Tag Archives: ma’had aly lirboyo

Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) Adakan Workshop Bimtek di Ma’had Aly Nurul Cholil

Lirboyo.net – Kamis (27/02/20) Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) mengadakan Pembukaan Workshop Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pengisian Pangkalan Data Ma’had Aly Pada Emis yang Terintegrasi dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT). Ma’had Aly Nurul Cholil Pondok Pesantren Nurul Cholil dipercaya sebagai tuan rumah penyelengaraan acara workshop tersebut.

Dalam acara tersebut diikuti oleh 2 orang perwakilan dalam bidang tekhnologi dan administrasi dari 47 Ma’had Aly di seluruh Indonesia. Acara ini dibuka langsung oleh KH. Abdullah Zubair dan dilanjutkan dengan lantunan ayat suci al-Qur’an oleh santri Nurul Cholil dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Ma’had Aly Nurul Cholil.

KH. Fathurrozi Zubair mewakili majlis keluarga Pondok Pesantren Nurul Cholil mengucapkan Selamat datang kepada KH. Dr. Abdul Djalal, M.Ag. selaku ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI)  dan segenap para pejabat pemerintah lebih-lebih kepada para peserta yang jauh-jauh dari Sumatera dan Aceh yang turut ikut hadir di Pondok Pesantren Nurul Cholil.

KH. Dr. Abdul Djalal M.Ag. dalam sambutannya mengatakan, “Yang saya tahu tentang Pondok Pesantren Nurul Cholil itu cuman 2 hal, yaitu tentang soliditas dan loyalitas para alumninya terhadap pesantren, itu yang patut kita tiru oleh alumni Ma’had Aly, harapan saya semoga acara ini merupakan langkah awal menjadikan pendidikan Ma’had Aly berbeda dengan pendidikan perguruan tinggi yang lain dalam hal harus cakapskill,integritas moral dan kecerdasan”.

Acara yang berlangsung 1 jam lebih ini ditutup dengan pembacaan do’a oleh Ustad. H. Muhajir Nawawi dan dilanjutkan sesi foto bersama. Sedangkan inti acara pelaksanaan Workshop Bimbingan Teknis Emis Ma’had Aly di laksanakan 3 sesi, pada Kamis malam dan Jum’at (28/20/2020).

Sumber: www.nurulcholil.net

Kunjungan Dosen UIN Malang ke Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Sabtu 31 Agustus 2019 M. Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu dari Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim Malang dalam rangka penelitian bertajuk Rekonstruksi Pemaknaan Mati Syahid Di Era Modern. Pondok Pesantren Lirboyo merupakan pondok keenam yang telah disambangi mereka setelah beberapa pondok pesantren yang berada di Jawa dan Luar Jawa.

Rombongan berjumlah tiga orang Dosen S2 ini diketuai oleh Raden Cecep Lukman Yasin, P.hD terlihat sangat menikmati diskusi ilmiah mengenai tema radikalisme bersama para Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.

Acara yang bertempat di ruang rektorat Ma’had Aly Lirboyo itu dimulai Pukul 11.30 WIB., terlihat khidmat dan penuh antusias dari para peserta diskusi.

Beberapa kesimpulan tentang diskusi tersebut di antara lain bahwa pelaku bom bunuh diri yang beberapa kali terjadi di Indonesia sama sekali tidak bisa dikatakan mati syahid.

Ada dua alasan mendasar dari hal tersebut.

Pertama, objek bom bunuh diri mayoritas beragama Islam.

Kedua, andaikan semua korban adalah non-Muslim, pelaku bom bunuh diri tetap tidak bisa dikatakan syahid sebab kita tidak dalam konteks memerangi terhadap mereka, karena mereka juga dilindungi di Indonesia.

Pembahasan diskusi lainya yaitu tentang wacana penyusunan kurikulum anti radikalisme. Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo ikut memberi masukan kepada para dosen UIN Maliki Malang. Para dosen pun tampak terlihat sangat puas dan terkejut dengan keluasan wawasan para santri salaf, yang mana selama ini kurang dipandang dan diperhitungkan.

Bahkan Pak Cecep sampai mengatakan bahwa kemampuan para Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo semester tujuh sudah setara dengan lulusan S-2.

Acara tersebut berakhir tepat Pukul 15.30 WIB., diakhiri dengan foto bersama dan para rombongan tersebut pamit untuk meneruskan tugas observasi ke tempat lain.()

Buah Kerja Keras Iblis dan ‘Kalam Hikmahnya’

Sebuah kisah datang dari kaum legendaris di dunia, yakni Bani Israel, seorang penghamba yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdikan hidupnya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. sama sekali ia terlepas dari carut marut urusan dengan manusia, ia jengah dengan semua itu.

Suatu waktu, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup si pengabdi Tuhan ini, mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukannya menyembah Allah, melainkan pohon rindang nan besar yang dijadikan pujaan.

Mendengar tuturan mereka, sang pengabdi ini murka tak terbendung, darahnya memuncak diubun-ubun, segera ia ambil kapak miliknya, ia slempangkan ke bahunya. Benar, ia hendak pergi menebang ‘pohon sesat’ tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang tua, yang ternyata ia adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. si Pengabdi tidak tahu menahu.

hendak kemana kau akan pergi? Semoga Tuhan merahmatimu” sapa Kakek Tua sembari menebar doa.

aku akan menebang pohon ini” jawab si penghamba masih terbawa amarahnya.

buat apa kau melakukan kekonyolan ini, sedangkan kau meninggalkan aktifitas ibadah dan rutinitasmu?” si Tua menebar perangkapnya.

ini juga bentuk dari ibadahku” si Pengabdi membela diri bahwa yang ia lakukan dengan menebang pohon tersebut juga merupakan wujud pengabdiannya kepada Tuhan.

tak akan ku biarkan kau melakukannya” sanggah Iblis menantang. Si Pengabdi merasa dilecehkan, belum juga amarahnya reda ia menerjang si Tua, terjadilah pergulatan sengit. Setelah beberapa saat adu kekuatan, si Pengabdi akhirnya mampu menghempaskan tubuh si tua ke tanah. Dengan senang ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

sebentar dulu, lepaskan aku, akan ku beri kau petuah-petuah”  tanpa ada rasa curiga, si Pengabdi bangkit dari ‘tempat duduknya’

hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut”panjang sekali ‘nasihat’ Iblis ini mencoba meyakinkan agar ia mengurungkan niatnya.

namun ternyata sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si Pengabdi tersebut, tanpa mau berlama-lama mendebat kakek tua ini, ia lagi-lagi menerjang si kakek. Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tanpa daya upaya.

apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat” untuk yang kedua kalinya kakek menawarkan negoisasi.

apa itu?” si Pengabdi mulai terpancing penasarannya.

lepaskan dulu aku agar lebih nyaman kita bicaranya”  kakek memanfaatkan peluang.

Dengan mudah ia terpedaya, ia bangkit dari atas dada sang kakek. Mulailah lagi kakek menebar perangkapnya.

kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si Pengabdi mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 Dinar disisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu, bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu.” Sukses. Si Pengabdi mencerna kata perkata yang masuk menjalar ke telinganya. Ia resapi. Mencoba mencari kesimpulan.

Dalam hati ia berguma “benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.”  mantap. Ia tegaskan lagi kebenaran dari janji-jani kakek tadi. Setelah dirasa omongannya bisa dipercaya. Mereka sepakat.

Kembali ia ke petapaannya. Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambinya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan ‘pohon sesat’. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu Iblis yang menyamar jadi  kakek itu.

mau kemana lagi kau?” tanyanya tanpa beban.

akan ku tebang pohon itu ! “ bara amarah meletup dari sorot matanya.

kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si Pengabdi yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur. Kekuatannya hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada si Pengabdi ini, mengulangi perlakuannya yang dulu. Membalas.

Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga.  si Pengabdi mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih” kakek mengultimatum, membuat nyalinya keder. Penasarannya pun juga masih misteri kenpa kakek ini begitu tanggu sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa

Kakek melepaskannya. Ia bangkit.

Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah, sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanmku, namun dihari ini, kau murka karena nafsu juga karena dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku” */[ABNA]

Dawuh KH. An’im Falahuddin Mahrus : Pentingnya Wawasan Kebangsaan

Pada awal berdiri pondok Lirboyo terkenal dengan ilmu nahwu shorof, yang mana sudah menjadi tirakatnya Mbah Yai Abdul Karim ketika menimba ilmu di Bangkalan. Beliau dengan sungguh-sungguh mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang mana konon ceritanya yang pertama kali membawa kitab Al fiyah Ibnu Malik ke Tanah Jawa yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Maka dari itu awal-awal Pondok Pesantren Lirboyo sampai tahun delapan puluh terkenal nahwu shorofnya, kemudian mulai tahun era delapan puluh Lirboyo mulailah berkembang terkenal dengan ilmu fikihnya, dengan aktifitas lembaga bahtsul masail aktifis-aktifis ini bisa membawa nama harum Pondok Pesantren Lirboyo dalam penguasaan ilmu fikihhnya.

Nah, akhir-akhir ini Pondok Lirboyo yang ikut memperhatikan perkembangan di tengah-tengah masyarakat. Setelah terjadinya reformasi rupanya beberapa aliran, beberapa aqidah, beberapa idiologi bebas berkembang, termasuk diantaranya ancaman terorisme dan Islam garis keras.

Maka dari itu Pondok Lirboyo mensikapinya dengan menulis buku tentang wawasan kebangsaan, fikih kebangsaan, itulah yang menjadi tren saat ini.

Sehingga harapan Kami apa yang telah dikembangkan oleh Mahasantri Ma’had Aly tentang pemahaman empat pilar kebangsaan yang terdiri dari: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Harus tetap dipertahankan. Karena  pemahaman empat pilar ini sangat diperlukan, bukan hanya sekedar seremonial belaka, yang pada ujung-ujungnya di zaman orde baru hanya untuk menguatkan rezim. Dan untuk saat ini benar-benar dibutuhkan pemahaman yang sungguh-sungguh dan mengamalkanya tentang empat pilar ini.()

*Disampaikan saat Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo 14 juli 2019 M. di aula Al Mu’tamar.(TB)

Ketika Mahasantri Lirboyo Mengajar Santri Papua

LirboyoNet, Bogor-Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo terus berlanjut hingga saat ini. Program yang menjadi salah satu syarat  Mahasantri sebelum di Wisuda. Dan untuk pada  tahun ini adalah tahun kedua Ma’had Aly Lirboyo mengirimkan Mahasantri Semester 7-8 menjadi guru bantu di Pondok Pesantren Daarur Rasul.

“Pondok Pesantren Daarur Rasul berdiri pada tahun 2004. Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren ini bermula dari seorang Kyai asal Bogor yang bernama KH. Ahmad Baihaqi yang tak lain adalah salah satu murid KH. Ma’sum Jauhari yang merupakan salah satu Masyayikh Lirboyo yang biasa di kenal dengan sebutan Gus Maksum. KH. Ahmad Baihaqi  telah melakukan dakwah sejak 1994 di Pulau Papua. Dari dakwahnya tersebut  tidak sedikit orang tua yang ingin anaknya mengenyam pendidikan agama Islam secara mendalam, hingga akhirnya beliau membawa anak-anak  dari papua tersebut ke Tanah Jawa untuk diajarkan agama Islam dan Pendidikan umum.”  Terang Abdurrohim Mahasantri Asal Brebes.

“Pondok pesantren yang semua santrinya orang papua ini, mempunyai kegiatan-kegiatan yang tak jauh berbeda dengan pesantren yang ada di indonesia pada umumnya. kegiatan dimulai dengan bangun pagi pukul 04:00 kemudian membaca wiridan sambil nunggu waktu shalat  subuh. Setelah shalat subuh membaca wirid wirdu latif sampai waktu duha, kemudian sarapan pagi.”  Terang Syarif Hidayatullah Mahasantri asal Sragen.

“Tepat Pukul 07:00  semua santri diwajibkan untuk mengikuti sekolah umum. Semua kegiatan pondok selesai sampai pukul 22:00, para santri di persilahkan untuk tidur sampai pukul 04:00.” Timpal Mahbub Mahasantri asal Cianjur.

“ Dan salah satu yang menarik  dari Pondok Pesantren Daarur Rasul selain semua santrinya berasal dari papua, pondok pesantren ini juga tidak memungut  biaya sama sekali.”  Terang Mahbub.

Semoga semua delegasi guru bantu yang disana bisa bermanfaat dan dimudahkan segala urusanya. (TB)