Dalam ajaran Islam, shalat merupakan ibadah wajib yang memiliki ketentuan waktu yang sangat teratur. Namun, syariat Islam juga hadir dengan fleksibilitas dan kemudahan, terutama bagi mereka yang sedang dalam kondisi khusus, seperti bepergian (safar). Salah satu bentuk kemudahan tersebut adalah kita boleh menjamak (menggabungkan) dua shalat dalam satu waktu, baik dengan cara jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Kemudahan ini bukan hanya menunjukkan keluwesan hukum Islam, tetapi juga menjadi bukti rahmat dan perhatian Allah terhadap keterbatasan hamba-Nya. Lalu, apa itu jamak shalat? Kapan dan bagaimana kita bisa melakukan Jama’? Tulisan ini akan membahas pengertian, dalil, dan praktik jamak shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Jama’ Shalat
Jama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat dalam satu waktu. Yaitu:
- Jama’ taqdim: melakukan Jama’ di waktu shalat pertama.
- Jama’ takhir: melakukan Jama’ di waktu shalat kedua.
Contoh: Menggabungkan Dzuhur dan Ashar di waktu Dzuhur (taqdim) atau di waktu Ashar (ta’khir). Menggabungkan Maghrib dan Isya di waktu Maghrib (taqdim) atau di waktu Isya (ta’khir).
Baca Juga: Bendera One Piece dan Pesan Ulama: Antara Kritik Sosial dan Stabilitas Negara
Dalil dari Sunnah Nabi ﷺ
1. Hadis Sahih dari Imam Muslim:
وَحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ الْمَدَايِنِيُّ ، حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ عُقَيْلِ بْنِ خَالِدٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا .»
Artinya: “Dan telah menceritakan kepadaku ‘Amr an-Naqid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Syabābah bin Sawwār al-Madā’inī, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa‘d, dari ‘Uqail bin Khālid, dari az-Zuhrī, dari Anas, ia berkata: Nabi ﷺ apabila ingin menggabungkan dua salat dalam perjalanan, beliau mengakhirkan salat Zhuhur sampai masuk awal waktu Ashar, kemudian beliau menggabungkan keduanya.’”[Muslim bin al-Ḥajjāj al-Naisābūrī, al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ (Ṣaḥīḥ Muslim), ed. . (Turki: Dār al-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah, 1334 H).]
Baca Juga: Doa Dimudahkan Segala Urusan: Panduan dari Turath Islam
2. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni berkata:
وَاخْتَلَفَتْ الرِّوَايَةُ فِي الْجَمْعِ، فَرُوِيَ أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ التَّفْرِيقِ؛ لِأَنَّهُ أَكْثَرُ تَخْفِيفًا وَسُهُولَةً، فَكَانَ أَفْضَلَ كَالْقَصْرِ
Artinya: “Terdapat perbedaan riwayat mengenai (hukum) menjamak salat. Diriwayatkan bahwa menjamak lebih utama daripada memisahkannya, karena lebih memberikan keringanan dan kemudahan, maka ia lebih utama sebagaimana salat qashar.”[Ibn Qudāmah, al-Mughnī, berdasarkan mukhtaṣar karya al-Khiraqī (541–620 H).]
Baca Juga: Taqlid: Ilmu Praktis agar Ibadahmu Tak Sekadar Ikut-Ikutan.
Syarat-Syarat Boleh Menjamak Shalat
1. Safar yang mubah (bukan untuk maksiat)
فِي كُلِّ سَفَرٍ لَيْسَ مَعْصِيَةً سَوَاءٌ الْوَاجِبُ وَالطَّاعَةُ وَالْمُبَاحُ كَسَفَرِ التِّجَارَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يَجُوزُ فِي سَفَرِ مَعْصِيَةٍ
Artinya: “Dalam setiap safar yang bukan maksiat—baik itu safar yang wajib, bernilai ibadah, maupun yang mubah seperti safar untuk berdagang dan semisalnya—maka boleh (mengambil rukhṣah). Namun tidak boleh (mengambil rukhṣah) dalam safar maksiat.”[Abū Zakariyyā Muḥyiddīn bin Syaraf an-Nawawī, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadhdhab]
2. Jarak perjalanan mencapai jarak safar
الْمُرَادُ بِالْمُسَافِرِ الَّذِي يَمْسَحُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ الْمُسَافِرُ سَفَرًا طَوِيلًا وَهُوَ السَّفَرُ الَّذِي تُقْصَرُ فِيهِ الصَّلَاةُ وَهُوَ ثَمَانِيَةٌ وَأَرْبَعُونَ مِيلًا بِالْهَاشِمِيِّ وَقَدْرُهُ بِالْمَرَاحِلِ مَرْحَلَتَانِ قَاصِدَتَانِ
Artinya: “Yang dimaksud dengan musafir yang diperbolehkan mengusap (khuf) selama tiga hari dan tiga malam adalah musafir dalam perjalanan jauh, yaitu perjalanan yang membolehkan salat diqashar, yaitu sejauh delapan puluh empat mil Hāsyimī. Ukurannya dalam satuan marḥalah adalah dua marḥalah (kisaran 89 KM) yang jelas tujuannya”[Abū Zakariyyā Muḥyiddīn bin Syaraf an-Nawawī, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadhdhab]
3. Niat untuk menjamak shalat
يَلْزَمُهُ ان ينوى عند ابتداء الاولة لِأَنَّهَا نِيَّةٌ وَاجِبَةٌ لِلصَّلَاةِ فَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُهَا عَنْ الْإِحْرَامِ كَنِيَّةِ الصَّلَاةِ وَنِيَّةِ الْقَصْرِ
Artinya: “Ia wajib berniat saat memulai salat yang pertama, karena itu adalah niat yang wajib untuk salat, maka tidak boleh diakhirkan dari takbiratul ihram, sebagaimana niat salat dan niat qashar.”[Abū Zakariyyā Muḥyiddīn bin Syaraf an-Nawawī, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadhdhab]
4. Tertib dan Muwalat
التَّتَابُعُ وَهُوَ أَنْ لَا يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ أَنَّهُمَا كَالصَّلَاةِ الْوَاحِدَةِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَ الرَّكَعَاتِ فِي صَلَاةٍ وَاحِدَةٍ فَإِنْ فُصِلَ بَيْنَهُمَا بِفَصْلٍ طَوِيلٍ بَطَلَ الْجَمْعُ وَإِنْ فُصِلَ بَيْنَهُمَا بِفَصْلٍ يَسِيرٍ لَمْ يَضُرَّ
Artinya: “Maksud dengan tatābu‘ (berurutan) adalah tidak memisahkan antara kedua salat tersebut. Dalilnya adalah bahwa keduanya layaknya seperti satu salat, sehingga tidak boleh terpisah, sebagaimana tidak boleh memisahkan antara rakaat-rakaat dalam satu salat. Jika terpisahkan dengan jeda yang panjang, maka batallah jama‘. Namun jika terpisahkan dengan jeda yang singkat, maka tidak mengapa.”[Abū Zakariyyā Muḥyiddīn bin Syaraf an-Nawawī, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadhdhab]
Baca Juga: Hukum Menghormati Bendera Nasional Serta Makna Filosofi dan Historis Bendera Merah Putih
Contoh Praktis
Contoh 1 – Jama’ Taqdim (Dzuhur dan Ashar):
Waktu: Saat Dzuhur (sekitar jam 12 siang).
Tata cara: Niat jama’ taqdim. Shalat Dzuhur 4 rakaat. Langsung dilanjutkan shalat Ashar 4 rakaat.
Contoh 2 – Jama’ Ta’khir (Maghrib dan Isya):
Waktu: Setelah masuk waktu Isya.
Tata cara: Niat jama’ ta’khir. Shalat Maghrib 3 rakaat. Langsung dilanjutkan shalat Isya 4 rakaat.
Baca Juga: Agus Melvin: Pembiasaan Diri dan Ilmu Sebagai Penyelamat dari Tipu Daya
Penutup
Menjamak shalat adalah bentuk kemudahan (رخصة) dalam Islam, sebagaimana firman Allah:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
Artinya: “Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama ini suatu kesulitan.”[QS. Al-Hajj : 78]
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





