Tag Archives: jenazah

Menyoal Kuburan Massal

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, bagaimana sebenarnya hukum kuburan massal? Karena sebatas pemahaman saya, kuburan itu harus sendiri-sendiri setiap jenazah. Terimakasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Rika W. – Lombok)

_____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di tengah maraknya bencana alam, perawatan jenazah korban bencana sering tidak bisa dilakukan secara normal. Sehingga penguburan massal menjadi solusinya.

Menurut mazhab Syafi’i, dalam kondisi normal tidak boleh mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu liang kubur. Masing-masing harus disendirikan dengan satu liang kubur. Namun demikian dalam kondisi darurat kita diperbolehkan mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu liang kubur. Salah satu contoh kondisi darurat adalah jumlah jenazah yang banyak dan sulit untuk membuatkan liang kubur bagi masing-asing jenazah karena terbatasnya lahan. Syekh Nawawi Banten pernah menjelaskan:

وَلَا يَجُوزُ جَمْعُ اثْنَيْنِ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ بَلْ يُفْرَدُ كُلُّ وَاحِدٍ بِقَبْرٍ … نَعَمْ، إِنْ دَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَى ذَلِكَ كَأَنْ كَثُرَتِ الْمَوْتَى وَعَسُرَ إِفْرَادُ كُلِّ مَيِّتٍ بِقَبْرٍ لِضَيْقِ الْأَرْضَ، فَيُجْمَعُ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ وَالْأَكْثَرِ فَي قَبْرٍ بِحَسَبِ الضَّرُورَةِ

Tidak boleh mengumpulkan dua jenazah dalam satu liang kubur, namun masing-masing harus disendirikan dengan liang kuburnya… Memang demikian, namun bila kondisi darurat mengharuskan dua jenazah dikumpulkan dalam satu liang kubur, seperti jenazahnya banyak dan sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah karena areanya terbatas, maka dua jenazah, tiga dan selebihnya boleh dikumpulkan sesuai kondisi daruratnya,”[1]

Batasan ‘sulit’ dalam kalimat ‘sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah’, menurut pakar fiqih Syafi’i Al-Azhar Mesir, Imam Ibnu Qasim Al-‘Abadi, bahkan tidak mengharuskan jenazahnya banyak, namun cukup seperti bila upaya menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah berakibat jarak antar liang kubur berjauhan, sekiran sulit untuk diziarahi karena tidak saling berdekatan.

Namun demikian hal ini tidak disetujui oleh Syekh Abdul Hamid As-Syarwani. Beliau mengatakan:

وَفِيهِ نَظَرٌ وَالظَّاهِرُ مَا فِي ع ش مِمَّا نَصُّهُ فَمَتَى سَهُلَ إفْرَادُ كُلِّ وَاحِدٍ لَا يَجُوزُ الْجَمْعُ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَلَا يَخْتَصُّ الْحُكْمُ بِمَا اُعْتِيدَ الدَّفْنُ فِيهِ بَلْ حَيْثُ أَمْكَنَ وَلَوْ غَيْرَهُ وَلَوْ كَانَتْ بَعِيدًا وَجَبَ حَيْثُ كَانَ يُعَدُّ مَقْبَرَةً لِلْبَلَدِ وَيَسْهُلُ زِيَارَتُهُ

Dalam pendapat Ibn Qasim itu ada kejanggalan. (Ukuran ‘sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah’) yang jelas adalah keterangan yang ada dalam catatan Syekh Ali As-Syibramalisi dari redaksinya yang menyatakan, ‘Maka selama mudah menyendirikan masing-masing jenazah dengan satu liang kubur, tidak boleh mengumpulkan dua jenazah dalam satu liang kubur. Hukum ini tidak hanya berlaku untuk area yang biasa digunakan untuk menguburkan jenazah, bahkan sekira mungkin meski dengan area selainnya dan meski jauh, maka wajib menyendirikan jenazah dengan liang kuburnya sekira area tersebut dianggap sebagai area perkuburan bagi daerah tersebut dan mudah menziarahinya,”[2]

Namun menimbang keadaan saat bencana—dengan segala keterbatasan yang ada—maka sudah dapat dikategorikan darurat yang memperbolehkan melakukan penguburan massal.

[]waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Nihayatuz Zain, vol. I hal. 163

[2] Hawasyi As-Syarwani, vol. III hal. 174

Donasi yang Mentradisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi sebuah tradisi di wilayah Jember, di mana kala ada tetangga yang meninggal dunia, tetangga yang lain sama-sama berbondong-bondong mengantarkan si kemayit ke kuburan. Tidak hanya itu, prosesi mengantarkan mayit juga sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan pada setiap orang yang berpapasan dengan iring-iringan pembawa mayit, baik pejalan kaki, pengendara motor, ataupun pengendara mobil. Uang yang terkumpul biasanya diberikan kepada shohibul musibah secara utuh. Namun ada pula yang sebagian diambil untuk sebatas membeli air mineral gelasan untuk memberi minuman bagi yang sudah bersusah-payah mengantarkan mayit sampai kuburan.

Yang kami tanyakan ialah bagaimana hukum meminta sumbangan dalam tradisi tersebut?. Dan bolehkah si penarik uang mengambil sebagian hasil uang sumbangan untuk dibelanjakan atau ditasharrufkan selain pada shohibul musibah? terimakasih.

(Arid– Jember, Jawa Timur)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam tradisi yang ada di wilayah Jember tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni hukum meminta sumbangan yang dilakukan oleh para relawan dan hukum mengambil sebagian hasil uang sumbangan yang dilakukan oleh relawan penarik sumbangan.

Pada dasarnya, hukum meminta diperinci oleh para ulama. Sebagaimana keterangan imam an-nawawi dala, kitab Syarah Shahih Muslim yang kemudian dikutip oleh imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari ‘ala Shahih al-Bukhari:

قَالَ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمِ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ السُّؤَالِ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ قَالَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيْ سُؤَالِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا التَّحْرِيْمُ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيْثِ وَالثَّانِيْ يَجُوْزُ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوْطٍ ثَلَاثَةٍ أَنْ لَا يُلِحَّ وَلَا يُذِلَّ نَفْسَهُ زِيَادَةً عَلَى ذُلِّ نَفْسِ السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِي الْمَسْئُوْلَ فَإِنْ فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ

Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim bahwasanya para ulama telah sepakat melarang meminta-minta selain dalam keadaan darurat. Imam an-Nawawi juga berkata bahwa para ashab as-Syafi’i masih berbeda pendapat dalam kasus seseorang meminta-minta yang sebenarnya ia masih mampu bekerja. Pendapat yang lebih shahih menyatakan haram menimbang apa yang ada dalam keterangan hadis. Menurut pendapat kedua menyatakan boleh namun makruh. Kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu tidak dengan cara memaksa, tidak menghinakan dirinya, dan tidak menyakiti orang yang diminta. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram.”[1]

Pemilahan hukum tersebut hanya berlaku apabila seseorang meminta dengan kemauan serta untuk dirinya sendiri. Adapun relawan yang meminta sumbangan untuk orang lain yang membutuhkan hukumnya diperbolehkan karena hal tersebut termasuk ma’unah (membantu pada kebaikan). Sebagaimana keterangan dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin syarh Ihya’ ‘Ulumuddin:

إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيْرَةٌ فِي السُّؤَالِ وَتَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيْمِهِ وَالْمُرَادُ بِالسُّؤَالِ هُنَّا سُؤَالُ النَّاسِ عَامَّةً وَيَكُوْنُ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِيْ تِلْكَ التَّشْدِيْدَاتِ بَلْ هُوَ مَعُوْنَةٌ

Ketahuilah bahwa sudah begitu banyak larangan untuk meminta-minta dan keterangan mengenai mengharamkannya. Akan tetapi yang dimaksud meminta di situ ialah hukum meminta secara umum yang mana hasilnya untuk dirinya sendiri. Sehingga apabila ada relawan yang meminta sumbangan yang hasilnya diberikan untuk orang lain tidak masuk dalam hukum larangan ini, karena hal itu termasuk praktek Ma’unah (membantu pada kebaikan)”.[2]

Dalam prakteknya, apabila relawan mengambil sebagian hasil sumbangan yang telah terkumpul maka hukumnya tidak diperbolehkan, kecuali ada dugaan (dzon) kuat bahwa shohibul musibah telah merelakannya. Sebagaimana ungkapan imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro:

 (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Pertanyaan: apakah mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan hanya tertentu untuk jamuan tamu?. Jawaban: mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan tidak tertentu hanya untuk jamuan tamu. Para ulama menjelaskan bahwasanya dugaan adanya kerelaan itu sama dengan mengetahui kerelaannya. Maka dari itu, ketika seseorang menemukan indikasi kerelaan bahwa pemilik barang memperbolehkan untuk mengambil barangnya, maka bagi seseorang yang mengetahui indikasi tersebut boleh mengambilnya. Namun apabila realita berkata sebaliknya, maka harus mengganti rugi apa yang telah diambilnya”.[3] []waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Fath al-Bari, X/408, Maktabah Syamilah.

[2] Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulumuddin, IX/302.

[3] al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, IV/116, Darul Fikr.

Dzikir Pengiring Jenazah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang adat istiadat yang berlaku di daerah saya, yang mungkin ini juga berlaku di sebagian besar wilayah di Nusantara.

Kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat ialah membaca dzikir dengan suara keras ketika mengiringi jenazah menuju persemayaman terakhir. Bagaimanakah fiqih menanggapi hal itu? Apakah tidak bertentangan dengan kesunnahan untuk bertafakkur tentang kematian di saat ada orang meninggal dunia?. Terimakasih untuk jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ach. Faizal – Buduran, Sidoarjo.

_______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi disebutkan :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَّوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ

Para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika dzikir.”[1]

Atas dasar hadis itu, para ulama telah sepakat bahwa hukum beramai-ramai di samping jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian tetap dihukumi makruh, tak terkecuali bacaan al-Qur’an, dzikir, atau bacaan sholawat.[2] Karena memang yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian atau hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana keterangan yang diungkapkan oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Nihayah az-Zain :

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Imam al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, bacaan dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.”[3]

Meskipun hukumnya demikian, di sebagian besar daerah memiliki kebiasaan melantunkan dzikir semisal bacaan “Laa ilaha illallah” ketika mengiringi jenazah dengan suara yang begitu keras. Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan dalam kitabnya, al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Adapun pendapat yang dipilih ialah sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan bentuk alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.”[4]

Dalam keterangan yang dikutip dari pendapat Imam Ibnu Ziyad tersebut, imam Ibnu ‘Allan sepakat dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa anjuran saat mengiringi jenazah ialah diam dan bertafakkur tentang kematian. Namun melihat realita di masyarakat saat ini hampir dipastikan apabila mereka dianjurkan untuk diam maka yang dilakukan bukanlah tafakkur, justru akan melakukan perbincangan yang tidak bermanfaat apabila tidak tersibukkan dengan bacaan-bacaan dzikir. Maka dari itu, menganjurkan mereka dengan bacaan dzikir adalah suatu langkah alternatif terbaik daripada melakukan kemungkaran yang lebih besar.

Pendapat itu juga memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa dalam memberikan solusi permasalahan keagamaan di tengah-tengah masyarakat tidak hanya dituntut memahami teks hukum secara tekstual. Namun memahami seluk-beluk keadaan masyarakat dengan melalui pendekatan maslahat sangat dibutuhkan demi terciptanya kebaikan untuk semua pihak. Sekian. []waAllahu a’lam

________

Referensi:

[1] As-Sunan al-Kubro li al-Baihaqi, IV/124.

[2] Hasyiyah al-jamal ‘ala al-Manhaj, II/168.

[3] Nihayah az-Zain, hlm 153, cet. Al-Haromain

[4] al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183.