Banyak orang yang telah merasa bahwa ia telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Namun ternyata, ia hanya bersembunyi atas nama cinta dan yang sedang ia rasakan hanya nafsu belaka.
Untuk itu, berikut adalah kisah yang membuat anda sadar bahwa cinta sejati bukan hanya sekadar yang terucap oleh kata. Lebih dari itu, ia menjelma sebagai wujud pengorbanan, perjuangan dan terselimuti sepenuhnya oleh orang yang dicintainya.
Baca juga: Di Balik Surat al-Kautsar
Pengertian Cinta Menurut al-Ghazali
Imam al-Ghazali dalam kitab Mukasyafah al-Qulub menjelaskan bahwa:
الحب عبارة عن : ميل الطبع إلى الشيء الملذ، فإن تأكد ذلك الميل وقوى سمى عشقا فيجاوز إلى أن يكون رفيقا لمحبوبه وينفق ما يملك لأجله
“Cinta (al-ḥubb) adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang menyenangkan. Apabila kecenderungan itu semakin kuat dan mendalam, maka disebut ‘isyq (asmara yang sangat kuat). Bahkan ia dapat sampai pada tingkat seseorang menjadi begitu lekat dengan yang dicintainya dan menginfakkan seluruh yang dimilikinya demi orang yang dicintai itu.”
Beliau kemudian menceritakan tentang kisah kecintaan Sayyidah Zulaikha kepada Nabi Yusuf as. yang telah sampai pada derajat yang membuat harta dan kecantikannya lenyap.
Baca juga: Beginilah Reaksi Rasulullah Saat Melihat Hewan Tersiksa
Kisah Cinta Sayyidah Zulaikha dan Nabi Yusuf
Zulaikha memiliki permata dan kalung-kalung yang muatannya mencapai tujuh puluh ekor unta, namun semuanya dihabiskannya demi cintanya kepada Yusuf. Setiap kali ada orang yang berkata, ‘Aku melihat Yusuf hari ini,’ kemudian orang tersebut oleh Sayyidah Zulaikha beri sebuah kalung yang membuat hidupnya bercukupan. Demikian terus hingga tidak tersisa sedikit pun harta miliknya.
Ia bahkan menamai segala sesuatu dengan nama Yusuf dan melupakan segala sesuatu selain dirinya karena dahsyatnya cinta. Ketika ia mengangkat kepalanya ke langit, ia seakan melihat nama Yusuf tertulis pada bintang-bintang.
Baca juga: Ketika Suami Tak Tampan, Istri Pilih Jalan Surga
Kisah Setelah Menikah
Diriwayatkan pula bahwa setelah ia beriman dan menikah dengan Yusuf as., ia justru menyendiri darinya, mengkhususkan diri untuk beribadah, dan memusatkan perhatiannya kepada Allah Swt. Yusuf mengajaknya ke tempat tidur pada siang hari, tetapi ia menundanya hingga malam. Ketika Yusuf mengajaknya pada malam hari, ia menundanya hingga siang. Zulaikha berkata:
“Wahai Yusuf, dahulu aku mencintaimu sebelum aku mengenal-Nya. Adapun setelah aku mengenal-Nya, kecintaan kepada-Nya tidak menyisakan ruang bagi cinta kepada selain-Nya.”
Ia mengatakan hal itu bukan untuk menolak Yusuf, hingga akhirnya Yusuf berkata kepadanya:
“Sesungguhnya Allah Yang Mahaagung telah memerintahkanku untuk melakukan hal itu dan mengabarkan kepadaku bahwa dari dirimu akan lahir dua orang anak yang akan dijadikan-Nya nabi.”
Maka Zulaikha berkata:
“Jika Allah Swt. memang memerintahkanmu demikian dan menjadikanku sebagai jalan menuju ketetapan itu, maka menaati perintah Allah adalah kewajibanku.”
Saat itulah Zulaikha menerima ajakan Yusuf.
Baca juga: Ka’bah dan Misteri Awal Penciptaan
Kisah Cinta Laila-Majnun
Selain itu, cinta yang tak kalah dahsyatnya bisa kita temukan pada sosok Majnun yang mencintai seorang perempuan bernama Laila.
Dikisahkan suatu ketika seseorang bertanya kepada Majnun:
“Siapa namamu?”
Ia menjawab: “Laila.”
Pada suatu hari dikatakan kepadanya:
“Bukankah Laila telah meninggal?”
Ia menjawab:
“Sesungguhnya Lailaku berada di dalam hatiku. Kapan aku berpisah dengan Laila?”
Suatu ketika ia melewati rumah Laila lalu memandang ke langit. Ada yang berkata kepadanya:
“Wahai Majnun, jangan memandang langit. Pandanglah dinding rumah Laila, barangkali engkau dapat melihatnya.”
Ia menjawab:
“Aku sudah cukup dengan sebuah bintang yang bayangannya jatuh di atas rumah Laila.”
Referensi:
Imam al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub, hal. 26
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
