KH. An’im Falahuddin Mahrus Menjelaskan Isi Kitab Perihal Perayaan Maulid Nabi

KH An'im Falahuddin KH An'im Falahuddin ketika mauidzatul hasanah perihal peringatan Maulid Nabi

Dalam mauidzatul hasanah di peringatan Maulid Nabi Muhammad yang bertempat di Masjid Kasepuhan Lirboyo, KH. An’im Falahuddin Mahrus menyampaikan penjelasan mendalam tentang hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum memulai tausiyah, beliau terlebih dahulu memimpin tawassul kepada pengarang kitab

 حول الإحتفال بذكرى المولد النبوي الشريف

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, seorang ulama besar yang banyak menjelaskan keutamaan memperingati kelahiran Nabi.

KH. An’im menegaskan, jika ada orang yang bertanya: “Kenapa kamu kok memperingati Maulid Nabi?” Maka pertanyaan itu sama saja dengan bertanya: “Kenapa kamu senang atas kelahiran Nabi Muhammad SAW?”

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Berbahagia dengan Maulid Nabi.

Maulid sebagai Wasilah Shalawat dan Sedekah

Beliau menerangkan bahwa Maulid Nabi merupakan salah satu wasilah bagi umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Maulid juga menjadi sarana ith‘am at-tha‘am (memberi makan sesama). Dalam setiap acara Maulid, umat Islam biasanya mendengarkan kisah sejarah kehidupan Rasulullah. Dari situ akan tumbuh kecintaan kita kepada beliau.

KH. An’im menambahkan, Maulid Nabi tidak harus dirayakan dengan amalan tertentu atau cara tertentu saja. Karena inti dari Maulid adalah menumbuhkan rasa cinta dan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Maulid Nabi, Momen Meneladani Nabi

Menjawab Keraguan tentang Maulid

“Kalau ada orang yang mengingkari peringatan Maulid, tidak usah direken (diperhatikan),” tutur beliau. Sebab dalam acara Maulid kita melakukan hal-hal baik, seperti bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi, yang jelas-jelas Allah perintahkan dalam Al-Qur’an:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Karena itu, bulan Maulid sebaiknya sebuah acara selalu kita dengan doa, syukur, serta permohonan keselamatan bagi diri, bangsa, dan negeri.

Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Mencintai Nabi Muhammad

Hikmah Mahallul Qiyam

KH. An’im juga menyinggung tradisi berdiri ketika mahallul qiyam. Menurut beliau, hal ini bukan tanpa dasar. Rasulullah SAW sendiri pernah berdiri untuk menghormati sayyidul anshar, pemimpin kaum Anshar, ketika beliau datang. Maka berdiri saat mahallul qiyam adalah simbol penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Beliau juga mengutip penjelasan kitab di atas bahwa arwah orang-orang saleh bersifat mursalah (bebas berpindah ke mana saja). Dengan demikian, sangat mungkin Nabi Muhammad SAW hadir secara ruhani di majelis-majelis Maulid seperti acara tersebut.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Pesan untuk Para Wanita

Fadhilah Membaca Shalawat

Di akhir tausiyah, KH. An’im menekankan keutamaan memperbanyak shalawat. Dengan shalawat, hati akan menjadi lapang, pintu rezeki terbuka, dan yang terpenting: umat Islam akan memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses