Lirboyo — Pondok Pesantren Lirboyo kembali mengadakan pelatihan penyembelihan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Acara yang dimulai pada pukul 20.15 WIB ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari santri, pengurus pondok, warga sekitar, panitia kurban (TIBAN), tim Indonesian Blades, hingga pimpinan pondok pesantren.
Turut hadir pula Agus H. Badrul Huda Zainal Abidin Syarif beserta sejumlah tokoh lainnya dalam kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias tersebut.
Baca juga: Praktik Rukyatul Hilal di Pondok Lirboyo
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan, kemudian berlanjut dengan penyampaian sambutan dari Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, pemaparan materi, simulasi penyembelihan dan asah pisau, sesi tanya jawab, hingga doa penutup yang Habib Ali pimpin.
Pentingnya Penyembelihan Sesuai Syariat
Dalam sambutannya, Agus Zulfa Laday Robby Sholeh selaku perwakilan pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo menegaskan bahwa proses penyembelihan memiliki pengaruh besar terhadap kehalalan daging kurban.
“Penyembelihan ini sangat penting karena berdampak pada kehalalan daging,” ujar beliau.
Beliau juga menekankan motto Panitia Kurban Pondok Lirboyo, yakni “Cepat, tepat, dan sesuai dengan syariat.” Menurut beliau, proses penyembelihan yang lambat dapat menyakiti hewan sehingga bertentangan dengan adab Islam dalam memperlakukan hewan.
Materi Fikih Penyembelihan Hewan Kurban
Pada sesi materi pertama, pemateri menjelaskan bahwa hewan yang sah digunakan untuk kurban adalah hewan ternak tertentu dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat.
Baca juga: Catatan dari Dauroh Ma’had Aly Lirboyo: Merawat Nalar Islami Lewat Ilmu Manthiq
Peserta juga diberi penjelasan mengenai bacaan-bacaan yang dianjurkan ketika proses penyembelihan berlangsung. Selain itu, dijelaskan pula bahwa alat untuk menyembelih harus benar-benar tajam, namun tidak diperbolehkan menggunakan kuku maupun tulang.
Teknik Menyembelih yang Benar
Materi kedua disampaikan oleh Pak Didik Eko Yuwono yang banyak mengulas tentang teknik penyembelihan secara praktis dan profesional.
Beliau menjelaskan cara memegang pisau hingga teknik dasar penyembelihan. Menurut beliau, prinsip utama dalam menyembelih adalah “menyayat kemudian menekan, bukan menekan kemudian menyayat.”
Baca juga: Dauroh Ilmiah Ma’had Aly Lirboyo Bahas Urgensi Ilmu Mantik dalam Kajian Syariat
Pak Didik juga menyampaikan bahwa berwudhu sebelum menyembelih merupakan bentuk ikhtiar batin agar proses berjalan baik dan penuh kehati-hatian.
Bagi pemula, beliau menyarankan teknik dorong dan tarik agar sayatan lebih stabil dan tidak menyiksa hewan. Beliau turut menjelaskan bahwa dalam penyembelihan cukup memotong empat saluran utama di bagian bawah leher, tanpa harus memutus saluran atau pembuluh darah bagian atas.
“Jika pembuluh darah bagian atas ikut terpotong, maka sinyal dari otak ke jantung akan terhenti sehingga darah di dalam tubuh tidak bisa keluar secara maksimal,” jelasnya.
Menurut beliau, setelah hewan kita sembelih, penyembelih juga wajib menjaga hewan agar mati dengan tenang dan tidak kita perlakukan secara kasar.
Baca juga: Santri Lirboyo Padati Pembukaan Majelis Sholawat Kubro
Beliau kemudian menjelaskan empat tanda kematian pada sapi, yakni memeriksa refleks mata, mengecek pernapasan melalui perut, memelintir ekor secara perlahan, dan menekan bagian di antara dua kuku.
Dalam pemaparannya, Pak Didik juga menerangkan bahwa tempat menyembelih adalah di bawah jakun. Jika jakun sulit untuk kita temukan makan kita bisa menggunakan kira-kira dengan menggunakan jari. Untuk ayam sekitar satu jari di bawah rahang, kambing tiga jari, sedangkan sapi lima jari.
Selain itu, beliau mengingatkan agar pisau tidak disapukan ke tubuh hewan setelah digunakan.
“Ini soal adab. Kita sudah menyembelih, jangan sampai hewannya juga kita jadikan lap,” ujarnya.
Suasana pelatihan semakin menarik ketika tutor meminta salah satu untuk peserta maju dan mempraktikkan teknik penyembelihan secara langsung. Yang kemudian dia mendapat pisau milik pemateri yang selama ini beliau pakai dalam praktik penyembelihan profesional.
Indonesian Blades Kenalkan Pisau
Pada sesi berikutnya, tim Indonesian Blades memperkenalkan komunitas mereka sebagai wadah bagi pecinta, pengrajin, pengguna, dan penghobi pisau di Indonesia. Komunitas tersebut berdiri sejak 6 Juni 2010 dan masih aktif hingga sekarang.
Mereka menjelaskan pentingnya penggunaan pisau yang tajam dalam proses penyembelihan. Tim Indonesian Blades bahkan menunjukkan beberapa contoh penyembelihan yang mengalami kesulitan akibat pisau yang kurang tajam.
Baca juga: Halal Bihalal LIM Perkuat Sinergi Dakwah dan Koordinasi Antar Pengurus
Selain itu, peserta juga beliau ingatkan untuk selalu menyiapkan pisau cadangan guna mengantisipasi kemungkinan seperti pisau patah atau terjatuh saat proses pemotongan berlangsung.
Tak hanya itu, tim Indonesian Blades juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian saat membawa dan menggunakan pisau agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Tips Agar Daging Kurban Tidak Bau
Dalam sesi tanya-jawab, pemateri turut membagikan sejumlah tips agar daging kurban tidak berbau dan tetap berkualitas baik.
Beberapa di antaranya adalah:
- Hewan kurban dipuasakan sekitar 12 jam sebelum penyembelihan.
- Hewan dijaga agar tidak stres karena stres dapat menghambat keluarnya darah.
- Pisau tidak dicampur penggunaannya dan harus disesuaikan dengan fungsi masing-masing.
- Jika jumlah sembelihan banyak, hewan jangan sampai menumpuk terlalu lama sehingga panitia penyembelihan harus menyesuaikan jumlah petugas pengurusan daging.
Kegiatan pelatihan ini menjadi bentuk edukasi penting bagi masyarakat dan panitia kurban agar pelaksanaan penyembelihan tidak hanya cepat dan efektif, tetapi juga tetap memperhatikan aspek syariat, kebersihan, serta kesejahteraan hewan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
