Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang mudah bersemangat dalam kebaikan, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan. Ada yang rajin mengaji hanya ketika suasana mendukung, ada yang giat beribadah hanya saat hati sedang tersentuh. Padahal dalam pandangan ulama, nilai sebuah amal atau kebaikan bukan hanya terletak pada besarnya, melainkan pada istiqomah.
Baca juga: Merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren
Hal inilah yang disampaikan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus ketika mengutip dawuh Abu Hamid al-Ghazali tentang pentingnya istiqomah dalam menjalankan kebaikan.
لَا خَيْرَ فِي خَيْرٍ لَا يَدُومُ، بَلْ خَيْرٌ يَدُومُ خَيْرٌ مِنْ خَيْرٍ لَا يَدُومُ
“Kebaikan itu bila mana tidak kontinu (berlanjut), tidak istiqomah, tidak berlangsung, maka tidak ada kebaikan. Bukan merupakan kebaikan. Dan sebaliknya, suatu keburukan yang disudahi, yang ditobati, ini lebih baik daripada kebaikan yang disudahi.”
Baca juga: Sifat Lemah Lembut sebagai Tanda Rahmat Allah
Dawuh ini tampak sederhana, tetapi menghantam langsung penyakit manusia modern: semangat sesaat. Hari ini rajin, besok hilang.
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa kebaikan yang tidak istiqomah pada hakikatnya belum layak disebut kebaikan. Sebab ukuran amal dalam Islam bukan sekadar besar kecilnya, melainkan keberlangsungannya.
Bekas Bajingan atau Bekas Ulama?
Beliau juga mengartikan bahwa: sebaliknya, orang yang pernah tenggelam dalam keburukan lalu berhenti, bertobat, dan memperbaiki diri, justru memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah. Dari sini beliau memberi permisalan yang sangat menggetarkan:
“Dengan arti, bekas bajingan dan bekas ulama itu baik mana? Baik mana bekas ulama atau baik bekas bajingan?”
Baca juga: KH. Nurul Huda: Wasiat KH. A. Idris kepada Pengajar
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan ulama, melainkan tamparan keras bagi orang yang merasa aman dengan status masa lalunya. Pernah mondok, pernah pintar, pernah dekat dengan kiai semua itu bukan jaminan. Sebab yang Allah lihat bukan “pernah”, tetapi “masih atau tidak”.
Ada orang yang dulunya terkenal nakal, jauh dari agama, hidupnya berantakan. Namun kemudian ia bertobat, istiqomah mengaji, menjaga salat, dan memperbaiki akhlaknya sampai akhir hayat. Ada pula orang yang dulunya alim, santri, bahkan anak kiai, tetapi meninggalkan ilmu dan malas belajar hingga akhirnya hidup dalam keawaman.
Pentingnya Istiqomah dalam Kebaikan
Maka ukuran kemuliaan bukan terletak pada masa lalu, tetapi pada akhir perjalanan.
Dawuh beliau berikutnya sangat realistis:
“Ini merupakan kesempatan terbuka. Walaupun anak Kyai kalau tidak ngaji, ya dia menjadi orang bodoh, menjadi biasa, menjadi orang biasa, menjadi orang awam.”
Baca juga: Tertib Ngaji, Tertib Sekolah, dan Makna Takzir sebagai Riyāḍah Santri
Nasihat ini menghancurkan anggapan bahwa kemuliaan bisa diwariskan otomatis lewat nasab. Dalam tradisi pesantren, darah keturunan tetap harus dibarengi perjuangan ilmu. Anak kiai tetap wajib ngaji. Sebab ilmu tidak pindah lewat garis keluarga seperti warisan harta.
Karena itu, istiqomah jauh lebih penting daripada ledakan semangat sesaat. Sedikit tetapi rutin lebih bernilai daripada besar tetapi cepat padam. Mengaji sedikit demi sedikit namun terus berjalan lebih baik daripada semalam khatam lalu hilang setahun.
Maka jangan sombong dengan masa lalu yang baik, dan jangan putus asa dengan masa lalu yang buruk. Selama seseorang masih mau melanjutkan kebaikan, pintu kemuliaan tetap terbuka.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
