KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا بَعْدُ. فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في كِتَابِهِ. “مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ” (سورة ق: ١٨).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketakwaan adalah benteng hidup terbaik kita, baik dalam tindakan maupun dalam setiap ucapan yang keluar dari lisan kita.
Baca juga: Khutbah Jumat: Menjaga Adab Di Tengah Krisis Moral
Hadirin rahimakumullah,
Salah satu nikmat besar yang Allah karuniakan kepada manusia adalah kemampuan berbicara. Namun, di balik nikmat yang agung ini, terdapat ujian yang sangat besar. Lisan adalah anggota badan yang tidak bertulang, namun tajamnya bisa lebih melukai daripada sebilah pedang.
Oleh karena itu, syariat Islam yang luhur ini memberikan perhatian yang sangat besar dalam menjaga lisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) maka hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis yang mulia ini menjadi panduan hidup yang sangat tegas bagi seorang mukmin. Mengucapkan perkataan yang baik adalah cerminan iman, dan memilih diam ketika tidak ada kebaikan yang bisa diucapkan adalah bentuk keselamatan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Seni Menata Niat dalam Bekerja
Hadirin rahimakumullah,
Terkait bahaya lisan ini, para ulama dan ahli hikmah terdahulu telah memberikan untaian nasihat yang sangat mendalam bagi kita.
Dalam untaian hikmah, para bijak bestari menyebutkan:
لسانُك أسَدُك، إن أطلقته فرسَك، وإن أمسكته حرسَك
“Lisanmu adalah singamu (biasa di orang Indonesia meyebutnya ‘mulutmu harimaumu’). Jika engkau melepasnya, ia akan menerkammu (membinasakanmu). Namun jika engkau mengikatnya, ia akan menjagamu.”
Bahkan, Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma—seorang sahabat utama yang dijamin masuk surga—pernah memegang lisannya sendiri seraya berkata dengan penuh ketawadhuan: “Lisan inilah yang telah membawaku ke berbagai tempat yang membinasakan.”
Sebagian ahli hikmah juga menyatakan:
لا شيء أحَقُّ بالسِّجن من اللِّسان
“Tidak ada sesuatu yang lebih berhak untuk dipenjarakan melainkan lisan.”
Perhatikanlah fisik kita, Allah subhanahu wa ta’ala telah mendesain lisan ini berada di dalam benteng yang kokoh, yaitu di balik tirai dua bibir dan pagar dinding gigi-geligi. Namun sungguh ironis, meskipun berada di tempat yang tersembunyi, lisan ini sering kali mampu merusak kunci-kunci penjara tersebut dan meruntuhkan pintu-pintunya melalui ucapan yang tidak terjaga.
Ulama mengingatkan: “Jika engkau tidak mampu mengendalikan kelebihan lisanmu, maka setanlah yang akan memegang kendali tali kekangmu.” Saat lisan tidak terkontrol, ia akan dengan mudah tergelincir pada dosa-dosa lisan seperti menggunjing (ghibah), mencela makhluk Allah, bergurau yang berlebihan (al-mizah), serta melakukan ejekan dan penistaan (al-huzû) terhadap sesama manusia.
Baca juga: Khutbah Jumat: Teguh Bersama Al-Qur’an
Hadirin rahimakumullah,
Begitu besarnya dampak dari lisan ini, hingga Sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah karena rasa herannya: “Wahai Nabiyullah, apakah kita benar-benar akan disiksa dan dimintai pertanggungjawaban karena apa yang kita ucapkan?”
Pertanyaan Sahabat Mu’adz ini adalah bentuk konfirmasi (istifham istitbat) untuk memperjelas hukum karena rasa terkejut beliau. Hal ini sama sekali tidak menodai kemuliaan Sahabat Mu’adz yang pernah dipuji Rasulullah sebagai “orang yang paling alim tentang urusan halal dan haram”. Kealiman Sahabat Mu’adz kala itu lebih menonjol dalam urusan muamalah zahir antar-manusia, atau derajat kealiman tersebut dicapai setelah peristiwa pertanyaan ini terjadi.
Maka, jawaban Rasulullah saat itu menjadi tamparan keras bagi kita semua: “Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan akibat dari hasil tuaian lisan-lisan mereka?”
Baca juga: Khutbah Jumat: Mari Mendidik Anak dengan Baik
Hadirin rahimakumullah,
Melalui momentum khutbah ini, mari kita merenung dan menerapkan dua langkah praktis untuk menjaga adab lisan kita:
Pertama, kita semua senantiasa memertimbangkan apakah kata-kata yang akan keluar mendatangkan maslahat atau justru mengundang mudarat dan dosa.
Kedua, mari kita semua basahi lisan kita dengan dzikir, shalawat, dan kalimat-kalimat thayyibah, daripada menggunakannya untuk mencela dan merendahkan sesama.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia dan menjadikannya sebagai ladang pahala yang menuntun kita menuju jannah-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ. أَقُولُ قَوْلى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Rahasia Kebaikan yang Berkelanjutan
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ. مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
