Agus HM. Abdul Mu’id Shohib menyampaikan bahwasannya beliau menemukan sebuah video yang penuh makna. Video tersebut adalah video dari cina, di dalam video tersebut menampilkan orang anak kecil yang telah melakukan pelanggaran di sekolahnya. Dalam arti (pelanggarannya) ketika sekolah itu dia ogah-ogahan tidak semangat.
Akhirnya Ia dihukum oleh gurunya. Dia harus berdiri dengan tangan kanan-nya memegang bata merah dua biji, sedangkan tangan kirinya haruslah memegang buku. Nah, oleh gurunya ini dia tidak boleh meletakkan bata merah ataupun bukunya.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Kemuliaan Hamba di Sisi Allah
“Minimal sekilo (bata) siji (satu). Arek cilik (anak kecil) disuruh ngangkat boto (bata) ya nangis-nangis.”
Gurunya berkata ketika dia sudah menangis:
“Nek awakmu bodo (Kalau kamu bodoh) yang akan kamu hadapi di masa tua adalah tanganmu seng sisih tengen (yang kanan) (red: Bata merah. Tetapi nak awakmu (kalau kamu) pinter seng mbok (yang kamu) hadapi adalah tangan kiwo (kiri). (red: Buku)”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Kiai, Penjaga Negeri Indonesia
Hingga akhirnya si anak kecil ini mengakui bahwasannya mengangkat batu bata ini sangan berat, sangat rekoso. Hingga murid itu lebih baik mengangkat buku daripada bata merah.
Refleksi Kisah Anak Kecil dan Dua Bata di Tangannya
Kisah tersebut sangat menyentuh. Agus HM. Abdul Mu’id Shohib memberikan kesimpulan bahwasannya ketika kita sekarang mencari ilmu mungkin hari ini akan terasa berat karena proses mencari ilmu. Tetapi besok hidup kita akan lebih ringan karena ilmu yang kita peroleh.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Menjaga Rohim di Tengah Perbedaan
Sekarang memang berat, di pondok kita setiap harinya harus hafalan, setoran, musyawarah, sekolah dan sebagainya. Itu memang berat, tetapi buahnya nanti insya Allah besok kalian tinggal memanen ringannya saja.
Tetapi sebalikanya jika di masa muda santai-santai, berleha-leha, sukanya mager, disuruh hafalan tidak pernah mau. Kalau malam waktunya tidur malah begadang. Besok yang akan dia dapat adalah rekoso.
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Sholawat kepada Nabi Muhammad
Karena itu, seorang santri harus memiliki niat yang kuat untuk mencari ilmu, karena dengan ilmu masa depan kita akan ringan. Seperti kisah refleksi dari anak kecil yang mengangkat dua bata merah tadi.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
