750 views

Cara Mendeteksi Hadis Palsu

Cara mendeteksi hadis palsu | Topik tentang memahami hadis Nabi Muhammad saw. senantiasa mengundang perhatian. Pembahasan tentangnya merupakan keseruan tersendiri. Hal itu, disebabkan bahwa hampir semua gerakan pembaruan Islam tidak lepas dari topik ini, yakni bagaimana memisahkan antara hadis yang valid dan hadis yang tidak valid.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama juga terjadi akibat persoalan hadis. Oleh karenanya, mari kita simak ulasan dari kitab Alfiyah Suyuthi—karya monumental al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam bidang hadis—mengenai topik hadis palsu ini dengan baik.

Dr. Mahmud at-Tahan salah satu dosen fakultas hadis di Universitas Syariah wa Dirasah Kuwait, dalam kitabnya Taisir Mustholah al-Hadis mendefinisikan hadis maudhu dengan:

الْكِذْبُ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوْعُ الْمَنْسُوْبُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ

“Kebohongan yang dibuat-buat yang disandarkan pada Rasulullah saw.”

Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi menstatuskan hadis maudhu sebagai paling buruknya hadis dhaif (hadis lemah). Secara tegas beliau menyatakan bahwa seseorang yang tahu akan status hadis tersebut, tidak diperbolehkan baginya untuk meriwayatkannya dalam semua bentuk periwayatan, baik terkait hukum, kisah, maupun motivasi untuk beribadah. Terkecuali bila ia mensifati dan menjelaskan status hadis tersebut adalah maudhu (palsu), hal ini kontras sekali perbedaannya dengan hadis yang lemah. Sebab, hadis lemah bagaimanapun tetap dilegalkan dan boleh diamalkan dalam aspek Fadhail al-A’mal (fadilah-fadilah amal).

Teknis Untuk Mendeteksi Hadis Palsu

Hadis palsu dapat dideteksi dengan beberapa piranti, di antaranya adalah:

Pertama, adanya iqrar (pengakuan atau klaim) dari oknum yang membuatnya sendiri. Seperti halnya perkataan Umar bin Shabih: “Saya telah membuat hadis palsu tentang khutbahnya Nabi yang dinisbatkan padanya.” Namun, yang demikian itu dikomentari oleh pakar hadis terkemuka Ibn Daqiq al-‘Id bahwa hal ini tidak dapat dipastikan, sebab masih ada potensi kebohongan dalam pengakuannya tersebut.

Kedua, adalah ma yusyabihu al-iqrar (hal yang serupa dengan pengakuan atau yang setara dengannya). Al-Hafidz al-Iraqi sebagaimana dikutip oleh Syaikh Mahfud at-Tarmasi, dalam kitabnya mentamsilkan: “Ketika terdapat rawi yang meriwayatkan sebuah redaksi hadis dari seorang guru, namun ternyata gurunya itu sudah wafat terlebih dahulu sebelum ia lahir dan menerima hadis, padahal redaksi hadis tersebut tidak dapat diketahui kecuali darinya. Maka hadis ini dikategorikan palsu sebab lahirnya perawi tadi diposisikan sebagaimana iqrar dengan kepalsuan hadis tersebut. Sebab, hadis itu tidak dapat diketahui kecuali dari dirinya.”

Ketiga, rikkah (lemah kefasihannya) maksudnya adalah makna dari hadis tersebut lemah, bukan redaksi lafadznya.

Keempat, adanya indikasi (qarinah) baik dari pihak orang yang meriwayatkan (rawi) atau hadis yang diriwayatkan (marwi).

Kelima, isi hadis bertentangan dengan nash qath’i yakni al-Qur’an, hadis mutawatir, dan konsensus para ulama (ijma’) atau tidak rasional, seperti halnya hadis marfu’ yang berbunyi:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْفَرَسَ فَأَجْرَاهَا فَعَرِقَتْ فَخَلَقَ نَفْسَهُ مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan kuda, dan menjalankannya. Kemudian dari bulir-bulir keringatnya terciptalah kuda yang lain.”

Keenam, hadis tersebut tidak dikutip dari kalangan mayoritas muhadisin, tetapi dari perawi yang individual. Imam az-Zarkasyi mentamsilkan: “Atau hadis itu memang memiliki landasan normatif dalam agama, namun tidak mutawatir. Seperti halnya nash yang digunakan sebagai justifikasi oleh sekte Syi’ah Rafidah yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali Karramallahuwajhah.”

Ketujuh, redaksi hadis tidak ditemukan dalam kitab-kitab primeryang menjadi sumber rujukan atau referensi utama ilmu hadis. Dalam hal ini, adalah al-kutub at-tis’ah (sembilan kitab hadis utama) meliputi Sunan Abi Dawud, Shahih al-Bukhari, Sunan al-Darimi, Musnad al-Imam Ahmad, Sunan Ibn Majah, al-Muwatha, Shahih Muslim, Sunan an-Nasai dan Sunan at-Tirmidzi.

Kedelapan, redaksi hadis dinilai berlebihan dengan menjanjikan sesuatu yang besar (pahala) atas perbuatan-perbuatan remeh, serta redaksi hadis tersebut bernarasi ancaman yang sangat pada perbuatan yang dinilai dosa kecil. Hal ini banyak ditemukan dalam kisah-kisah. Dari kedelapan piranti ini, pada intinya ulama menyimpulkan bahwa suatu hadis dapat disematkan lebel ‘palsu’ bilamana bertentangan dengan tiga hal: Nalar (ma’qul), dalil (manqul) dan sumber rujukan (ushul(.

Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

*Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. VI Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi.

Referensi:

Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin as-Suyuthi, Taqrirat Alfiyah as-Suyuthi (Lirboyo: Dar al-Mubtadiin), vol. 2, h. 06-15.
Muhammad Mahfudz bin Abdillah bin Abdul Mannan at-Tarmasi, Manhaj Dzawi an-Nadzar (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah) h. 102-106
Dr. Mahmud at-Tahan, Taisir Mustholah al-Hadis (Surabaya: Al-Haramain), h. 76.

baca juga: Kitab Mustolahul Hadis Bagi Pemula
tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. Aziz Manshur

Cara Mendeteksi Hadis Palsu
Cara Mendeteksi Hadis Palsu

18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.