Tag Archives: observasi

Meneropong Cakrawala Falak

LirboyoNet, Kandangan- Siang itu (25/01) sekitar 25 santri yang aktif mengikuti kursus falak setiap minggunya berkumpul di Gedung Rusunawa utara Aula Al-Muktamar. mereka menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk melaksakan praktek rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di menara masjid MAN 03 Kandangan-Kediri.

Setelah dirasa anggota sudah lengkap dan peralatan siap, rombongan menggunakan 2 mobil Elf itu berangkat ke lokasi sekitar pukul 14:45 WIB. sampai di sana kira-kira 45 menit kemudian, cuaca terlihat cerah. mereka segera naik ke lantai tiga msajid milik sekolah, untuk menyiapkan alat-alat observasinya dipandu langsung oleh dua tutor, Ust. Reza Zakaria dan Ust. Asmujib dan segenap tim pelaksana dari Seksi Pramuka Pondok Pesantren Lirboyo.

Baca juga https://lirboyo.net/praktek-rukyatul-hilal/

Setelah sekian proses, tiba-tiba cuaca menunjukkan perubahan yang berbeda, guratan awan hitam mulai mengitari langit. akhirnya tutor menganjurkan agar pindah ke menara setinggi 6 M di atas atap masjid Lt. 3 itu.

Mereka menata ulang alat-alatnya, seperti mengukur gawangan untuk menandai terbenamnya matahari, teropong. benang pengukur, penggaris hingga aplikasi khusus yang bisa mengetahui letak matahari, hilal, dan ufuk.

Setelah dirasa cukup, mereka turun untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah, sambil berharap mendung akan berakhir. perkiraan matahari terbenam pada pukul 17:58:57 WIB. setelah shalat sebagian santri ada yang keluar area sekolah untuk mencari jajanan. dan sayang sekali, hujan yang cukup deras turun mengguyur.

Beberapa menit sebelum waktu perkiraan matahari terbenam, mereka naik lagi, di atas bangunan yang dikelilingi persawahan dan di arah timur pegunungan membentang, mereka mendengarkan arahan dari tutor, “Meski di sini mendung, bahkan hujan, namun di ufuk tidak mesti demikian kondisinya, bisa jadi di sana cerah.”

Hingga matahari diperkirakan sudah tenggelam, cuaca tidak menunjukkan akan berhentinya hujan, atau setidaknya mendung menghilang, sehingga mereka hanya mendapatkan cara persiapan observasi saja, tidak sampai bisa mengamati prosesi tenggelamnya matahari dan munculnya hilal.

“Di tempat yang paling potensial untuk bisa melihat hilal saja, tidak setiap melakukan rukyah di sana bisa melihat hilal. bahkan ada yang sudah berpuluh kali rukyah tidak bisa melihat.” tambah tutor.

Meski demikian santri-santri tetap merasa banyak pengetahuan baru, terlebih tahu tentang prosesi dan apa yang diperlukan untuk rukyah. mereka turun setelah adzan maghrib berkumandang, melaksanakan salat berjamaah, dilanjutkan dengan foto bersama dengan tutor dan panitia. rombongan kembali ke Lirboyo sebelum adzan isya. [N.A]

Praktik Observasi Hilal

LirboyoNet, Kediri– Rukyatul hilal merupakan salah satu metode penetapan awal bulan yang digunakan oleh Nahdhatul Ulama dan pemerintah Republik Indonesia. Metode melihat hilal melalui observasi di tempat-tempat tertentu ini masih terus dipertahankan, meskipun sekarang telah ditemukan beragam cara modern dan instan untuk melihat hilal. Metode semacam ini pula yang masih diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo. Selain ada materi khusus di jenjang ‘aliyah yang membahas ilmu falak, ada pula kursus lebih lanjut yang mendatangkan pembimbing yang benar-benar berpengalaman.

Senin kemarin (31/10) sekitar empat puluh peserta kursus falak akhirnya diajak turun ke lapangan. Setelah melalui pengajaran teori setiap malam kamis, selama sekitar tiga bulan. Mereka melakukan praktik observasi melihat hilal secara langsung di pantai Serang, Blitar. Pantai yang terletak di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini merupakan salah satu titik resmi untuk melihat hilal secara nasional. Di pantai ini, biasanya setiap menjelang awal bulan Ramadhan, dan awal bulan Syawal dijadikan tempat observasi. Latihan observasi semacam ini, rutin dilakukan oleh Pondok Pesantren Lirboyo (Baca Praktik Ru’yah di Pantai Serang Blitar).

Hari Senin kemarin dipilih, karena bertepatan dengan pergantian awal bulan hijriyyah. Jadi, peserta dapat mengamati sendiri secara langsung, bagaimana hilal terlihat diatas ufuk.

Rombongan yang melakukan observasi berangkat menggunakan tiga buah kendaraan elf. Mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Memakan waktu perjalanan sekitar tiga setengah jam, rombongan tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Sebelumnya, rombongan sempat  sekitar satu jam transit di kediaman Ustaz Rizal Syahru, di Srengat, Blitar. Rombongan menunaikan salat, dan mengambil beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk praktik rukyah. Beliau juga diundang untuk turut menyertai rombongan sebagai pemandu senior.  Ust. Syahru sendiri merupakan salah seorang anggota senior di Tim Lajnah Falakiyah PCNU Blitar.

Tiba di lokasi, rombongan langsung mendapatkan pengarahan praktik. Ust. Syahru sendiri yang langsung menyampaikan materi. “Kalau rukyatul hilal, kita harus bisa melihat ufuk, atau kaki langit. Dan itu yang paling mudah dilakukaan di laut. Sebenarnya tidak harus di laut. Di pegunungna bisa. Yang penting ada garis lurus. Itu garis ufuk. Tidak bisa kita melihat di halaman rumah” terang Ustaz Syahru.

Beliau menggaris bawahi, praktik rukyatul hilal ternyata tidak mudah. Butuh kejelian dan keberuntungan, “Rukyatul hilal, sebenarnya tidak semudah yang kita bayangkan. Lebih mudah kita menghitung, hisab” kata Ust. Syharu. “Ilmu rukyat sangat sulit, kita seratus kali, belum tentu melihat hilal” tambah beliau.

Beliau juga menerangkan, kalau rukyatul hilal sampai saat ini masih menjadi ilmu yang sulit dipraktikan, meskipun sudah ada teropong canggih yang otomatis bisa mendeteksi hilal, kadang hilal terhalang kabut. Beliau mengingatkan, rukyatul hilal tidaklah sederhana, banyak hal yang disalah pahami masyarkat tentang rukyatul hilal. “Dan yang betul, rukyah itu dilakukan setelah matahari tenggelam, beberapa waktu setelah matahari tenggelam. Tergantung hisab.” Kata beliau,banyak pemahaman yang beredar kalau rukyatul hilal bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun adalah salah besar. Selain itu, orang yang hendak praktik rukyatul hilal, harus terlebih dahulu menguasai metode hisab, “Rukyah sendiri tanpa hisab, sangat-sangat tidak berkualitas. Maka kita hisab dulu, baru rukyah. Hisab dijadikan pedoman berangkat rukyah.”

Ust. Asmujib, anggota Tim Lajnah Falakiyah Ponpes Lirboyo yang mendampingi beliau juga turut berbagi pengalaman. “Rukyah itu sangat sulit, sering rukyah, tapi saya sendiri, belum pernah melihat yang namanya hilal.” Canda Ustaz Asmuji, yang diiringi dengan tawa peserta. Padahal Ust. Asmujib sendiri sudah sekitar lima belas tahun sering melakukan observasi.

Selesai penyampaian materi, peserta berangkat menuju bibir pantai. Beragam peralatan yang telah dipasang mulai ditata dan disiapkan. Cara yang dipakai menggunakan metode tradisional, dan modern. Peserta melakukan observasi melalui gawangan pengamatan, watermark, dan teropong modern. Mereka dipandu langsung oleh Ustaz Syahru, Ust. Asmujib, Ust. Badrul Huda, dan beberapa pemandu profesional lain.

Namun sayang, karena cuaca yang mendung, sore kemarin hilal tidak bisa terlihat. Hanya sekelumit cahaya redup matahari yang mulai tampak samar-samar surup ditelan garis ufuk. Ditunggu sampai pukul 17.30 WIB, waktu perkiraan hilal akan tampak, hilal tak kunjung terlihat.[]