Tag Archives: Ikhlas

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut An-Nawawi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

Mengomentari hadis ini, An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di atas menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan. Beliau juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah Swt. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini—sebagaimana mental seorang budak—mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tu(h)annya.

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah Swt. Tingkatan ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah Swt. dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya. An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan (dari berbagai cetakan Syarh al-Arba’īn yang beredar ada yang memiliki redaksi berbeda dan di sana tertulis ’ibādatul-ahrār yang memiliki arti ‘ibadah orang-orang merdeka’).

Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah saw. saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perlu kami ingatkan lagi bahwa tiga tingkatan di atas kesemuanya tergolong ikhlas. Buat orang awam seperti kami, bisa istikamah pada tingkatan pertama saja sudah sangat bersyukur. Wallahu a’lam.()

Penulis: Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo tahun 2018 asal Bangkalan

Khutbah Jumat : Supaya Amal Bisa Diterima

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمدُ لِلهِ الَّذِي وَفَّقَنَا لِأَدَاءِ أفْضَلِ العِبَادَات. وَهَدَانَا عَلَى كَيفِيَّةِ اكتِسَابِ السَّعَادَاتِ.
وَأشْهَدُ أَن لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَريكَ لَهُ رَبُّ الْأَرَضِينَ وَالسَّمَوَاتِ.
وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ المَبعُوثُ إِلَى جَمِيعِ الكَائِناتِ.
اَللهُمَّ صَلِ وسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ الدَّاعِي إِلَى الطَّاعَاتِ.
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ. اِتَّقُوا اللهَ فِي جَمِيعِ الْأوقَاتِ وَالحَالَاتِ.

Jama’ah jumat rahimakumullah…
             
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan selalu memperbaiki kuwalitas amal ibadah kita.  Perlu kita sadari bahwa diciptakannya kita di dunia ini, merupakan anugerah dari Allah Swt. sebagai makhluk yang dibekali hati nurani kita harus mempunyai rasa syukur kepada Sang Khaliq dengan cara memenuhi apa yang menjadi tujuan diciptakannya kita.
Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
            
Jama’ah Jumat rahimakumullah…
             Penyakit yang sering kita hadapi saat kita beribadah, saat kita berbuat baik adalah timbulnya rasa riya’ atau pamer.
Ini merupakan hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw. Beliau pernah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ.

“Sesungguhnya hal yang paling mengkhawatirkan yang aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.”
Kemudian para sahabat bertanya: “Apa syirik kecil itu wahai Rasululloh?”
Rasululloh menjawab:

اَلرِّيَاء. يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ إِذَا جَازَى العِبَادَ بِأَعْمَالِهِمْ: اِذْهَبُوا إِلى الَّذِينَ كُنتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا, فَانظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمُ الجَزَاءَ؟

 “(Syirik kecil itu adalah) Riya’. Pada hari kiamat ketika Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung membalas hambanya terhadap amal-amal mereka, Allah berfirman, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian ria kepada mereka ketika di dunia. Maka lihatlah! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?”
Rasululloh Saw. juga bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلًا فِيهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِن رِيَاءٍ.

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amal yang didalamnya terdapat seberat biji sawi dari riya’.”

Baca Juga Mewaspadai musuh Abadi Manusia

          Imam al-Ghozzali menerangkan bahwa riya’ adalah sifat seseorang yang mencari kedudukan di hati orang lain dengan memperlihatkan kebaikan.
Beliau merangkumnya menjadi tiga tingkatan.
Pertama: riya’ yang paling berat adalah memperlihatkan kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk meloloskan diri dalam berbuat kemaksiatan.
Riya’ yang kedua adalah memamerkan kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan urusan duniawi, baik harta, tahta maupun wanita.
Riya’ yang paling ringan adalah memperlihatkan kebaikan karena khawatir akan dipandang jelek di mata orang lain.

Akan tetapi selama tujuan memperlihatkan kebaikan adalah supaya bisa dicontoh dan menjadi motivasi bagi orang lain untuk berbuat kebaikan, maka hal itu diperbolehkan dalam syariat.
Syaikh Hasan al-Basri berkata: “Sesungguhnya merahasiakan amal itu lebih bisa menjaga amal itu sendiri. Akan tetapi menampakkan amal juga mempunyai manfaat. Oleh karena itu Allah ta’ala memuji terhadap orang yang merahasiakan amal baik maupun yang menampakkannya. Allah berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang faqir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.

Jama’ah jumat rahimakumullah…
Mengingat zaman ini adalah zaman yang setiap orang mudah untuk memperlihatkan kebaikan dan menyebarkannya kepada khalayak umum, maka solusi supaya kita terhindar dari sifat riya adalah dengan menanamkan tujuan di dalam hati kita, supaya kebaikan yang kita lakukan bisa ditiru oleh orang lain dan menjadi motivasi bagi mereka untuk melakukan kebaikan tersebut.
Firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Mudah-mudahan kita bisa terhindar dari sifat riya’ dan bisa menjadi golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ العَظِيمَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر

Donasi yang Mentradisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi sebuah tradisi di wilayah Jember, di mana kala ada tetangga yang meninggal dunia, tetangga yang lain sama-sama berbondong-bondong mengantarkan si kemayit ke kuburan. Tidak hanya itu, prosesi mengantarkan mayit juga sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan pada setiap orang yang berpapasan dengan iring-iringan pembawa mayit, baik pejalan kaki, pengendara motor, ataupun pengendara mobil. Uang yang terkumpul biasanya diberikan kepada shohibul musibah secara utuh. Namun ada pula yang sebagian diambil untuk sebatas membeli air mineral gelasan untuk memberi minuman bagi yang sudah bersusah-payah mengantarkan mayit sampai kuburan.

Yang kami tanyakan ialah bagaimana hukum meminta sumbangan dalam tradisi tersebut?. Dan bolehkah si penarik uang mengambil sebagian hasil uang sumbangan untuk dibelanjakan atau ditasharrufkan selain pada shohibul musibah? terimakasih.

(Arid– Jember, Jawa Timur)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam tradisi yang ada di wilayah Jember tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni hukum meminta sumbangan yang dilakukan oleh para relawan dan hukum mengambil sebagian hasil uang sumbangan yang dilakukan oleh relawan penarik sumbangan.

Pada dasarnya, hukum meminta diperinci oleh para ulama. Sebagaimana keterangan imam an-nawawi dala, kitab Syarah Shahih Muslim yang kemudian dikutip oleh imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari ‘ala Shahih al-Bukhari:

قَالَ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمِ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ السُّؤَالِ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ قَالَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيْ سُؤَالِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا التَّحْرِيْمُ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيْثِ وَالثَّانِيْ يَجُوْزُ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوْطٍ ثَلَاثَةٍ أَنْ لَا يُلِحَّ وَلَا يُذِلَّ نَفْسَهُ زِيَادَةً عَلَى ذُلِّ نَفْسِ السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِي الْمَسْئُوْلَ فَإِنْ فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ

Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim bahwasanya para ulama telah sepakat melarang meminta-minta selain dalam keadaan darurat. Imam an-Nawawi juga berkata bahwa para ashab as-Syafi’i masih berbeda pendapat dalam kasus seseorang meminta-minta yang sebenarnya ia masih mampu bekerja. Pendapat yang lebih shahih menyatakan haram menimbang apa yang ada dalam keterangan hadis. Menurut pendapat kedua menyatakan boleh namun makruh. Kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu tidak dengan cara memaksa, tidak menghinakan dirinya, dan tidak menyakiti orang yang diminta. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram.”[1]

Pemilahan hukum tersebut hanya berlaku apabila seseorang meminta dengan kemauan serta untuk dirinya sendiri. Adapun relawan yang meminta sumbangan untuk orang lain yang membutuhkan hukumnya diperbolehkan karena hal tersebut termasuk ma’unah (membantu pada kebaikan). Sebagaimana keterangan dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin syarh Ihya’ ‘Ulumuddin:

إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيْرَةٌ فِي السُّؤَالِ وَتَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيْمِهِ وَالْمُرَادُ بِالسُّؤَالِ هُنَّا سُؤَالُ النَّاسِ عَامَّةً وَيَكُوْنُ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِيْ تِلْكَ التَّشْدِيْدَاتِ بَلْ هُوَ مَعُوْنَةٌ

Ketahuilah bahwa sudah begitu banyak larangan untuk meminta-minta dan keterangan mengenai mengharamkannya. Akan tetapi yang dimaksud meminta di situ ialah hukum meminta secara umum yang mana hasilnya untuk dirinya sendiri. Sehingga apabila ada relawan yang meminta sumbangan yang hasilnya diberikan untuk orang lain tidak masuk dalam hukum larangan ini, karena hal itu termasuk praktek Ma’unah (membantu pada kebaikan)”.[2]

Dalam prakteknya, apabila relawan mengambil sebagian hasil sumbangan yang telah terkumpul maka hukumnya tidak diperbolehkan, kecuali ada dugaan (dzon) kuat bahwa shohibul musibah telah merelakannya. Sebagaimana ungkapan imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro:

 (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Pertanyaan: apakah mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan hanya tertentu untuk jamuan tamu?. Jawaban: mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan tidak tertentu hanya untuk jamuan tamu. Para ulama menjelaskan bahwasanya dugaan adanya kerelaan itu sama dengan mengetahui kerelaannya. Maka dari itu, ketika seseorang menemukan indikasi kerelaan bahwa pemilik barang memperbolehkan untuk mengambil barangnya, maka bagi seseorang yang mengetahui indikasi tersebut boleh mengambilnya. Namun apabila realita berkata sebaliknya, maka harus mengganti rugi apa yang telah diambilnya”.[3] []waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Fath al-Bari, X/408, Maktabah Syamilah.

[2] Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulumuddin, IX/302.

[3] al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, IV/116, Darul Fikr.

Menggapai Kebahagiaan dengan Keikhlasan Niat dan Amal

Oleh: KH. Imam Yahya Mahrus

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. نَحْمَدُ اللهَ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ وَنُؤْمِنُ بِهِ إِيْمَانَ الْمُوْقِنِيْنَ وَنُقِرُّ بِوَحْدَانِيَّتِهِ إِقْرَارَ الصَّادِقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ خَالِقُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ مُكَلَّفُ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ أَنْ يَعْبُدُوْهُ عِبَادَةَ الْمُخْلِصِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى جَمِيْعِ النَّبِيِّيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Pembaca setia…

Kita sebagai mahkluk yang dianugerahi akal oleh Allah SWT, dengan keteguhan iman yang kita miliki, tentunya kita tahu bahwa sa’adah (kebahagiaan/kesuksesan) di dunia dan akhirat tidak mungkin bisa dicapai melainkan dengan ilmu dan amal. Kita harus mengerti bahwa ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tak berbuah, begitupun sebaliknya, amal tanpa ilmu seperti buah yang tak memiliki pohon, yakni amal akan “mardud” (tidak diterima) tanpa ilmu. Akan tetapi sebuah amal tidak akan berguna jika tidak disertai niat yang benar. Namun begitu, niat saja tidak cukup tanpa dibarengi keikhlasan, karena segala bentuk amal ibadah yang dilakukan tanpa disertai keikhlasan adalah riya yang nantinya akan melebur amal kita menjadi sia-sia tiada guna.

Pembaca yang budiman…

Sampai seberapa keutamaan niat? Nabi Saw. menjelaskan dalam sabdanya:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه مسلم)

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah hanya melihat hati dan amal kalian.”

Hadis tersebut menerangkan bahwa yang dinilai Allah adalah hati kita, bukan fisik atau harta. Mengapa yang dilihat hanya hati kita? Karena hati adalah tempat niat, dan niat adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh hati semata. Dari sini kita mengerti keutamaan niat. Jadi, pertama yang dilihat adalah niat kita, benar atau tidak. Setelah itu, baru amal kita yang dipandang Allah, ikhlas atau tidak dalam menjalankannya. Jika ikhlas maka amal kita akan diterima oleh Allah. Begitupun sebaliknya, apabila tidak ikhlas maka tidak diterima oleh-Nya. Dalam hadis lain juga banyak dijelaskan bahwa niat atas suatu kebaikan, seseorang sudah memperoleh pahala walaupun ia tidak mengerjakannya. Seperti sabda Nabi Saw:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ… يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ… الحديث (رواه ابن ماجه)

Artinya: “Dunia (terbagi) menjadi empat kelompok: (pertama) seorang hamba (Allah) yang dianugerahi oleh Allah ilmu dan harta, kemudian ia mengamalkan ilmunya dalam (men-tasarufkan) hartanya….(dan seterusnya) Kemudian seorang laki-laki berkata, “Seandainya aku dianugerahi Allah sama seperti apa yang dianugerahkan-Nya kepada orang itu, niscaya aku akan berbuat seperti yang dia perbuat,” kemudian orang tersebut (menetapi) niatnya. Maka kedua orang tersebut (yang melakukan perbuatan terpuji dan yang hanya berniat saja) pahalanya sama saja.”

Pembaca yang bijak…

Maka dari itu, kita harus mengetahui apa hakikat niat dan bagaimana niat yang benar. Seseorang tidak akan pernah benar dalam berniat jika ia tidak mengetahui hakikat niat. Niat, keinginan, dan qashdu memliki arti yang sama, yakni satu sifat dan haliyah (tingkah) yang dimiliki hati dan merupakan penggabungan dari dua hal, ilmu dan amal. Yang pertama adalah ilmu, karena ilmu merupakan sebuah pondasi dan syarat dari amal. Yang kedua adalah amal, karena amal merupakan buah dari ilmu. Itu semua berangkat dari sebuah pengertian bahwa setiap amal tidak akan tercapai tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang akan diamalkan, kemudian keinginan untuk mdlakukannya, dan yang terakhir kemampuan atau kesanggupan untuk mengerjakannya. Seseorang tidak akan berbuat sebelum mengetahui apa yang akan dia perbuat. Dan sesorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak menghendakinya. Demikian pula seseorang tidak akan berbuat sesuatu yang ia sendiri tak yakin akan sangggup menjalankannya. Sederhananya, seseorang akan beramal apabila dia mampu dan sanggup. Dia akan sanggup melakukan jika ia mempunyai keinginan yang kuat. Dan keinginan itu muncul jika ia punya pengetahuan tentang sesuatu yang akan ia perbuat.

Pembaca yang arif…

Lebih lanjut, setelah kita mengetahui hakikat niat, bagaimana usaha kita agar amal kita bisa diterima di sisi Allah Swt. Sudah disebutkan di awal bahwa setelah syarat-syarat sah amal terpenuhi, hendaknya kita juga mengetahui syarat diterimanya amal, tiada lain itu adalah ikhlas. Al Ghazali mendefinisikan ikhlas sebagai suatu hal yang murni, bersih dari segala macam hal yang mencampurinya. Beliau mengutip sebuah ayat:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (النحل ٦٦)

Artinya: “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu semua. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa susu yang murni ialah yang bersih dari kotoran, darah, dan segala sesuatu yang bisa mencampurinya. Berarti amal yang ikhlas adalah amal yang murni, bersih dari riya’, ‘ujub, sum’ah, dan dari segala sesuatu selain Sang Pencipta. Dari sini, al Ghazali memaparkan arti ikhlas dengan sebuah ungkapan:

الْإِخْلَاصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَاهِبِ

Artinya: “Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah semata dari segala yang mencampurinya.”

Syeh Sahl rahimhullah ta’ala, salah satu tokoh sufi tersohor mengartikan ikhlas dengan makna yang lebih dalam, beliau berseru dalam sebuah petuahnya:

الْإِخْلَاصُ أَنْ يَكُوْنَ سُكُوْنُ الْعَبْدِ وَحَرَكَاتُهُ للهِ تَعَالَى خَاصَّةً

Arinya: “Ikhlas ialah berdiamnya seorang hamba dan gerak-geriknya hanya karena Allah semata.”

Pembaca yang arif…

Marilah, mulai saat ini kita berusaha meningkatkan keikhlasan dalam ibadah kita sehari-hari. Sebisa mungkin kita jauhkan diri kita dari segala macam yang bisa melebur pahala amal kita, mulai dari riya’, takabbur, rujub, sum’ah, dan segala penyakit hati. Kita jadikan ulama salaf sebagai panutan, beliau-beliau sangat berhati-hati dalam menjalankan amal ibadah, berusaha menyembunyikan amal baik lebih dari layaknya manusia yang menutup rapat-rapat semua kejelekan, aib, dan dosanya agar tidak diketahui orang lain. Itu dilakukan agar tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran dan kerusakan yang akan disesali di kemudian hari. Karena pada dasarnya, seluruh manusia akan mengalami kerusakan -di dalam beramal- kecuali mereka yang ikhlas. Mungkin kita semua sudah mendengar petuah para sufi yang sudah masyhur:

النَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَالِمُوْنَ وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ والْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Semua manusia akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu, yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmunya, yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali mereka yang ikhlas, dan mereka yang ikhlas pun masih dalam kekhawatiran yang besar.”

Dari petuah ini tentunya kita harus bisa merenungi bahwa seseorang yang ikhlaspun belum mencapai titik kesempurnaan. Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita sudah disebut mukhlisi Kita koreksi diri kita masing-masing apakah kita sudah tergolong mukhlish atau tidak. Mudah- mudahan -dengan anugerah dan taufiq Allah SWT- kita semua bisa menjadi orang yang ikhlas, tergolong mukhlishin, dan kelak di hari kiamat nanti dikumpulkan bersama para mukhlishin. Bisa menggapai sa’adah (kebahagiaan) dunia dan akhirat serta mendapatkan ridla di sisi-Nya. Amin ya Rabbal falamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

#Disarikan dari Majalah MISYKAT