Kalau Mau Sukses, Pegang 3 Kunci Ini! – Refleksi Pelajar Milenial

Sebagai pelajar (khususnya santri) di era milenial, terdapat banyak tantangan yang harus kita hadapi. Selain menghadapi dinamika perkembangan agama Islam, pesatnya kemajuan teknologi juga menjadi ujian tersendiri. Oleh karena itu, seorang pelajar harus senantiasa membentengi dengan ilmu pengetahuan serta meneladani akhlak para ulama terdahulu. Hanya dengan bekal tersebut, seorang pelajar dapat meraih tujuan yang ia inginkan.

1. Kesungguhan

Kesungguhan menjadi fondasi utama. Tanpa kesungguhan, segala bentuk usaha akan goyah, dan hasil belajar tidak akan optimal. Oleh karena itu, penting bagi setiap pelajar untuk membulatkan tekad dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

Dalam sebuah maqālah dikatakan:

مَنْ طَلَبَ شَيْئًا وَجَدَّ وَجَدَ

“Man jadda wajada.”
“Barang siapa yang mencari sesuatu dan bersungguh-sungguh, niscaya ia akan mendapatkannya.”

Dari maqālah di atas, dapat kita pahami bahwa hal pertama yang harus dimiliki seorang pelajar adalah kesungguhan. Kesungguhan berarti berusaha secara total dan menyelesaikan suatu pekerjaan hingga tuntas. Karena meskipun terlihat serius, jika pekerjaan yang ia lakukan setengah-setengah dan tidak selesai, hasilnya pun tidak akan memuaskan.

Bukankah kita tahu bahwa salat hanya dianggap sah apabila ditutup dengan salam? Maka, jika seseorang salat namun tidak sampai salam, salatnya tidak sempurna. Begitu pula dalam proses belajar—kesungguhan tanpa penyelesaian hanya akan menghasilkan setengah dari potensi yang seharusnya kita capai.

Baca juga: Kenapa Masih Ragu Ziarah Kubur? Ini Dalil dan Penjelasannya!

2. Cita-Cita (Kemauan yang Tinggi)

Komponen kedua yang harus pelajar miliki adalah cita-cita atau kemauan yang tinggi. Dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim disebutkan:

ٱلرَّأْسُ فِي تَحْصِيلِ ٱلْأَشْيَاءِ ٱلْجِدُّ وَٱلْهِمَّةُ

“Pokok dalam memperoleh ilmu adalah kesungguhan dan cita-cita yang tinggi.”

Tujuan tanpa usaha tidak akan membuahkan hasil. Begitu pula sebaliknya, usaha tanpa arah tujuan akan sia-sia. Cita-cita adalah pedoman yang menunjukkan arah perjuangan seorang pelajar. Tanpa cita-cita yang tinggi, semangat dan ketekunan akan mudah luntur.

Hal ini sejalan dengan syairnya Imam Abu Ṭayyib al-Mutanabbī:

عَلَىٰ قَدَرِ أَهْلِ ٱلْعَزْمِ تَأْتِي ٱلْعَزَائِمُ # وَتَأْتِي عَلَىٰ قَدَرِ ٱلْكَرِيمِ ٱلْمَكَارِمُ

“Sebesar tekad seseorang, sebesar itu pula ujian dan tanggung jawab yang datang.
Dan sebesar kemuliaan seseorang, sebesar itu pula kemuliaan amal yang diberikan kepadanya.

Penjelasan ini diperkuat oleh Imam Az-Zarnūjī yang mengatakan:

وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ ٱلْعِلْمِ مِنَ ٱلْهِمَّةِ ٱلْعَالِيَةِ فِي ٱلْعِلْمِ، فَإِنَّ ٱلْمَرْءَ يَطِيرُ بِهِمَّتِهِ كَٱلطَّيْرِ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ.

“Seorang penuntut ilmu harus memiliki cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu, karena sesungguhnya manusia terbang dengan himmahnya (kemauan dan cita-citanya), sebagaimana burung terbang dengan kedua sayapnya.”

Artinya, kemauan yang tinggi mencerminkan kesiapan untuk bekerja keras, karena kata “mau” itu sendiri sudah menunjukkan adanya kesiapan mental untuk bertindak.

Baca juga: Peran Santri Masa Kini

3. Istiqāmah (Konsistensi dan Ketekunan)

Komponen ketiga yang menyempurnakan dua komponen sebelumnya adalah istiqāmah. Dengan istiqāmah—yakni terus-menerus dalam kebaikan, taat kepada Allah, dan konsisten dalam belajar—maka hasil akan tetap bisa kita raih, meskipun kesungguhan kita tidak selalu maksimal.

Istiqāmah adalah bentuk keuletan, ketekunan, dan keteguhan hati yang membuat seseorang tetap bertahan dalam jalur yang benar meskipun banyak rintangan menghadang. Bahkan istiqāmah dapat menghasilkan sesuatu di luar ekspektasi karena konsistensi mampu melampaui keterbatasan kemampuan.

Baca juga: Cinta Tanah Air dalam Kacamata Santri

Kesimpulan

Tiga pondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap pelajar adalah:

  1. Kesungguhan (Jiddiyyah)
  2. Cita-cita/Kemauan yang Tinggi (Himmah ‘Āliyah)
  3. Istiqāmah (Ketekunan dan Konsistensi)

Dengan ketiga pondasi ini, seorang pelajar akan mampu menjalani proses menuntut ilmu secara utuh, terarah, dan berkelanjutan hingga mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Baca juga: Resensi; Hukum Musik dalam Islam

📌 Catatan akhir:
Belajarlah dan beranilah dalam menempuh jalan kebaikan, sebab angin keberhasilan hanya akan berhembus kepada mereka yang siap berlayar

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses