Bersabarlah kalian sampai orang baik hidup tentram dan selamat dari bahaya orang-orang jahat. Pemberontakan ini merupakan tindakan yang tidak benar dan menyalahi ajaran para sahabat.” [Ibn Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyyah, vol. 1 hal. 221].

Dari peristiwa tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa ketidaksepakatan terhadap kebijakan pemimpin tidak harus meresponnya dengan tindakan yang berpotensi memecah belah umat atau mengancam stabilitas negara.

Baca juga: Ayat Pukul Istri Sering Disalahpahami—Ini Penjelasan Ulama

Keseimbangan antara Ekspresi dan Tanggung Jawab

Pengibaran bendera One Piece memang tidak termasuk tindakan pemberontakan. Namun, kita harus berpikir panjang dan bijaksana dalam melihat dampak simbolik dan sosialnya. Meskipun sah secara hukum, tindakan ini bisa:

  • Menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat
  • Dianggap tidak menghormati bendera nasional
  • Menyulut kontroversi sosial, terutama di momen kenegaraan

Maka dari itu, kedewasaan dalam berekspresi sangat penting, terutama ketika berkaitan dengan simbol-simbol negara. Mengungkapkan kecintaan pada budaya pop adalah hal yang wajar, tetapi tidak boleh melampaui rasa hormat terhadap identitas nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Baca juga: Tidak Semua Orang Layak Jadi Teman: Nasihat Jitu Imam al-Ghazali

Penutup

Kritik sosial adalah bagian dari dinamika demokrasi. Namun, mengemas kritik dalam simbol yang berpotensi multitafsir, apalagi dalam momentum kenegaraan, perlu kehati-hatian ekstra. Ulama salaf telah mengajarkan bahwa menjaga keutuhan umat dan stabilitas negara lebih utama daripada tindakan reaktif yang bisa menimbulkan kerusakan lebih besar.

Maka, cintailah One Piece secukupnya, tetapi hormatilah Merah Putih sepenuhnya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses