Kesuksesan Hakiki Menurut Rumi

Aku ini anak seorang petani tulen. Dari situ aku belajar apa falsafah bertani, bahwa untuk menuju hasil, ada beberapa hal yang menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan: biji, tanah, dan kerja tani. Biji itu bisa diartikan niat, tanah adalah bahan atau materi, dan kerja adalah prosesnya.

Jadi nasi yang kita makan setiap hari itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena ketika dia sudah menjadi nasi, berarti dia sudah “berhasil” dalam pembentukan dirinya sendiri dengan melalui tiga persyaratan tadi.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita menjadi manusia yang “berhasil”?

Barangkali keberhasilan kita sebagai manusia tak jauh beda dengan falsafah pertanian tadi. Misalkan dalam urusan mencari ilmu, dulu pas di pesantren seringkali mbah kyai saya bilang, bahwa syarat tahsilul ilmi, menghasilkan ilmu, itu ada tiga: niat seorang santri, pengajaran sang guru, dan kerja keras orang tua. Satu saja luput, maka sulit untuk hasil.

Menurut saya, tiga syarat tersebut gak sepele. Misalkan untuk yang pertama saja. Agar berhasil, seorang thalib semestinya selalu sadar (wa’yu) bahwa dirinya adalah “biji”. Bagaimana mungkin tanaman itu bisa berhasil kalau bijinya saja sudah jelek—niatnya salah.

Tapi kalau boleh jujur, sekarang standar keberhasilan itu macem-macem. Bahkan kata sukses atau berhasil itu sendiri terkesan tak absolut, karena setiap orang punya definisi sendiri-sendiri mengenai itu. Ada yang mengukur kesuksesan itu dari segi materi, ada yang dari popularitas, ada yang dari jabatan, karir, dan banyak sekali yang lain.

Tapi saya menemukan semacam titik terang dari Rumi, sang sufi bestari itu. Dalam “Matsnawi”-nya ia bersenandung:

“Sugguh bentuk ketinggian ada pada cakrawala

Tapi makna ketinggian hakiki ada pada ruh yang suci.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.