KH. An’im Falahuddin: Makna Waktu dan Keberkahan Umur

umur

Kamis malam, 11 Muharram 1446 H atau bertepatan dengan 18 Juli 2024 M, Aula Al-Muktamar Lirboyo menjadi saksi berkumpulnya ribuan santri dalam Majelis Sholawat Kubro. Dalam kesempatan penuh keberkahan itu, KH. An’im Falahuddin Mahrus menyampaikan Mauidzoh Hasanah yang sarat dengan hikmah, khususnya mengenai pentingnya menghargai umur dan memanfaatkannya dalam ketaatan.

Umur Tidak Bisa Dibeli

Beliau menjelaskan dengan memberi penegasan yang menyentuh hati: umur tidak diperjualbelikan. Andaikan bisa kita beli, niscaya orang paling kaya pun akan membelinya demi memperpanjang hidupnya. Namun realitasnya, hal itu adalah takdir yang tidak bisa kita tawar, sekaligus amanah yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Tahun Hijriah atau Tahun Hijrah

Silaturahmi sebagai Ikhtiar Panjang Umur

Salah satu jalan untuk mendapatkan usia yang berkah dan panjang dalam ketaatan (fi tho’atillah) adalah melalui silaturahmi. KH. An’im mengutip tafsir para ulama yang menyatakan bahwa meskipun dalam catatan Lauhul Mahfudz seseorang Allah beri usia 60 tahun, namun karena ia rajin bersilaturahmi dan bersedekah, Allah menambahkan umurnya hingga 90 tahun.

Ada pula ulama yang menafsirkan bukan umur secara fisik yang Allah tambah, melainkan keberkahannya—sehingga meski usianya tetap 60 tahun, dampak dan manfaat hidupnya sebanding dengan orang yang hidup 90 tahun.

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi; Ilmu dan Amal

Keberkahan Rezeki

Perbandingan ini juga berlaku untuk rezeki. Seseorang bisa saja Allah beri rezeki hanya 3 gelas, tetapi karena keberkahannya, manfaatnya setara dengan 9 gelas. Sebaliknya, rezeki yang banyak namun tidak berkah, takkan membawa ketenangan atau kebermanfaatan dalam hidup.

Manajemen Waktu: Wujud Syukur atas Umur

KH. An’im mengingatkan agar kita bijak dalam mengelola waktu, karena waktu adalah bagian dari umur yang terus berkurang. Tidur berlebihan hingga lebih dari 8 jam misalnya, menurut beliau adalah bentuk menyia-nyiakannya. Tidur beliau analogikan sebagai ‘kematian sementara’, sehingga waktu yang habis untuk tidur adalah bagian waktu yang hilang tanpa bisa kembali.

Baca juga: Orang-orang sukses

Penutup

Mauidzoh dari KH. An’im Falahuddin Mahrus mengajak kita merenungi kembali bagaimana kita memandang umur dan rezeki—bukan semata dari panjangnya usia atau banyaknya harta, tetapi dari seberapa berkah dan bermanfaatnya hidup yang kita jalani. Melalui silaturahmi, sedekah, dan manajemen waktu yang baik, semoga kita semua diberi umur panjang dalam ketaatan serta rezeki yang penuh keberkahan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses