Tag Archives: Tradisi

Tradisi dan Sejarah Yasinan pada Malam Nishfu Sya’ban

Tanggal 15 bulan Sya’ban sudah didepan mata. Untuk menyongsong malam Nisfu Sya’ban, hendaknya kita sesama saudara muslim meminta maaf kepada orang tua, sanak dan teman.

Selain itu, juga jangan sampai untuk melewatkan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Sudah dikutip dalam tulisan sebelumnya, bahwa siapa yang mau mengisi malam Nishfu Sya’ban dengan amal ibadah, akan diampuni dosa-dosanya. Ukuran paling sedikit untuk “menghidupkan malam Nishfu Sya’ban” adalah dengan menjalankan sholat Isya’ berjama’ah dan ‘azm, atau niatan untuk mendirikan sholat Subuh secara berjamaah keesokan paginya.

Menurut Syaikh Yasir Al Kadamany dari Syiria, dalam rihlah beliau di Pondok Pesantren Lirboyo beberapa waktu silam, saat kita berhasil menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan amal kebaikan, maka itu akan menjadi energi yang sangat besar untuk menyambut datangnya bulan Ramadlan.

Berdoa

Selain mengisi malam Nishfu Sya’ban dengan salat isya berjamaah, kita juga diperkenankan melakukan banyak amaliah lain, seperti salat sunah witir, tahajud, hajat, serta banyak bacaan dzikir, seperti istighfar dan lain-lain. Yang paling utama adalah memperbanyak berdoa. Berharap agar semua hajat dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang mustajab untuk berdoa.

عن أبي أمامة الباهلي قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة، أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Lima malam yang tidak akan ditolak saat berdoa di dalamnya adalah malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jumat, malam Idul Fitri dan Malam Idul Adha.”

Ulama salaf salih juga membiasakan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali. Tidak diketahui dengan pasti siapakah ulama salaf yang memulai adat ini, namun dalam sebuah keterangan dalam kitab Asna al Mathâlib fi Ahâdits Mukhtalifah al Marâtib, ulama tersebut adalah Syaikh Ahmad bin Ali bin Yusuf, Abu al ‘Abbas al Buni (w. 622 H/1225 M).

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

“Adapun tradisi Yasinan pada malam Nishfu Sya’ban setelah shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, maka merupakan tartib dari salah seorang salih. Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nishfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh).”

Ketika membaca surat Yasin tiga kali, diniatkan tiga hal baik yang berbeda dalam setiap kali bacaan. Kemudian setiap selesai membaca satu kali, dilanjutkan dengan doa. Doa tersebut bisa dibaca sendiri-sendiri atau berjamaah. Dengan satu imam yang membaca dan makmum yang lain cukup mengamini.

Ketika membaca surat Yasin

Yang pertama, diniati diberikan panjang umur dalam ketaatan. Saat membaca surat Yasin kedua, diniati agar terhindar dari musibah serta niat pula agar luas rizkinya. Dan pada waktu membaca surat Yasin yang ketiga kalinya, diniati agar tidak tergantung terhadap manusia, juga niat agar kelak husnul khotimah.

Doa yang dimaksud setelah membaca surat Yasin tersebut, sebagaimana dikutip dari kitab Kanzun Najah adalah,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إلَهَ اِلَّا اَنْتَ، ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ، وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ الَّلهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِيْ، وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، فِيْ كِتَابكَ اْلـمُنْزَلِ، عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ اْلـمُرْسَلِ، يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ. اِلَهِيْ بِالتَّجَلِّي اْلاَعْظَمِ، فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْباَنَ اْلـمُكَرَّمِ، الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ، وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَمَا اَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، اِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعَزُّ اْلاَكْرَمُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Salat ‘Rebo Wekasan’ dalam Tinjauan Fikih

Salat ‘Rebo Wekasan’ tidaklah asing di telinga kita. Terutama kita yang berasal dari masyarakat budaya Jawa. ‘Rebo Wekasan’ sendiri merupakan istilah dari hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Dalam banyak keterangan, hari ini hari di mana Allah swt. menurunkan segala bala` (cobaan) dan marabahaya ke dunia. Bala` yang turun ini terlebih dahulu difilter oleh seorang Wali Quthb (wali tertinggi) dan barulah kemudian menimpa umat manusia.

Imam al-Dairabi berkata :

ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِي كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ

Sebagian ulama Arifin dari Ahli Kasyf menuturkan bahwa pada setiap tahunnya diturunkan 320 ribu bala’ (cobaan). Yaitu terjadi pada hari Rabu terakhir dari bulan Shafar. Pada waktu itu merupakan hari terberat dari sekian banyak di hari dalam satu tahun.”

Di tempat lain Al-Syaikh Al-Buni mengatakan :

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَزِّلُ بَلَاءً فِي آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْاَرْضِ فَيَأْخُذُهُ الْمُوَكَّلُ بِهِ وَيُسَلِّمُهُ اِلَى قُطْبِ الْغَوْثِ فَيُفَرِّقُهُ عَلىَ الْعَالَمِ فَمَا حَصَلَ مِنْ مَوْتٍ اَوْ بَلَاءٍ اَوْ هَمٍّ اِلَّا وَيَكُوْنُ مِنَ الْبَلَاءِ الَّذِيْ يُفَرِّقُهُ الْقُطْبُ

Sesungguhnya Allah menurunkan bala’ di hari Rabu terakhir dari bulan Shafar di antara langit dan bumi. Kemudian bala’ tersebut diterima oleh malaikat yang bertugas dan diserahkan kepada wali Quthb al-Ghauts lalu disebar ke seluruh penduduk alam semesta. Segala bentuk kematian, bala’ atau kesusahan tidak lain adalah berasal dari bala’ yang disebarkan oleh sang wali quthb tersebut.”

Untuk menghadapi hari yang begitu berat ini banyak ulama yang menganjurkan untuk melakukan amalan ibadah berupa salat dengan tata cara (kaifiyyah) tertentu. Namun dar itu, ada juga ulama yang mengatakan bahwa salat dengan kaifiyyah tertentu itu dihukumi bid’ah yang memerlukan sebuah jalan tengah.

Kita mulai dari pendapat ulama yang menganjurkannya terlebih dahulu. Para ulama berbeda-beda dalam memberikan tata cara salat Rebo Wekasan. Di antaranya:

  1. Imam Al-Dairabi

Melakukan salat sunah sebanyak empat rakaat. Pada tiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah membaca surat Al-Kautsar 17x, surat Al-Ikhlash 5x, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan Al-Nas) 1x. Kemudian setelah salam membaca doa :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

  1. Al-Buni

Melakukan salat sunah sebanyak 6 raka’at. Raka’at pertama membaca surat Al-Fatihah dan Ayat Kursi dan rakaat kedua dan selanjutnya membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlash. Kemudian setelah salam membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dengan bagaimanapun bentuk shighatnya, Serta diakhiri dengan membaca do’a sebagai berikut :

اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِيْ وَأَنْ تُعَافِيَنِيْ مِنْ بَلَائِكَ يَا دَافِعَ الْبَلَايَا يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا

  1. Menurut ba’dh al-shalihin

Dalam kaifiyyah ini tidak dilakukan dengan melakukan salat, akan tetapi dengan membaca surat Yasin sebanyak  1x. Ketika sampai pada ayat: سلام قولا من رب رحيم ayat ini diulangi sebanyak 313x. Kemudian membaca do’a :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْاَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّآتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلىَ الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصىَ الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ اَللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْاَرْضِ اِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Kemudian salah satu ulama yang mengatakan salat ‘Rebo Wekasan’ tidak boleh adalah Syaikh Abd al-Hamid Quds Al-Makky. Beliau menungkapkan hal tersebut ketika mengomentari pernyataan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam Irsyad al-‘Ibad tentang salat-salat yang dianggap bid’ah. Berikut cuplikannya:

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ زَيْنُ الدِّيْنِ تِلْمِيْذُ ابْنِ حَجَرٍ اَلْمَلِكِى فِى كِتَابِهِ اِرْشَادِ الْعِبَادِ كَغَيْرِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمَذْهَبِ: وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ الَّتِى يَأْثَمُ فَاعِلُهَا وَيَجِبُ عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ مَنْعُ فَاعِلِهَا صَلَاةَ الرَّغَائِبِ -اِلَى أَنْ قَالَ- أَمَّا أَحَادِيْثُهَا فَمَوْضُوْعَةٌ بَاطِلَةٌ وَلَا يَغْتَرُّ عَنْ ذِكْرِهَا اهـ، قُلْتُ وَمِثْلُهُ صَلَاةُ الصَّفَرِ فَمَنْ أَرَادَ الصَّلَاةَ فِى وَقْتِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ فَلْيَنْوِ النَّفْلَ الْمُطْلَقَ فُرَادَى مِنْ غَيْرِ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ وَهُوَ مَا لَا يَتَقَيَّدُ بِوَقْتٍ وَلَا سَبَبٍ وَلَا حَصْرَ لَهُ اهـ

“Syaikh Zainuddin (Al-Malibari) menungkapkan dalam kitabnya Irsyad al-Ibad seperti halnya ulama lain dari mazhab Syafi’i bahwa termasuk dari bid’ah yang tercela pelakunya berdosa dan wajib dilarang oleh pemerintah adalah salat Ragha`ib, hadis-hadis yang dipakai adalah hadis maudhu’ maka jangan terpancing untuk menuturkannya. Saya (Syaikh Zainuddin) berkata: termasuk dari bid’ah adalah salat bulan Shafar. Maka siapa yang ingin mengerjakan salat di waktu ini, niatilah salatnya dengan niat salat sunah mutlak secara sendiri dan tanpa hitungan tertentu. Sebab salat sunah mutlak itu tidak terikat dengan sebab dan tidak terikat dengan batas.”

Dari statement di atas, Syaikh Zainuddin Al-Malibari meskipun menganggap salat ‘Rebo Wekasan’ adalah bid’ah namun beliau tetap memberi solusi jalan tengah dengan menggantinya dengan salat sunah mutlak.

Perbedaan ulama yang semacam ini bukanlah untuk dipertentangkan dan diperselisihkan, namun untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada umat untuk menjalani agama dengan tanpa keluar dari jalur syariat.

Yang terpenting dari itu semua adalah agar akidah umat tidak keliru apalagi tersesat. Bahwasanya tidak ada hal-hal buruk yang terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti datangnya hari demikian, datangya tanda-tanda demikian, atau hal-hal lain yang berbau mitos dan klenik. Bahkan hal ini sangat dilarang oleh syariat.

Kita harus yakin bahwa semua yang terjadi pada kita apakah itu baik atau buruk merupakan takdir dan kehendak Allah. Seperti tertera dalam rukun iman yang kelima. Yakni meyakini qadha` dan qadar baik dan buruk itu berasal dari Allah. Syaikh Abdurrauf al-Manawi dalam Faidl al-Qadir juz 1, hal.62 menjelaskan:

وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلىَ جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَظَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِيْنَ حَرَامٌ شَدِيْدُ التَّحْرِيْمِ إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا لِلهِ تَعَالىَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا وَبِدُوْنِ ذَلِكَ لَا ضَيْرَ وَلَا مَحْذُوْرَ وَمَنْ تَطَيَّرَ حَاقَتْ بِهِ نَحْوَسَتُهُ وَمَنْ أَيْقَنَ بِأّنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ إِلَّا اللهُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ

“Walhasil, sesungguhnya segala bentuk kehati-hatian dan penjagaan di hari Rabu atas dasar mitos buruk dan meyakini kebenaran para peramal adalah sangat diharamkan. Sebab semua hari adalah milik Allah. Tidak dapat berdampak buruk dan memberi manfaat dengan sendirinya. Dan dengan tanpa keyakinan akan mitos buruk tersebut, maka diperbolehkan. Barangsiapa meyakini mitos buruk, maka kejadian buruk tersebut benar-benar akan menimpanya. Barangsiapa meyakini bahwa tidak ada yang memberi bahaya dan manfaat kecuali Allah, maka tidak akan terjadi kepadanya keburukan tersebut”.

 

Sumber: akun Instagram @santrimengaji17

 

Tasyakuran Haji di Nusantara

Siapapun mengakui, memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci merupakan sebuah kenikmatan agung. Perasaan hati yang bahagia dan bersyukur secara otomatis akan dirasakan setiap umat Islam yang mendapatkan ‘panggilan’ tersebut.

Di Indonesia, umumnya para jamaah haji yang telah pulang dari ‘perjalanan suci’ itu mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di bandara dan asrama haji, segenap keluarga telah setia menunggu untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya, tradisi yang serupa sudah pernah dicontohkan oleh para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw. dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim)[1]

Rangkaian penyambutan haji terus berlanjut hingga ke kampung halamannya. Para saudara, kerabat, dan tetangga telah menunggu kedatangannya di tengah-tengah mereka. Biasanya, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan istilah ziarah haji, sebuah tradisi untuk mengunjungi para tamu Allah yang telah pulang ke kampung halamannya.

Kearifan lokal umat Islam di Nusantara ini sama persis dengan tradisi yang disebut dengan istilah an-Naqi’ah dalam kajian fikih. Secara pengertian, an-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis Rasulullah Saw,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi.” (HR. Bukhari)[2]

Rangkaian tradisi yang lebih penting dari semua itu adalah mendapatkan berkah doa dari mereka yang baru pulai menunaikan ibadah haji. Karena sebenarnya, doa tersebut lah yang menjadi tujuan utama dari dari para peziarah haji. Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ …رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni.” (HR. Ahmad)[3]

Hadis tersebut juga memberi pemahaman bahwa seseorang yang usai menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk mendoakan orang lain meskipun orang tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang yang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Tujuannya adalah agar ia termasuk dalam doa yang pernah diucapkan oleh nabi Muhammad saw. Sebagaimana dalam sebuah redaksi hadis,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji.” (HR. Muslim)[4]

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang usai menunaikan ibadah haji. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keutamaan doa dari mereka terus menerus hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal.[5] []waAllahu a’lam

 

_________________________

[1] Shahih Muslim, IV/185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, IV/400, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Dalil Al-Falihin, III/237.

[4] Faidh Al-Qodir, II/101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, II/554, CD. Maktabah Syamilah.

Ketika Seserahan Lamaran Kembali Dipertanyakan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salah satu kebiasaan yang berlaku di masyarakat ialah seserahan / hantaran (pemberian) saat prosesi lamaran. Biasanya, pihak laki-laki semacam hadiah seperti seperangkat pakaian, kosmetik, cincin, dan sesamanya. Apabila rencana pernikahan ternyata gagal, apakah pihak perempuan harus mengembalikan apa yang telah diberikan kepadanya? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ima Ch.- Surabaya)

___________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Hadiah yang diberikan ketika prosesi lamaran (seserahan) biasanya bertujuan untuk menunjukkan keseriusan untuk menikahi seseorang. Namun apabila ternyata tujuan itu tidak tercapai, maka pihak perempuan harus memperhatikan status barang yang telah diberikan kepadanya. Hal ini terkait apakah boleh bagi pihak laki-laki untuk memintanya kembali ataukah tidak.

Dalam kitabnya yang berjudul al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, imam Ibnu Hajar mengatakan:

 وَسُئِلَ عَمَّنْ خَطَبَ امْرَأَةً وَأَجَابُوهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَالِ يُسَمَّى الْجِهَازَ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ لَا بَيِّنُوا لَنَا ذَلِكَ؟ (فَأَجَابَ) بِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِنِيَّةِ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنْ دَفَعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتْهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ الرُّجُوعِ بِهِ عَلَيْهَا إذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكهُ وَيُرْجَعُ بِهِ عَلَيْهَا.

Pertanyaan: ketika seorang laki-laki melamar perempuan kemudian perempuan itu menerima lamarannya. Lantas laki-laki itu memberi sebuah pemberian yang sering disebut Jihaz (hadiah lamaran). Apakah perempuan itu punya hak milik atas pemberian itu ataukah tidak?. Jawaaban: yang dianggap dalam kasus itu adalah tujuan dari pihak pemberi. Apabila pemberi bertujuan hanya sekedar hadiah, maka pihak penerima punya hak milik atas pemberian itu…. Ataupun apabila pihak pemberi memiliki niatan untuk mengambilnya kembali apabila pernikahannya gagal serta apabila tidak ada tujuan apapun dalam pemberiannya, maka pihak pemberi boleh menarik kembali pemberiannya”.[1]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila pemberian itu murni sebagai hadiah, maka pihak lelaki tidak boleh menariknya kembali. Namun apabila dalam pemberiannya ia tidak memiliki motif apapun atau  memiliki tujuan yang terkait pernikahan, maka pihak laki-laki boleh untuk menariknya kembali. Sebagaimana ungkapan syekh Abi Bakar Syatho ad-Dimyati dalam kitabnya yang berjudul I’anah at-Thalibin:

وَمَحَلُّ رُجُوْعِهِ حَيْثُ أَطْلَقَ أَوْ قَصَدَ الْهَدِيَّةَ لِأَجْلِ النِّكَاحِ، فَإِنْ قَصَدَ الْهَدِيَّةَ، لَا لِأَجْلِ ذَلِكَ فَلَا رُجُوْعَ

Penarikan kembali (pada hadiah lamaran) diperbolehkan apabila dalam pemberiannya tidak bertujuan apapun atau hadiah yang berkaitan dengan pernikahan yang akan dijalaninya. Sehingga apabila pemberiannya hanya bermotif hadiah belaka, maka tidak diperbolehkan baginya untuk menarik pemberian tersebut”.[2] []waAllahu a’lam

 

_____________________________

[1] Al-fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, juz IV hlm 111. Cet. Maktabah al-Islamiyah

[2] Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz III hlm 31, cet. Darul Fikr

Menyingkap Keabsahan Halal Bi Halal

Saat idul fitri telah tiba, seluruh umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Betapa tidak, pada hari itu umat Islam merayakan hari raya setelah satu bulan penuh melakukan amal ibadah puasa Ramadhan. Segala aktivitas, tradisi, kebiasaan, adat istiadat banyak dilakukan oleh masyarakat di saat hari raya Idul Fitri tiba.

Mayoritas masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum hari raya Idul Fitri tersebut untuk berkumpul dan bersilaturrahim bersama keluarga, sanak saudara, teman, tetangga dan lain sebagainya. Selain itu, dalam kesempatan itu pula mereka saling meminta dan memberi maaf atas segala perbuatan atau kesalahan yang telah terjadi di antara mereka. Biasanya tradisi tersebut dikemas dalam acara yang sering disebut Halal bi Halal. Sebuah upaya untuk saling memberikan kerelaan dan saling memaafkan di antara umat Islam.Tidak dapat dipungkiri segala tradisi dan aktivitas tersebut merupakan penyempurna ibadah penyucian diri di bulan Ramadhan.

Sebagai manusia biasa, manusia tak kan pernah terlepas dari sebuahh kesalahan. Maka dari itu, syariat selalu memberi peringatan agar senantiasa melakukan taubat dalam setiap kesalahan yang diperbuat. Salah satu dari macam-macam klasifikasinya, perbuatan dan kesalahan manusia ada yang bersifat haqqul adami. Yaitu kesalahan yang diperbuat di antara sesama manusia. Dan satu-satunya cara untuk keluar dari dosa yang semacam ini ialah dengan melakukan permohonan maaf terhadap seseorang yang telah tersakiti.[1] Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Begitu juga anjuran untuk saling memaafkan, begitu banyak untaian kalimat dari hadis Rasulullah SAW akan hal itu. Salah satunya ialah hadis yang cukup populer di kalangan umat Islam yang berbunyi:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ , إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tiadalah dari dua orang Islam yang berjumpa lalu saling bersalaman, melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” [2]

Dalam acara Halal bi Halal, silaturrahim adalah suatu aktivitas yang terpisahkan. Salah satu kegiatan yang menjadi perekat ikatan persaudaraan dan kekeluargaan ini hampir tidak pernah terlewatkan saat hari raya Idul Fitri tiba. Silaturrahim dianjurkan terhadap siapapun, tanpa memandang siapa orangnya. Terlebih lagi mereka yang masih memiliki ikatan darah kekeluargaan, tetangga, kerabat, terlebih lagi orang-orang saleh.

Bahkan dalam kaca mata syariat, silaturrahim mendapatkan apresiasi luar biasa dari syariat. Silaturrahim menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Begitu banyak hadis yang telah menjelaskan keutamaan ibadah tersebut. Salah satunya ialah:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (Muttafaq ‘Alaihi)[3]

Walhasil, tradisi Halal Bi Halal merupakan manifestasi dari hadis Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk silaturrahim dan saling memaafkan sesama umat Islam. Terlebih lagi di saat momentum hari raya Idul Fitri yang menjadi penyempurna dari ibadah di bulan Ramdhan. Sehingga, buah kebaikan yang dihasilkan dari tradisi Halal Bi Halal tidak hanya sebatas memperkuat ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Namun lebih dari semua itu, termasuk mempersempit adanya perpecahan dan semakin memperkuat persatuan umat Islam. []waAllahu a’lam

 

__________

[1] Siraj at-Thalibin, I/162

[2] Al-Jami’ as-Shahih, VIII/11

[3] Shahih Bukhari, III/56, atau Shahih Muslim, IV/1982, Maktabah Syamilah