Tag Archives: PBNU

Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Empat Perkara Yang Menaikan Derajat Seseorang

Saya mengingatkan kembali pada kalian, agar kalian semua termotivasi. Ada empat perkara yang menjadikan derajat seseorang itu naik (menjadikannya mulya).

Yang pertama adalah Ilmu, jadi orang yang mempunyai ilmu bisa menaikan derajatnya. Seperti dawuhnya Allah Swt:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Jadi orang yang berilmu itu bisa menjadikan derajatnya naik, baik ilmu syariat maupun ilmu formal (umum). Kalau ilmu syariat itu menjadikan mulya indallah maupun indannas tapi ilmu formal hanya menjadikan mulya indannas saja. Jadi kalian semua mondok di lirboyo utamanya yaitu mencari ilmu, jadi langkah kalian semua sudah betul, karena lebih beruntung-beruntungnya seorang anak, yaitu anak yang berada di pondok. Karena di pondok insya Allah tidak maksiat asal tidak keluyuran. Kesehariannya di isi dengan mencari ilmu dan jamaah.

Yang kedua adalah Jujur, ini sangat penting sekali. Seperti dawuhnya kanjeng Nabi Muhammad saw:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ

Jadi jujur itu mendatang kebagusan, orang yang baik dan bagus itu itu biasanya jujur, kalau kenyataannya kanan ya kanan kalau kiri ya kiri. Dan seseorang yang jujur itu lisannya selalu dijaga tidak suka bohong.

Yang ketiga yaitu Akhlak. Ini juga sangat penting sekali. Akhlak bisa menjadikan derajat seseorang itu naik, dengan guru maupun orang tua kita harus memulyakannya, dengan teman berprasangka baik, dengan adek-adek kelasnya bisa mengayomi. Banyak ulama-ulama terdahulu yang sangat memulyakan orang tuanya. Bagaimanapun juga yang namanya anak tidak bisa membalas jasa orang tuanya, orang tua kalian semua merawat kalian semua itu penuh dengan ke ikhlasan.

Kita mondok di pesantren selain untuk menacari ilmu, kita juga harus berusaha agar ilmu kita itu penuh barokah dan manfaat. Dengan cara salah satunya yaitu kita memulyakan guru-guru kita, jangan sampai kita berburuk sangka pada guru kita. Yang baik adalah kita harus berbaik sangka, seandainya guru kalian ada salahnya seperti misalnya kalian lebih ngalim dari pada guru kalian, yang baik tetap harus husnudzon. Mungkin guru kalian sabqul lisan atau mungkin lupa. Tetap yang baik adalah tetap husnudzon.

Yang keempat adalah Amanah, jika kita dititipi uang oleh orang lain untuk dikelola, kita harus bisa mengelolanya dengan baik, dititipi jabatan kita harus menjalankanya dengan baik.

Dan keempat perkara yang telah disebutkan tadi itu saling berkaitan, jadi orang yang mempunyai ilmu tapi tidak mempunyai akhlak ya tidak bisa mengangkat derajat seseorang.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 16 Januari 2020, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut An-Nawawi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

Mengomentari hadis ini, An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di atas menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan. Beliau juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah Swt. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini—sebagaimana mental seorang budak—mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tu(h)annya.

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah Swt. Tingkatan ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah Swt. dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya. An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan (dari berbagai cetakan Syarh al-Arba’īn yang beredar ada yang memiliki redaksi berbeda dan di sana tertulis ’ibādatul-ahrār yang memiliki arti ‘ibadah orang-orang merdeka’).

Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah saw. saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perlu kami ingatkan lagi bahwa tiga tingkatan di atas kesemuanya tergolong ikhlas. Buat orang awam seperti kami, bisa istikamah pada tingkatan pertama saja sudah sangat bersyukur. Wallahu a’lam.()

Penulis: Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo tahun 2018 asal Bangkalan

Allah Pasti Melakukan Lima Hal ini Pada Hamba-Nya

Ada lima perkara yang sudah dipastikan akan disiapkan oleh Allah kepada seorang hamba:

1.Allah akan memberikan tambahan (nikmat) kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Allah berfirman : لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.( QS. Ibrahim :7).

2. Allah akan mengijabahi doa seorang hamba tatkala ia berdoa.

Allah Swt berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “

Tuhan kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. (Al Ghaafir 60).

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa :

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْساً مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

3. Allah akan memberikan ampunan (Maghfiroh) tatkala seorang hamba memohon ampun kepada-Nya.

Di dalam Al Qur’an, Allah berfirman : اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

“Memintalah ampunan kepada tuhanmu, sesungguhnya tuhanmu adalah dzat yang maha pengampun. ” (QS. Nuh:10).

Di dalam sebuah Hadits diriwayatkan: Nabi Muhammad Saw bersabda:

 ﻟﻮْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﺗُﻢ ﺣﺘَّﻰ ﺗﺒﻠﻎَ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻛُﻢْ اﻟﺴَّﻤَﺎءَ ﺛﻢَّ ﺗُﺒْﺘُﻢْ ﻟﺘَﺎﺏَ اللّه ﻋﻠﻴﻜﻢ

“Seandainya dosa-dosamu se-langit, kemudian engkau bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatmu” (HR. Ibnu Majah).

4. Allah akan menerima taubat seorang hamba ketika ia hendak bertaubat. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَكْتُوْبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ اَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ وَاِنِّى لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى .

5. Allah akan menerima sedekah seorang hamba, tatkala ia mau bersedekah. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :

مَا مِنْ عبدٍ تصدَّقَ بصدقةٍ يَبْتغِي بِها وجهَ اللّهِ إلاّ قَالَ اللّهُ يومَ القيامةِ عبدِي رجوتَنِي فلنّ أُحقِرَكَ حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النّارِ وَ ادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ إِنْ شِئْتَ

” Tidaklah seorang hamba yg bersedekah karena Allah kecuali Allah akan berkata kepadanya pada hari Qiyamat :”Hambaku!engkau telah berharap kepadaku, maka aku tak kan menghinakanmu, jasadmu haram atas api neraka. Masuklah kedalam surga melalui pintu yg kamu mau.” (HR. Ibnu Lal).

” Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, telah tertulis disekeliling ‘Arsy: Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian ia mendapatkan petunjuk.” (HR. Ad Dailami).

_______________

Kitab Irsyadul Ibad hal 29.

Penulis: M. Nuruddin Yusuf, Mutakhorrijin Ma’had Aly Lirboyo. Asal Malang.

KH. Masdain: Kelucuan Mbah Mahrus Aly

KH. Mahrus Aly sering mengadakan istighotsah-istighotsah, sebelum banyak yang mengadakan. Pernah suatu ketika beliau hendak pergi untuk menghadiri acara istighotsah di Mojokerto dan saya diajak oleh Gus Zamzam(putra KH. Mahrus Aly).

KH. Mahrus Aly kenal dengan saya dan tahu rumah saya di Mojokerto. Dalam perjalanan, jika beliau menginginkan naik mobil cepat untuk sampai ketempat tujuan, beliau berkata, “Kiai kuwi ditunggu umat uduk wong leren, ojo mlaku koyok ngene. (Kiai itu ditunggu orang banyak, bukan orang rilek, kalau jalan jalan pelan seperti ini).” Maka beliau menginginkan mobil dilajukan dengan sangat cepat. Akan tetapi ketika hendak sampai tujuan beliau ingin rilek, beliau berkata, “Rondone kyai kuwi ora ono seng wani ngerabi, ojo banter-banter! (Jandanya kiai itu tidak ada yang berani menikahi, kalau naik mobil jangan cepat-cepat!) Kelucuan beliau ini  yang tidak pernah saya lupakan.

Ada juga cerita lucu tentang KH. Mahrus Aly. Pada waktu itu saya masih kecil dan petinju yang terkenal adalah Muhammad Ali. Dulu tidak ada yang memunyai televisi selain KH. Mahrus Aly. Seluruh santri seteleh jam 9, setelah selesai jam kedua, para santri sudah tidak sabar untuk melihat televisi. Tidak banyak memang yang melihat, hanya ada beberapa termasuk saya. KH. Mahrus Aly masih ada ramah tamah, jendela rumah beliau belum dibuka, para santri sudah menunggu di balik jendela. Kemudian KH. Mahrus Aly tahu para santri sudah pada menunggu. Beliau embuka pintu jendela dan bertanya, “Delok opo, tinju ta cah? Lihat apa, tinju ya nak?’’ Saya dan teman-teman hanya menjawab, “Enggeh.” Akan tetapi beliau berkata, “Dharbu wajhin haramun cah, (memukul wajah itu haram nak).” Ketika beliau dawuh demikian para santri pada takut, santri senior justru langsung pulang.

Akan tetapi ketika acara sudah mulai, KH. Mahrus Aly tetap menjalankan televisi. Akhirnya saya dan para santri yang lain juga tetep ikut menonton. Jadi beliau dawuh, “Dharbu wajhin haramun” akan tetapi tetap mengikuti para santri melihat acara tinju.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Kisah Penghormatan Imam Malik Kepada Rasulullah Saw

Imam Abdullah bin Mubarok bercerita: “Saya berada di samping imam Malik, dan beliau sedang membacakan Hadits. Kemudian, tiba-tiba beliau disengat kalajengking sebanyak 16 kali. Wajah beliau berubah menjadi pucat kekuningan, namun beliau tidak memutus bacaan Hadits Rasulullah Saw.

Setelah beliau selesai dari majlis pengajian dan orang-orang telah pergi, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdillah, sungguh pada hari ini aku melihat sesuatu yang luar biasa darimu’. Imam Malik berkata: “Ya, aku telah disengat kalajengking sebanyak 16 kali, dan aku sabar atas semua itu. Sesungguhnya diriku bersabar hanya ingin mengagungkan Rasulullah Saw (tidak memutus bacaan Haditsnya) “.

Imam Mush’ab bin Abdullah mengisahakan: “Saat imam Malik mendengar Rasulullah Saw disebutkan, maka raut wajah beliau berubah dan tubuhnya lunglai, sampai pemandangan tersebut terasa berat bagi orang-orang yang duduk bersamanya. Maka, suatu hari hal itu ditanyakan kepada beliau, dan pun beliau menjawab: ‘Jika kalian melihat apa yang aku lihat, tentu kalian tidak akan merasa heran terhadap apa yang kalian lihat kepadaku. Sungguh, aku pernah melihat imam Muhammad bin Munkadir dan beliau adalah pemimpin para ulama, tiada kami menanyakan sebuah Hadits kepada beliau, melainkan beliau menangis sampai kami merasa kasihan kepadanya.”

Imam Muthorrif mengisahkan, bahwa ketika orang-orang mendatangi imam Malik, maka pembantu wanita beliau pergi menemui mereka seraya berkata: “imam Malik bertanya pada kalian, apakah kalian menginginkan Hadits, atau ingin menanyakan masalah?’ Jika mereka ingin menanyakan masalah, maka seketika imam Malik keluar menemui mereka.

Namun jika mereka menginginkan Hadits, maka imam Malik mandi terlebih dahulu, kemudian memakai pakaiannya yang terbaru, menggunakan minyak wangi dan memakai surban serta selendang. Kemudian disediakan kursi kehormatan untuk beliau, lantas beliau keluar dan duduk diatas kursi tersebut dengan penuh  Kekhusyu’an. Beliau juga menggunakan wewangian dupa, sampai beliau menyelesaikan bacaan Hadits Rasulullah Saw. beliau tidak pernah duduk di atas kursi kehormatan tersebut kecuali saat beliau menyampaikan Hadits Rasulullah Saw.

Imam Syafi’i pernah bercerita: “ Aku pernah melihat beberapa kuda mewah dari kota Khurosan di depa pintu imam Malik, yang belum pernah aku lihat kuda semewah itu. Lantas aku berkata kepada imam Malik: ‘Duhai indahnya kuda-kuda itu’. Imam Malik berkata: ‘Kuda-kuda itu adalah hadiah untukmu, wahai Abu Abdillah’. Kemudian imam Syafi’i berkata: ‘Sisakanlah untuk dirimu seekor kuda untuk engkau naiki”. Imam Malik menjawab: ‘Sungguh aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kaki hewan kendaraan”.{}

 Sumber: Imam Al-Qadli Iyadl, Asy-Syifa bi TA’rifi Huquqil Musthofa.