Tag Archives: santri nasionalisme

Madrasah, Asal Sejarah dan Pembentukannya

Pusat kajian umat Islam sejak zaman Rasulullah Saw hingga zaman setelahnya selalu terpusat di Masjid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya catatan sejarah yang menjelaskan kajian-kajian intelektual muslim yang dibangun di banyak masjid-masjid peninggalan para shahabat dan generasi setelahnya.

Madrasah baru diperkenalkan di paruh kedua abad ke-empat Hijriah tepatnya semenjak berdirinya sebuah pusat pendidikan yang disebut dengan “Madrasah” di kota Naisabur pada masa kepemimpinan Raja Mahmud al-Ghaznawi. Tidak tanggung-tanggung, Raja Mahmud al-Ghaznawi membangun empat madrasah sekaligus dalam tempo waktu yang berdekatan yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Sa’idiyyah, Madrasah Abu Sa’id al-Ushturlab, dan Madrasah Abu Ishaq al-Isfirani.

Pembangunan Madrasah awalnya adalah sebuah langkah yang dicanangkan Raja Mahmud al-Ghaznawi untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Hal ini tentu sangat penting bagi sang Raja untuk menyaingi ajaran Sunni yang saat itu menjadi ajaran resmi Dinasti Abbasiyyah di Baghdad.

Uniknya, di masa setelahnya tepatnya di abad ke-lima Hijriah perdana menteri Nidzom al-Mulk juga memakai madrasah-madrasah peninggalan raja Mahmud al-Ghaznawi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Sunni serta memberangus sisa-sisa ajaran Syi’ah di banyak wilayah dinasti Bani Saljuk.

Di abad ke-lima Hijriah, jauh di negeri Mesir sana sultan Salahuddin al-Ayyubi juga sedang berkerja keras menyebarkan ajaran sunni dengan mendirikan madrasah-madrasah yang beraliran Sunni. Tak hanya itu, sultan Salahuddin al-Ayyyubi juga menutup banyak madrasah yang sebelumnya di abad ke-Empat Hijriah digunakan untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Bahkan, masjid Al-Azhar saat itu resmi ditutup selama lebih dari satu abad sebagai sebuah simbol penutupan seluruh pusat pengajaran Syi’ah.

Gerakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penyebar ajaran Sunni adalah sebuah gerakan besar. Dimana sebelumnya di dinasti Fatimiyyah, tercatat hanya Gubernur adz-Dzofir di kota Alexandria yang secara terang-terangan berani membangun madrasah dengan haluan ajaran Sunni di tahun 546 H.

Kala itu, sultan Salahuddin al-Ayyubi juga tokoh besar yang membangun madrasah al-Fadhiliyyah di Kairo dengan pengajaran madzhab Maliki dan Syafi’i dalam ilmu fiqh di madrasah yang sama pada tahun 580 H. Gagasan Salahuddin al-Ayyubi ini rupanya terinspirasi dengan gerakan pembangunan madrasah al-Asadiyyah di kota Damaskus yang dua belas tahun sebelumnya telah menerapkan pengajarab dua madzhab fiqh dalam satu tempat yang sama.

Hal ini, tentu sangat penting bagi kelanjutan keberagaman bermadzhab penduduk negeri Mesir kala itu. Karena telah jama’ terjadi gesekan antar madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) di periode sebelumnya khususnya di abad ke-tiga dan ke-empat Hijriah.

Uniknya, sultan Najmuddin as-Shalih melanjutkan estafet gagasan keberagaman bermadzhab dengan sangat apik di periode selanjutnya yaitu di tahun 639 H. Dimana, ia membangun madrasah ash-Sholihiyyah di bekas istana kesultanan Fatimiyyah di Kairo dengan pengajaran empat Madzhab di tempat yang sama. Ia membangun empat tempat di dalam masjid yang bentuknya mirip dengan mihrab yang sering disebut dengan Iwan dan setiap Iwan tersebut digunakan untuk mengajarkan empat madzhab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Walhasil, sejarah telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah eksistensi madrasah sebagai ujung tombak eksistensi sebuah ajaran akidah. Dimana dahulunya, para ulama dan pemerintahan khususnya para ulama dari etnis Kurdi di Syiria dan Mesir di abad ke-Empat dan ke-lima yang berhaluan sunni atau yang kini kita kenal dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah sukses menyebarkan ajaran akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan berkat sistem pengajaran yang bagus dalam madrasah-madrasah yang mereka buat. Tentunya, sejarah juga mencatat ulama dan pemerintah beraliran Sunni dahulu juga menjadikan madrasah sebagai jenjang pendidikan yang mengajarkan keberagaman berpendapat dan bermadzhab. Hal ini dibuktikan dengan pengajaran beragam madzhab fiqh dalam satu madrasah yang sama.

Refrensi :

Kitab Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalkan

Kitab Shabhul al-‘Asya karya al-Qalqasyandi

Kitab Masajid Mishr wa Awliyaiha karya Dr. Sa’ad Mahir Muhammad

Buku The Muslim Architecture of Egypt vol II karya Creswell

Penulis: M. Tholhah Al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa universitas al-Azhar, Kairo.

Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Empat Perkara Yang Menaikan Derajat Seseorang

Saya mengingatkan kembali pada kalian, agar kalian semua termotivasi. Ada empat perkara yang menjadikan derajat seseorang itu naik (menjadikannya mulya).

Yang pertama adalah Ilmu, jadi orang yang mempunyai ilmu bisa menaikan derajatnya. Seperti dawuhnya Allah Swt:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Jadi orang yang berilmu itu bisa menjadikan derajatnya naik, baik ilmu syariat maupun ilmu formal (umum). Kalau ilmu syariat itu menjadikan mulya indallah maupun indannas tapi ilmu formal hanya menjadikan mulya indannas saja. Jadi kalian semua mondok di lirboyo utamanya yaitu mencari ilmu, jadi langkah kalian semua sudah betul, karena lebih beruntung-beruntungnya seorang anak, yaitu anak yang berada di pondok. Karena di pondok insya Allah tidak maksiat asal tidak keluyuran. Kesehariannya di isi dengan mencari ilmu dan jamaah.

Yang kedua adalah Jujur, ini sangat penting sekali. Seperti dawuhnya kanjeng Nabi Muhammad saw:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ

Jadi jujur itu mendatang kebagusan, orang yang baik dan bagus itu itu biasanya jujur, kalau kenyataannya kanan ya kanan kalau kiri ya kiri. Dan seseorang yang jujur itu lisannya selalu dijaga tidak suka bohong.

Yang ketiga yaitu Akhlak. Ini juga sangat penting sekali. Akhlak bisa menjadikan derajat seseorang itu naik, dengan guru maupun orang tua kita harus memulyakannya, dengan teman berprasangka baik, dengan adek-adek kelasnya bisa mengayomi. Banyak ulama-ulama terdahulu yang sangat memulyakan orang tuanya. Bagaimanapun juga yang namanya anak tidak bisa membalas jasa orang tuanya, orang tua kalian semua merawat kalian semua itu penuh dengan ke ikhlasan.

Kita mondok di pesantren selain untuk menacari ilmu, kita juga harus berusaha agar ilmu kita itu penuh barokah dan manfaat. Dengan cara salah satunya yaitu kita memulyakan guru-guru kita, jangan sampai kita berburuk sangka pada guru kita. Yang baik adalah kita harus berbaik sangka, seandainya guru kalian ada salahnya seperti misalnya kalian lebih ngalim dari pada guru kalian, yang baik tetap harus husnudzon. Mungkin guru kalian sabqul lisan atau mungkin lupa. Tetap yang baik adalah tetap husnudzon.

Yang keempat adalah Amanah, jika kita dititipi uang oleh orang lain untuk dikelola, kita harus bisa mengelolanya dengan baik, dititipi jabatan kita harus menjalankanya dengan baik.

Dan keempat perkara yang telah disebutkan tadi itu saling berkaitan, jadi orang yang mempunyai ilmu tapi tidak mempunyai akhlak ya tidak bisa mengangkat derajat seseorang.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 16 Januari 2020, di aula Al Mu’tamar.(TB)

KH. Masdain: Kelucuan Mbah Mahrus Aly

KH. Mahrus Aly sering mengadakan istighotsah-istighotsah, sebelum banyak yang mengadakan. Pernah suatu ketika beliau hendak pergi untuk menghadiri acara istighotsah di Mojokerto dan saya diajak oleh Gus Zamzam(putra KH. Mahrus Aly).

KH. Mahrus Aly kenal dengan saya dan tahu rumah saya di Mojokerto. Dalam perjalanan, jika beliau menginginkan naik mobil cepat untuk sampai ketempat tujuan, beliau berkata, “Kiai kuwi ditunggu umat uduk wong leren, ojo mlaku koyok ngene. (Kiai itu ditunggu orang banyak, bukan orang rilek, kalau jalan jalan pelan seperti ini).” Maka beliau menginginkan mobil dilajukan dengan sangat cepat. Akan tetapi ketika hendak sampai tujuan beliau ingin rilek, beliau berkata, “Rondone kyai kuwi ora ono seng wani ngerabi, ojo banter-banter! (Jandanya kiai itu tidak ada yang berani menikahi, kalau naik mobil jangan cepat-cepat!) Kelucuan beliau ini  yang tidak pernah saya lupakan.

Ada juga cerita lucu tentang KH. Mahrus Aly. Pada waktu itu saya masih kecil dan petinju yang terkenal adalah Muhammad Ali. Dulu tidak ada yang memunyai televisi selain KH. Mahrus Aly. Seluruh santri seteleh jam 9, setelah selesai jam kedua, para santri sudah tidak sabar untuk melihat televisi. Tidak banyak memang yang melihat, hanya ada beberapa termasuk saya. KH. Mahrus Aly masih ada ramah tamah, jendela rumah beliau belum dibuka, para santri sudah menunggu di balik jendela. Kemudian KH. Mahrus Aly tahu para santri sudah pada menunggu. Beliau embuka pintu jendela dan bertanya, “Delok opo, tinju ta cah? Lihat apa, tinju ya nak?’’ Saya dan teman-teman hanya menjawab, “Enggeh.” Akan tetapi beliau berkata, “Dharbu wajhin haramun cah, (memukul wajah itu haram nak).” Ketika beliau dawuh demikian para santri pada takut, santri senior justru langsung pulang.

Akan tetapi ketika acara sudah mulai, KH. Mahrus Aly tetap menjalankan televisi. Akhirnya saya dan para santri yang lain juga tetep ikut menonton. Jadi beliau dawuh, “Dharbu wajhin haramun” akan tetapi tetap mengikuti para santri melihat acara tinju.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Kisah Penghormatan Imam Malik Kepada Rasulullah Saw

Imam Abdullah bin Mubarok bercerita: “Saya berada di samping imam Malik, dan beliau sedang membacakan Hadits. Kemudian, tiba-tiba beliau disengat kalajengking sebanyak 16 kali. Wajah beliau berubah menjadi pucat kekuningan, namun beliau tidak memutus bacaan Hadits Rasulullah Saw.

Setelah beliau selesai dari majlis pengajian dan orang-orang telah pergi, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdillah, sungguh pada hari ini aku melihat sesuatu yang luar biasa darimu’. Imam Malik berkata: “Ya, aku telah disengat kalajengking sebanyak 16 kali, dan aku sabar atas semua itu. Sesungguhnya diriku bersabar hanya ingin mengagungkan Rasulullah Saw (tidak memutus bacaan Haditsnya) “.

Imam Mush’ab bin Abdullah mengisahakan: “Saat imam Malik mendengar Rasulullah Saw disebutkan, maka raut wajah beliau berubah dan tubuhnya lunglai, sampai pemandangan tersebut terasa berat bagi orang-orang yang duduk bersamanya. Maka, suatu hari hal itu ditanyakan kepada beliau, dan pun beliau menjawab: ‘Jika kalian melihat apa yang aku lihat, tentu kalian tidak akan merasa heran terhadap apa yang kalian lihat kepadaku. Sungguh, aku pernah melihat imam Muhammad bin Munkadir dan beliau adalah pemimpin para ulama, tiada kami menanyakan sebuah Hadits kepada beliau, melainkan beliau menangis sampai kami merasa kasihan kepadanya.”

Imam Muthorrif mengisahkan, bahwa ketika orang-orang mendatangi imam Malik, maka pembantu wanita beliau pergi menemui mereka seraya berkata: “imam Malik bertanya pada kalian, apakah kalian menginginkan Hadits, atau ingin menanyakan masalah?’ Jika mereka ingin menanyakan masalah, maka seketika imam Malik keluar menemui mereka.

Namun jika mereka menginginkan Hadits, maka imam Malik mandi terlebih dahulu, kemudian memakai pakaiannya yang terbaru, menggunakan minyak wangi dan memakai surban serta selendang. Kemudian disediakan kursi kehormatan untuk beliau, lantas beliau keluar dan duduk diatas kursi tersebut dengan penuh  Kekhusyu’an. Beliau juga menggunakan wewangian dupa, sampai beliau menyelesaikan bacaan Hadits Rasulullah Saw. beliau tidak pernah duduk di atas kursi kehormatan tersebut kecuali saat beliau menyampaikan Hadits Rasulullah Saw.

Imam Syafi’i pernah bercerita: “ Aku pernah melihat beberapa kuda mewah dari kota Khurosan di depa pintu imam Malik, yang belum pernah aku lihat kuda semewah itu. Lantas aku berkata kepada imam Malik: ‘Duhai indahnya kuda-kuda itu’. Imam Malik berkata: ‘Kuda-kuda itu adalah hadiah untukmu, wahai Abu Abdillah’. Kemudian imam Syafi’i berkata: ‘Sisakanlah untuk dirimu seekor kuda untuk engkau naiki”. Imam Malik menjawab: ‘Sungguh aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kaki hewan kendaraan”.{}

 Sumber: Imam Al-Qadli Iyadl, Asy-Syifa bi TA’rifi Huquqil Musthofa.

Dahsyatnya Doa Ibu

Nabi Musa suatu ketika menanyakan kepada Allah Swt. “Ya Rabb, siapa nanti yang menemaniku di surga?”

Allah Swt. menjawab, “Yang menjadi temanmu di surga adalah orang yang pertama kali lewat.”

Penasaran dengan orang yang dimaksud, beliau menunggu di depan rumah, siapakah orang yang pertama kali lewat. Nabi Harun kah? Para sahabat beliau kah?

Tidak lama kemudian, lewatlah seorang laki-laki yang Nabi Musa tidak mengenalnya. Laki-laki itu berjalan sambil membawa kayu bakar di atas punggungnya.

“Ya Rabb, apakah dia temanku nanti di surga?’ tanya Nabi Musa heran.

“Ya, dialah temanmu di surga.” Allah menjawab.

Mengetahui orang yang lewat adalah orang yang tidak dikenalnya, rasa penasaran Nabi Musa tambah menghebat. Nabi Musa berkata dalam hati, “saya harus cari tahu, kenapa dia menjadi temanku di surga.”

Nabi Musa mengikuti laki-laki itu dari belakang, laki-laki itu meletakan kayu bakar terus memasakan makanan. Ternyata dia menyiapkan makanan untuk ibunya. Setelah makanan matang, ibunya disuapi.

Setelah selesai disuapi makanan, ibu itu mengankat kedua tangannya sambil berdoa,

اَللّهُمَّ اجْعَلْ وَلَدِي هَذَا رَفِيقَ مُوسَى فيِ الْجَنَّةِ

“Ya Allah, jadikan Anakku  ini teman Nabi Musa di surga.”

Berkat doa ibu itu, Allah mentakdirkan anaknya menjadi orang yang mendampingi Nabi Musa di surga.

Ya, doa ibu sangat mustajab ibaratkan seperti doa Nabi kepada umatnya.()

*Diceritakan oleh Habib Jamal bin Thoha Baaqil di Bangkalan Madura