KH. Abdullah Kafabihi; Ilmu dan Amal

ilmu dan amal

Kediri, 13 Juni 2024 / 6 Dzulhijjah 1445 H — Dalam acara Majelis Sholawat Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo pada hari Kamis, 6 Dzulhijjah 1445 H. / 13 Juni 2024 M. KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menyampaikan beberapa pesan tentang hakikat kemuliaan dan jalan menuju derajat agung di sisi Allah. Dengan mengutip hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an, beliau menegaskan bahwa ilmu agama, amal, dan takwa adalah pilar utama dalam kehidupan seorang muslim yang mulia, bukan pangkat, gelar, atau garis keturunan.


Baca juga: Orang-orang sukses


Tanda Kebaikan: Semangat Menuntut Ilmu Agama

Mengawali mauidzohnya, beliau menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW:

“مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ”

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama kepadanya.”

Jika seseorang bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu agama, memahami, dan mengamalkannya, itu merupakan alamat (tanda) bahwa Allah menghendakinya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.


Baca juga: KH. An’im Falahuddin; Waktu Adalah Kunci Sukses


Mengamalkan Ilmu: Jalan Menjadi Mulia di Langit

Lebih jauh, beliau mengutip sabda Nabi:

“مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ، فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ”

“Barangsiapa berilmu lalu mengamalkan ilmunya, maka dia disebut agung di kerajaan langit.”

Ilmu yang tak kita amalkan hanyalah sebatas pengetahuan. Namun ilmu yang diamalkan dan ajarkan menjadikannya bukan hanya bermanfaat di bumi, tetapi juga mulia di langit. Hal seperti inilah yang layak menyandang gelar warotsatul anbiya’, pewaris para nabi.


Baca juga: KH. AHS. Zamzami Mahrus: 4 Perkara Menaikan Derajat Manusia


Ulama: Pewaris Nabi dan Orang yang Paling Takut kepada Allah

KH. Kafabihi juga menegaskan kedudukan para ulama dengan firman Allah:

“إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari hamba-Nya adalah para ulama.”

Takwa, bukan gelar atau keturunan, menjadi ukuran kemuliaan sejati. Sebagaimana firman-Nya:

“إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ”

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”


Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi; Tundukkan Nafsu, Gapai Akhirat


Kritik terhadap Kebanggaan Nasab

Dalam pesan yang menyentuh, KH. Kafabihi menceritakan tentang ayah beliau, KH. Mahrus Aly, yang kita kenal sebagai ulama besar. Ketika mendapat pertanyaan mengenai nasabnya, beliau menangis. Bukan karena bangga, tapi karena merasa khawatir apakah dirinya layak membawa nama besar tersebut. Ini adalah sikap rendah hati yang kontras dengan orang-orang jahiliah yang dahulu membanggakan nasab sebagai simbol kemuliaan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses