Tag Archives: KH. Ahmad Habibullah Zaini

Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim

Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | Dawuh KH. Ahmad Habibullah Zaini

Teman-teman yang sudah tamat, jangan sampai lupa pesan Simbah KH. Abdul Karim, “Kalau sudah pulang, ngadep dampar.” Dampar itu bermacam-macam. Kalau yang punya pondok atau majelis ta’lim berarti dampar sungguhan, kalau yang tidak punya berarti dampar majazi.

Mbah Habib kemudian melanjutkan: Saya punya teman. Setelah dia mondok di Lirboyo, dia ke Jakarta. Sebelum dia ikut mengajar, dia bekerja dulu untuk mencari nafkah dan tinggal satu kos bersama rekan kerjanya. Ternyata rekan kerjanya itu tidak ada yang tahu tata cara sholat.

Akhirnya teman saya itu yang mengajari sholat. Nah itu juga termasuk dampar. Jadi damparnya di Jakarta di kos-kosan, dengan mengajari rekan kerjanya yang belum bisa sholat diajari sholat, diajari wudlu, dibenarkan yang salah-salah itu.

Ada lagi yang di rumah itu berprofesi sebagai petani. Sawahnya jauh dari rumah. Jadi kalau mau ke sawah berbekal sarung. Lalu sholatnya juga di sawah. Ketika ia sholat di sawah, ia dihampiri oleh tetangga sawahnya.

“Anda sholat kok di sawah Mas?” tanya tetangga itu.

“Rumah saya jauh. Jadi kalau sholat, saya di sawah ini.”

Seharusnya yang baik itu tetap sholat di masjid seraya berjama’ah, tetapi daripada tidak sholat (lebih baik sholat walaupun di sawah). Lalu temannya itu menjadi ikut sholat di sawah (karena sama-sama jauh dari rumah dan tempat sholat). Padahal biasanya (orang yang menanyakan tadi) tidak pernah sholat. Kalau pun sholat biasanya qodlo’, karena malas mengganti pakaian. Nah, itu juga (bisa disebut) dampar, temannya itu.

Dampar yang hidup berarti mengajar orang yang (pada awalnya) tidak tahu tadi (menjadi tahu). Dia kira sholat itu selalu harus di Masjid, dan sholat di sawah tidak boleh.

baca juga: Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

Ada lagi di sini yang dulu pernah menjadi Ketua M3HM (Majelis Musyawaroh Hidayatul Mubtadiin). Ketika melanjutkan studi di Jogja, di sana ia sambil bekerja. Kerjanya kalau malam berjualan martabak.

Ketika menjual martabak, dia dihampiri oleh anak-anak yang nakal-nakal. Mereka membawa narkoba lalu menyuruhnya untuk memasukkannya ke dalam martabak. Tetapi teman saya tidak mau. Malah mereka dinasehati, diajak untuk  melakukan kebaikan. Itu juga dampar.

Macam-macam dampar itu, pokoknya yang penting mengamalkan ilmunya.

Hadirin, seperti perkataan para sesepuh dahulu bahwa Mbah Kiyai Abdul Karim sering berpesan, “Para santri harus ngadep dampar kalau sudah di rumah.” Termasuk ngadep dampar itu seperti yang saya contohkan tadi.

Dawuh ini disadur dari dawuh Romo KH. Habibullah Zaini yang bisa dilihat di youtube Pondok Lirboyo: Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | KH. A. Habibullah Zaini

Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

LirboyoNet, Kediri- Ahad malam Senin 16 Februari 2020 M. Telah dilaksanakan Tahlil dan Do’a tujuh harinya almarhum almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini.

Acara yang dilaksanakan di kediaman almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini ini berjalan dengan penuh khidmat. Tampak para Alumni dan tamu undangan memenuhi kediaman Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini sampai memenuhi area Serambi Masjid Lawang Songo yang memang sudah disiapkan oleh panitia.

Dalam acara tersebut untuk pembacaan surat yasin dipimpin langsung oleh KH. Raden Abdul Hamid Abdul Qodir, sedangkan pembacaan tahlil, tawasul, dan do’a tahlil dipimpin oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus. Sambutan atas nama keluarga dibawakan oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus, untuk Mauizhotul hasanah dan Do’a dibawakan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

Seperti diceritakan oleh KH. Ahmad Fahrurozi Kyai Habib adalah pertemuan dua nasab pendiri pesantren termasyhur di Indonesia, dari jalur ayah beliau adalah putra alm KH. Muhammad Zaini bin KH Moehammad munawwir, pendiri Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Jogjakarta, sementara ibunya almarhumah Nyai Hj Qomariyah binti KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri . 

Beliau adalah sosok kyai yang sangat alim, zuhud dan sederhana, setiap waktunya dihabiskan untuk mengajar di pondok pesantren, beliau menjadi rujukan santri dari seluruh Indonesia yang datang ke lirboyo.

Untuk mengaji kitab kitab besar bidang hadist, fiqh dan tafsir dll. Dengan ketekunan yang luar biasa, beliau mampu membaca kitab mulai pagi hingga malam hari tanpa lelah hingga khatam, sementara para muridnya mendengarkan sambil mencatat makna dari beliau mulai duduk hingga tiduran “mlumah murep “ tidak kuat saking lamanya .

Saya pernah mengaji kitab hadist sahih muslim hingga khatam dengan ijazah sanadnya kepada beliau  juga beberapa kitab lainnya. Pembacaan beliau terkenal sangat teliti, tahqiq dan enak didengar, karna penguasaan ilmu gramatika Arab beliau yang sempurna, saya belajar ilmu nahwu Alfiyah Ibnu Malik hingga ilmu balaghah Jauhar Al Makmun dibawah bimbingannya di MHM lirboyo . 

Meskipun sangat alim, namun beliau bersifat khumul, pendiam dan tidak banyak bicara. Beliau selalu menyembunyikan diri dan tidak suka tampil di depan umum kecuali hal yang sangat penting, saya tidak pernah melihat beliau kerso berpidato di pengajian umum atau acara terbuka lainnya, bahkan jika ada seremonial acara kunjungan pejabat tinggi sepenting apapun di lirboyo beliau sangat jarang sekali  berkenan  ikut hadir menyambut, beliau lebih memilih berdiam diri dan tidak keluar dari rumahnya .

Semoga kita semua bisa mendapatkan percikan berkah beliau, serta bisa meneladani tauladan beliau yang sangat alim, zuhud dan sederhana.  Wallahu A’lam .(TB)

Himasal Mesir Shalat Ghaib untuk Yai Habib

LirboyoNet, Mesir — Aroma duka yang semerbak di Pondok Pesantren Lirboyo kala KH. A. Habibulloh Zaini wafat, berhembus hingga belahan dunia seberang sana. Di Mesir, para alumni Ponpes Lirboyo berkumpul untuk bersama menerbangkan doa bagi beliau, Selasa malam (11/02/20) waktu setempat.

Mereka yang sedang menimba ilmu di salah satu kota ilmu tertua dalam sejarah Islam, Kairo, itu bermaksud mengadakan shalat ghaib bagi Yai Habib—sebutan para santri kepada KH. A. Habibulloh Zaini. Setelah shalat ghaib, mereka mendoakan Yai Habib dengan bacaan tahlil.

Acara ini diselenggarakan di salah satu rumah alumni Ponpes Lirboyo, Azizah, yang berada di Distrik Darb al-Ahmar, Kairo. Ia adalah koordinator Kajian Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Mesir. Karenanya, usai acara doa bersama, perkumpulan itu juga membicarakan agenda Himasal ke depan. “Kami juga menyiapkan hasil kajian kami selama enam bulan sebelumnya. Kami berencana menyusunnya menjadi satu buku khusus,” ujar Farhan al Fadhil, ketua Himasal Mesir.

Di kesempatan berkumpul ini, mereka juga menyambut kedatangan empat anggota Himasal Mesir baru. Mereka kemudian mendapatkan arahan dari para senior, di antaranya Hakam (mantan ketua PCINU Mesir) dan Imron Hasani, kandidat magister universitar Al-Azhar.