Pemimpin Amanah, Pelayan Umat

pemimpin rumah tangga pemimpin rumah tangga

Membicarakan pemimpin tidak luput dari pertanyaan “Bagaimana menjadi pemimpin yang baik?”. Sebenarnya dalam beberapa kejadian dan dalam beberapa tempat, Nabi Muhammad sudah menggadang-gadang setiap dari manusia adalah pemimpin bahkan dari dirinya sendiri.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya”

Penggalan Hadits di atas membuktikan bahwa kita tidak akan terpisah dari kata pemimpin. Setidaknya kita pasti mengemban amanah walau dalam diri kita sendiri, karena menjadi pemimpin diri sendiri tidak harus melalui tes masuk atau pemungutan suara. Dan juga terkadang secara tidak langsung –entah secara terpaksa atau keinginan sendiri- kita akan Allah pertemukan oleh kepemimpinan. Yang mana ketika Allah memberi amanah tersebutkepada kita maka kita harus siap menjadi teladan banyak orang. Dan jangan lupa kita juga akan Allah hadapkan menjadi pemimpin yang lebih serius, yakni menjadi pemimpin keluarga.

Ada banyak cara menjadi pemimpin sejati di antaranya adalah menjadikan sosok ini sebagai pribadi yang kuat, menyadari betul bahwa setiap seseorang di dunia ini tidak akan luput dari jiwa kepemimpinan, jangan sungkan-sungkan mengarahkan bawahan ke jalan yang paling benar, yang jelas harus menjadi teladan yang baik dan jangan mengeluh.

Baca juga: Organisasi Pesantren Mencetak Pemimpin yang Sigap dan Adil

Cerita Tentang Kepemimpinan

Ada cerita di Timur Tengah sana, bahwa terdapat dua syaikh (guru) yang berniat melakukan perjalanan. Di antara keduanya menjalin kesepakatan siapa yang akan menjadi pemimpin syaikh A berkata “Aku saja menjadi pemimpin, tapi dengan syarat KAMU HARUS PATUH!”, syaikh B mengangguk tanda setuju.

Syahdan di tengah perjalanan ada sesuatu yang tidak mengenakkan di benak syaikh B. Ternyata syaikh A yang menjadi pemimpin perjalanan mengangkat beban berat -semacam karung yang berisi sesuatu- sendirian. Sontak syaikh B meminta “Sini aku saja yang membawa beban berat itu, karena kamu pemimpin perjalanan ini!”. Dengan sahaja syaikh A menjawab “Biar aku saja, KAMU HARUS PATUH!”.

Di tengah malam suntuk tanpa ada aba-aba hujan mengguyur dua orang syaikh tadi. Lantas dengan cepat syaikh A membuka payung dan menadahi dua orang dewasa itu. Seperti kejadian beban berat, kini syaikh B kembali meminta untuk memegang payung itu. Lagi dan lagi si syaikh A enggan dan mengatakan “KAMU HARUS PATUH! Biar saya yang memegang payung ini”.

Beberapa kali dan beberapa saat cerita ini selalu terbayang dalam benak penulis jika menemui dalam kehidupan ini sesuatu yang merugikan rakyat atau bawahan, harusnya jika kita menjadi pemimpin hal yang harus kita lakukan adalah menjadi syaikh A yang selalu mengorbankan jiwa raganya terhadap kepemimpinan perjalanannya. Bukan malah menjadikan jiwa kepemimpinan sebagai hak sewenang-wenang menyuruh, memerintah bawahan atau rakyat apalagi memforsir waktu mereka.

Cukuplah beberapa cara yang telah saya tampilkan dan satu cerita yang telah saya paparkan menjadikan jiwa kepemimpinan kita semakin baik. Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi pemimpin sejati pada diri kita sendiri, keluarga, organisasi bahkan agama dan negara.

Baca juga: Ini Etika Yang Harus Dipenuhi Dalam Menasihati Pemimpin

Penutup

Semoga kita semua, dalam peran sekecil apa pun, bisa menjadi pemimpin yang memikul amanah, bukan mengejar kehormatan. Sebab hakikat kepemimpinan dalam Islam bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani umat dan mendekatkan mereka kepada Allah.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses