Tag Archives: kiyai

KH. M. Anwar Manshur Muda adalah Pekerja Keras

KH. M. Anwar Manshur Ketika setelah menikah di usianya yang ke 24, beliau memulai bekerja dengan menjual singkong ke Jakarta.

Sampai suatu ketika kiriman singkong itu sampai ke Jakarta dalam keadaan busuk, akhirnya beliau mengalami kerugian.

Lalu beliau dipanggil ayahandanya KH. M. Manshur Anwar. Dengan kasih sayang, sang ayah menasehati kiyai Anwar,

“Wes toh war ngajio ae. Sampean nyambut gawe gak ngaji blas, ngajio wae.” (Sudahlah war, mengaji saja, kamu bekerja keras tidak mengaji sama sekali, mengaji sajalah). tutur beliau kepada putranya.

Kiyai Anwar menuruti dawuh ayahanda beliau dengan mengaji sambil nyambi membuka toko kecil-kecilan yang dibuatkan oleh mertua beliau KH. Mahrus Aly di depan ndalem beliau (kiyai Anwar).

Kalimah atau nasehat yang  sering diuntaikan kiyai Anwar kepada santri-santri adalah mengaji. “Bagaimanapun keadaan di rumah, seorang santri harus mengaji. Bekerja hanyalah sebagai perantara.”

 

Penulis  Agus Ahmad Bihar Isyqi, keponakan KH. M. Anwar Manshur, tinggal di Paculgowang Jombang.

NKRI Dikafirkan, Kiai NU serta Habaib Pasti Melawan

Kota Banjar – Kebersamaan para kiai di Nahdlatul Ulama (NU) dan juga kalangan habaib dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI terus menguat. Hal tersebut dibuktikan dalam sejarah, dan akan terus terjaga kendati menghadapi sejumlah tantangan. Bahkan upaya sejumlah kalangan yang mengafirkan negeri ini akan terus ditentang.

 

“Kalau ada yang mengafir-ngafirkan NKRI, maka ulama di NU dan habaib yang pertama kali tidak terima dan akan melawan,” kata Ustadz Ahmad Muntaha AM,  Ahad (23/9).

 

Pernyataan tersebut disampaikan anggota Tim Bahtsul Masail Himasal (Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) ini pada bedah buku Fikih Kebangsaan. Kegiatan juga dalam rangkaian acara haul pendiri Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Menurutnya, hal itu dikarenakan sejak dulu kiai NU dan kalangan habaib kompak tidak hanya dalam dakwah, juga membangun pondasi kebangsaan.  “Yang menjadi rujukan kiai NU untuk menentukan Indonesia sebagai negeri Islam sesuai keputusan Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin tahun 1936,” kata alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini.

 

Pada kesempatan tersebut adalah fatwa habib asal Hadramaut yang juga lama melakukan lawatan dakwah ke Nusantara. “Beliaulah Habib berinisial huruf ya’, yaitu As-Sayyid Al-Habib Al-‘Alim Abdullah bin Umar bin Abi Bakr bin Yahya, penulis kitab Safinatus Shalah yang juga jadi pelajaran utama di pesantren Nusantara,” urai Ustadz Muntaha.

 

Lebih tegas, alumni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini mengemukakan betapa besar sumbangsih para kiai dan habaib dalam beragama dan berbangsa. “Berarti jelas, kita bisa shalat itu karena kiai NU dan habaib. Kita berbangsa dan bernegara juga karena mereka. Bila demikian, masihkah kita tertipu dengan berbagai propaganda anti NKRI?” katanya.

 

Selain Ustadz Muntaha, hadir pula pada acara ini sebagai pembanding, H Marsudi Syuhud yang juga Ketua PBNU. Juga KH Munawir Abdurrahim selaku sesepuh Pesantren Citangkolo beserta segenap kiai lain, serta ratusan santri yang serius mengikuti bedah buku ini.

 

Sumber : NUonline

Pertemuan Ma’had Aly se- Jawa Timur

 

LirboyoNet, Probolinggo—Dua belas pemimpin Ma’had Aly se-Jawa Timur menggelar pertemuan di Probolinggo, Jumat (17/08) kemarin. Pertemuan ini dilangsungkan untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan audiensi bersama pemerintah provinsi.

Pertemuan dipimpin langsung oleh ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI), KH. Abdul Jalal. Pertemuan ini sangat penting digelar. Mengingat, para pemimpin Ma’had Aly ini sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri di tingkat Ma’had Aly.

Ma’had Aly Nurul Jadid, Paiton Probolinggo, yang menjadi tuan rumah, dan ma’had aly lainnya sedari awal bertekad untuk menjadikan ma’had aly sebagai perguruan tinggi yang kompetitif. Karenanya, agenda-agenda untuk mempererat hubungan antar ma’had aly terus digalakkan, seperti Rapat Pimpinan yang berlangsung selama dua hari ini.

Ada tiga hal yang menjadi mufakat para peserta, yakni peruntukan beasiswa bagi mahasantri (sebutan bagi santri Ma’had Aly); pengadaan infrastuktur, baik fisik dan maupun non fisik; dan pembentukan kepengurusan Mahad Aly untuk wilayah Jawa Timur. Kemufakatan ini selanjutnya akan disampaikan kepada Calon Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa dalam audiensi nanti.

Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, berpesan kepada dua belas pimpinan ma’had aly ini, dengan diakuinya Mahad Aly sebagai lembaga formal oleh pemerintah, hendaknya tidak menjadikan watak dan karakter pesantren menjadi hilang.

Dua belas pimpinan Ma’had Aly tersebut adalah: Ma’had Aly Lirboyo, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri; Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo; Ma’had Aly Nurul Qarnain, Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Jember; Ma’had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo; Ma’had Aly Nurul Qodim, Pondok Pesantren Nurul Qodim, Probolinggo; Ma’had Aly al-Zamachsary, Pondok Pesantren al-Rifa’ie 1, Kab. Malang; Ma’had Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas Pacitan; Ma’had Aly al-Fitrah, Pondok Pesantren Assalafi al-Fitrah Surabaya; Ma’had Aly Darussalam, Pondok Pesantren Darussalam, Banyuwangi; Ma’had Aly Hasyim Al-Asy’ary, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang; Ma’had Aly al-Hasaniyyah, Pondok Pesantren Daruttauhid al-Hasaniyyah, Tuban; dan Ma`had Aly Darul Ihya Liulumiddin Bangil Pasuruan.][

Study Banding Penguatan Ulama/Pengasuh PP. Purworejo di Lirboyo

Lirboyonet, Kediri– pagi ini Sabtu (18/11) beliau KH. M. Anwar Manshur duduk didepan para kiyai dan umara dari Purworejo, hal tersebut merupakan sambutan dari beliau menyambut para tamu dari Purworejo.

Para kiyai dari Purworejo menjadi tamu Ponpes Lirboyo pagi ini, tujuan kedatangan mereka untuk bersilaturrahmi dan mengadakan study banding penguatan ulama/pengasuh pp. purworejo.

Penyambutan kunjungan tersebut bertempat di Serambi Masjid Lirboyo dan KH. M. Anwar Manshur selaku pengasuh Ponpes. Lirboyo hadir untuk memberikan Mauidoh dalam acara tersebut.

Beliau KH. M. Anwar Manshur menceritakan tentang lirboyo yang sederhana dan begitu hebatnya pendiri Ponoes Lirboyo yakni KH. Abdul Karim, bagaimana tirakat beliau dan mempengnya beliau dalam belajar.

KH. M. Anwar Manshur juga berpesan agar kitab salaf tidak hilang dalam ajaran Pondok Pesantren, karena kitab salaf merupakan identitas Pondok Pesantren.

Peringatan Haul Ke-6 KH. Imam Yahya Mahrus

Lirboyonet, Kediri– Malam tadi (11/11) merupakan puncak dari segala deretan acara memperingati Haul ke-6 KH. Imam Yahya Mahrus sang pendiri Pondok Pesantren HM Mahrusiyah, acara yang dimulai sejak Ahad (05/11) itu ditutup dengan pengajian umum dan reuni akbar. Seluruh rangkain acara tersebut diselenggarakan di Ponpes Al- Mahrusiyah III yang berada di Ngampel Kediri.

Pengajian Umum diawali dengan pembacaan yasin Oleh KH. Nurul Huda dan disambung dengan bacaan tahlil oleh KH. Anwar Manshur, berikutnya merupakan sambutan dari tuan rumah yang disampaikan oleh KH. Reza Ahmad Zahid, beliau menceritakan tentang pesan dari KH. Aziz Manshur saat beliau sowan kesana “kita harus tetap mensukseskan program himasal” karena itu Ponpes. HM Al- Mahrusiyah telah melaksanakn Musyawaroh besar II ISTIKMAL untuk membahas bagaimana alumni bisa untuk menjadi bagian Ponpes. Lirboyo dan Himasal.

Dalam sambutan beliau KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus yang merupakan agenda sambutan pengasuh Ponpes. Lirboyo beliau berpesan kepada seluruh hadirin untuk “tetaplah konsisten walaupun sudah menjadi kiyai tetaplah sebagai santri, karena santri akan menjadi kiyai prosesnya harus lewat pesantren dan kita diajar oleh guru serta kiyai kita di pesantren” dan “guru adalah orang tua kita yang bisa menyelamatkan kita dari api neraka” tambah beliau.

Acara malam tadi juga dihadiri petinggi Bank BNI Syar’iyah dari Jakarta yakni Bpk. Firman, kedatangannya selain bersilaturrahmi dan sowan ke makam KH. Imam Yahya Mahrus juga mengajak para santri untuk membangun perekonomian di Indonesia karena melihat masih minimnya orang-orang islam di Indonesia menjalani perbankkan Syar’iyah. Tidak hanya itu dari BNI Syar’iyah juga memberikan kartu santri yang bisa digunakan untuk transaksi jual beli nantinya bisa untuk membeli di Alfamart dan lain-lain.

Agus Ali Mashuri dari sidoarjo memberikan petuah dalam acara haul malam tadi, beliau menjelaskan tentang racun hati yang begitu membahayakan dan racun itu timbul dari lisan karena lisan merupakan juru bicara hati, racun hati yang kedua adalah kenyangnya perut, seorang sufi besar pernah mengatakan “kebijaksanaan tidak akan masuk kehati orang manapun kala perut banyak makanan”. Racun berikutnya yakni salah bergaul atau salah memilih teman, kata beliau “sikap, mental, kepribadian seseorang dipengaruhi oleh teman” dan “jika ingin sukses maka bergaulah dengan teman yang soleh”.

Tidak hanya KH. Agus Ali Mashuri yanng memberikan mauidoh pada acara malam tadi akan tetapi masih ada mauidoh yang disampaikan Al Habib Abdurrohman dari Mesir beliau menjelaskan tentang pentingnya memperingati haul atau berziarah kubur karena “dengan peringatan haul ini dapat memperbaharui hubungan antara guru dan kita sebagai murid”, “hubungan kita dengan orang soleh tidak akan terputus ketika kita selalu mengingat walaupun mereka telah meninggal”tambah beliau. Ada 3 manfaat do’a yang juga disampaikan beliau “yang pertama hal tersebut menjadi sebuah ampunan dari Allah SWT. yang kedua sebuah bentuk berbakti kepada orang tua dan yang terakhir satu cara agar guru kita tetap mengingat kita”.

Setelah acara yang ditutup dengan do’a, seluruh masyayikh dan para hadirin berziarah ke makam KH. Imam Yahya Mahrus yang bertempat di barat Masjid Al- Mahrusiyah III.