Dalam suasana gerimis sisa hujan di sore hari, ribuan santri dan jamaah berkumpul mengikuti Majelis Sholawat Kubro di Aula Al-Muktamar Pondok Lirboyo. Di antara lantunan sholawat, terselip wejangan dari Agus Ahmad Kafabihi mengenai cinta (tresno) kepada generasi muda, khususnya santri, yang biasa kita sebut sebagai generasi stroberi.
Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar
Disebut demikian karena, sebagaimana buah stroberi, dari luar tampak indah, rapi, dan kokoh. Namun ketika kita sentuh atau kita tekan, mudah sekali hancur. Analogi ini seolah mewakili tantangan generasi muda hari ini: tampak gagah secara estetik, tetapi sering rapuh ketika berhadapan dengan kenyataan.
“Janganlah mudah menyerah. Lelah boleh, nyerah jangan,” begitu nasihat yang terdengar malam itu. Masa mondok adalah masa yang penuh tantangan, baik yang kecil maupun besar. Bahkan hujan pun bisa menjadi ujian sederhana. “Setelah musyawarah hujan, ingin pulang, tetapi hujan. Kalau tidak segera pulang nanti antri kamar mandi, rebutan WC, dan lain-lain,” jelas Agus Ahmad Kafabihi.
Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Menjaga Hati
Ada pula pesan jenaka namun mendalam: “Mending terjebak hujan daripada terjebak zona nyaman, hanya dianggap sebatas teman.” Yang kemudian para santri tanggapi dengan tertawa.
Hujan dan Cinta
Dari situ muncullah perenungan: apa persamaan hujan dan cinta? Jawabannya: sama-sama tidak tahu jatuh untuk siapa.
Benar adanya, sebab maqolah sufi menyebut:
إِنَّ الحُبَّ لَيْسَ اِخْتِيَارًا
Cinta tidak bisa dipaksakan.
KH. M. Anwar Manshur pernah berpesan: “Awakmu ora salah seneng karo wong wedok, ora salah.” Artinya: tidak salah jika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan. Menurut penafsiran Agus Ahmad, yang keliru adalah jika seorang laki-laki menyukai sesama laki-laki.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Kesunahan Ziarah Rasulullah
Beliau melanjutkan dawuh Mbah War: “Nek seneng ndang tembungen. Ojo malah mbok pacari.” Artinya: kalau memang suka, segera khitbah atau lamar, jangan malah kita jadikan pacar.
Agus Ahmad lalu menegaskan: cinta itu bukan soal memiliki atau dimiliki. Cinta lebih dalam dari sekadar status. Ia adalah pengorbanan dan perjuangan.
Seorang ulama sufi pernah berkata:
الحب ذوق لا تدرك حقيقته
Cinta itu tidak tahu bagaimana bentuknya
Baca juga: Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Rajin Itu Riyadhoh
Maka semua orang bisa memaknai apa itu cinta. Dan menurut penafsiran Agus Ahmad: Cinta itu bukan soal tentang memiliki atau dimiliki. Tetapi cinta itu tentang bagaimana kamu mau berkorban atau berjuang.
Penutup
Dari dawuh para masyayikh, kita belajar bahwa cinta adalah anugerah fitri yang harus kita arahkan dengan benar. Tidak cukup berhenti pada rasa, tetapi harus kita iringi dengan perjuangan dan pengorbanan. Generasi stroberi yang mudah rapuh harus berjuang untuk lebih kuat, lebih teguh, dan lebih berani menanggung beban.
Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling estetik di luar, tetapi siapa yang paling kokoh di dalam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
