HomePojok LirboyoPentas Barongsai di Haul KH. Imam Yahya Mahrus

Pentas Barongsai di Haul KH. Imam Yahya Mahrus

0 0 likes 885 views share

Salah satu tanda orang besar adalah pengakuan orang banyak atas kebesaran jasa kehidupannya.

LirboyoNet, Kediri – Pergantian tahun Masehi beberapa hari yang lalu menjadi momen tak terlupakan bagi santri Lirboyo, khususnya unit Al Mahrusiyyah. Pasalnya selama sepekan sejak 30 Desember 2012 hingga 5 Januari 2013 ada agenda Haul I KH. Imam Yahya Mahrus dan Reuni Akbar I Ponpes HM Al Mahrusiyyah. Acara yang tak hanya melibatkan santri namun juga masyarakat setempat ini tak dilaksanakan di area Ponpes Lirboyo seperti biasanya. Akan tetapi di desa Ngampel, Mojoroto, tepatnya di area pesantren peninggalan almarhum, Al Mahrusiyyah III.

Sejumlah rangkaian acara yang telah diagendakan oleh pihak penyelenggara. Mulai dari bazaar, parade band, festival musik Islami, Reuni Akbar I, seminar nasional, tahlil akbar dan istighotsah kubro. Dalam hal ini HIDAYAH menyempatkan diri untuk mengikuti beberapa di antaranya.Terhitung ada 3 agenda yang berhasil kami liput. Apa saja? Let’s check it out!

Pembukaan Bazaar

Tenda besar terpampang di tengah lapangan yang menjadi pusat acara. Di dalamnya terdapat sejumlah stand yang kebanyakan dikelola oleh santri dan mahasiswa Tribakti. Namun petang itu, 30 Desember 2012 suasana area bazaar belum begitu ramai. Karena memang belum resmi dibuka.

Hingga pukul 20.00 WIB pengunjung yang kebanyakan adalah masyarakat setempat berduyun-duyun memenuhi area panggung. Rangkaian acarapun dimulai dengan penampilan salah satu band lokal. Beberapa saat kemudian seremonial resmi dilaksanakan begitu rombongan tamu kehormatan tiba.

Agenda yang dilaksanakan adalah pembukaan bazaar secara simbolis oleh Walikota Kediri, dr. Samsul Ashar dengan menabuh genderang yang Kemudian disusul dengan penampilan barongsai dan liang-liong. selanjutnya adalah launching buku Biografi KH. Imam Yahya Mahrus oleh KH. Reza Ahmad Zahid. Setelah itu rombongan meninggalkan area panggung untuk meninjau lokasi bazaar.

“Sebenarnya sudah sejak lama saya menanti terbitnya buku yang menguak tentang Kiai Imam yang amat kharismatik ini. Dan alhamdulillah kini sudah terealisasi,” ujar walikota dalam  sambutannya. “Insya Allah buku ini amat bermanfaat dan akan menjadi pustaka yang harus dimiliki oleh kita masyakarat Kediri.”

Tahlil Akbar

Sudah menjadi tradisi NU tiap malam Jum’at mengadakan tahlilan. Tak terkecuali malam itu, 3 Januari 2013 di lokasi acara. Beratus-ratus orang menyempatkan diri untuk mengikuti serangkaian dzikir dan doa untuk umumnya umat muslim, khusunya almarhum Kiai Imam Yahya. Tahlil kali ini dipimpin oleh sejumlah ulama besar. Antara lain Habib Abdulloh Al Haddar, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir dan KH. Sholeh Saifuddin. Dilanjutkan dengan pembacaan maulid Diba’.

Agenda malam itu kian semarak dengan ceramah ilmiah yang disampaikan oleh ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj. Dalam sambutannya Kiai Said banyak menyampaikan pentingnya andil warga NU dalam pembangunan bangsa di tengah zaman global sekarang ini. Dan yang terpenting adalah dengan tetap memegang teguh visi misi NU sebagai golongan ahlussunah wal jamaah.

“Al Qur’an tidak menjelaskan secara gamblang nama-nama sholat, rukun dan sebagainya. Lha kalau kenyataannya demikian, berarti orang-orang yang berkoar-koar cukup Al Qur’an dan Hadits saja adalah orang bodoh!” tegasnya.

Sebagai penutup acara rombongan tamu berziarah ke makam almarhum dan memanjatkan doa dengan diamini oleh para jamaah.

 Istighotsah Kubro

Hujan belum juga reda malam itu, 5 Januari 2013. Namun hal ini tidak menyurutkan para jamaah untuk mengikuti acara pamungkas rangkaian Haul I KH. Imam Yahya kali ini, yakni Istighotsah Kubro. Hadir malam itu KHA. Idris Marzuqi, KHA. Mustofa Bisri, KH. Anwar Iskandar, Gubernur Jatim, DR. Sukarwo beserta wakilnya, Walikota Kediri, dr. Samsul Ashar beserta wakilnya dan sejumlah tokoh lainnya. Habib Lutfi yang awalnya diagendakan hadir ternyata tidak bisa hadir.

Di tengah hujan hadirin diajak melantunkan dzikir dan sholawat bersama para masyayikh. Dilanjutkan pula lantunan sholawat dan maulid nabi. Hadirin tetap belum mau beranjak ketika sejumlah tokoh menyampaikan prakatanya.

Pakde Karwo dan Gus Ipul, sapaan gubernur jatim dan wakilnya banyak menyampaikan BOS Pesantren dan Madin yang kini sedang dalam proses pengajuan ke pemerintah pusat. Tak lain karena ternyata metode pengajaran ala pesantren adalah yang terbukti optimal di antara yang selama ini diterapkan pemerintah.

Setelah itu mau’idhoh hasanah disampaikan oleh KH A. Mustofa Bisri. Dengan tetap dalam bingkai Haul KH Imam Yahya, Gus Mus banyak bercerita nostalgia ketika masih mondok di lirboyo dulu. “Bagaimanapun juga Gus Imam adalah kawan dekat saya ketika di sini (lirboyo) dulu. Semoga beliau diterima di sisiNya,” lanjut beliau.Selain itu kiai yang juga budayawan ini juga melengkapi alasan gubernur terkait BOS Madin kenapa harus pesantren yang mendapat kucurannya. “Faktor utama semua itu sebenarnya adalah barokah kiai,” tandasnya. Seluruh rangkaian acara haul ini kemudian ditutup dengan ngeblek bareng bersama jamaah, santri dan alumni Al Mahrusiyyah. {}akhlis