Khataman Musyawarah Fathal Qorib

Lirboyo.net- Kediri. Musyawaroh sebagai ciri khas pondok pesantren adalah adagium yang tidak bisa dilepaskan. Musyawaroh ala pesantren dengan memakai standar kutubusalaf seperti fathul qorib, fathul wahhab atau al-mahalli memiliki keistimewaan dan keunikannya tersediri. Dengan berbekal hanya kitab matan, referensi-referensi pendukung lain turut dibawa untuk menyemarakkan musyawaroh. Kamis malam kemarin (30/03), setelah berlanjut secara istiqomah setiap…

Lanjutkan
adat budaya jawa wayangan pada bulan muharram

Lihat, Bagaimana Islam Menghargai Budaya

Islam lahir ditengah-tengah bangsa Arab yang punya ikatan kesukuan yang kuat. Satu sama lain saling membenaggakan dan mengunggulkan suku dan jasanya. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi semacam “ikatan rantai kuat”, namun sayang masih terpisah-pisah dan independen. Baru, setelah agama islam tersebar, nabi Muhammad SAW mengubah semangat kesukuan mereka, diubah menjadi semangat persaudaraan atas nama satuagama, agama…

Lanjutkan

Kelahiran Ahlussunnah

Abu Hasan Al-Asy’ari, tokoh yang berjasa mempopulerkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, adalah seorang mantan Imam Agung aliran mu’tazilah. Hujjah-hujjahnya adalah oase bagi jamaah mu’tazilah yang setiap subuhnya berjumlah ribuan itu. Suatu hari di bulan Ramadlan, Rasulullah mendatangi beliau dalam mimpi. “Tolonglah ajaranku,” perintah Rasulullah kepada Ali bin Ismail, nama asli beliau. Lantas, beliau memberhentikan pengajian selama…

Lanjutkan

Kunjungan Pimpinan Dayah Aceh

LirboyoNet, Kediri – Kembali, Pondok Pesantren Lirboyo menjadi salahsatu tujuan rujukan studi banding rombongan dari perwakilan Badan Pendidikan Dayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh.  Sekitar pukul 15.30 WIB kemarin (20/10/2015) mereka tiba di kompleks Pondok Pesantren Lirboyo. Segenap Pimpinan Pondok menyambut hangat kedatangan rombongan yang  tidak lebih dari 37 orang, sebagian dari mereka adalah perempuan. Kebanyakan dari…

Lanjutkan

Pesan dan Harapan KH. A. Idris Marzuqi

Harapan saya, setelah Pondok Pesantren Lirboyo mencapai usia satu abad ini mudah-mudahan para keluarga tetap menjaga keharmonisan dan keberlangsungan pondok. Selain itu, semoga mereka mampu menjaga apa yang diwariskan oleh sesepuh dahulu. Yang dimaksud warisan di sini berupa ilmu pengetahuan, bukan bentuk fisik pondok. Salah satu alasan mengapa Lirboyo tetap mempertahankan metode salafiyahnya hingga saat…

Lanjutkan

Pesantren Sidomulyo Bakung Blitar

Awal sejarah Pondok Pesantren Cabang Lirboyo yang satu ini, bermula dari seorang dermawan yang tergugah membantu kebutuhan masyarakat dalam hal agama. Sebagai wujud kepeduliaannya, Hj. Tasminingsih binti Karto Thalib, penduduk asli desa Sidomulyo Kecamatan Bakung Blitar (sebuah daerah di Blitar yang pada era 80-an marak dengan misi kristenisasi yang berkedok bantuan pada nelayan), mewakafkan tanah…

Lanjutkan

Konsep Dakwah Kiai Mahrus

“Kita harus pandai berdakwah di masyarakat. Dakwah harus bisa mengikuti gerak dan denyut kehidupan masyarakat. Mengikuti arus tidak berarti terbawa arus. Kita mengikuti, tetapi untuk menarik mereka”. * * * Singkatnya, kita harus bisa merayu masyarakat. Zaman sudah berubah. Yang tidak menyimpang dari syar’i kita ikuti, sementara yang melenceng kita rubah sedikit demi sedikit. Jangan…

Lanjutkan

Menuju Pesantren Berbahasa Arab

Di mata masyarakat umum, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang out putnya adalah santri yang –setidaknya- tahu bahasa Arab. Kitab-kitab berbahasa Arab menjadi makanan sehari-hari, pelajarannya juga tentang bahasa Arab (nahwu shorof), bahkan tak sedikit pesantren yang menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa keseharian. Namun demikian ternyata tidak dengan Lirboyo. Boleh saja asumsi khalayak mulai…

Lanjutkan

Takut Jadi Kiai dan Orang Kaya

Saat mengaji kitab Nashaihuddiniyyah di hadapan para santri KH. Mahrus Ali dhawuh, “Santri-santri, aku biyen neng pondok gak pernah mbayangke iso dadi kiai. Gak pernah mbayangke iso dadi wong sugih lan mulyo. Akhire dadi koyo ngene iki aku wedi, ojok-ojok bagianku iki thok, akherat ga entuk.” (Santri-santri, saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan…

Lanjutkan

Antisipasi Musibah yang Islami

Bencana demi bencana mendera bangsa kita. Mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, demam berdarah, flu burung, dan terakhir banjir bandang. Musibah itu menerpa laksana cerita komik berjilid-jilid. Bala’ seolah tak kenal kata ”stop”. Kita pun kalang kabut. Walau demikian, kita sebagai muslim tidak boleh putus asa. Kita harus berkhusnuzh zhaan terhadap Allah…

Lanjutkan