Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī al-Ḥasanī: Hari Kelahiran Nabi Lebih Mulia Daripada Hari Raya

Dalam kitabnya yang berupa Ḥawla al-Iḥtifāl bi-Żikrā al-Maulid al-Nabawī al-Syarīf, Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī al-Malīkī al-Ḥasanī al-Makkī mengatakan bahwa:

Baca juga: Kisah Harut dan Marut: Misteri Sihir dan Klarifikasi dari Ulama

Alasan hari kelahiran Nabi lebih mulia

“Sudah teramat maklum adanya bagi kita (umat Islam) bahwa hari raya dalam Islam itu ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Tetapi hari lahirnya Baginda Nabi itu sejatinya lebih agung dan mulia daripada kedua hari raya tersebut (meskipun kami tidak menamakan bahwa hari maulid ini bukan sebagai id atau perayaan sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha).

Karena sejatinya, dengan adanya maulid, berbagai kebahagian, perayaan dan kebaikan-kebaikan lahir dalam Islam. Jadi, seandainya jika tidak ada hari lahirnya baginda Nabi maka tidak akan ada peristiwa Allah mengutus beliau sebagai Nabi, tidak ada peristiwa turunnya Al-Quran, Isra’ dan Mi’raj, hijrah dari Mekah ke Madinah, pertolongan dalam perang Badar dan peristiwa penaklukkan Kota Mekah yang sangat luar biasa. Semuanya itu tidak terlepas dari Baginda Nabi sendiri dan kelahiran Nabi sebagai sumber awal dari kemunculan kebaikan-kebaikan tersebut.”

Maka, sungguh tepat jika para ulama salaf menilai bahwa kelahiran Baginda Nabi ﷺ merupakan asal segala nikmat yang Allah curahkan kepada umat ini. Sebab, semua peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah Islam, bermula dari kelahiran beliau ke dunia. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa alam semesta ini mendapat kemuliaan karena kehadiran beliau ﷺ. Dalam hadis qudsi terdapat ungkapan:

لَوْلَاكَ لَمَا خَلَقْتُ الْأَفْلَاكَ


Seandainya bukan karena engkau (wahai Muhammad), niscaya Aku tidak menciptakan langit-langit (cakrawala).”

Baca juga: Lima Pilar Kebahagiaan: Warisan Bijak dari Ibn Miskawayh

Hari kelahiran Nabi tidak sama dengan hari raya

Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī kemudian menegaskan, bahwa sesungguhnya hari kelahiran Nabi ﷺ tidak dapat kita samakan dengan ‘id (hari raya). Sebab, hakikat hari raya adalah perayaan yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Berbeda halnya dengan memperingati kelahiran Nabi ﷺ. Mengingat beliau dan meneladani sejarah kehidupannya justru seharusnya kita lakukan setiap waktu, tanpa terikat oleh batas masa maupun tempat.

Baca juga: Jangan Memberikan Doa Celaka, Doakanlah Hidayah

Orang pertama yang merayakan maulid Nabi

Adapun orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi—menurut Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī—adalah Beliau Nabi sendiri. Hal ini terbukti dari hadits sahih yang berupa:

لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa pada hari Senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan.” (HR. Muslim)

Dari hadis ini, beliau kemudian menyimpulkan bahwa:

فَهٰذَا أَصَحُّ وَأَصْرَحُ نَصٍّ فِي مَشْرُوعِيَّةِ الِٱحْتِفَالِ بِٱلْمَوْلِدِ ٱلنَّبَوِيِّ ٱلشَّرِيفِ. وَلَا يُلْتَفَتْ لِقَوْلِ مَنْ قَالَ: إِنَّ أَوَّلَ مَنْ ٱحْتَفَلَ بِهِ ٱلْفَاطِمِيُّوْنَ، لِأَنَّ هٰذَا إِمَّا جَهْلٌ أَوْ تَعَامٍ عَنِ ٱلْحَقِّ.

“Inilah nash yang paling sahih dan paling jelas mengenai disyariatkannya memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu, tidak perlu memperhatikan ucapan sebagian orang yang berkata bahwa peringatan Maulid pertama kali dilakukan oleh kaum Fathimiyyun (Dinasiti Fathimiyyah). Sebab, pernyataan semacam itu hanyalah lahir dari kebodohan, atau berpura-pura tidak mengetahui kebenaran.”

Baca juga: Refleksi: Fenomena Konten S-Line, Saat Aib Justru Dijadikan Hiburan Publik

Kebolehan merayakan maulid

Selain itu, beliau juga menjelaskan terkait legalitas perayaan maulid Nabi, tetapi uniknya, salah satu yang menjadi rujukan beliau adalah Syaikh Ibn Taimiyyah—yang merupakan rujukan utama kaum sebelah—berikut adalah kutipannya:

يَقُوْلُ: قَدْ يُثَابُ بَعْضُ النَّاسِ عَلَى فِعْلِ الْمَوْلِدِ، وَكَذٰلِكَ مَا يُحْدِثُهُ بَعْضُ النَّاسِ إِمَّا مُضَاهَاةً لِلنَّصَارَى فِي مِيْلَادِ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَإِمَّا مَحَبَّةً لِلنَّبِيِّ وَتَعْظِيْمًا لَهُ، وَاللهُ قَدْ يُثِيْبُهُمْ عَلَى هٰذِهِ الْمَحَبَّةِ وَالِاجْتِهَادِ لَا عَلَى الْبِدَعِ

Pendapat Syaikh Ibnu Taimiyah tentang Maulid:
Beliau berkata, “Sebagian orang bisa saja mendapatkan pahala karena melaksanakan peringatan Maulid. Demikian pula hal-hal baru yang dibuat sebagian orang, entah karena meniru orang-orang Nasrani dalam memperingati kelahiran Nabi Isa `alaihissalām, atau karena rasa cinta dan pengagungan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka Allah bisa saja memberikan pahala kepada mereka atas kecintaan dan kesungguhan itu, bukan atas bid‘ahnya.”.

Bukan hanya sekadar tradisi

Oleh sebab itu, sejatinya memperingati Maulid Nabi bukanlah semata-mata tradisi, melainkan ungkapan syukur dan bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ. Dengan maulid, umat Islam mengenang jasa agung beliau, meneladani akhlaknya, memperkuat ikatan hati dengan sunnahnya, serta memperbaharui tekad untuk istiqamah di jalan yang beliau ajarkan.

Tidaklah heran jika banyak ulama besar dari masa ke masa menulis kitab maulid, mengadakan majelis dzikir dan shalawat, serta memotivasi umat agar bergembira pada hari kelahiran Nabi ﷺ. Sebab, kegembiraan itu bukan sekadar lahiriah, melainkan juga ibadah yang mendatangkan rahmat Allah Swt.

Referensi: As-Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī al-Mālikī al-Ḥasanī, Ḥawla al-Iḥtifāl bi-Żikrā al-Maulid al-Nabawī al-Syarīf (Ṣaidā–Beirūt: al-Maktabah al-‘Aṣriyyah, t.t.).

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses