Tag Archives: jenazah

TATA CARA SHALAT JENAZAH SEKALIGUS DOA & ARTINYA LENGKAP

Tata Cara Shalat Jenazah | lirboyo.net
Pulasara atau merawat mayit mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati hingga mengubur masing-masing adalah fardlu kifayah hukumnya. Akan menjadi gugur kefarduan itu jika sudah ada seseorang yang melaksanakannya.
Sehingga sangat penting diadakan edukasi tentang hal ini di tengah masyarakat. Meski telah dibentuk perangkat daerah yang khusus menangani masalah jenazah, namun tak menutup kemungkinan dalam sebagian kasus tidak ditemui perangkat yang menangani. Sehingga mau tidak mau orang di sekitar mayit lah yang terbebani kewajiban untuk merawatnya.

Kali ini kita akan berfokus pada pelaksanaan shalat jenazah saja yang dalam praktiknya, terkadang masih banyak yang merasa kebingungan dengan tata caranya. Selain mengingat shalat tersebut tidak setiap hari kita lakukan kaifiyahnya pun memiliki perbedaan dengan shalat secara umum, yang tidak ada adzan dan iqamat, tidak ada rukuk dan sujud.
Mengenai salat jenazah, sebagian ulama mengatakan bahwa salat ini hanya dimiliki umat Nabi Muhammad saw. Artinya umat-umat nabi sebelum beliau bisa jadi belum disyariatkan untuk mendirikan salat jenazah. Inilah salah satu keistimewaan menjadi umat beliau.
Sebelum melaksanakan shalat, terlebih dahulu harus dipastikan bahwa mayit sudah dimandikan.

Posisi Imam Shalat Jenazah

Apabila jenazah ada di lokasi pelaksanaan shalat (hadir), posisi berdirinya imam tergantung jenis kelamin mayit. Jika mayit laki-laki, maka posisi imam berada sejajar dengan kepala mayit. Sedangkan jika mayit perempuan, posisi imam sejajar dengan pinggang.
Sedang jika mayit tidak di lokasi (ghaib) maka tidak ada ketentuan seperti saat mayit ada di lokasi pelaksanaan solat sebagaimana di atas.

Rukun Shalat Jenazah

Rukun mendirikan shalat jenazah ada tujuh, yang merupakan satu kesatuan dan harus dilaksanakan secara berurutan. Jika tidak maka hukum shalat yang didirikan tidak sah.

1. Niat

Niat dalam shalat jenazah tidak berbeda dengan niat shalat fardlu, ringkasnya lafal niat shalat jenazah sebagaimana berikut :

Bacaan Niat Shalat Jenazah Laki-laki

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ إِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Latin: Usholli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbirotin fardho kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat sholat atas jenazah ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum hanya karena Allah Ta’ala.

Bacaan Niat Shalat Jenazah Perempuan

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Latin: Usholli ‘ala hadzihil mayyitati arba’a takbirotin fardho kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat shalat atas jenazah perempuan ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum hanya karena Allah Ta’ala.”

Bacaan Niat Shalat Ghaib

Jenazah Laki-laki

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتِ الغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Latin : Ushalli ‘alāl mayyitil ghā’ibi arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.
Artinya : “Aku menyengaja shalat jenazah gaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.”

Jenazah Perempuan

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتًةِ الغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Latin : Ushalli ‘alāl mayyitatil ghā’ibati arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.
Artinya : “Aku menyengaja shalat jenazah gaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.”

Atau bagi makmum, lebih mudah lagi dengan niat seperti ini :

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّهِ تَعَالَى

Lafal niat yang terakhir ini mutlak. Bisa digunakan untuk mayit laki-laki maupun perempuan, dengan mayit hadir maupun ghaib.

2. Berdiri bagi yang mampu.

Bisa dengan duduk dan turun lagi pada posisi yang dikuasai bagi yang tidak mampu. Hendaknya, makmum membagi barisannya menjadi tiga shaf, mengingat Nabi saw. pernah bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ

Artinya: “Barangsiapa yang dishalatkan tiga shaf, maka dia wajib (mendapatkan surga) “. (HR: Tirmidzy, no. 1028)

3. Takbir 4 kali

4. Membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama (Takbiratul Ihram)

Sunnah membaca doa Iftitah sebelum Al-Fatihah jika kondisi mayit tidak dikhawatirkan akan membusuk.

5. Membaca Shalawat setelah takbir kedua

Minimalnya membaca shalawat sebagaimana berikut :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ

Lebih sempurnanya membaca shalawat Ibrahimiyyah :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Latin : Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammaddin wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad, kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa ibraahim wa’ala aali sayyidinaa ibraahim, wa baarik ‘alaa sayyidinaa muhammad, wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali sayyidinaa ibraahim, wa’ala aali sayyidinaa ibraahim fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid
Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan untuk Nabi Muhammad. Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung.”

6. Mendoakan Mayit Setelah Takbir Ketiga

Minimalnya doa terhadap mayit seperti di bawah ini :

Jenazah Laki-laki

اَللَّهُمَّ اغُفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Jenazah Perempuan

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَأ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

Jika menghendaki lebih panjang bisa menggunakan doa seperti berikut :

Jenazah Laki-laki

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin :”Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wakrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas. Wa Abdilhu Daaran khairan Min Daarihii Wa Ahlan Khairan Min Ahlihii Wa Zawjan Khairan Min Zawjihi, Wa Adkhilhul Jannata Wa A ‘Idzhu Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.

Jenazah Perempuan

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهِاَ وَاعْفُ عَنْهاَ وَاكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهاَ وَاغْسِلْهَا بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهاَ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهاَ وَادْخِلْهاَ الجَنَّةَ وَاعِذْهَا مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin : Allahummaghfir Lahaa Warhamhaa Wa ‘Aafiha Wa’fu ‘anhaa Wakrim Nuzulahaa Wa Wassi’ Madkhalahaa, Waghsilhaa Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihaa Minal khathaaya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas. Wa Abdilhaa Daaran khairan Min Daarihaa Wa Ahlan Khairan Min Ahlihaa Wa Zawjan Khairan Min Zawjihaa, Wa Adkhilhal Jannata Wa A ‘Idzhaa Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah kedua orang tuaku. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, bersihkanlah kedua orang tuaku dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah kedua orang tuaku dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran. Dan gantilah tempat tinggalnya dengan tempat tinggal yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya juga. Masukkanlah kedua orang tuaku ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.”

7. Salam Setelah Takbir Keempat

Sebelum salam disunnahkan membaca doa berikut:

Mayit Laki-laki:

اللّـٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Latin : “Allahumma laa tahrimna ajrahu wa laa taftinna ba’dahuu waghfir lanaa wa lahuu.
Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

Mayit perempuan

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Latin : Allaahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa la taftinna ba’dahaa waghfir lanaa wa lahaa.

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Kemudian salam ke arah kanan dan kiri dengan posisi masih berdiri dengan lafal salam yang lengkap
“Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.” []

# Tata Cara Shalat Jenazah
# Tata Cara Shalat Jenazah

Baca juga:
MEMBALIK POSISI JENAZAH KETIKA DISALATI

Simak juga:
Rahasia Sukses Dunia & Akhirat

# Tata Cara Shalat Jenazah
# Tata Cara Shalat Jenazah

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami mau bertanya, apakah diperbolehkan mengebumikan jazad seorang Muslim di pemakaman Non-Muslim? Memandang akhir-akhir ini banyak sekali berita kematian di beberapa daerah yang tidak memungkinkan untuk dipisah di tempat pemakaman yang berbeda. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

[Sholehuddin, Pati]

Admin – Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Hukum asal ketika mencampur antara orang Muslim dan Non-Muslim di satu tempat pemakaman umum (TPU), ulama Syafi’iyyah tidak memperbolehkannya. Hal ini dikatakan secara tegas oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab.

اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمْ اللَّهُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُدْفَنُ مُسْلِمٌ فِي مَقْبَرَةِ كُفَّارٍ وَلَا كَافِرٌ فِي مَقْبَرَةِ مُسْلِمِيْنَ

“Ulama Syafi’iyyah sepakat tidak memperbolehkan untuk mengebumikan jenazah seorang Muslim di satu pemakaman bersama Non-Muslim. Juga tidak memperbolehkan orang Non-Muslim berada di satu pemakaman bersama dengan orang Muslim.”[1]

Larangan ini dilandasi dari hadist Nabi yang mengatakan:

عَن عَليّ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَدْفَنَ مَوتَانَا وَسَطَ قَوْمِ صَالِحِيْنَ فَإِنَّ الْمَوْتَى يَتَأَذُّوْنَ بِالْجَارِ اَلسُّوْءِ كَمَا يَتَأَذَّى بِهِ الْأَحْيَاءُ

Dari sahabat Ali Karomallahu wajhah berkata: “Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengubur jenazah dari golongan kami (Muslim) di tengah pemakaman orang-orang shalih. Sesungguhnya orang-orang yang telah meninggal, juga merasakan sakit bertetangga dengan orang yang buruk, sebagaimana orang yang masih hidup merasakannya.”[2]

Hadits ini memberikan suatu hukum bahwa disunahkan bagi seorang Muslim memilihkan tempat bagi jenazah saudaranya untuk ditempatkan di dekat makam orang-orang shalih. Ini dimaksudkan agar jenazah tersebut mendapakan keberkahan karena dekat dengan mereka. Hendaknya juga untuk menjauhkan jenazah tersebut dari orang-orang sebaliknya. Karena dikhawatirkan, ia merasakan sakit sebab bertetangga dengan orang yang buruk.

Baca juga: Hukum Melantunkan Dzikir Saat Mengiringi Jenazah

Diperbolehkan ketika adanya dhorurat

Ketika dalam kondisi tertentu, mencampur jenazah Muslim dan Non-Muslim dalam satu TPU, hukumnya diperbolehkan, tetapi hanya ketika ada suatu dharurat. Hal ini seperti yang difatwakan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili.

مَا حُكْمُ دَفْنُ المُسْلِمِ فِي مَقَابِرِ غَيْرِ الًمُسْلِمِيْنَ، حَيْثُ لَا يُسْمَحُ لِلدَّفْنِ خَارِجِ الْمَقَابِرِ الْمُعْدَةِ لِذَلِكَ وَلَا تُوْجَدُ مَقَابَرِ خَاصَةً بِالْمُسْلِمِيْنَ فِي مَعْظَمِ الْوِلَايَاتِ الْأَمَرِيْكِيَّةِ وَالْأَقْطَارِ الْأَوْرَبِيَّةِ؟

“Apa hukum mengubur seorang Muslim di pemakaman non-Muslim karena tidak diperbolehkan mengubur di luar pemakaman yang disiapkan dan tidak ditemukan pemakaman Muslim di sebagian besar negara bagian Amerika dan negara-negara Eropa?”

Beliau menjawab:

إِنَّ دَفْنَ الْمُسْلِمِ فِي مَقَابِرِ غَيْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي بِلَادِ غَيْرِ إِسْلَامِيَّةِ جَائِزٌ لِلضَّرُوْرَةِ.

“Mengubur seorang Muslim di sebagian wilayah pemakaman non-Muslim diperbolehkan ketika adanya dharurat.” [3]

Pada masa sekarang dengan merebaknya kasus orang meninggal dunia, banyak pemakaman khusus Muslim yang telah penuh, sehingga mau tidak mau untuk menguburnya di pemakaman Non-Muslim yang masih longgar. Hukum mengubur di tempat tersebut diperbolehkan ketika memang sudah tidak ada tempat lagi untuk mengebumikan orang Muslim di TPU khusus orang Muslim.[]

Tonton juga: Sisi Positif di Masa Pandemi

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

[1] Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab, hlm. 286, vol. V (CD: Maktabah Syamilah)
[2] Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Syarah as-Shudur, hlm. 106 (CD: Maktabah Syamilah)
[3] Wahbah az-Zuhaily, Al-Fikih al-Islamiy wa Adillatuhu, hlm. 5109, vol. 7 (CD: Maktabah Syamilah)

Menyoal Kuburan Massal

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, bagaimana sebenarnya hukum kuburan massal? Karena sebatas pemahaman saya, kuburan itu harus sendiri-sendiri setiap jenazah. Terimakasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Rika W. – Lombok)

_____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di tengah maraknya bencana alam, perawatan jenazah korban bencana sering tidak bisa dilakukan secara normal. Sehingga penguburan massal menjadi solusinya.

Menurut mazhab Syafi’i, dalam kondisi normal tidak boleh mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu liang kubur. Masing-masing harus disendirikan dengan satu liang kubur. Namun demikian dalam kondisi darurat kita diperbolehkan mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu liang kubur. Salah satu contoh kondisi darurat adalah jumlah jenazah yang banyak dan sulit untuk membuatkan liang kubur bagi masing-asing jenazah karena terbatasnya lahan. Syekh Nawawi Banten pernah menjelaskan:

وَلَا يَجُوزُ جَمْعُ اثْنَيْنِ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ بَلْ يُفْرَدُ كُلُّ وَاحِدٍ بِقَبْرٍ … نَعَمْ، إِنْ دَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَى ذَلِكَ كَأَنْ كَثُرَتِ الْمَوْتَى وَعَسُرَ إِفْرَادُ كُلِّ مَيِّتٍ بِقَبْرٍ لِضَيْقِ الْأَرْضَ، فَيُجْمَعُ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ وَالْأَكْثَرِ فَي قَبْرٍ بِحَسَبِ الضَّرُورَةِ

Tidak boleh mengumpulkan dua jenazah dalam satu liang kubur, namun masing-masing harus disendirikan dengan liang kuburnya… Memang demikian, namun bila kondisi darurat mengharuskan dua jenazah dikumpulkan dalam satu liang kubur, seperti jenazahnya banyak dan sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah karena areanya terbatas, maka dua jenazah, tiga dan selebihnya boleh dikumpulkan sesuai kondisi daruratnya,”[1]

Batasan ‘sulit’ dalam kalimat ‘sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah’, menurut pakar fiqih Syafi’i Al-Azhar Mesir, Imam Ibnu Qasim Al-‘Abadi, bahkan tidak mengharuskan jenazahnya banyak, namun cukup seperti bila upaya menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah berakibat jarak antar liang kubur berjauhan, sekiran sulit untuk diziarahi karena tidak saling berdekatan.

Namun demikian hal ini tidak disetujui oleh Syekh Abdul Hamid As-Syarwani. Beliau mengatakan:

وَفِيهِ نَظَرٌ وَالظَّاهِرُ مَا فِي ع ش مِمَّا نَصُّهُ فَمَتَى سَهُلَ إفْرَادُ كُلِّ وَاحِدٍ لَا يَجُوزُ الْجَمْعُ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَلَا يَخْتَصُّ الْحُكْمُ بِمَا اُعْتِيدَ الدَّفْنُ فِيهِ بَلْ حَيْثُ أَمْكَنَ وَلَوْ غَيْرَهُ وَلَوْ كَانَتْ بَعِيدًا وَجَبَ حَيْثُ كَانَ يُعَدُّ مَقْبَرَةً لِلْبَلَدِ وَيَسْهُلُ زِيَارَتُهُ

Dalam pendapat Ibn Qasim itu ada kejanggalan. (Ukuran ‘sulit menyediakan satu liang kubur untuk masing-masing jenazah’) yang jelas adalah keterangan yang ada dalam catatan Syekh Ali As-Syibramalisi dari redaksinya yang menyatakan, ‘Maka selama mudah menyendirikan masing-masing jenazah dengan satu liang kubur, tidak boleh mengumpulkan dua jenazah dalam satu liang kubur. Hukum ini tidak hanya berlaku untuk area yang biasa digunakan untuk menguburkan jenazah, bahkan sekira mungkin meski dengan area selainnya dan meski jauh, maka wajib menyendirikan jenazah dengan liang kuburnya sekira area tersebut dianggap sebagai area perkuburan bagi daerah tersebut dan mudah menziarahinya,”[2]

Namun menimbang keadaan saat bencana—dengan segala keterbatasan yang ada—maka sudah dapat dikategorikan darurat yang memperbolehkan melakukan penguburan massal.

[]waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Nihayatuz Zain, vol. I hal. 163

[2] Hawasyi As-Syarwani, vol. III hal. 174

Donasi yang Mentradisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi sebuah tradisi di wilayah Jember, di mana kala ada tetangga yang meninggal dunia, tetangga yang lain sama-sama berbondong-bondong mengantarkan si kemayit ke kuburan. Tidak hanya itu, prosesi mengantarkan mayit juga sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan pada setiap orang yang berpapasan dengan iring-iringan pembawa mayit, baik pejalan kaki, pengendara motor, ataupun pengendara mobil. Uang yang terkumpul biasanya diberikan kepada shohibul musibah secara utuh. Namun ada pula yang sebagian diambil untuk sebatas membeli air mineral gelasan untuk memberi minuman bagi yang sudah bersusah-payah mengantarkan mayit sampai kuburan.

Yang kami tanyakan ialah bagaimana hukum meminta sumbangan dalam tradisi tersebut?. Dan bolehkah si penarik uang mengambil sebagian hasil uang sumbangan untuk dibelanjakan atau ditasharrufkan selain pada shohibul musibah? terimakasih.

(Arid– Jember, Jawa Timur)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam tradisi yang ada di wilayah Jember tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni hukum meminta sumbangan yang dilakukan oleh para relawan dan hukum mengambil sebagian hasil uang sumbangan yang dilakukan oleh relawan penarik sumbangan.

Pada dasarnya, hukum meminta diperinci oleh para ulama. Sebagaimana keterangan imam an-nawawi dala, kitab Syarah Shahih Muslim yang kemudian dikutip oleh imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari ‘ala Shahih al-Bukhari:

قَالَ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمِ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ السُّؤَالِ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ قَالَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيْ سُؤَالِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا التَّحْرِيْمُ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيْثِ وَالثَّانِيْ يَجُوْزُ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوْطٍ ثَلَاثَةٍ أَنْ لَا يُلِحَّ وَلَا يُذِلَّ نَفْسَهُ زِيَادَةً عَلَى ذُلِّ نَفْسِ السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِي الْمَسْئُوْلَ فَإِنْ فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ

Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim bahwasanya para ulama telah sepakat melarang meminta-minta selain dalam keadaan darurat. Imam an-Nawawi juga berkata bahwa para ashab as-Syafi’i masih berbeda pendapat dalam kasus seseorang meminta-minta yang sebenarnya ia masih mampu bekerja. Pendapat yang lebih shahih menyatakan haram menimbang apa yang ada dalam keterangan hadis. Menurut pendapat kedua menyatakan boleh namun makruh. Kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu tidak dengan cara memaksa, tidak menghinakan dirinya, dan tidak menyakiti orang yang diminta. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram.”[1]

Pemilahan hukum tersebut hanya berlaku apabila seseorang meminta dengan kemauan serta untuk dirinya sendiri. Adapun relawan yang meminta sumbangan untuk orang lain yang membutuhkan hukumnya diperbolehkan karena hal tersebut termasuk ma’unah (membantu pada kebaikan). Sebagaimana keterangan dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin syarh Ihya’ ‘Ulumuddin:

إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيْرَةٌ فِي السُّؤَالِ وَتَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيْمِهِ وَالْمُرَادُ بِالسُّؤَالِ هُنَّا سُؤَالُ النَّاسِ عَامَّةً وَيَكُوْنُ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِيْ تِلْكَ التَّشْدِيْدَاتِ بَلْ هُوَ مَعُوْنَةٌ

Ketahuilah bahwa sudah begitu banyak larangan untuk meminta-minta dan keterangan mengenai mengharamkannya. Akan tetapi yang dimaksud meminta di situ ialah hukum meminta secara umum yang mana hasilnya untuk dirinya sendiri. Sehingga apabila ada relawan yang meminta sumbangan yang hasilnya diberikan untuk orang lain tidak masuk dalam hukum larangan ini, karena hal itu termasuk praktek Ma’unah (membantu pada kebaikan)”.[2]

Dalam prakteknya, apabila relawan mengambil sebagian hasil sumbangan yang telah terkumpul maka hukumnya tidak diperbolehkan, kecuali ada dugaan (dzon) kuat bahwa shohibul musibah telah merelakannya. Sebagaimana ungkapan imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro:

 (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Pertanyaan: apakah mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan hanya tertentu untuk jamuan tamu?. Jawaban: mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan tidak tertentu hanya untuk jamuan tamu. Para ulama menjelaskan bahwasanya dugaan adanya kerelaan itu sama dengan mengetahui kerelaannya. Maka dari itu, ketika seseorang menemukan indikasi kerelaan bahwa pemilik barang memperbolehkan untuk mengambil barangnya, maka bagi seseorang yang mengetahui indikasi tersebut boleh mengambilnya. Namun apabila realita berkata sebaliknya, maka harus mengganti rugi apa yang telah diambilnya”.[3] []waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Fath al-Bari, X/408, Maktabah Syamilah.

[2] Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulumuddin, IX/302.

[3] al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, IV/116, Darul Fikr.

Dzikir Pengiring Jenazah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang adat istiadat yang berlaku di daerah saya, yang mungkin ini juga berlaku di sebagian besar wilayah di Nusantara.

Kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat ialah membaca dzikir dengan suara keras ketika mengiringi jenazah menuju persemayaman terakhir. Bagaimanakah fiqih menanggapi hal itu? Apakah tidak bertentangan dengan kesunnahan untuk bertafakkur tentang kematian di saat ada orang meninggal dunia?. Terimakasih untuk jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ach. Faizal – Buduran, Sidoarjo.

_______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi disebutkan :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَّوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ

Para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika dzikir.”[1]

Atas dasar hadis itu, para ulama telah sepakat bahwa hukum beramai-ramai di samping jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian tetap dihukumi makruh, tak terkecuali bacaan al-Qur’an, dzikir, atau bacaan sholawat.[2] Karena memang yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian atau hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana keterangan yang diungkapkan oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Nihayah az-Zain :

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Imam al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, bacaan dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.”[3]

Meskipun hukumnya demikian, di sebagian besar daerah memiliki kebiasaan melantunkan dzikir semisal bacaan “Laa ilaha illallah” ketika mengiringi jenazah dengan suara yang begitu keras. Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan dalam kitabnya, al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Adapun pendapat yang dipilih ialah sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan bentuk alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.”[4]

Dalam keterangan yang dikutip dari pendapat Imam Ibnu Ziyad tersebut, imam Ibnu ‘Allan sepakat dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa anjuran saat mengiringi jenazah ialah diam dan bertafakkur tentang kematian. Namun melihat realita di masyarakat saat ini hampir dipastikan apabila mereka dianjurkan untuk diam maka yang dilakukan bukanlah tafakkur, justru akan melakukan perbincangan yang tidak bermanfaat apabila tidak tersibukkan dengan bacaan-bacaan dzikir. Maka dari itu, menganjurkan mereka dengan bacaan dzikir adalah suatu langkah alternatif terbaik daripada melakukan kemungkaran yang lebih besar.

Pendapat itu juga memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa dalam memberikan solusi permasalahan keagamaan di tengah-tengah masyarakat tidak hanya dituntut memahami teks hukum secara tekstual. Namun memahami seluk-beluk keadaan masyarakat dengan melalui pendekatan maslahat sangat dibutuhkan demi terciptanya kebaikan untuk semua pihak. Sekian. []waAllahu a’lam

________

Referensi:

[1] As-Sunan al-Kubro li al-Baihaqi, IV/124.

[2] Hasyiyah al-jamal ‘ala al-Manhaj, II/168.

[3] Nihayah az-Zain, hlm 153, cet. Al-Haromain

[4] al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183.