HomeKonsultasiDonasi yang Mentradisi

Donasi yang Mentradisi

0 4 likes 223 views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi sebuah tradisi di wilayah Jember, di mana kala ada tetangga yang meninggal dunia, tetangga yang lain sama-sama berbondong-bondong mengantarkan si kemayit ke kuburan. Tidak hanya itu, prosesi mengantarkan mayit juga sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan pada setiap orang yang berpapasan dengan iring-iringan pembawa mayit, baik pejalan kaki, pengendara motor, ataupun pengendara mobil. Uang yang terkumpul biasanya diberikan kepada shohibul musibah secara utuh. Namun ada pula yang sebagian diambil untuk sebatas membeli air mineral gelasan untuk memberi minuman bagi yang sudah bersusah-payah mengantarkan mayit sampai kuburan.

Yang kami tanyakan ialah bagaimana hukum meminta sumbangan dalam tradisi tersebut?. Dan bolehkah si penarik uang mengambil sebagian hasil uang sumbangan untuk dibelanjakan atau ditasharrufkan selain pada shohibul musibah? terimakasih.

(Arid– Jember, Jawa Timur)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam tradisi yang ada di wilayah Jember tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni hukum meminta sumbangan yang dilakukan oleh para relawan dan hukum mengambil sebagian hasil uang sumbangan yang dilakukan oleh relawan penarik sumbangan.

Pada dasarnya, hukum meminta diperinci oleh para ulama. Sebagaimana keterangan imam an-nawawi dala, kitab Syarah Shahih Muslim yang kemudian dikutip oleh imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari ‘ala Shahih al-Bukhari:

قَالَ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمِ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ السُّؤَالِ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ قَالَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيْ سُؤَالِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا التَّحْرِيْمُ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيْثِ وَالثَّانِيْ يَجُوْزُ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوْطٍ ثَلَاثَةٍ أَنْ لَا يُلِحَّ وَلَا يُذِلَّ نَفْسَهُ زِيَادَةً عَلَى ذُلِّ نَفْسِ السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِي الْمَسْئُوْلَ فَإِنْ فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ

Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim bahwasanya para ulama telah sepakat melarang meminta-minta selain dalam keadaan darurat. Imam an-Nawawi juga berkata bahwa para ashab as-Syafi’i masih berbeda pendapat dalam kasus seseorang meminta-minta yang sebenarnya ia masih mampu bekerja. Pendapat yang lebih shahih menyatakan haram menimbang apa yang ada dalam keterangan hadis. Menurut pendapat kedua menyatakan boleh namun makruh. Kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu tidak dengan cara memaksa, tidak menghinakan dirinya, dan tidak menyakiti orang yang diminta. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram.”[1]

Pemilahan hukum tersebut hanya berlaku apabila seseorang meminta dengan kemauan serta untuk dirinya sendiri. Adapun relawan yang meminta sumbangan untuk orang lain yang membutuhkan hukumnya diperbolehkan karena hal tersebut termasuk ma’unah (membantu pada kebaikan). Sebagaimana keterangan dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin syarh Ihya’ ‘Ulumuddin:

إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيْرَةٌ فِي السُّؤَالِ وَتَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيْمِهِ وَالْمُرَادُ بِالسُّؤَالِ هُنَّا سُؤَالُ النَّاسِ عَامَّةً وَيَكُوْنُ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِيْ تِلْكَ التَّشْدِيْدَاتِ بَلْ هُوَ مَعُوْنَةٌ

Ketahuilah bahwa sudah begitu banyak larangan untuk meminta-minta dan keterangan mengenai mengharamkannya. Akan tetapi yang dimaksud meminta di situ ialah hukum meminta secara umum yang mana hasilnya untuk dirinya sendiri. Sehingga apabila ada relawan yang meminta sumbangan yang hasilnya diberikan untuk orang lain tidak masuk dalam hukum larangan ini, karena hal itu termasuk praktek Ma’unah (membantu pada kebaikan)”.[2]

Dalam prakteknya, apabila relawan mengambil sebagian hasil sumbangan yang telah terkumpul maka hukumnya tidak diperbolehkan, kecuali ada dugaan (dzon) kuat bahwa shohibul musibah telah merelakannya. Sebagaimana ungkapan imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro:

 (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Pertanyaan: apakah mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan hanya tertentu untuk jamuan tamu?. Jawaban: mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan tidak tertentu hanya untuk jamuan tamu. Para ulama menjelaskan bahwasanya dugaan adanya kerelaan itu sama dengan mengetahui kerelaannya. Maka dari itu, ketika seseorang menemukan indikasi kerelaan bahwa pemilik barang memperbolehkan untuk mengambil barangnya, maka bagi seseorang yang mengetahui indikasi tersebut boleh mengambilnya. Namun apabila realita berkata sebaliknya, maka harus mengganti rugi apa yang telah diambilnya”.[3] []waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Fath al-Bari, X/408, Maktabah Syamilah.

[2] Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulumuddin, IX/302.

[3] al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, IV/116, Darul Fikr.