Agus HM. Abdul Mu’id Shohib memberikan dawuh yang membawa pencerahan serta menenangkan hati, terutama saat membahas keutamaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menyampaikan sebuah poin penting mengenai amalan yang satu ini, yang membedakannya secara mendasar dari ibadah-ibadah lainnya.
Sholawat: Jaminan Diterima Tanpa Keraguan
Momen khidmat menjelang Mahalul Qiyam seringkali menjadi pengingat akan pentingnya bersholawat. Lantunan syair yang terdengar adalah:
أَدِمِ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
Adimis sholata ‘alan Nabi Muhammadin
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Menjaga Rohim di Tengah Perbedaan
“Teruslah (Langgengkanlah) membaca sholawat kepada Nabi Muhammad.”
Serta janji yang menguatkan:
فَاقْبَلْهَا مِنَّا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
Fakobuluha hadman bila tarot dudi
“Sholawat itu pasti diterima tidak usah diragukan lagi.”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Kiai, Penjaga Negeri Indonesia
Inilah inti dari dawuh beliau: Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang pasti Allah terima, tanpa keraguan apa pun. Ini adalah pengecualian yang agung.
Mengapa demikian? Kemudian, Agus Muid menjelaskan perbedaan fundamentalnya dengan ibadah lain:
Ibadah lain bisa jadi untuk Allah terima membutuhkan ikhlas dan tidak kita sertai ria’
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Kemuliaan Hamba di Sisi Allah
Sementara sholawat memiliki keistimewaan yang luar biasa. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sholawat tetap Allah terima, bahkan jika motivasinya belum sempurna. Beliau bahkan memberikan contoh yang gamblang:
Nah sholawat ini menurut ulama jika disertai ria’ (contoh) supaya masuk Video Pomdok, bisa dilihat teman-teman dirumah itu tidak masalah tetap diterima Gusti Allah
Hal ini didasarkan pada kaidah yang masyhur di kalangan ulama:
أعمالُنا بين القَبولِ والرَّدِّ، إلّا الصَّلاةَ على النَّبيِّ محمّدٍ ﷺ.
Semua amal kita itu antara Allah terima atau tertolak. Kecuali membaca solawat kepada Nabi Muhammad
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Kemuliaan Hamba di Sisi Allah
Keagungan sholawat ini terletak pada kasih sayang Allah SWT kepada Rasul-Nya. Ketika kita bersholawat, kita sedang menunaikan perintah-Nya dan secara bersamaan memohonkan rahmat Allah untuk hamba yang paling dicintai-Nya. Mustahil Allah menolak permohonan yang ditujukan untuk kekasih-Nya, Rasulullah SAW.
Ekspresi Cinta dan Prioritas di Hari Kiamat
Tidak heran jika para kiai dan guru senantiasa mengajak umat untuk memperbanyak sholawat, terutama di malam dan hari Jumat. Amalan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan kunci untuk mendapatkan prioritas dari Rasulullah SAW sendiri di hari akhir. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً.
Manusia yang paling aku prioritaskan di hari kiamat nanti adalah yang paling banyak membaca solawat kepadaku
Baca juga: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo
Membaca sholawat adalah bentuk ekspresi cinta yang paling murni kepada Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan pepatah, “siapa yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya.”
Maka, barang siapa mencintai Rasulullah, hendaknya ia membiasakan menyebut dan melantunkan sholawat kepada beliau. Dengan melanggengkan sholawat, kita tidak hanya menabung amalan yang pasti Allah terima, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta kepada beliau, dan memastikan diri kita termasuk golongan yang paling mendapat prioritas oleh Sang Pemberi Syafaat di hari kiamat kelak.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





