Pendahuluan
Setelah menunaikan shalat wajib lima waktu, ada anjuran bagi seorang Muslim untuk memperbanyak dzikir dan doa. Oleh karena itu Dzikir setelah shalat merupakan amalan sunnah yang sangat utama (sunnah muakkadah), sebagai bentuk penyempurnaan ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, serta menjadi sarana mendapatkan ampunan dan ketenangan hati.
Dalil Anjuran Berdzikir Setelah Shalat
Dalil anjuran dari Al-Qur’an
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring.”(QS. An-Nisa: 103)
Baca Juga: Khutbah: Cinta Tanah Air Bagian dari Iman
Hadist dari sahabat ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisara
Nabi Bersabda:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ، نَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ ، نَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، حَدَّثَنِي عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، يَقُولُ: حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِيَّ، وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِيُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ.
Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisarah, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Yazid al-Muqri’, telah mengabarkan kepada kami Haiwah bin Syuraih, telah menceritakan kepadaku ‘Uqbah bin Muslim, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Abdurrahman al-Hubuli, dari as-Sunabihi, dari Mu’adz bin Jabal, bahwa:
“Rasulullah ﷺ memegang tangannya, lalu bersabda: ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu!’Beliau bersabda: ‘Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, jangan sekali-kali engkau tinggalkan (doa ini) di akhir setiap shalat:
“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik”
(Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik).” Dan Mu’adz mewasiatkan doa itu kepada as-Sunabihi, dan as-Sunabihi mewasiatkannya kepada Abu Abdurrahman.[Abu Dawud, Sunan Abi Dawud dengan syarah ‘Aun al-Ma‘bud, disusun oleh Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‘ats (w. 275 H), dan disyarah oleh Syaraf al-Haqq al-‘Azim Abadi (w. 1329 H). Hadist No. 1522]
Baca Juga: KH. Marzuqi Dahlan (1906-1975)
Anjuran Dzikir Setelah Shalat
1. Istighfar (3 Kali)
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ سُوَيْدٍ السَّدُوسِيُّ، نَا أَبُو دَاوُدَ ، عَنْ إِسْرَائِيلَ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ «كَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ يَدْعُوَ ثَلَاثًا، وَيَسْتَغْفِرَ ثَلَاثًا».
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ali bin Suwayd as-Sadusi, telah mengabarkan kepada kami Abu Dawud, dari Isra’il, dari Abu Ishaq, dari ‘Amr bin Maymun, dari Abdullah (yaitu Abdullah bin Mas’ud):
Bahwa Rasulullah ﷺ menyukai untuk berdoa sebanyak tiga kali, dan memohon ampun (istighfar) sebanyak tiga kali. [Abu Dawud, Sunan Abi Dawud dengan syarah ‘Aun al-Ma‘bud, disusun oleh Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‘ats (w. 275 H), dan disyarah oleh Syaraf al-Haqq al-‘Azim Abadi (w. 1329 H). Hadist No.1524]
Baca Juga: Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah RA
2. Doa Dzikir
setelah itu, dilanjutkan dengan doa Dzikir
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkaulah Maha Sejahtera dan dari-Mu lah kesejahteraan. Maha Berkah Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Sebagai tambahan, Hadist ini kutipan dari sahabat Dawud bin Rusyd:
حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ ، عَنْ أَبِي عَمَّارٍ – اسْمُهُ شَدَّادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ -، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ ، عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ: كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ ».
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rusyd, telah menceritakan kepada kami al-Walid, dari al-Awza’i, dari Abu ‘Ammar—namanya Shaddad bin Abdullah—dari Abu Asma’, dari Thawban, ia berkata:
“Apabila Rasulullah ﷺ selesai dari shalatnya, beliau memohon ampun (istighfar) tiga kali, lalu berkata:
‘Allahumma anta as-Salam, wa minka as-Salam, tabarakta ya Dzal-Jalali wal-Ikram.’”
Al-Walid berkata: Aku bertanya kepada al-Awza’i, “Bagaimana cara istighfarnya?” Ia menjawab: “Engkau mengucapkan: ‘Astaghfirullah, astaghfirullah.’”Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rusyd, telah menceritakan kepada kami al-Walid, dari al-Awza’i, dari Abu ‘Ammar—namanya Shaddad bin Abdullah—dari Abu Asma’, dari Thawban, ia berkata:
“Apabila Rasulullah ﷺ selesai dari shalatnya, beliau memohon ampun (istighfar) tiga kali, lalu berkata:
‘Allahumma anta as-Salam, wa minka as-Salam, tabarakta ya Dzal-Jalali wal-Ikram.’”
Al-Walid berkata: Aku bertanya kepada al-Awza’i, “Bagaimana cara istighfarnya?” Ia menjawab: “Engkau mengucapkan: ‘Astaghfirullah, astaghfirullah.’” [Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Al-Jami‘ al-Sahih (Sahih Muslim), edisi cetak yang telah diperiksa dan dibandingkan dengan beberapa manuskrip dan salinan resmi, disunting oleh Ahmad bin Rif‘at bin Utsman Hilmi al-Qurh Hasari, Muhammad Izzat bin Utsman az-Zafran Bulyawi, dan Abu Ni‘matullah Muhammad Syukri bin Hasan al-Anqarawi. Hal. 94]
Baca Juga: Kalau Mau Sukses, Pegang 3 Kunci Ini! – Refleksi Pelajar Milenial
3. Tasbih, Tahmid, dan Takbir (33 Kali)
Kemudian dilanjutkan lagi dengan Tasbih, Tahmid, dan Takbir
سُبْحَانَ اللَّهِ (33x) الْحَمْدُ لِلَّهِ (33x) اللَّهُ أَكْبَرُ (33x)
Kemudian untuk berdoa:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Abu Hurairah Menjelaskan Kesunahan ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ «مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ. وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ »
Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang bertasbih kepada Allah (mengucapkan Subḥānallāh) sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji Allah (mengucapkan Alḥamdulillāh) tiga puluh tiga kali, dan membesarkan Allah (mengucapkan Allāhu Akbar) tiga puluh tiga kali setelah setiap shalat — maka jumlahnya adalah sembilan puluh sembilan — kemudian menyempurnakan seratus dengan mengucapkan:
Lā ilāha illallāh, waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr
(Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu),
maka dosa-dosanya akan terampuni, meskipun sebanyak buih di lautan.”[Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī, Al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ (Ṣaḥīḥ Muslim), edisi cetak yang telah tertashihkan dan dibandingkan dengan beberapa manuskrip terpercaya, disunting oleh Aḥmad bin Rif‘at bin ‘Utsmān Ḥilmī al-Qarah Ḥiṣārī, Muḥammad ‘Izzat bin ‘Utsmān az-Zafran Būliwi, dan Abū Ni‘matullāh Muḥammad Syukrī bin Ḥasan al-Anqarāwī. Turki: Dār aṭ-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah Hal. 98]
Baca Juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!
4. Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 1 kali)
Selain itu, jangan lupa untuk membaca surat Al-Mu‘awwidzāt
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، نَا ابْنُ وَهْبٍ ، عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ: أَنَّ حُنَيْنَ بْنَ أَبِي حَكِيمٍ حَدَّثَهُ عَنْ عُلَيِّ بْنِ رَبَاحٍ اللَّخْمِيِّ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ»
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah al-Muradi, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb, dari al-Laits bin Sa‘d, bahwa Ḥunain bin Abī Ḥakīm menceritakan kepadanya dari ‘Ulayy bin Rabāḥ al-Lakhmī, dari ‘Uqbah bin ‘Āmir, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ memerintahkanku untuk membaca Al-Mu‘awwidzāt (yaitu: Surat Al-Falaq dan An-Nās) setelah setiap shalat.”[Abū Dāwūd Sulaimān bin al-Asy‘ats al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd beserta syarah ‘Aun al-Ma‘būd oleh Syaraf al-Ḥaqq al-‘Aẓīm Ābādī (w. 1329 H). Teks berdasarkan 11 manuskrip, sebagian besar melalui riwayat al-Lu’lu’ī. Perbedaan teks dirujuk pada beberapa karya klasik. Cetakan dengan catatan pinggir oleh Syekh Talaṭuf Ḥusain ad-Dihlawī (w. 1334 H). Delhi: al-Maṭba‘ah al-Anṣāriyyah. Hal. 561]
Baca Juga: Panduan Menjamak Shalat Saat Perjalanan
5. Doa-Doa Tambahan
Sebagai tambahan setelah dzikir, ada sunnah untuk berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat, Misalnya:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Hadist yang menjelaskan doa ini datang dari Sahabat Uqbah bin Muslim:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ، نَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ ، نَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، حَدَّثَنِي عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، يَقُولُ: حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِيَّ، وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِيُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ.
Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maysarah, telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazīd al-Muqri’, telah memberitakan kepada kami Ḥaiwah bin Syuḥaih, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ‘Uqbah bin Muslim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abū ‘Abdur-Raḥmān al-Ḥubulī, dari aṣ-Ṣunābiḥī, dari Mu‘ādz bin Jabal, ia berkata:
Rasulullah ﷺ memegang tanganku dan bersabda: “Wahai Mu‘ādz, demi Allah, sungguh aku menyayangimu!”, Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu‘ādz, janganlah engkau tinggalkan (doa ini) setiap selesai salat:
Allāhumma a‘innī ‘alā dzikrika, wa syukrika, wa ḥusni ‘ibādatik.
(Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu).”Kemudian Mu‘ādz mewasiatkan doa ini kepada aṣ-Ṣunābiḥī, dan aṣ-Ṣunābiḥī mewasiatkannya kepada Abū ‘Abdur-Raḥmān.[Abu Dawud, Sunan Abi Dawud dengan syarh ‘Aun al-Ma‘bud karya Sharaf al-Haqq al-‘Azim ‘Abadi. Teks disusun dari 11 naskah dengan rujukan pada beberapa sumber klasik. Catatan cetakan oleh Syaikh Talatuf Husain ad-Dihlawi. Hal. 561]
Baca Juga: Bendera One Piece dan Pesan Ulama: Antara Kritik Sosial dan Stabilitas Negara
Penutup
Dzikir setelah shalat merupakan amalan ringan yang memiliki keutamaan besar. Selain mendapatkan pahala, ia menjadi sebab diampuninya dosa dan dikabulkannya doa. Mari kita biasakan dzikir ini agar hati semakin dekat dengan Allah dan hidup menjadi lebih tenang.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
