Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Tertib dan Konsistensi dalam Belajar
Pesantren berdiri di atas kedisiplinan, ketaatan, ketertiban dan kesungguhan. Karena itu, para Masyayikh senantiasa menanamkan prinsip kepada santri: taat pada aturan pondok adalah bagian dari adab menuntut ilmu. Dalam dawuhnya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menegaskan pentingnya konsistensi dan tertib dalam proses belajar.
Baca juga: KH. Athoillah S. A.: Memanfaatkan Waktu Liburan
Beliau memberikan dawuh:
“Aturan pondok diperhatikan. Sekali ngaji yang yakin ya. Bisa tidak bisa, supaya (tetap) masuk sekolah. Paham tidak paham, supaya (tetap) masuk sekolah. Hafal tidak hafal, supaya (tetap) masuk sekolah tertib dan musyawaroh.”
Dawuh beliau mengajarkan kepada kita satu nilai: kewajiban hadir dan tertib tidak bergantung pada kondisi kemampuan pribadi seseorang. Bisa atau tidak bisa, paham atau belum paham, hafal atau belum hafal—semua itu bukanlah alasan untuk meninggalkan kewajiban kita untuk berangkat sekolah. Sebab keberhasilan ilmu tidak dapat kita ukur dari kondisi sesaat, melainkan keistiqamahan dalam mengemban tanggung jawab.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Larangan Berlebihan dalam Menggunakan Air
Dalam sistem pesantren, proses merupakan hal yang lebih utama daripada hasil yang kita dapat tanpa melalui proses.
Cara Pandang Takzir dan Sanksi
Lebih jauh, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengarahkan cara pandang santri terhadap sanksi atau takzir:
“Adapun bilamana ditakzir, dianggap saja riyadloh, dianggap tirakat.”
Kalimat ini menggeser paradigma takzir sebagai hal yang hina. Takzir bukan hanya hukuman semata, melainkan latihan jiwa untuk menerima dan bertanggung jawab.
Baca juga: Perjalanan Mencari Ilmu KH. Abdul Karim
Beliau bahkan menyentil mental gengsi yang sering muncul:
“Masa oleh guru disuruh berdiri saja gengsi ya? Seorang petinju disuruh tinju saja mau, babak belur kan mau.”
Perumpamaan ini sangat realistis. Seorang petinju rela sakit demi prestasi. Maka santri seharusnya lebih siap menanggung sedikit rasa tidak nyaman demi ilmu. Jika berdiri saja sudah menolak, maka akan lebih sulit untuk menggapai ilmu.
Alasan Menolak Takziran
Akar penolakan terhadap takzir, menurut beliau, sering kali bukan karena beratnya hukuman, tetapi karena penyakit hati:
“Sebab kadang-kadang orang yang ditakzir tidak mau itu karena ada sifat takabur. Sehingga orang yang demikian tidak berhasil dalam mencari ilmu.”
Baca juga: Menjaga Akhlak di Mana Pun Berada: Pesan KH. M. Anwar Manshur untuk Santri Lirboyo
Takabur adalah penghalang terbesar ilmu. Orang yang tinggi hati akan sulit menerima koreksi. Padahal ilmu hanya masuk ke hati yang rendah. Santri yang menolak takzir sejatinya sedang menolak proses pendidikan itu sendiri.
Karena itu, beliau menutup dawuh ini dengan arahan yang sangat mendidik:
“Jadi kalau ditakzir, silahkan diterima dengan baik. Itu riyadlah, itu tirakat. Jadi kalian belajar konsekuensi dan tanggung jawab ya.”
Inilah inti pendidikan pesantren: belajar menerima konsekuensi, tertib peraturan dan memikul tanggung jawab. Santri tidak hanya belajar kitab, tetapi tertib aturan, dan lapang dada menerima takzir adalah bekal penting untuk kehidupan yang lebih luas.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
