HomeSantri MenulisKesuksesan Hakiki Menurut Rumi

Kesuksesan Hakiki Menurut Rumi

Santri Menulis 0 2 likes 609 views share

Aku ini anak seorang petani tulen. Dari situ aku belajar apa falsafah bertani, bahwa untuk menuju hasil, ada beberapa hal yang menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan: biji, tanah, dan kerja tani. Biji itu bisa diartikan niat, tanah adalah bahan atau materi, dan kerja adalah prosesnya.

Jadi nasi yang kita makan setiap hari itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena ketika dia sudah menjadi nasi, berarti dia sudah “berhasil” dalam pembentukan dirinya sendiri dengan melalui tiga persyaratan tadi.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita menjadi manusia yang “berhasil”?

Barangkali keberhasilan kita sebagai manusia tak jauh beda dengan falsafah pertanian tadi. Misalkan dalam urusan mencari ilmu, dulu pas di pesantren seringkali mbah kyai saya bilang, bahwa syarat tahsilul ilmi, menghasilkan ilmu, itu ada tiga: niat seorang santri, pengajaran sang guru, dan kerja keras orang tua. Satu saja luput, maka sulit untuk hasil.

Menurut saya, tiga syarat tersebut gak sepele. Misalkan untuk yang pertama saja. Agar berhasil, seorang thalib semestinya selalu sadar (wa’yu) bahwa dirinya adalah “biji”. Bagaimana mungkin tanaman itu bisa berhasil kalau bijinya saja sudah jelek—niatnya salah.

Tapi kalau boleh jujur, sekarang standar keberhasilan itu macem-macem. Bahkan kata sukses atau berhasil itu sendiri terkesan tak absolut, karena setiap orang punya definisi sendiri-sendiri mengenai itu. Ada yang mengukur kesuksesan itu dari segi materi, ada yang dari popularitas, ada yang dari jabatan, karir, dan banyak sekali yang lain.

Tapi saya menemukan semacam titik terang dari Rumi, sang sufi bestari itu. Dalam “Matsnawi”-nya ia bersenandung:

“Sugguh bentuk ketinggian ada pada cakrawala

Tapi makna ketinggian hakiki ada pada ruh yang suci.”

Saya menangkap, bahwa kata “ketinggian” yang diungkap Rumi itu tak jauh beda dari kata “keberhasilan” yang diidamkan-idamkan manusia. Cuma bedanya, seperti yang saya sebut di awal, kata berhasil itu multitafsir. Di desa saya, ada orang tak bisa membaca, hampir buta literasi, tapi dia jadi “bos” desa. Usahanya lancar meskipun ia tak punya ijazah sekolah, apalagi yang S S itu. Ya, tak peduli apapun status sosial yang ia sandang, menurut kacamata meterialisme, dia adalah sosok manusia yang berhasil.

Berbeda dengan Rumi. Berhasil, atau sesuatu yang “tinggi” tak plural lagi. Dia adalah ruh yang “suci”, yang berarti ia telah selesai. Dalam konteks ini Rumi berbicara “ruh”, berarti ia menyinggung “esensi”, dan juga kata “suci”, yang menurut saya kata tersebut jelas mengarah pada “makna”.

Jika ketinggian oleh Rumi dinisbatkan kepada “ruh suci”, lantas berlaku sebagai apakah kehidupan dunia yang begitu gamblang dengan perkara-perkara fisik ini?

Saya kurang paham. Tapi dalam Matsnawi, dia memberi isyarat melalui senandung syairnya:

“Bentuk keluhuran memang terlihat dalam jasad

tapi ketika jasad dilihat dari segi makna, maka ia hanyalah sebatas nama.”

Penulis, Farhan al-Fadhil, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017. Sekarang menjadi mahasiswa di Al-Azhar, Kairo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.