Menyambut Maulid Nabi

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”, (QS. Al-Ahzab: 56).

Tatkala Maulid Nabi telah tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan suka cita. Meski mereka menyebut dengan beragam nama, Maulid, Maulud, Muludan, Mevlut, dan lain-lain, maknanya tetap sama, yakni hari kelahiran.

Sejarawan Islam mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib lahir pada hari senin, 12 Rabi’ul Awwal atau 20 april 571 M di rumah Abdul Muthalib (kakeknya) dan dibidani oleh Al-Syifa, ibunda Abdur Rahman bin ‘Auf. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, tidak hadir dalam kelahiran yang dinanti-nanti itu. Ia telah wafat saat janin Muhammad berusia dua bulan dalam kandungan ibunya.

Salah seorang ulama bermadzhab Hanbali, Ibnu Al-Jauzi, dengan sangat indah menggambarkan peristiwa kelahiran Nabi akhir zaman tersebut. Ia berkata:

Ketika Muhammad Saw lahir, malaikat menyiarkan beritanya dengan riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira, Arasy pun bergetar. Para bidadari surga keluar dengan menyebarkan wewangian. Ketika Muhammad Saw, ibunya, Sayyidah Aminah, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat berdiri mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya”.

Tradisi Maulid dan Membaca Sejarah Nabi

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majelis-majels taklim, lembaga sosial-keagamaan, sekolah-sekolah, bahkan instansi-instansi pemerintahan. Peringatan tersebut sebagian besar dirayakan pada setiap malam 12 Rabi’ul Awwal. Mereka merayakannya dengan berbagai acara seremoni dan kemeriahan yang menggairahkan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah.

Pembacaan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi) pada malam 12 Rabi’ul Awwal yang menjadi puncak acara seremonial yang ditunggu-tunggu dengan penuh minat. Sirah Nabawiyyah tidak sekedar bercerita tentang kelahiran Nabi, tetapi juga tentang keseluruhan kehidupan beliau dari awal kelahiran hingga wafat. Hal ini tentu saja dimaksudkan sebagai cara untuk mencintai dan meneladani Nabi. Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”, (Al-Ahzab: 21).

Rasulullah Saw pun pernah berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya“, (HR. Muslim).

Adapun yang sering dibaca masyarakat Indonesia pada malam ta’dhim maulid itu adalah Maulid Ad-Diba’i, Maulid Simtud Dhuror (Habsyi), dan Maulid Al-Barzanji. Lantunan prosais sekaligus puitis yang terkadang terdengar dengan suara khas menyelimuti mereka di malam itu.

Selain di Indonesia, peringatan Maulid Nabi juga diselenggarakan di berbagai negara Muslim di Dunia. Seperti di Indonesia, di banyak negara tersebut, hari Maulid Nabi Saw merupakan hari libur nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.