Pada masa tabi’in, hidup seorang qadhi agung bernama Syuraih, seorang lelaki yang dikenal adil, bijak, dan jujur dalam penimbangannya. Namun di balik jubah kehormatannya, pernah terselip satu sesal dalam hatinya yang begitu manusiawi.
Cerita Sosok Yang Tidak Pernah Memukul Istrinya
Diceritakan oleh asy-Sya‘bi, Syuraih pernah menikahi seorang wanita dari Bani Tamim yang bernama Zainab. Tak lama setelah pernikahan itu, entah kenapa, Syuraih merasa gelisah, bahkan sempat terpikir olehnya untuk menceraikannya. Tapi sebagai orang yang bijak, dia menahan diri dan berkata: “Tidak, aku tidak akan terburu-buru. Bawa dia ke hadapanku.”
Saat Zainab datang, dia duduk tenang, lalu membuka lisannya dengan tenang pula, seolah tahu isi hati suaminya. Ia berkata:
“ Wahai suamiku, kita ini ibarat musafir—berhenti di satu persinggahan yang tak kita tahu kapan harus berangkat lagi. Maka sebelum kita terlalu jauh, katakan saja terus terang: adakah yang kau tak suka? Apakah kau keberatan jika saudara-saudariku datang berkunjung?
Syuraih menjawab jujur: “ Sesungguhnya aku ini lelaki tua, aku tidak membenci kebersamaan, tetapi aku tidak suka jika ipar-ipar menjadi membosankan.”
Zainab hanya tersenyum, dan berjanji akan menjaga semuanya. Syuraih mengisahkan Zainab dengan kata-katanya “Aku tidak pernah saling memegang janji dengannya kecuali dia menepati janji tersebut”
Setahun berlalu, rumah tangga mereka damai. Hingga suatu hari, Syuraih pulang dan mendapati seorang perempuan asing duduk dalam bilik Zainab. Ia terkejut dan berkata, “Innalillah!”
Zainab segera menjelaskan: “Itu ibuku, wahai Abu Umayyah. Sapa dan hormatilah dia. Tapi jika kau merasa risih, katakan saja. Aku akan menegurnya.”
Selang beberapa waktu Syuraih lebih tahu bahwa Zainab adalah wanita yang baik. Syuraih banyak mengenang momen dengan wanitanya itu sebagai bagian dari keindahan Zainab. Namun tanpa disangka Zainab wafat terlebih dahulu dari Syuraih. Hingga di akhir hayatnya, Syuraih berkata:
“Andai aku bisa membagi umurku untuknya, atau mati bersamanya di hari yang sama, niscaya akan kulakukan.”
Lalu ia pun mengungkapkan penyesalan terdalamnya:
Aku pernah melihat lelaki memukul istrinya. Tapi, semoga Allah lumpuhkan tanganku, jika aku pernah memukul Zainab.
Cerita ini terekam di dalam sebuah kitab berjudul Rawa’i al-Bayan karangan Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni.
Baca juga: Doa Rasulullah Perihal Cinta.
Refleksi Ayat
Mari kita bicara jujur. Kalau Syuraih saja—seorang qadhi besar, yang punya alasan sah untuk “mengoreksi” istrinya—lebih memilih untuk mencintai daripada menghukum, lantas kita ini siapa?
Kebanyakan lelaki (maaf, wahai para suami) yang naik pitam, bukan karena prinsip, tapi karena ego tersulut. Lalu, dalil pun dicomot sepotong: “Bukankah ada ayat yang membolehkan memukul istri?”
Jawaban sederhananya: iya, tapi bukan itu maksudnya.
Islam memang memberikan tahapan penanganan konflik rumah tangga, tapi bukan dengan tangan terkepal. Dengarkan baik-baik langkah-langkah yang ditetapkan Al-Qur’an:
وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan). Tetapi jika mereka menaati kamu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.
Baca juga: Makna Cinta dalam Al-Qur’an: Pelajaran dari Surat Quraisy
Cara-Cara yang Dilakukan Saat Istri Nusyuz
- Nasihat dan dialog.
Kalau istri mulai “menjauh”, jangan langsung marah. Ajak bicara. Ngopi bareng. Dengarkan. Ayatnya jelas: “fa‘izûhunna” – beri nasihat. - Pisah ranjang.
Ini bukan aksi ngambek. Ini sinyal psikologis. Kalau kata orang Jawa, “ojo direken“, biar dia merenung. Tapi tetap satu rumah. Masih ada harapan. - Pukulan lembut—dengan syarat ketat.
Ya, kata “pukul” memang ada. Tapi…- Bukan dengan tongkat dan tangan yang terkepal namun dengan siwak dan barang yang diperbolehkan.
- Bukan di wajah.
- Tidak membekas.
- Tidak menyakitkan secara fisik atau mental.
Bahkan Nabi ﷺ menyarankan kalau memang harus, cukup pakai siwak—sebatang kayu gosok gigi!
- Kalau masih gagal, cari mediator.
Ajak dua orang bijak, satu dari pihak suami, satu dari pihak istri.
Jadi, pertanyaannya: masih mau pakai dalih agama untuk memukul istri?
Baca juga: Risalah tentang Cinta yang tidak Picisan
Larangan Memukul Istri Seperti Memukul Budak
Islam sangat menekankan akhlak mulia dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu bentuk ajaran tersebut adalah larangan memperlakukan istri dengan kekerasan fisik. Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang seorang suami memukul istrinya dengan cara kasar seperti memukul budak, karena bertentangan dengan kasih sayang dan nilai kemanusiaan dalam pernikahan.
عن عبد الله بن زمعة رضي الله عنه قال:
قال رسول الله ﷺ:
لا يَجْلِدْ أحدُكم امرأته جَلْدَ العبد، ثم لعله يجامعُها – أو قال: يُضَاجِعُها من آخر اليوم
رواه البخاري.
وفي رواية أخرى:
نهى النبيُّ ﷺ أَن يَضْحَكَ الرَّجُلُ مما يخرُج من الأنفس، وقال: بم يَضْرِبُ أَحدُكم امرأته ضرْبَ العبد؟ ثم لعله يُعانِقُها»
رواه البخاري.
2 hadis ini mencela perilaku kasar terhadap istri, terutama dalam bentuk kekerasan fisik. Nabi ﷺ menggambarkan kontradiksi perbuatan tersebut, karena bagaimana mungkin seorang suami menyakiti istrinya di siang hari, lalu ingin mendekatinya dengan lembut di malam hari? Ini menegaskan bahwa relasi suami istri harus dibangun di atas kasih sayang, bukan dominasi dan kekerasan.
Penutup: Cinta Tak Butuh Kekerasan
Memukul istri bukan bentuk kepemimpinan. Itu adalah kegagalan komunikasi. Kalau ingin disegani, jangan tunjuk otot tapi tunjuk hati.
Zainab tidak perlu dipukul untuk patuh. Cinta, adab, dan saling percaya membuatnya jauh lebih mulia dalam pandangan Syuraih. Maka wahai para suami, jangan jadikan tanganmu alat hukuman. Jadikan ia selimut kasih.
Kalau masih marah dan ingin “menghukum” istri, cobalah dulu:
- Ganti popok anak
- Bersihkan dapur
- Seterika baju
- Lalu ucapkan: “Aku mencintaimu karena Allah.”
Siapa tahu setelah itu, istrimu malah bilang:
“Ini dia lelaki yang layak kusebut imamku.” Hehehe, gombal.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





