Tag Archives: KH Imam Yahya Mahrus

Haul Ke-7 KH. Imam Yahya Mahrus

LirboyoNet, Kediri—Ahad malam senin (28/10/2018), ribuan santri Pondok Pesantren  HM Al Mahrusiyah bersama-sama memperingati haul ke-7 KH. Imam Yahya Mahrus di Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III kelurahan Ngampel Kediri. Dalam acara itu, turut hadir pula sejumlah habaib dan kyai.

Acara haul diawali dengan pembacaan manaqib dan sholawat oleh para santri HM al Mahrusiyah. Kemudian dilanjutkan tahlil bersama yang di imami oleh KH. Najib Zamzami. KH. An’im Falahudin Mahrus memberikan sambutan atas nama pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Dalam sambutannya beliau sedikit menceritakan sosok beliau KH. Imam Yahya Mahrus “Teladan yang perlu kita contoh dari beliau adalah, bahwasanya beliau Akhinalkarim orang yang pandai dalam bermu’asyaroh (bersosial) siapa saja beliau dekati ” ungkap beliau.

Sambutan kedua atas nama keluarga diwakili oleh Agus H. Izzul Maula Dliyaulloh, “kita semua berkumpul disini adalah bukti cinta kita kepada beliau (KH. Imam Yahya Mahrus), dan semoga beliau juga cinta kepada kita”.

Selanjutnya sambutan atas nama sahabat karib KH. Imam Yahya Mahrus, yakni KH. Abdulloh Ubab Maimoen dari Sarang. “tidaklah acara haul ini didatangi oleh para alim ulama, melainkan karena beliau adalah orang yang sholeh”. Tutur Habib Abdurohman Ba’agil Surabaya dalam Mauidzotul hasanahnya. Dan acara pun diakhiri mauidzoh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Rindu Yai Imam, Rindu yang Beku

Peringatan Haul (pendak, -jw) oleh sementara orang diyakini sebagai ajang mengenang kisah sang almarhum. Kisah-kisah kebaikannya, kisah perjuangannya, kisah dakwahnya, atau sekedar kisah ringan yang membuat keluarga tersenyum-tertawa. Mengulang kisah ini, akan mencairkan bongkahan-bongkahan rindu, atau justru menambah beku.

Tadi malam, Sabtu, 19 Oktober 2016, saya dihampiri rindu yang ambigu itu. Semula hal-hal biasa terjadi: menyiapkan buku catatan, kamera, dan obat batuk. Itu saya lakukan hampir di setiap acara agung lainnya. Seperti yang lalu-lalu, di acara agung itu selalu ditebar kalam-kalam hikmah, ilmu pengetahuan, yang terlalu banyak untuk diingat memori hafalan saya yang payah. Karenanya, buku catatan menjadi begitu penting bagi saya, sebagaimana pentingnya membawa obat batuk. Saya tak mau mengganggu kekhusyuan hadirin dengan dentuman batuk dari tenggorokan saya, yang sedang menikmati kemesraan dengan demam.

Sampai kemudian maghrib tiba. Saya segera shalat, dan menemui kawan-kawan yang telah datang. Mereka berkumpul di gedung sekolah MA HM Tribakti, sekitar 300 meter dari masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo. Mereka yang datang di luar perkiraan saya. Dari Blitar, Semarang, Jogja, Indramayu, Cirebon, Bekasi, dan tempat jauh lain, satu per satu memarkir kendaraannya. Dari raut muka mereka yang lelah, ada tanda bahwa mereka didatangi rindu yang sama.

Setelah berbasa-basi sejenak (tahulah anda rupa “basa-basi” para santri yang lama tak jumpa, dan maksud “sejenak” itu), mobil dan motor yang diparkir dihidupkan kembali, berarah ke utara, tempat di mana Ponpes Al-Mahrusiyah III berada. Beberapa ratus meter menjelang lokasi, nampak kubah kuning masjid besar pondok ini. Megah nian.

Tiba di sana, masjid itu ternyata masih menyimpan pembacaan maulid untuk kami. Kenangan bertahun lalu menyeruak: setiap kamis sore, syair maulid dilantunkan di mushola. Ada yang memejamkan mata. Menangis haru. Sebagian dari kami malah ndusel, mendesak sambil cubit-cubitan. Tak sopan sebenarnya. Tapi kami yang lugu belum tahu apa itu khusyu.

Tak lama setelah doa diamini, telepon saya berdering. Satu teman saya, yang sudah tamat MHM dan memasuki masa khidmah, ingin hadir, tapi tak bisa berkendara. Dengan senang hati saya menjemputnya. Semua santri almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus rupanya dirasuk kerinduan-kerinduan bertumpuk.

Saat menuju tempat parkir, saya mendengar lamat-lamat dari pengeras suara, “apa yang kita perjuangkan, apa yang Yai Imam perjuangkan, akan menjadi amal yang abadi.” Saya kemudian teringat apa yang Walikota Kediri ceritakan beberapa menit sebelumnya, “Yai Imam itu sangat peduli pada gerakan pemuda. Waktu saya masih muda, beliau dengan telaten membimbing kami, pemuda-pemuda Kediri untuk bekerja keras, sehingga dapat ikut serta dalam memakmurkan Kediri, lebih-lebih negara.”

Sebagai kawula muda, tentu saya tergugah. Betapa pemuda adalah pihak yang paling sah untuk dijadikan tumpuan harapan. Karena itu saya mengira-kira, barangkali Pak Imam, begitu yang sering diucapkan KH. Imam Yahya Mahrus untuk menyebut diri beliau di hadapan santri, sekarang sedang berbahagia. Anak-anak didiknya benar-benar menjadi pembangun negeri, Walikota Abu Bakar itu contohnya.  Dan banyak lagi, meminjam istilah Gus Mus, Pak Imam-Pak Imam lain, dengan skala yang lebih kecil, mampu menerangi lingkungan masyarakatnya.

Setelah acara usai—tentu saja—kami memilih warung kopi, bercanda, dan berwefie ria. “Sejatinya, haul bukan hanya peristiwa mengingat-kenang,” sela teman saya dengan nakal, “tapi juga menjadi ajang pertemuan-pertemuan jenaka, antarteman, dengan guru, dan kawan-kawan ‘rahasia’. Hehehe.”][

 

Penulis, Hisyam Syafiq, alumnus HM Al-Mahrusiyah tahun 2010.

Terangi Hati dengan Mengenang Al-Jailani

LirboyoNet, Kediri – Pada tahun 1999, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus memulai perjuangannya untuk menyebar kebiasaan mengenang suri tauladan Sulthanul Auliya Syaikh Abdul Qadir Jailani. Salah satunya, dengan membaca kitab Faidu al Rahman, kitab tentang kisah hidup Syaikh Abdul Qadir. Beliau wali besar, benar. Memiliki ratusan karomah, terang. Tapi kenapa harus dikenang?

Agus H. Melvin Zainul Asyiqien menyitir sebuah maqalah, yang bermakna “mengingat para nabi adalah ibadah. Dan mengingat kisa-kisah orang saleh dapat menjadi tebusan atas dosa-dosa.” Maka tak heran, Kamis (28/07) ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah. Tulungagung, Blitar, Malang bahkan Surabaya. Bermacam pula mereka berkendara. dari bus hingga jalan kaki. Mereka adalah para santri Ponpes Lirboyo dan sekitarnya. Tunggu, jalan kaki? Tentu saja. karena Majlis al-Ghoutsiyah bi Manaqibi Syaikh Abdul Qadir Jailani ini terlaksana di komplek Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo. Jadilah aula dan lapangan penuh oleh baju putih-kopyah hitam para santri.

Sebenarnya, rutinitas manaqib ini telah dimulai sejak lama, jauh sebelum 1999. KH. Imam Yahya Mahrus berinisiatif menularkan kebiasaan membaca manaqib di pondok pesantren Al-Fitrah, Surabaya milik almaghfurlah KH. Utsman Al Ishaqi kepada santri Lirboyo. Mertua KH. Imam Yahya ini adalah pemimpin thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah semasa hidupnya.

Awalnya, kegiatan manaqib ini dilaksanakan di mushola HM, sebelah barat rumah ayah beliau, KH. Mahrus Aly. Demi menggalakkan manaqiban, beliau mendatangkan santri-santri ponpes Al Fitrah untuk mengajari para santri membaca manaqib. Selang beberapa waktu, barulah kegiatan beralih ke Aula Al Muktamar hingga sekarang.

H. Ridlwan, salah satu pengurus Jamiyah Al Khidmah Kediri yang malam itu memberikan sambutan, menyebut bahwa pembacaan manaqib adalah salah satu cara dalam membentuk karakter. “Karena dalam manaqib, kita akan tahu bagaimana hidup orang-orang saleh. Agar kita bisa meniru mereka.”

Dalam sambutan selanjutnya, Agus Melvin Zainul Asyiqien mempertegas hal ini. “Syaikh Abdul Qadir Jailani sebagaimana yang telah kita baca tadi, tiga tahun diam di satu tempat. Tidak berpindah ke mana-mana. Itu setelah beliau dipesan oleh Nabi Khidir untuk tidak meninggalkan tempat sebelum ia datang. Takdzim kepada guru seperti itu.”

Acara ini dihadiri oleh Habib Abdurrahman bin Aqil dari Surabaya, KH. Abdullah Said Malang (mertua Agus Reza Ahmad Zahid, putra sulung KH. Imam Yahya Mahrus), serta habaib dan masyayikh Kediri dan sekitarnya. Adapun Agus Reza Ahmad Zahid berhalangan hadir karena sedang berkunjung ke Amerika Serikat.][

Tiga Macam Panggilan Haji

Saat memberikan ijazahan santri tamatan, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus dawuh dengan gaya khasnya, “Panggilan haji itu ada tiga. Pertama, yang paling mandi atau paling ampuh, ini adalah panggilannya Nabi Ibrahim. Berangkat haji, kemudian pulang dengan haji mabrur. Ada lagi haji panggilan iblis. Begitu haji, pulang, tambah remuk. Yang sebelumnya jarang salat, malah gak pernah salat. Mesti mardud itu. Nah, yang paling enak itu haji panggilan Izroil. Begitu haji, gak pulang, meninggal nang mekah”.

Santri adalah Anak Sendiri

Refleksi Peringatan 1000 Hari Wafatnya KH. Imam Yahya Mahrus

Ada kendala cukup berat yang harus diterima panitia menjelang pelaksanaan acara. Panggung dan tenda yang sudah terpasang sejak dua hari sebelumnya, roboh oleh angin kencang pada sabtu siang. Acara yang rencananya dimulai sabtu setelah maghrib, diambang kekhawatiran akan penundaan yang lama.

Syukur, yang ditakutkan tidak terjadi. Berkat kesigapan panitia, acara yang bertajuk “Tahlil Akbar;memperingati 1000 hari KH. Imam Yahya Mahrus” malam itu tetap dapat terlaksana sesuai jadwal.

Acara dibuka dengan bacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Melvien Zainal Asyiqien, putra kedua almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus. Bila dicermati, ada satu hal yang menarik dalam acara ini, yakni setelah tahlil, acara diteruskan dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Rupa-rupanya, beliau almaghfurlah sangat senang membaca manaqib. Sebagaimana pengakuan KH. Reza Ahmad Zahid (putra pertama almaghfurlah) saat memberi sambutan, semasa sugengnya setiap malam jum’at beliau selalu mengajak santri-santri untuk membaca manaqib. Kebiasaan inilah yang enggan ditinggalkan oleh keluarga beliau. Sehingga setiap ada gawean, terutama gawean besar seperti Seribu Hari beliau ini, musti ada pembacaan manaqib di salah satu susunan acaranya.

Masih dalam sambutan beliau, Gus Reza -panggilan akrab KH. Reza Ahmad Zahid- mengagumi sosok ayahandanya yang berusaha keras agar bisa dekat dengan santrinya. Beliau ingin para santriyang beliau asuh bukan hanya berhubungan sebatas kiai-santri. Lebih jauh, almaghfurlah menginginkan hubungan yang lebih dekat, lebih intim, layaknya bapak dengan anaknya. “Beliau ayahanda tidak pernah memanggil santri-santrinya dengan ‘ini santriku’atau ‘ini muridku’. Beliau memanggil santri-santrinya dengan ‘ini adalah anak saya’, ‘ini adalah putra saya’, ‘ini adalah putri saya’. Ini juga menunjukkkan umik saya putra-putrinya banyak sekali,” lanjut Gus Reza diiringi tawa renyah hadirin.

[ads script=”1″ align=”center”]

Kemudian, KH. Kafabihi Mahrus, yang merupakan adik kandung almaghfurlah, dalam sambutan singkat beliau memberikan sedikit petuah bagi hadirin. “Majelis dzikir adalah majelis mulia. Di sini diucapkan kalimah la ilaaha illallah,”. “Ada satu cerita, Nabi Musa meminta kepada Allah satu dzikir. ‘ucapkan laa ilaaha illallaah’. ‘ya allah, ini kan bacaaan yang biasa dibaca oleh nabi-nabi. Saya meminta bacaan khusus yang tidak pernah dibaca’. ‘Hai Musa, andaikan kalimah laailaaha illallah ini ditimbang, maka lebih berat daripada langit-bumi seisinya.”.

Purnama sudah lewat satu hari, malam itu masih nampak terang. Dengan ‘angin nakal’ yang terus menderu sejak awal, para hadirin tetap tak beranjak dari kursi dan tetap khidmat menikmati acara seribu hari. Seperti yang telah diduga, mayoritas hadirin adalah santri PP. Al Mahrusiyah (ponpes yang didirikan almaghfurlah) yang kini sudah mencapai sekitar 2.000 santri. Seluruhnya dari mereka memakai seragam putih, seragam khas santri yang menunjukkan kepolosan dan ketulusan. Tamu undangan yang terdiri dari alumni, wali santri, keluarga besar Lirboyo dan warga sekitar yang berjumlah besar nampak secuil jika dibandingkan dengan ribuan santri itu.

Untuk menemani pikiran hadirin yang mestinya sudah suntuk, Al Habib Fahmi Al Muhdlor dari Madura yang diminta untuk memberikan sepatah dua kata, menghadirkan materi-materi dakwah ringan yang diselingi joke-joke,“Kalau saya boleh usul, panitia tolong saya dikasih meja. Angine banter Bu. Kalau sarung yang ucul, saya masih maklumi. Tapi wedi isine sing ucul,”. Tentang tahlil, beliau memberi pandangan, “’Tahlil ini yang nyuruh siapa Bib?’ Yang nyuruh tahlil niki Pak, Bu, Gusti Allah. Allah sudah berfirman; rabbanaghfir lana wa li ikhwanina alladzina sabaquuna bil imaan,”.

Selanjutnya, oleh beliau para hadirin dibawa dalam suasana yang terlalu sayang dibawa lelap. Walhasil, apa yang disampaikan beliau tentang tahlil, kemuliaan orang tua, bisa diterima dengan pikiran yang lapang.

Beliau sempat bercerita tentang nasib anjing Qithmir, anjing Ashabul Kahfi yang sempat dihadang masuk surga oleh Malaikat Ridwan. Karena dia begitu setia menemani orang-orang shalih, dia melenggang nyaman menuju surga. Bagaimana orang shalih mendapat tempat terhormat disamping Allah, sehingga selayaknya kita mencintai orang-orang shalih demi mendapatkan penghormatan dan kemuliaan dari Allah.

Banyak tokoh yang hadir malam itu. Selain KH. Kafabihi Mahrus (pengasuh Ponpes Lirboyo) dan Al Habib Fahmi Al Muhdlor, acara yang berlangsung di Ponpes Al Mahrusiyah III ini juga berhiaskan cahaya kemuliaan para kiai dan habaib, seperti KH. An’im Falakhuddin Mahrus yang baru saja dilantik menjadi anggota DPR RI, KH. Hasib Wahab Hasbullah dari Jombang, KH. Aziz Masyhuri, Al Habib Mustofa Al Jufri dan tokoh-tokoh lain yang dirundung rindu dengan almaghfurlah.

Penulis, Hisyam Syafiq, Kru Mading Hidayah