HomeAngkringKesaksian Baik Pada Mayit

Kesaksian Baik Pada Mayit

0 1 likes 212 views share

Kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap yang hidup, kedatangannya tak di duga, bisa kapan saja, tidak peduli dengan kondisi empunya nyawa, sanak yang di tinggal, atau penyebabnya. Hanya bisa pasrah dan rela dengan hasil amal yang pernah di perjuangkan dulu, baik ataupun buruknya.

Disaat nyawa sudah terpisah dengan wadanya yakni tubuh, di situlah kewajiban-kewajiban bagi yang asih hidup di mulai menyangkut tindakan berikutnya kepada si mayat. Meliputi memandikannya, mengkafani, mensholati hingga mengkuburnya.

Setelah semua beres, sebelum mayit di bawa di pekuburan, hal yang lumrah terjadi di lingkungan kita adalah meminta persaksian baik, memohon bagi para hadirin yang masih mempunya sangkut paut urusan duniawi maupun ukhrowi dengan si mayyit agar menembusi dan menjelaskan perkaranya kepada pihak keluarga, yang biasanya hal ini di lakukan oleh perwakilan keluarga, atau tokoh masyarakat setempat.

Persaksian baik kepada para hadirin tentang perilaku mayik waktu di dunia, merupan kebiasaan yang baik, yang patut terus di lestarikan karena juga termasuk kearifan lokal kita. Hal ini bukanlah tanpa dasar, Nabi sendiri bersabda :

أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلَاثَةٌ قَالَ وَثَلَاثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ الْوَاحِدِ
صحيح البخاري                                                                                

“Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke sorga”, maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : “walau tiga”, lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : “walau dua”. Lalu kami tak bertanya jika hanya satu” (Shahih Bukhari)

Dengan begitu ketika meminta persaksian kepada para hadirin, harapan terbesar keluarga yang di tinggal, persaksian tersebut di harap akan menolong dan mempermudah jalan panjang sang mayit di akhirat sana.

Selain itu, kita sebagai yang masih hidup, sangat di anjurkan supaya berprasangka baik kepada siapapun, bahkan kepada si mayit, entah kita memang benar-benar tahu perihal kenyataannya tatkala masih hidup ataupun tidak. Karena hanya allahlah yang tau baik buruknya seseorang, apalagi di saat sebelum kematian menjemput, yang merupakan saat penentu keselamatan atau celakanya seseorang.

Menyitir hadis di atas, pernah suatu ketika sayyidina umar bersama dengan shahabat yang lain berpapasan dengan segerombolan orang yang hendak membawa mayit ke pekuburan, para sahabat berkata bahwa “orang ini orang yang baik”.

maka berkatalah Sayyidina Umar bin Khattab ra:

“memang sepantasnya ia mendapatkan surga”.

Lalu lewat jenazah kedua, para sahabat berkata “ini orang yang tidak baik”.

 maka berkatalah Sayyidina Umar bin Khattab yaitu “pantas baginya kehinaan neraka”.

Para Sahabat bertanya tentang komentar beliau tadi, maka Sayyidina Umar meriwayatkan hadits ini lalu ada tambahannya : 

“antum syuhada’ullah fil ardh

 kalian adalah saksi – saksi Allah di muka bumi.

Menunjukkan dari bentuk kemuliaan hadits ini bagaimana eratnya hubungan muslimin – muslimat, satu sama lain menyaksikan kebaikan saudaranya maka itu menjadi dalil yang kuat baginya di hadapan Allah untuk diselamatkan dari kemurkaan Allah.

Semakin banyak orang menyaksikan ia berbuat baik di muka bumi maka semakin kuat bahwa ia kelak akan masuk surganya Allah.

Semoga kita bisa meraih husnul khotimah di akhir hidup kita kelak, amiin