Dalam sebuah kesempatan silaturahim bersama Ibu-Ibu Muslimat dari Sidoarjo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan wejangan yang sarat makna tentang peran penting seorang ibu dalam keluarga, serta kedudukan pesantren sebagai benteng akhlak bangsa.
Ibu, Tiang Keluarga dan Negara
Kiai Kafa menegaskan, “Para ibu yang ada di tengah keluarga dan negara sangat menentukan baik dan buruknya keluarga maupun negara itu.” Ulama sering mengutip ungkapan “an-nisā’ ‘imādu ad-dīn” — Wanita adalah tiang agama. Bila seorang wanita rusak, maka negara pun ikut rusak. Begitu pula kebaikan seorang laki-laki, tidak bisa lepas dari kebaikan seorang istri.
Baca juga: KH. Athoillah: Rahasia Puasa Rasulullah
Pengaruh seorang wanita apalagi yang sudah menjadi ibu sangat besar dalam membentuk watak keluarga, terutama pada anak-anaknya. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan agar seorang laki-laki memilih pasangan hidup dengan pertimbangan utama: agama. Seorang istri yang baik akhlaknya akan berpengaruh besar terhadap kebaikan suami maupun anak-anaknya.
Pendidikan Anak: Peran Ibu dan Pesantren
Kiai Kafa melanjutkan, seorang ibu memegang peran yang lebih dekat dengan anak. Karena itu, ibu harus menjadi teladan kebaikan. Namun tanggung jawab mendidik keluarga tetap menjadi kewajiban seorang bapak. Jika seorang ayah lalai, maka ia menanggung dosa. Sayangnya, di Indonesia sering kali peran bapak tidak maksimal, sehingga ibulah yang akhirnya menjadi penentu utama arah pendidikan anak-anak.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Syukur Kemerdekaan yang Sesuai Syariat
Beliau mengingatkan, anak jangan diajari hal-hal buruk. Sebab tabiat manusia cenderung lebih mudah tertarik pada kejelekan. Karena itu orang tua, khususnya ibu, harus mengawasi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik, taat kepada Allah, serta berbakti kepada orang tua. Salah satu jalannya adalah dengan memondokkan anak.
“Orang yang memondokkan anaknya, kemudian masih memberi kiriman, insyaAllah Allah akan memperlancar rezekinya,” dawuh beliau. Sebab taqwa itu butuh ngaji dan butuh mondok. Dengan mondok, seorang anak terbiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Santri dan Jalan Hidupnya
Kiai Kafa juga menyampaikan bahwa orang yang bertaqwa senantiasa diberi solusi dalam menghadapi masalah. Kehidupan santri memang penuh kesederhanaan, bahkan tidak jarang harus mengalami kesulitan. Namun Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Inna ma‘al ‘usri yusrā” (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).
Baca juga: Agus Melvin: Pembiasaan Diri dan Ilmu Sebagai Penyelamat dari Tipu Daya
Santri mungkin harus bersabar satu-dua tahun, namun jika istiqamah mengajar (mulang), insyaAllah rezekinya barokah, keluarganya pun barokah. Bahkan dalam urusan jodoh, para santri memiliki jalan kemudahan. “Santri itu kalau sudah waktunya, jodoh akan dicari sendiri. Cukup ngaji, nanti Allah yang akan mendatangkan,” ujar beliau.
Pesantren, Benteng Akhlak Bangsa
Menurut beliau, pesantren yang lebih utama adalah pesantren salaf. Sebab dari sanalah lahir para ulama dan kiai. Kehidupan di pesantren penuh dengan lingkungan kebaikan, sehingga tidak diragukan lagi pengaruhnya terhadap pembentukan akhlak.
“Kalau Indonesia tidak ada pesantren, hancur sudah akhlaknya,” tegas beliau.
Beliau juga menyinggung fenomena anak zaman sekarang yang ketika masuk SMP atau MTs sering kali menuntut handphone, motor, atau uang jajan harian yang besar. Satu hari bisa habis Rp50.000 hanya untuk kesenangan. Sedangkan jika dimondokkan, satu bulan dengan biaya Rp500.000 hasilnya jauh lebih jelas: anak terjaga, ilmu bertambah, dan akhlak terarah.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Makna Waktu dan Keberkahan Umur
Kiai Kafabihi menutup dawuhnya dengan mengingatkan, keputusan memondokkan anak sangat erat kaitannya dengan peran ibu. “Kalau bapak ingin memondokkan anaknya tapi ibu menolak, biasanya batal. Namun kalau ibu yang meminta, bapak akan menurut. Maka peran ibu dalam hal ini sangatlah menentukan,” pungkas beliau.
Catatan: Tulisan ini disarikan dari dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam kunjungan Ibu-Ibu Muslimat Sidoarjo di Pondok Pesantren Lirboyo.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
