Rahasia Membangun Akhlak Mulia: Menyelami Nasihat Emas Muhammad Syakir al-Iskandari

Akhlak versi Muhammad Syakir al-iskandari

Oleh: Selfia Ayu Safitri, Santri P3TQ Timur.

Di era sekarang ini, masih banyak orang yang kehilangan jati dirinya. Dengan adanya perkembangan zaman yang sangat terpengaruh oleh berkembangnya teknologi saat ini, tanpa kita sadari banyak orang yang tidak menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter yang telah para guru ajarkan sehingga banyak orang telah meninggalkan karakter kehidupannya.

Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah jati diri seseorang untuk lebih maju. Maka tanpa adanya pijakan dan pemahaman tentang konsep, teori, serta metode yang jelas tentang pendidikan karakter, maka misi pendidikan karakter akan sia-sia. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada masa sekarang ini bisa dilatarbelakangi dengan pendidikan akhlak.

Baca juga: Sabar: Satu Kata dengan Segala Kesulitannya

Implementasi Pendidikan Akhlak

Dalam implementasinya, pendidikan akhlak masih sama halnya dengan pendidikan moral, walaupun lembaga pendidikan sudah menyatakan berbasisi kriminalitas di kalangan zaman sekarang ini. Sedangkan pendidikan karakter merupakan upaya pembimbingan siswa agar mengetahui, mencintai dan melakukan kebaikan.

Maka dari itu, pendidikan akhlak lebih ditekankan pada sikap batiniah agar memiliki spontanitas dalam berbuat kebaikan. Nilai benar dan baiknya diukur oleh nilai-nilai agama. Dalam Islam, nilai-nilai itu lebih merujuk pada al-Qur’an dan sunah. Jika perilaku itu tidak merujuk pada al-Qur’an dan sunah, mereka dapat kita kategorikan sebagai orang yang tidak berakhlak dan bermoral.

Pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekadar mendidik benar dan salah, tetapi mencangkup proses pembiasaan tentang prilaku yang baik sehingga dapat memahami dan mau berprilaku baik, sehingga terbentuklah tabiat yang baik. Menuntut ajaran Islam pendidik karakter identik dengan pendidikan akhlak.

Dalam praktiknya, pendidikan akhlak berkenaan dengan sumber karakter yang baik dan buruk. Sedangkan pendidikan karakter berkaitan dengan metode dan tehnik secara oprasional. Walaupun sejatinya pendidikan akhlak sering orang lain sebut tidak ilmiah karena terkesan bukan sekuler, namun sesungguhnya antara karakter dengan spiritualitas memiliki karakter yang ketat.

Baca juga: 5 Kiat Jitu Agar Konsisten Melaksanakan Salat Tahajud: Trik Rahasia Imam Al-Ghazali

Belajar Akhlak Via Kitab Washaya al-Aba li al-Abna’

Washaya al-Aba li al-Abna’ karya Muhammad Syakir al-Iskandari merupakan kitab yang berisi tentang akhlak dan budi pekerti luhur. Di dalam kitab ini, terdapat nasihat-nasihat perihal budi pekerti yang mulia serta nilai-nilai etika dalam menjalani kehidupan dan berkebangsaan.

Beberapa kali mushannif mengajak kita untuk selalu menghormati, serta menjaga akhlak dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengajak kita untuk tetap teguh dan istiqamah dalam menjalankan kewajiban agama kita.

Penting bagi kita untuk terus menerapkan budi pekerti dan akhlak yang terbaik. Nabi Muhammad dalam sabdanya menjelaskan derajat yang Allah berikan kepada orang yang berakhlak baik:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ، صَائِمِ النَّهَارِ

Sesungguhnya seseorany mukmin bisa mencapai derajat orang yang mendirikan salat malam dan berpuasa siang hari dengan akhlaknya yang mulia” (HR. Ahmad)

Betapa bahayanya akhlak yang tercela dan betapa agungnya balasan bagi yang berakhlak mulia.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses