KH. An’im Falahuddin Mahrus: Pentingnya Wawasan Kebangsaan

KH. An’im Falahuddin Mahrus dalam acara Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo menegaskan pentingnya memahami sejarah pesantren sebagai fondasi membangun wawasan kebangsaan.

Pada awal berdirinya, Pondok Pesantren Lirboyo terkenal sebagai pusat pengkajian ilmu nahwu-sharaf. Hal ini tidak lepas dari tirakat dan kesungguhan KH. Abdul Karim saat menimba ilmu di Bangkalan. Beliau dengan penuh keseriusan mempelajari Kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab gramatika Arab yang sangat penting. Konon, orang pertama yang membawa Kitab Alfiyah Ibnu Malik ke Tanah Jawa adalah Syaikhona Kholil Bangkalan.

Baca juga: KH. Athoillah: Rahasia Puasa Rasulullah

Sejak itu, hingga sekitar tahun 1980-an, Lirboyo masyhur sebagai pesantren yang unggul dalam penguasaan ilmu nahwu-sharaf. Namun, memasuki era 1980-an, Lirboyo mulai berkembang dan dikenal pula dengan keunggulannya di bidang fikih. Melalui aktivitas lembaga Bahtsul Masail, para santri dan aktivis berhasil mengharumkan nama Pondok Pesantren Lirboyo sebagai pusat penguasaan ilmu fikih.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Syukur Kemerdekaan yang Sesuai Syariat

Dalam perkembangannya, Lirboyo tidak menutup mata terhadap dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Pasca-reformasi, berbagai aliran, aqidah, dan ideologi bebas bermunculan. Sebagian di antaranya bahkan menimbulkan ancaman, seperti munculnya gerakan terorisme dan Islam garis keras.

Peran Pondok Lirboyo dalam Kebangsaan

Menyikapi hal tersebut, Pondok Pesantren Lirboyo mengambil peran dengan menulis dan mengembangkan kajian tentang wawasan kebangsaan dan fikih kebangsaan. Tema ini kemudian menjadi tren baru yang menunjukkan kepedulian pesantren terhadap keutuhan bangsa.

Harapan kami, apa yang telah Mahasantri Ma’had Aly kembangkan melalui pemahaman Empat Pilar Kebangsaan – yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 – harus tetap dipertahankan. Sebab, pemahaman terhadap empat pilar ini sangatlah penting. Ia tidak boleh berhenti pada tataran seremonial belaka sebagaimana yang terjadi pada masa Orde Baru, melainkan benar-benar kita pahami secara mendalam dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Agus Melvin: Pembiasaan Diri dan Ilmu Sebagai Penyelamat dari Tipu Daya

Disampaikan pada Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo, 14 Juli 2019 M, di Aula Al-Mu’tamar. (TB)

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses