KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Syukur Kemerdekaan yang Sesuai Syariat

syukur kemerdekaan

Lirboyo — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Pondok Pesantren Lirboyo mengadakan acara istighosah sebagai bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan. Dalam kesempatan tersebut, Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memberikan nasihat penting kepada para santri mengenai cara bersyukur dalam memeriahkan kemerdekaan yang sesuai dengan syariat Islam.

Baca juga: Agus Melvin: Pembiasaan Diri dan Ilmu Sebagai Penyelamat dari Tipu Daya

Beliau mengingatkan bahwa nikmat kemerdekaan harus kita isi dengan hal-hal yang baik, sesuai tuntunan agama. “Nikmat kemerdekaan diisi dengan yang baik-baik, sebab ada orang yang bersyukur tetapi tidak sesuai dengan syariat. Seperti berhura-hura, maka dari itu santri Lirboyo jangan sampai berhura-hura,” pesan beliau dengan tegas.

Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Makna Waktu dan Keberkahan Umur

Romo Kafabihi menjelaskan bahwa hura-hura bukanlah bentuk syukur yang benar, melainkan merupakan bentuk pengingkaran nikmat (kufur). Menurut beliau, hal semacam ini sangat perlu kita waspadai karena seringkali pergeseran makna syukur terutama seperti syukur kemerdekaan terjadi dalam kehidupan masyarakat. Termasuk dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi yang justru terisi dengan hiburan-hiburan seperti dangdutan dan lainnya. Jika Maulid kita isi dengan cara yang melanggar syariat, maka perayaan semacam itu termasuk maulid yang Allah haramkan.

Bentuk Syukur Kemerdekaan yang Sesuai

“Syukur dalam perayaan 17 Agustusan itu ya seperti istighosah dan tahlil. Kita mendoakan para pahlawan kita, agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah, amal-amalnya diterima oleh Allah. Hal ini lebih bermakna daripada ungkapan syukur dengan cara berhura-hura,” lanjut beliau.

Baca juga: KH. Athoillah S. A.; Kasih Sayang Rasulullah yang Luar Biasa

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa mengisi kemerdekaan juga dapat kita lakukan dengan cara menuntut ilmu secara sungguh-sungguh. Belajar di pesantren adalah salah satu nikmat besar dari Allah yang patut kita syukuri. Maka, seorang santri hendaknya belajar dengan tekun, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kesempatan tersebut.

Baca juga: Agus Ibrahim A. Hafidz; Sholawat sebagai Nutrisi Ilmu

Pesan ini menjadi pengingat bagi kita yang berada di tengah zaman yang cenderung permisif (sikap atau gaya yang serba membolehkan atau mengizinkan) terhadap budaya perayaan yang tidak berlandaskan nilai-nilai agama. Melalui nasihat ini, Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus tidak hanya mengarahkan kita untuk bersyukur dengan cara yang benar, tetapi juga mengajarkan makna kemerdekaan dalam perspektif spiritual dan keilmuan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses