Merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren

Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus tentang merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren

Pesantren mendidik santri tidak hanya melalui kitab dan pengajian, tetapi juga melalui hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele. Padahal, justru dari perkara kecil itulah adab dan tanggung jawab terbentuk. Dalam salah satu dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, beliau mengingatkan para santri agar memperhatikan dan merawat apa yang telah menjadi amanah -seperti pakaian dan sandal – dalam kehidupannya sehari-hari.

Beliau memberikan dawuh:

“Pakaian diurusi, menjemur pakaian sampai kering, dirawati ya.”

Baca juga: KH. Nurul Huda: Wasiat KH. A. Idris kepada Pengajar

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung pendidikan karakter bagi para santri yang notabenya mereka mengurus diri mereka sendiri. Mengurus pakaian sendiri, menjemur hingga benar-benar kering, dan merawatnya dengan baik. Itu semua merupakan latihan kemandirian.

Kelalaian dalam merawat barang sering berujung pada beban moral bagi orang tua. Hal ini beliau tegaskan dalam dawuh berikutnya:

“Nanti kalau hilang minta kepada kedua orang tua, dan memberatkan kedua orang tua.”

Pesan ini menyentuh sisi tanggung jawab dan empati. Santri beliau ingatkan bahwa setiap kecerobohan tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Tetapi juga pada orang tua yang telah bersusah payah membiayai dan mempercayakan pendidikan anaknya kepada pesantren.

Larangan Menggoshob

Perhatian terhadap sifat amanah juga beliau tegaskan dalam perkara yang sangat dekat dengan kehidupan santri, yaitu sandal:

“Sandal juga demikian, dirawati, jangan membiasakan goshob sandal ya. Lebih baik nyeker saja daripada nggoshob.”

Baca juga: Tertib Ngaji, Tertib Sekolah, dan Makna Takzir  sebagai Riyāḍah Santri

Dawuh ini menanamkan prinsip fikih dan akhlak sekaligus. Ghoshob—mengambil atau menggunakan hak orang lain tanpa izin—adalah perbuatan haram. Karena itu, beliau memberikan solusi yang mendidik: lebih baik berjalan tanpa alas kaki daripada melakukan perbuatan yang Allah haramkan.

Penegasan tersebut kembali beliau ulang dengan bahasa yang sangat jelas:

“Daripada kalian melakukan perbuatan haram, lebih baik nyeker saja.”

Ini bukan sekadar larangan, melainkan pendidikan moral. Kyai mengajari santri untuk memilih kesulitan kecil yang halal daripada kemudahan tetapi merupakan perkara haram. Prinsip inilah yang menjadi fondasi kuat dalam pembentukan integritas seorang penuntut ilmu.

Menjaga Kitab

Lebih luas lagi, perhatian beliau tidak berhenti pada sandal dan pakaian. KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menutup dawuhnya dengan penguatan sikap amanah terhadap seluruh kepemilikan santri:

“Sandal diperhatikan, apa yang kalian milliki diperhatikan. Kitab-kitab diperhatikan.”

Baca juga: Kumpulan Kisah KH. Mahrus Aly yang Disampaikan KH. Abdulloh Kafabihi pada Haul ke-42

Kitab adalah ruh pendidikan pesantren. Merawat kitab berarti menghormati ilmu. Santri yang ceroboh terhadap kitabnya biasanya juga ceroboh terhadap ilmunya. Sebaliknya, santri yang menjaga kitab dengan baik sedang melatih diri untuk menjaga ilmu dan adab.

Dari dawuh ini, jelas bahwa pesantren membentuk santri melalui kedisiplinan keseharian. Merawat pakaian, menjaga sandal, dan memuliakan kitab bukan perkara kecil. Ia adalah latihan amanah, kejujuran, dan tanggung jawab—nilai-nilai yang akan melekat jauh setelah santri keluar dari pesantren.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses