Tag Archives: Pondok Salaf

Doa Penghapus Siksa

Ibnu Abid Dunya menuturkan, suatu hari seseorang penduduk Madinah meninggal dunia. Salah seorang temannya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi laki-laki itu muncul dengan kondisi mengkhawatirkan seolah ia termasuk ahli neraka. Setelah itu, ia kembali tenggelam dan tiada.

Tidak lebih dari satu jam kemudian, ia muncul lagi dalam wajah yang berseri, kini dia tampaknya sudah menjadi ahli surga. Lalu ditanyakan kepadanya, “Bukankah tadi kau bilang bahwa kau termasuk penghuni neraka?” Orang itu menjawab, “Ya, namun beruntung aku dikuburkan di samping kuburan orang-orang saleh dan dia mendoakan empat puluh mayat lainnya di sampingnya, dan aku salah satunya.”

Ahmad bin Yahya juga bercerita: Suatu hari saudaraku meninggal dunia. Aku bermimpi bertemu dengannya. Aku bertanya, “Bagaimana keadaanmu ketika berada di dalam kuburan?” Ia menjawab, “Pertama kali aku didatangi panah api yang menyala-nyala. Kalaulah tidak ada keluargaku yang mendoakanku, tentu anak panah api itu akan menembus tubuhku,” (HR Ibnu Abid Dunya).

Imam Hasan al- Basri bertutur bahwa dahulu ada seorang perempuan disiksa dalam kuburnya. Semua orang saat itu bermimpi  melihatnya disiksa. Tidak lama setelah itu, orang-orang juga kembali bermimpi bertemu dengannya, tapi kini ia sudah tersenyum ceria karena mendapatkan nikmat kubur.

Ketika ditanya, wanita itu menjawab, “Suatu hari seorang laki-laki melewati kuburan  kami, ia membaca surat al-Fatihah serta shalawat, lalu ia menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada kami, sementara di areal pekuburan tersebut  terdapat 560 mayat yang sedang disiksa. Setelah laki-laki  menghadiahkan bacaan  tersebut, tiba-tiba terdengar suara, ‘Lepaskan mereka dari siksa kubur, lantaran berkah shalawat laki-laki itu kepada Rasullulah saw.” (HR Ibnu Abid Dunya).

*Disarikan dari buku Setan Pun Hafal Ayat Kursi (Aep Saepulloh Darusmanwiati, M.A.)

Konferwil NU Jatim: Meneguhkan NU Sebagai Payung Bangsa

LirboyoNet, Kediri–  (28/07/18) Pembukaan agenda Konferwil PWNU Jatim yang dilaksanakan di aula Muktamar PP. Lirboyo berjalan begitu Khidmat dan meriah. Sebelum manual acara dimulai panitia mengajak para hadirin untuk berdiri bersama-sama melantunkan Indonesia Raya dan Syair Hubbul Wathon.

Dalam sambutannya, KH. Hasan Mutawakkil Alallah selaku ketua tanfidziah PWNU Jatim menyampaiakan bahwa agenda lima tahunan yang bertajuk “meneguhkan kembali NU Sebagai Payung Bangsa” memiliki tujuan agar warga NU senantiasa menjadi warga yang berbangsa dan bernegara dengan baik. “Saya yakin, kita yakin, bahwa keberadaan bangsa Indonesia yang multikultur, multi etnis, multi keyakinan, merupakan anugrah Allah, yang diberikan kepada bangsa ini, yang harus kita jaga, dan pelihara bersama-sama.” Ungkap beliau. “Oleh karenanya, dengan istikamah, (dengan) sikap NU semacam ini, secara global ini, maka NU akan menjadi payung yang teduh untuk bangsa ini, payung yang teduh untuk kader bangsa ini, payung untuk semua elemen bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.”

Beliau juga menekankan bahwa pentingnya menjunjung tinggi Haibah (wibawa) para ulama dan NU, “Karena jika tidak maka yang dikhawatirkan bukan hanya nasib NU tapi juga keutuhan NKRI ini.” Pungkas beliau.

KH. M. Anwar Iskandar juga menekankan, mengenai tiga tugas pokok kita sebagai warga NU. “Paling tidak ada tiga hal penting yang menjadi amanah dari umat dan bangsa ini untuk NU. Nomer satu adalah bagaimana mempertahankan, memperjuangkan, dan melestarikan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdiyah di bumi nusantara ini. Tutur beliau. “Tugas kedua, bagaimana menyelamatkan negara kesatuan Republik Indonesia ini.” tugas kedua ini, menurut beliau sangat sejalan dengan tema konferwil malam tadi. “Yang ketiga, bagaimana organisasi NU ini kita jadikan alat untuk mejaga kesejahteraan umat nahdhiyyin. Bagaimana umat ini sejahtera dalam ekonomi, kesehatan, keilmuan.” Tutup beliau.

Nampak hadir dalam Acara tersebut, segenap pengasuh PP Lirboyo, ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj beserta Sekjend PBNU H. Helmi faisal Zaini, juga segenap pengurus NU se-Jatim. Acara berakhir sekitar pukul 23.00 WIB setelah dibuka langsung oleh ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj. Agenda-agenda akan berlangsung mulai pagi ini hingga nanti sore.[iw]

 

 

Lirboyo, Pesantren Salaf Inspiratif Indonesia

LirboyoNet, Jakarta—Di Hari Santri Nasional 2017 kemarin, Ahad (22/10) Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan hadiah spesial. Pondok Pesantren Lirboyo mendapat penghargaan dari Islam Nusantara Center sebagai Pesantren Salaf Inspiratif.

Islam Nusantara Center (INC) adalah lembaga khusus yang diinisiasi oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syahid) Jakarta. Menurut  Prof Dr Dede Rosyada, Rektor UIN Syahid, INC didirikan untuk mengkaji kembali khazanah ulama-ulama Nusantara. Ini dianggap penting karena umat Islam di Indonesia harus memahami betul sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Mereka juga harus mengetahui siapa pelaku sejarah itu. Dalam visinya yang lebih besar, INC diharapkan mampu menjadi promotor dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam di dunia.

Agenda pemberian penghargaan dalam bungkus “Santri of the Year” ini dimaksudkan untuk mempertegas tujuan mulia INC itu. Meskipun baru dilangsungkan dua kali ini, even “Santri of the Year” telah mampu menyedot perhatian tokoh-tokoh besar dan para pemerhati bangsa. Buktinya, dalam even ini, turut hadir Menristek Dikti, Mohammad Natsir, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Sekjen PBNU, Helmy Faisal. Untuk tahun ini, even ini digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, pada Ahad, 22 Oktober 2017 M.

Mengenai penghargaan Pesantren Salaf Inspiratif, ada beberapa poin penting yang menjadikan Pondok Pesantren Lirboyo dianggap pantas untuk menjadi pusat inspirasi bagi pondok-pondok salaf lain.

“Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pondok Pesantren Lirboyo mendapat tawaran untuk menambahkan kurikulum/pelajaran formal, dengan jaminan segala biaya oprasional madrasah serta gaji guru ditanggung pemerintah,” buka Agus HM. Adibussholeh Anwar saat memberikan keterangan terkait pemberian penghargaan ini.

Ia melanjutkan, setelah tawaran itu bermunculan, diadakanlah rapat pengasuh. Dengan pertimbangan bahwa generasi saat ini hanyalah sebagai penerus pendidikan yang telah dirintis oleh sang pendiri, KH. Abdul Karim, maka segenap pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut. Dengan demikian, Pondok Pesantren Lirboyo mempertahankan jati dirinya sebagai pesantren salaf sampai saat ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo ini berharap, generasi penerus Pondok Pesantren Lirboyo dapat seterusnya mempertahankan metode pendidikan yang telah diwariskan turun temurun sejak pendiri, KH. Abdul Karim. Karena keistikamahan inilah yang menjadikan Ponpes Lirboyo menjadi salah satu aset bangsa dalam menginspirasi umat. “Oleh sebab keistiqomahan para pengasuh mulai generasi pertama, kedua hingga ketiga inilah, maka Lirboyo mendapat penghargaan Pesantren Salaf Inspiratif ini,” pungkasnya.

Semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh pondok pesantren salaf di manapun, agar tetap mempertahankan ideologi salaf sebagai pijakan utama dalam mendidik santri, baik di masa kini, lebih-lebih di masa depan.

Berikut daftar nama penerima anugerah “Santri of the Year 2017”:

  1. Santri Pengabdi Sepanjang Hayat: KH Saifudin Zuhri.
  2. Santri inspiratif bidang dakwah: KH. Anwar Zahid (Bojonegoro).
  3. Santri Inspiratif bidang seni dan budaya: Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf (pegiat seni shalawat Solo).
  4. Santri Inspiratif bidang pendidikan: Prof Abdul A’la (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya).
  5. Santri Inspiratif bidang wirausaha: Nanang Qosim Yusuf (Master Motivator the 7 Awarenes-Banten).
  6. Santri Inspiratif bidang kepemimpinan dalam pemerintahan: Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jatim).
  7. Pesantren Salaf Inspiratif: Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
  8. Pesantren Modern Inspiratif: Pesantren Ummul Quro Al Islami Leuwiliang Bogor.
  9. Pesantren Enterpreneur Inspiratif: Pesantren Agribisnis Al Hikmah 2 Benda Brebes.
  10. Pahlawan santri: KH Bisri Syamsuri Denanyar Jombang.
  11. Santri Berprestasi Internasional: Izza Nur Layla (santri pesantren Nuris Jember, Juara Internasional Kompetisi Agribisnis).

Sumber daftar penerima anugerah: jaringansantri.com (akun resmi Islam Nusantara Center).

Cintailah Pesantrenmu!

Membawa nama besar almamater sebuah instansi memang tidak mudah. Sebagai alumni, harus benar-benar bisa menjaga nama baik instansi tersebut. Dengan beragam cara, tergantung seperti apa kiprah sang alumni diatas. Ini jugalah yang menjadi harapan para masyayikh, guru-guru yang ada di Pondok Pesantren Lirboyo. Santri ketika pulang harus bisa menjaga nama baik almamater dan tetap peduli kepada pondoknya dulu, meski tidak lagi menetap di pesantren dan telah berkeluarga.

Akhir-akhir ini banyak sekali alumni yang putra maupun putrinya hanya belajar di pendidikan formal saja. Tidak meneruskan jejak orang tuanya untuk mondok di pesantren. Hal ini menurut KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, selaku pengasuh Ponpes Lirboyo dalam acara muhafadhoh akhirussanah tahun 2017 kemarin (03/04), adalah karena kurangnya rasa cinta dan perhatian kepada pondok pesantren yang menjadi almamaternya dulu, ataupun karena kurangnya mahabbah kepada guru yang pernah membimbingnya selama menjadi santri.

Orang pesantren yang tidak ada mahabbah (rasa cinta –Red) kepada pesantren dan kiai, anaknya jauh dari pesantren. Tidak ada yang mondok di pesantren.” Tutur KH. Abdullah Kafabihi.

Beliau juga menambahkan, orang yang punya perhatian lebih, dan memiliki rasa senang kepada pesantren justru lebih baik daripada alumnus pesantren sendiri, namun ketika pulang ternyata “lepas tangan” begitu saja. Jangankan mencintai, memiliki perhatian kepada pesantrennya pun tidak. Beliau mengatakan, “Orang awam, orang biasa yang mahabbah dan simpati kepada pesantren, lebih baik daripada alumni pesantren yang tidak mahabbah pada pesantren. Sebab orang awam yang mahabbah pada pesantren, mungkin anaknya (kelak) bisa mondok di pesantren.

Semoga bisa menjadi koreksi untuk kita, jangan pernah melupakan pesantrenmu dulu. Sebab bagaimanapun suksesnya seorang alumni, tentu saja itu tak pernah lepas dari jasa guru-gurunya.[]

Turba HIMASAL di Kalimantan Timur

LirboyoNet, Kalimantan Timur – Untuk kali kedua, sepekan yang lalu tepatnya Jumat-Ahad (6-8 Mei 2016), Pengurus Pusat HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Timur. Turba kali ini diwakili oleh KH. An’im Falachuddin Mahrus dan KH. Nurul Huda Ahmad, selaku Ketua Satu dan Dua HIMASAL. Turut serta pula, Agus M. Ahsin Ahmad, Slumbung, Kediri.

Beragam acara digelar pada kunjungan tersebut. Jumat sore, rombongan meninjau sebidang tanah yang akan dihibahkan kepada Pondok Pesantren Lirboyo. Malam harinya, Pengurus Pusat HIMASAL mengisi pengajian umum yang dibingkai dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW serta peringatan Harlah Ke-5 Desa Bangun Mulya, Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Meskipun konsep acara tersebut sederhana, tidak mengurangi antusias masyarakat untuk hadir mendengarkan tausiyah dari masyayikh Lirboyo.

Kunjungan-Kiai-Lirboyo-Ke-KaltimSabtu pagi harinya, mengunjungi tanah yang diwakafkan kepada Pondok Pesantren Lirboyo dan saat ini sudah digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar agama. Selepas survei tanah wakaf yang berlokasi di kilo meter 25,5 Balikpapan tersebut, rombongan menghadiri acara Serasehan Alumni dan Santri Lirboyo di Palaran, yang berlangsung hingga sore hari dan diakhiri dengan mushofahah.

Banyak hal dibahas dalam forum serasehan antar masyayikh Lirboyo, alumni dan wali santri tersebut. Diantaranya adalah bagaimana jika HIMASAL daerah membuat terobosan ekonomi demi keberlangsungan organisasi. Karena ke depan diharapkan, kebutuhan operasional organisasi mampu dicukupi dari divisi ekonomi organisasi, bukan dari iuran anggota atau lainnya.

“Hal lain yang penting dan harus selalu kita jaga adalah kekompakan. Para alumni harus tetap bersatu padu, tetap teguh menjaga Islam ala ahlussunnah wal jamaah. Jika kita kompak, tetap menjaga haluan sebagaimana yang dipesankan para masyayikh kita, insyaallah lambat laun kegiatan yang ada pada tanah wakaf di sana (tanah wakaf di Balikpapan yang Sabtu pagi rombongan kunjungi-Red.) itu akan berkembang,” pesan Yai An’im dalam sambutannya. (IM)