Tag Archives: perayaan

Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Beliau Saw. yang berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kisah-kisah seputar Nabi Muhammad Saw. guna mengenang kehidupan Beliau. Biasanya maulid Nabi dilakukan dengan membaca kisah kehidupan Nabi seperti al-Barzanjy, ad-Daiba’iy, Simth ad-Durâr, menghidangkan makanan, memperbanyak shalawat, mau’idhah hasanah, dan lain-lain. Dengan menjelajahi seluk beluk kehidupan Nabi Saw. banyak hal yang dapat kita pelajari baik dari sisi kemanusian, sosial dan keadilan, karena beliaulah manusia terbaik dan teladan kita yang akan membawa kita pada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzâb ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Peringatan maulid seperti yang kita kenal sekarang sebenarnya baru dirintis oleh penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Sa’îd Al Kukburi Bin Zainuddin Ali Bin Buktikin. Meski demikian, orang yang melakukannya akan diberi pahala. Imam Suyûthy mengatakan :

سُئِلَ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ وَهَلْ هُوَ مَحْمُودٌ أَوْ مَذْمُومٌ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لَا قَالَ وَالْجَوَابُ عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنْ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ

Beliau (Imam Suyûthy) ditanya tentang perayaan maulid Nabi Saw. pada bulan Rabiul Awwal. Bagaimana hukumnya menurut syara’ ? Apakah terpuji atau tercela ? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak ? Beliau menjawab, “Jawabannya menurutku bahwa asal perayaan maulid Nabi Saw., yaitu manusia berkumpul, membaca al-Quran, dan kisah-kisah teladan Nabi Saw. sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya .. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi Saw., menampakkan rasa suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang mulia.”[1]

Jadi sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi itu merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senang atas terutusnya Nabi Muhammad Saw. ke dunia ini. Di samping itu, melihat isi dari perayaan maulid Nabi Saw., hal ini termasuk melaksanakan anjuran-anjuran agama. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan maulid Nabi :

1. Pembacaan shalawat pada Nabi Saw. yang keutamaannya sudah tidak diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya. Sehingga dengan kajian inilah seorang muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

2. Peringatan tersebut merupakan sebab atau sarana yang mendorong kita untuk bershalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS al-Ahzâb : 58)

3. Menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji sehingga seorang muslim akan termotivasi untuk mengikuti perilaku Beliau Saw. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Al-Quran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas syariah.[2]

Penjelasan di atas memberikan pengertian bahwa maulid nabi merupakan tradisi yang baik dan mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri.[3]

Hanya yang perlu ditegaskan, peringatan maulid Nabi Saw. tidak terkhusus pada bulan Rabi’ul Awwal saja. Kita dianjurkan untuk selalu memperingati Nabi Muhammad Saw. sepanjang waktu setiap ada kesempatan, lebih-lebih ketika bulan Rabi’ul Awwal dan ketika hari Senin. Memang peringatan maulid Nabi Saw. pada bulan tertentu dan dengan model tertentu tidak mempunyai nash yang tegas. Namun juga tidak ada satu dalilpun yang melarang karena berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah, membaca shalawat dan amal-amal baik lainnya termasuk yang harus selalu kita perhatikan dan kita lakukan. Lebih-lebih pada bulan kelahiran Beliau Saw. di mana rasa keterikatan sejarah akan sangat mendorong masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan lebih meresapi apa yang dilakukan dan disampaikan.[4]

Dalil-Dalil Legalitas Perayaan Maulid

Perayaan maulid Nabi Saw. adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau. Hal ini diperintahkan oleh agama sebagaimana firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yûnus : 58).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira ketika mendapatkan rahmat Allah. Padahal Nabi Muhammad Saw. adalah rahmat yang paling agung sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiyâ` :107)

Bergembira atas kelahiran Nabi Saw. dianjurkan di setiap waktu dan dalam setiap karunia. Namun anjuran tersebut menjadi lebih pada hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal karena mempunyai keterikatan sejarah.

Nabi sangat memulyakan dan memperhatikan hari kelahiran Beliau sebagaimana tercermin dalam hadits :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ , فَقَالَ: ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ , وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ} رَوَاهُ مُسْلِمٌ عن أبي قتادة

Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku.” (HR Muslim dari Abî Qatâdah)

Betapa Rasulullah memulyakan hari kelahirannya, beliau bersyukur pada Allah SWT pada hari tersebut atas karunianya yang telah menyebabkan keberadaannya yang diungkapkan dengan berpuasa. Di sinilah Nabi telah menanamkan benih-benih perayaan maulid Nabi.

Memang Nabi memperingati hari kelahiran Beliau dengan berpuasa berbeda dengan yang sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Namun hal ini tidak mengapa karena hanya masalah metode. Sedang inti dan tujuannya sama, yaitu memperingati dan mensyukuri kelahiran Beliau. Hal ini tidak jauh beda dengan perintah mengajarkan al-Quran. Sekarang al-Quran diajarkan melalui CD, kaset, dan lain sebagainya, berbeda dengan pada masa Rasulullah Saw. Hal ini tidak mengapa karena hanya dalam metode. Sedang intinya sama yaitu mengajarkan al-Quran.

Nabi SAW selalu memperhatikan waktu-waktu bersejarah yang telah lewat. Ketika tiba masa peristiwa tersebut, Rasulullah Saw. memperingati dan memulyakan hari tersebut. Hal ini tercermin dalam hadits

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري وسلم وغيرهما)

Dari Ibn ‘Abbâs ra. Ia berkata, ketika Rasulallah Saw. dan para sahabat tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang puasa Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa kalian melakukan puasa tersebut?” Orang yahudi menjawab, “Pada hari inilah Allah menenggelamkan Firaun dan menyalamatkan Nabi Musa as. Kami sangat mensyukurinya. Oleh karena itu kami berpuasa. Mendengar jawaban itu, Rasulallah bersabda, “Kami lebih berhak untuk memulyakan Nabi Musa as. (dengan berpuasa) daripada kalian.” (HR Bukhari, Muslim, Abi Dawud, dll.)

Peringatan maulid Nabi adalah mengingat perjalanan hidup dan diri Rasulullah Saw. Hal seperti ini termasuk bagian dari anjuran agama. Bila kita perhatikan rangkaian ritual ibadah haji, ternyata mayoritas adalah untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus dan tempat-tempat bersejarah, seperti: sa’i Shafa dan Marwah untuk mengingat Siti Hajar ketika mencari air, penyembelihan di Mina, melempar jumrah, dan lain sebagainya.

Manfaat dari bergembira dengan kelahiran Nabi Saw. ternyata juga bisa dirasakan oleh Abu Lahab sebagaimana disampaikan al-Hâfidh Syamsuddîn al-Jazary dalam ‘Urf at-Ta’rîf bi al-Maulid as-Syarîf:

Abu Lahab terlihat dalam mimpi setelah ia mati. Ia ditanya,”Bagaimana kondisimu?” Abu Lahab menjawab, “Di neraka. Hanya saja Allah memberi keringanan padaku setiap malam Senin dan aku menghisap air dari antara jariku dengan ukuran segini -ia mengisyarahkan dengan ujung jarinya- semua ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah setelah memberitahukan kelahiran Nabi SAW dan karena menyusukan Nabi padanya.”[5]

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam Kitâb an-Nikâh, Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri`, ‘Abdur Razâq as-Shan’âny dalam al-Mushannaf, al-Baihaqy dalam Dalâ`il an-Nubuwwah, Ibn Katsîr dalam al-Bidâyah, as-Syaibany dalam Hadâ`iq al-Anwâr, al-Baghawy dalam Syarh as-Sunnah, dan lain-lain.

Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan dispensasi siksa karena memulyakan dan gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi bila yang bergembira adalah orang Islam. Meskipun kisah ini termasuk kategori hadits mursal, namun dapat diterima karena telah dinukil oleh Imam Bukhari dan menjadi pedoman para ulama. Lagipula ini dalam permasalahan sejarah bukan dalam hukum.[6]

Tidak setiap perbuatan yang tidak dikenal di masa awal Islam berarti tidak boleh dilakukan. Apalagi dalam permasalahan maulid. Meski model secara utuh yang dikenal sekarang tidak pernah dilakukan di masa awal Islam namun secara parsial, tiap amal yang dilakukan pada perayaan maulid dianjurkan agama. Sehingga perayaan maulid Nabi juga termasuk anjuran agama. Sebab sesuatu yang tersusun dari hal-hal yang dianjurkan berarti juga dianjurkan.[7]

[]WaAllahu a’lam


[1] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, al-Hâwi li al-Fatâwi, vol.I, hal. 251 – 252.

[2] Syekh Sayyid Muhamad ‘Alâwy al-Maliki, Fatâwî Rasâ`il, hal. 180

[3] Sayyid Muhamad ‘Alawy al- Maliki, Mafâhîm, tt., hal. 78

[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl bi Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy as-Syarîf,(Kairo : Dâr Jawâmi’ al-Kalim), cet.ke-10, 1418 H., hal,11 – 13.

[5] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 17

[6] Yûsuf Khaththâr Muhammad, Op.Cit., hal.136

[7] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 34

Menyambut Maulid Nabi

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”, (QS. Al-Ahzab: 56).

Tatkala Maulid Nabi telah tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan suka cita. Meski mereka menyebut dengan beragam nama, Maulid, Maulud, Muludan, Mevlut, dan lain-lain, maknanya tetap sama, yakni hari kelahiran.

Sejarawan Islam mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib lahir pada hari senin, 12 Rabi’ul Awwal atau 20 april 571 M di rumah Abdul Muthalib (kakeknya) dan dibidani oleh Al-Syifa, ibunda Abdur Rahman bin ‘Auf. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, tidak hadir dalam kelahiran yang dinanti-nanti itu. Ia telah wafat saat janin Muhammad berusia dua bulan dalam kandungan ibunya.

Salah seorang ulama bermadzhab Hanbali, Ibnu Al-Jauzi, dengan sangat indah menggambarkan peristiwa kelahiran Nabi akhir zaman tersebut. Ia berkata:

Ketika Muhammad Saw lahir, malaikat menyiarkan beritanya dengan riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira, Arasy pun bergetar. Para bidadari surga keluar dengan menyebarkan wewangian. Ketika Muhammad Saw, ibunya, Sayyidah Aminah, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat berdiri mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya”.

Tradisi Maulid dan Membaca Sejarah Nabi

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majelis-majels taklim, lembaga sosial-keagamaan, sekolah-sekolah, bahkan instansi-instansi pemerintahan. Peringatan tersebut sebagian besar dirayakan pada setiap malam 12 Rabi’ul Awwal. Mereka merayakannya dengan berbagai acara seremoni dan kemeriahan yang menggairahkan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah.

Pembacaan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi) pada malam 12 Rabi’ul Awwal yang menjadi puncak acara seremonial yang ditunggu-tunggu dengan penuh minat. Sirah Nabawiyyah tidak sekedar bercerita tentang kelahiran Nabi, tetapi juga tentang keseluruhan kehidupan beliau dari awal kelahiran hingga wafat. Hal ini tentu saja dimaksudkan sebagai cara untuk mencintai dan meneladani Nabi. Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”, (Al-Ahzab: 21).

Rasulullah Saw pun pernah berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya“, (HR. Muslim).

Adapun yang sering dibaca masyarakat Indonesia pada malam ta’dhim maulid itu adalah Maulid Ad-Diba’i, Maulid Simtud Dhuror (Habsyi), dan Maulid Al-Barzanji. Lantunan prosais sekaligus puitis yang terkadang terdengar dengan suara khas menyelimuti mereka di malam itu.

Selain di Indonesia, peringatan Maulid Nabi juga diselenggarakan di berbagai negara Muslim di Dunia. Seperti di Indonesia, di banyak negara tersebut, hari Maulid Nabi Saw merupakan hari libur nasional.

Maulid Nabi Menghidupkan Islam

Sahabat Umar bin Khattab Ra pernah berkata:

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ

Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah Saw, sama artinya menghidupkan Islam”.

Dalam dunia paling sekuler dan tak beragama sekali pun, kelahiran dan kematian orang besar dan berjasa juga diperingati, kuburannya diziarahi, diletakkan bunga di atasnya, dan didoakan. Sungguh saat naif jika masih ada orang yang membid’ahkan atau bahkan menganggap Maulid Nabi sebagai praktek keagamaan yang sesat hanya semata-mata karena Nabi Saw tidak pernah melakukannya atau karena tidak pernah ada di zaman Nabi. Ini adalah pandangan orang-orang yang amat sederhana dalam memahami agama. Mereka yang cerdas, terpelajar, dan memiliki daya intelektual yang tinggi niscaya akan memberikan apresiasi atas tradisi ini.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikatakan bahwa Rasulullah Saw mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Hadis tersebut berbunyi:

عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasululloh pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab: pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”, (HR.Muslim).

Di dalam kitab Madarij As-Shu’ud Syarah Al-Barzanji, dikutip sebuah ucapan Rasulullah Saw:

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Rasulullah Saw bersabda:Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan pertolongan kepadanya di hari Kiamat”.

Sekitar lima abad yang lalu, Imam Jalaluddin al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi Saw. Di dalam kitab Al-Hawi Li Al-Fatawi, beliau menjelaskan:

Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak?. Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi Saw, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi Saw sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setalah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk Bid’ah Hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan darejat Nabi Saw, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw yang mulia”. Sekian, waAllahu a’lam.[]

 

 

 

Muharram dalam Bingkai Ritual dan Spiritual

Sebagai bulan pertama yang ada dalam kalender Hijriyah, bulan Muharram memiliki beberapa keistimewaan yang begitu banyak. Bulan Muharram dianggap begitu istimewa karena memiliki perbedaan yang menonjol, yaitu hubungannya yang sangat erat dengan praktek spiritual ibadah tuntunan syariat dan ritus tradisi kebudayaan setempat.

Ada beberapa hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan tentang keutamaan bulan yang diberi nama Suro menurut masyarakat Jawa tersebut. Salah satunya adalah hadis Rasulullah Saw yang berbunyi:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ والأرض السنة اثنى عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مضرالَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahu itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati,  tiga bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, terdapat diantara bulan Jumada al-Akhirah dan Sya’ban”, (HR. Muslim).[1]

Meskipun demikian adanya, bulan Muharram sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain, salah satunya adalah bulan suci Ramadhan. Karena di dalam bulan Ramadhan, keseluruhan tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat masih bisa dianggap murni syariat. Ibadah puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid dan lain sebagainya merupakan tuntutan syariat semata.  Hal ini tidak seperti apa yang terdapat di bulan Muharram, tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat sudah beraroma kebudayaan. Dengan artian, akulturasi syariat dan budaya sangat terasa kental di dalamnya.

Adapun beberapa ritual amaliah Muharram yang berasal dari tuntunan syariat murni diantaranya adalah puasa Tasua’ dan ‘Asyuro, mengusap kepala anak yatim, menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, dan bersedekah. Begitu juga sebaliknya, beberapa ritual kebiasaan masyarakat di bulan Muharram yang berasal dari budaya setempat diantaranya larung sesaji, Grebeg Suro, memandikan pusaka atau keris, Tapa Bisu, sesajen para Danyang, dan lain sebagainya.

Menurut masyarakat tertentu yang masih memegang teguh prinsip leluhur (Kejawen), bulan Suro memiliki nilai magis yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tradisi kebudayaan yang dilakukan di dalam bulan ini. Karena diakui ataupun tidak, tidak semua tradisi yang berlaku di masyarakat dalam bulan Muharram bersumber dari ajaran syariat Islam murni. Ada beberapa yang bersumber dari budaya secara totalitas. Ada juga yang merupakan asimilasi budaya dan syariat. Bahkan dari beberapa amaliah tradisi tersebut ada yang sangat berpotensi mempengaruhi dan merusak akidah umat Islam.

Menyikapi Budaya

Berpijak pada realita tersebut, lantas apakah tindakan yang seharusnya dilakukan bagi umat Islam. Apakah dengan mengamputasi seluruh budaya yang tidak berasal dari syariat, ataukah mengikuti seluruh budaya dengan sekedar alasan melestarikan kebudayaan bangsa?.

Sebelum lebih jauh menyoal tentang tindakan, perlu adanya analisa yang cermat terhadap praktek budaya yang ada. Hal ini merupakan langkah awal dalam menentukan sikap dan tindakan. Sehingga hasil analisis yang kritis tersebut akan mampu memetakan berbagai praktek budaya dari sisi tujuan, praktek, dan dampak. Maka dari pemetaan itu, akan menumbuhkan sebuah upaya filtrasi dan penyaringan untuk memilih dan memilah amaliah, tradisi, dan budaya yang sejalan dengan spirit tuntunan syariat agar terus dilestarikan keberadaanya.

Namun tidak semua budaya yang berkembang lantas diberangus dan dihapus begitu saja. Jika masih ada budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipetahankan,  maka Islam akan mempertahankannya. Atau jika budaya tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syariat akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya. Bahkan tak jarang sampai ke “akar-akarnya”. Hal ini seperti diungkapkan Imam Ad-Dahlawi dalam kitab Hujjah Al-Balighah, “Kedatangan Rasul SAW. adalah dengan misi meluruskan norma-norma yang tidak lagi sesuai dengan agama hanîf sambil tetap melestarikan budaya masyarakat Rab yang masih sejalan dengan nilai-nilai islam.”[2]

Sebagai penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah, kita dituntut untuk lebih bijak menyikapi hal yang demikian. Terutama dengan menganalisa praktek budaya dengan kacamata syariat. Karena syariat menjadi tolak ukur dalam upaya penerimaan Islam atas budaya. Selain itu, prinsip kemaslahatan menjadi pertimbangan penting dalam menanggulangi dampak atas penerimaan syariat terhadap budaya setempat.

Dalam konteks ini, kecerdikan strategi dakwah dalam mengambil sikap sangat urgen dalam menyikapi realita yang ada. Sikap bijak, ramah, serta toleransi yang dimiliki Islam harus menjadi senjata utama dalam menghadapi kenyataan seperti ini. Karena pada dasarnya, membiarkan perbuatan maksiat dan kemungkaran demi tercapainya kemaslahatan yang besar adalah bagian dari strategi politik Islam yang dapat dibenarkan.[3]

Setidaknya dengan mencontoh metode dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo yang berhasil mengislamkan budaya Jawa dengan tanpa menghilangkan dan menghapus tradisi budaya tersebut. [] waAllahu a’lam.

Oleh Nasikhun Amin, santri asal Pasuruan.

_______________

[1] Syarah An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, juz 11 hal 167.

[2] Hujjah Al-Balighah, juz 1 hal 284.

[3] Qowaid Al-Ahkam fii Mashalih Al’Anam, juz 1 hal 109.