Pagi ini, Kamis Legi, 14 Mei 2026 / 26 Dzulqa’dah 1447 H, Pondok Pesantren Lirboyo menggelar pembukaan pengajian rutin. Ini menjadi pengajian perdana pada tahun ajaran baru. Banyak para alumni yang dari lintas generasi memanfaatkan momen pembukaan ini untuk mengadakan halal bihalal tiap angkatan.
Bagian dari menjaga tradisi
Sebagai bagian dari tradisi yang telah berjalan lebih dari dua dekade, pengajian Kamis Legi bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk kesinambungan ilmu dan silaturahmi. Sejak tahun 2002, Pondok Pesantren Lirboyo rutin menggelar pengajian kitab al-Hikam setiap Kamis Legi. Pengajian ini muncul dari usulan para alumni (mutakhorijin) yang meminta Romo KH. Ahmad Idris Marzuqi untuk membacakan kitab karya Imam Ibnu Athoillah as-Sakandari tersebut. Setelah beliau wafat pada 10 Sya’ban 1435 H, Romo KH. M. Anwar Manshur melanjutkan pengajian dan menjadi pembacanya hingga saat ini.
Baca juga: 170 Calon Mahasantri Ma’had Aly Marhalah Tsani Mengikuti Ujian Seleksi
Suasana pra acara
Menjelang acara, suasana pesantren mulai ramai. Sejak pukul 07.30 WIB, banyak alumni telah memadati Aula Al-Muktamar. Sebagian dari mereka datang bersama istri dan anak-anak. Dengan begitu—secara tidak langsung—mereka memperkenalkan pentingnya tradisi mengaji, tanpa batas usia atau latar belakang profesi. Semua membaur di bawah naungan para masyayikh Lirboyo, dengan harapan mendapat keberkahan dan ridha dari mereka.
Baca juga: Haul ke-52 KH. Marzuqi Dahlan Lirboyo: Komitmen Kuat Untuk Ilmu
Suasana acara pengajian kamis legi
Tepat pukul 09.00 WIB, pengajian resmi dimulai. Seperti biasa, kegiatan diawali dengan tahlil, lalu dilanjutkan pembacaan kitab al-Hikam oleh Romo KH. Anwar Manshur. Para alumni menyimak dengan khusyuk, memaknai petikan demi petikan kitab menggunakan metode gandul khas pesantren. Kemudian pengajian berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB.
Baca juga: BSSN Dorong Santri Lirboyo Ciptakan Jejak Digital Positif Dan Jaga Keamanan Media Sosial
Pasca acara
Setelah pengajian selesai, suasana kekeluargaan semakin terasa hangat. KH. Anwar Manshur menutup acara dengan doa, kemudian para hadirin dipersilakan bermushafahah dengan para masyayikh. Banyak alumni turut mengajak putra-putra mereka mengikuti pengajian, sowan, mencium tangan para kiai, serta berziarah ke maqbarah Mbah Yai Sepuh. Mereka berharap anak-anaknya mengenal tradisi pesantren sejak dini, memahami akhlak khas pesantren, dan tumbuh dengan mahabbah kepada para ulama.
Kebersamaan pun terus berlanjut selepas acara inti. Para alumni berkumpul bersama sahabat-sahabat seperjuangan semasa mondok. Mereka saling bertukar kisah, mengenang masa-masa di pesantren, diselingi canda tawa yang menghidupkan suasana. Makan bersama ala eblek-an menjadi pelengkap kehangatan hari itu; suasana sederhana namun penuh makna, seakan meleburkan sekat profesi dan status sosial dalam ikatan persaudaraan yang tulus.
Pada akhirnya, momen tersebut meninggalkan kesan yang mendalam di hati setiap yang hadir. Benarlah ungkapan ahli hikmah: teman yang paling sulit dilupakan sepanjang hidup ialah teman ketika menuntut ilmu dan teman ketika menunaikan ibadah haji.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
