Tag Archives: Niat Puasa

Lupa Niat Puasa

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin, saya pernah lupa niat puasa Ramadan. Setelah shalat maghrib, saya kelelahan, hingga tertidur.  Di waktu sahur, saya tidak niat, karena kebiasaan saya hanya niat puasa ketika selesai jamaah tarawih. Bagaimana nasib puasa saya?

 

(Bukhari- Madiun, Jawa Timur)

______________

Admin– Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Bapak Bukhari, lupa adalah salah satu sifat dasar manusia. Allah sendiri yang menyebut bahwa manusia tidak akan luput dari salah dan lupa. Maka, Fiqih sebagai rumusan hukum syariat Islam, menyikapi sifat lupa ini dengan bijak.

Jika di pagi hari anda sudah ingat, segera saja melafalkan niatnya. Karena menurut salah satu imam madzhab empat, yakni Imam Abu Hanifah, batas akhir niat adalah sampai waktu dzuhur. Jika ingat setelah dzuhur, tetap wajib meneruskan puasanya, dan mengqadlanya di kemudian hari.

Sebagai tindakan antisipasi, sebaiknya di malam pertama Ramadan kita berniat puasa satu bulan penuh. Sehingga, ketika lupa niat di hari-hari berikutnya, puasa kita tetap sah. Adapun niat yang dilakukan tiap malam setelahnya, menjadi berhukum sunnah. Ini sesuai dengan pendapat Imam Malik.

Demikian.

 

 

___________

Referensi:

Fiqh al-‘Ibadat Syafi’i, vol. 01 hal. 531

Tuhfah al-Muhtaj ma’a Hawasyi as-Syarwani wa al-‘Ibadiy, vol. 04 hal. 515.

Niat Puasa Ramadan Sekali untuk Satu Bulan

Puasa Ramadan, mengingat ia adalah salah satu rukun Islam, adalah ibadah yang sangat penting untuk diperhatikan setiap unsur dan syaratnya. Termasuk niat.

Niat puasa ini menjadi pembahasan yang panjang di dalam kajian fiqih lintas madzhab. Terutama mengenai diskursus satu kali niat untuk puasa sebulan penuh.

Menurut kalangan Syafi’iyah, niat puasa untuk sebulan penuh tersebut tidaklah cukup. Meskipun telah niat satu bulan penuh, yang sah nanti hanyalah puasa hari pertama saja. Sementara puasa di hari-hari selanjutnya tetap membutuhkan niat di setiap malamnya.[1]

Sementara, Imam Malik, yang menjadi panutan madzhab Malikiyah, menganggap niat satu bulan penuh sudah cukup untuk menggantikan niat di setiap malamnya. Sebagian ulama Syafi’iyah menganjurkan untuk mengikuti (taqlid) pendapat Imam Malik ini. Mengapa? Agar ketika seseorang lupa tidak niat di malam harinya, puasanya tetap dianggap sah.[2]

Lantas, bagaimana niatnya?

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ كُلِّهِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat puasa Ramadan satu bulan penuh tahun ini fardlu karena Allah.”

Niat ini cukup untuk diungkapkan dalam hati saja. Namun, ada kesunnahan untuk mentalaffudzkannya (mengucapkannya dengan keras, minimal terdengar telinga sendiri). Itu sebabnya, ketika seusai jamaah tarawih, imam shalat memimpin para jamaah untuk bersama-sama melafadzkan niat.][

 

[1] Kasyifah as-Saja, hal. 117.

[2] Hasyiyah I’anah at-Thalibin. Juz 2. Hal. 248. Dar al-Ashashah.

Wajibkah Ikut Hasil Sidang Isbat Pemerintah?

Dalam menentukan awal bulan tahun Hijriyah, terutama untuk awal bulan Ramadan dan hari raya, pemerintah Republik Indonesia mengagendakan Sidang Isbat. Sidang ini telah sejak lama diselenggarakan, sekitar tahun 1950-an. Pada awalnya, sidang ini hanya berdasar pada fatwa para ulama saja. Lambat laun, hingga kini, yang terlibat dalam sidang isbat beragam, mulai para ahli, ulama, tokoh organisasi masyarakat islam, ahli astronomi dan pejabat pemerintah.

Masalah yang sering terjadi adalah adanya perbedaan hasil yang dibawa oleh masing-masing pihak, baik itu tokoh ormas, maupun ahli astronomi dan pihak-pihak yang lain. Berangkat dari bermacamnya hasil yang dibawa itulah pemerintah mendasarkan keputusannya kemudian.

Ketika keputusan telah dibuat, pemerintah segera menghimbau kepada seluruh pihak untuk mengikuti hasil dan ketetapan yang telah dibuat. Namun, tidak jarang keputusan ini tidak diikuti, dengan alasan sudah meyakini hasil dari ikhtiarnya masing-masing, baik hisab (perhitungan secara sistematis) maupun rukyah (pengamatan dengan mata telanjang atau alat bantu optik).

Bagaimana menyikapi kasus demikian? Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Ketika informasi hasil ikhtiar pribadi itu diyakini kebenarannya, maka boleh untuk memilih sesuai dengan keyakinannya, tanpa harus mengikuti ketetapan pemerintah. Akan tetapi, jika masih ragu, maka haram untuk berselisih dengan ketetapan pemerintah.[1]

Karena bagaimanapun, pemerintah dalam menetapkan hasil hisab selalu berdasar pada pertimbangan-pertimbangan yang kompleks. Ketetapan pemerintah dalam hal ini adalah keputusan tertinggi, yang sudah seharusnya dipatuhi oleh rakyatnya.[2]

Namun, perbedaan hukum dalam hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menghakimi keputusan yang tidak sejalan dengan yang kita pilih. Jalan yang paling indah dalam menyikapi hal ini adalah meyakini pilihan sendiri sembari menghormati pilihan yang telah dipilih pihak yang lain. Wallahu a’lam.][

 

 

[1] Bughyah al-Mustarsyidin. Hal. 18. Al-Hidayah.

[2] Yas’alunak ‘an Ramadan. Hal. 31. Al-Fatawa al Kubra. Juz. 2. Hal. 47. DKI. 1997.

Puasa Arafah

Semua bulan dan hari pada hakikatnya adalah baik. Namun diantara yang baik itu, ada beberapa yang lebih baik atau istimewa, hari arafah misalnya. Bulan Dzulhijjah sendiri termasuk dari bulan yang istimewa selain Ramadhan, Rajab, Dzulqo’dah, dan Muharram. Dan tidak terasa, kita sudah bertemu lagi dengan bulan Dzulhijjah, bahkan lusa kita akan bertemu kembali dengan lebaran kurban, Idul Adha.

Hari Arafah sendiri adalah saat dimana umat muslim yang melakukan ibadah haji sedang melakukan Wukuf di Padang Arafah. Dalam sebuah riwayat dikatakan, pada hari Arafah Allah mengundang para malaikat dan berkata, “Wahai malaikatKu, lihatlah hamba-hambaKu. Mereka datang dari berbagai belahan bumi dengan tampang yang acak-acakan, menghabiskan harta dan menyusahkan badannya, demi berkumpul jadi satu di padang Arafah. Saksikanlah wahai malaikatKu, bahwa hari ini Aku ampuni dosa-dosa mereka.” Begitulah kemuliaan mereka yang diberi panggilan bisa berkumpul di padang Arafah.

Untuk kita yang kebetulan saat ini belum mendapatkan panggilan, jangan berkecil hati. Karena kita yang saat ini berdiam diri di rumah pun, sejatinya bisa mendapatkan banyak pahala dari keistimewaan bulan Dzulhijjah ini. Sungguh, sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang bisa melakukan puasa 10 hari sejak awal bulan Dzulhijjah kemarin. Bagi yang kebetulan berhalangan, masih ada sisa sehari. Mudah-mudahan besok kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berpuasa.

Hukum melaksanakan ibadah puasa Arafah adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Imam Nawawi berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah.”

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya: 1). Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang, 2). Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun, dan 3). Dibebaskan dari api neraka.

Dalam sebuah riwayat dikatakan. Dahulu, ada seorang anak muda yang ketika masuk bulan Dzulhijjah dia berpuasa. Kabar tentang anak muda ini lantas terdengar hingga ke Baginda Nabi. Tidak lama kemudian, anak muda tadi dipanggil Nabi dan dia pun segera menghadap. Nabi bertanya, “Anak muda, aku ingin tahu alasan kamu berpuasa?” Si anak muda menjawab, “Ya Rasulallah, demi ayah dan ibu saya, sungguh hari ini adalah hari kebesaran Islam dan juga hari dimana umat Islam berhaji. Saya berharap, Allah memasukkan saya dalam doa-doa mereka yang sedang berhaji.” Nabi lantas menjawab, “Anak muda, sungguh, bagi setiap hari yang kamu puasai, ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 100 budak, 100 unta, dan 100 kuda. Dan untuk puasa di hari Tarwiyah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 1000 budak, 1000 unta, dan 1000 kuda. Dan untuk puasa di hari Arafah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 2000 budak, 2000 unta, dan 2000 kuda.”

Begitulah keutamaan puasa Arafah. Untuk Anda yang besok mau melaksanakan puasa Arafah, jangan lupa niatnya. Karena sebagaimana yang tentu sering kita dengar, amal itu tergantung niatnya. Dan meskipun letak niat sesungguhnya dalam hati, menjelaskan atau mengucapkan niat punya sirri tersendiri. Inilah niat puasa Arafah : َنَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً للهَ تعالى
“Nawaitu Shauma ‘Arafata Sunnatan Lillahi Ta’ala, Artinya: Saya berniat melakukan sunnah puasa Arafah karena Allah ta’ala.”