Tag Archives: Imam Malik

Adab Mengenakan Pakaian

Adab Mengenakan Pakaian

Islam telah mengatur berbagai detail permasalahan dalam kehidupan, Walaupun hal tersebut hanya mencakup pada hal-hal yang remeh. Keadaan ini bisa ditilik seperti menggunakan pakaian. Ternyata, menggunakan pakian juga memiliki adabnya tersendiri.

Biasakan ketika akan mengenakan pakaian niatkanlah untuk menjalankan perintah Allah, yakni menutup aurat. Takutlah jika niatmu mengenakan pakaian agar dipandang oleh makhluk lain.

Mengenakan pakaian yang bagus jika diniatkan untuk menghormati guru, atau menghimbau orang lain agar semangat beribadah, bukan untuk menunjukkan dunia yang telah ia peroleh. Maka, hal tersebut menjadi hal yang baik, dan merujuk pada amal akhirat.

Sebagian ulama mengatakan; seharusnya seorang yang alim dan pencari ilmu di zaman sekarang ini, mengenakan pakaian yang bagus, agar ilmu dianggap hal yang mulia. Seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah kepada santri-santrinya:

عَظِمُوا عَمَائِمَكُمْ وَوَسِعُوا أَكْمَامِكُمْ لِئَلَّا يَسْتَخِفَّ النَّاسُ بِالعِلْمِ وَاهْلِهِ

Agungkanlah imamahmu, dan longgarkanlah lengan bajumu, supaya orang-orang tidak meremehkan ilmu dan pemiliknya.

Adab Mengenakan Pakaian

Baca juga: DAWUH KH. ABDUL KHOLIQ RIDLWAN: WAKTU SEPERTI PAKAIAN
Simak juga: Keteladanan KH. Imam Yahya Mahrus | KH. An’im Falahuddin Mahrus

Kisah Penghormatan Imam Malik Kepada Rasulullah Saw

Imam Abdullah bin Mubarok bercerita: “Saya berada di samping imam Malik, dan beliau sedang membacakan Hadits. Kemudian, tiba-tiba beliau disengat kalajengking sebanyak 16 kali. Wajah beliau berubah menjadi pucat kekuningan, namun beliau tidak memutus bacaan Hadits Rasulullah Saw.

Setelah beliau selesai dari majlis pengajian dan orang-orang telah pergi, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdillah, sungguh pada hari ini aku melihat sesuatu yang luar biasa darimu’. Imam Malik berkata: “Ya, aku telah disengat kalajengking sebanyak 16 kali, dan aku sabar atas semua itu. Sesungguhnya diriku bersabar hanya ingin mengagungkan Rasulullah Saw (tidak memutus bacaan Haditsnya) “.

Imam Mush’ab bin Abdullah mengisahakan: “Saat imam Malik mendengar Rasulullah Saw disebutkan, maka raut wajah beliau berubah dan tubuhnya lunglai, sampai pemandangan tersebut terasa berat bagi orang-orang yang duduk bersamanya. Maka, suatu hari hal itu ditanyakan kepada beliau, dan pun beliau menjawab: ‘Jika kalian melihat apa yang aku lihat, tentu kalian tidak akan merasa heran terhadap apa yang kalian lihat kepadaku. Sungguh, aku pernah melihat imam Muhammad bin Munkadir dan beliau adalah pemimpin para ulama, tiada kami menanyakan sebuah Hadits kepada beliau, melainkan beliau menangis sampai kami merasa kasihan kepadanya.”

Imam Muthorrif mengisahkan, bahwa ketika orang-orang mendatangi imam Malik, maka pembantu wanita beliau pergi menemui mereka seraya berkata: “imam Malik bertanya pada kalian, apakah kalian menginginkan Hadits, atau ingin menanyakan masalah?’ Jika mereka ingin menanyakan masalah, maka seketika imam Malik keluar menemui mereka.

Namun jika mereka menginginkan Hadits, maka imam Malik mandi terlebih dahulu, kemudian memakai pakaiannya yang terbaru, menggunakan minyak wangi dan memakai surban serta selendang. Kemudian disediakan kursi kehormatan untuk beliau, lantas beliau keluar dan duduk diatas kursi tersebut dengan penuh  Kekhusyu’an. Beliau juga menggunakan wewangian dupa, sampai beliau menyelesaikan bacaan Hadits Rasulullah Saw. beliau tidak pernah duduk di atas kursi kehormatan tersebut kecuali saat beliau menyampaikan Hadits Rasulullah Saw.

Imam Syafi’i pernah bercerita: “ Aku pernah melihat beberapa kuda mewah dari kota Khurosan di depa pintu imam Malik, yang belum pernah aku lihat kuda semewah itu. Lantas aku berkata kepada imam Malik: ‘Duhai indahnya kuda-kuda itu’. Imam Malik berkata: ‘Kuda-kuda itu adalah hadiah untukmu, wahai Abu Abdillah’. Kemudian imam Syafi’i berkata: ‘Sisakanlah untuk dirimu seekor kuda untuk engkau naiki”. Imam Malik menjawab: ‘Sungguh aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kaki hewan kendaraan”.{}

 Sumber: Imam Al-Qadli Iyadl, Asy-Syifa bi TA’rifi Huquqil Musthofa.