Jangan Sampai Ilmu Hilang Gara-Gara Gengsi! – Nasihat Imam al-Ghazali tentang Adab Menerima Ilmu

Lihatlah ilmu yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan Lihatlah ilmu yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan

Kita hidup di zaman ketika siapa yang bicara lebih penting daripada apa yang dibicarakan. Orang baru mau mendengar kalau yang ngomong punya titel panjang, followers banyak, atau duduk di kursi kehormatan. Padahal, kebenaran tidak butuh kartu nama untuk valid. Kadang nasihat paling tulus justru datang dari mulut yang tidak populer.

Baca juga: Adab dan Khidmah di Pesantren: Mengapa Orang Luar Sulit Memahami

Allah Ta’ala memang sudah mengingatkan kita agar tidak hanya pandai berbicara tapi juga bertindak.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ


“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?” (QS. Al-Baqarah: 44).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

Dan lagi: “Amat besar kebencian di sisi Allah, kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3).

Tapi ayat-ayat itu bukan untuk membungkam siapa pun dari menyeru kebaikan, melainkan untuk menuntun agar yang menyeru kebaikan juga harus sadar dalam memperbaiki diri. Sayangnya, sebagian kita justru membalik tafsirnya tanpa kita sadari. Kita menolak nasihat hanya karena melihat siapa yang memberi. Seolah-olah kebenaran hanya boleh keluar dari mulut orang suci, padahal hikmah bisa lahir dari siapa saja—bahkan dari orang yang tak kita duga.

Baca juga: Mengapa Ibn ‘Athaillah Menyebut Maksiat Bisa Lebih Baik dari Taat?

Nasihat Imam Al-Ghazali

Imam al-Ghazali pernah menulis cerita dalam kitabnya At-Tibr al-Masbūk fī Naṣīḥat al-Mulūk:

وينبغي أن يسمع كلام الحكمة من غير حكيم فإنه قد يصيب الغرض من لم يكن راميًا

“Dengarkanlah kata bijak meskipun dari bukan orang bijak, sebab bisa jadi ia mengenai sasaran, meski ia tak pandai memanah.”

Lihatlah—kadang orang yang tak bernama bisa menembak tepat ke jantung makna.

Nasihat bisa lahir dari mimbar, dari tulisan di kertas, dari status media sosial, bahkan dari pesan pendek di WhatsApp. Jangan anggap remeh, sebab kebenaran tak butuh podium megah.

Kita pasti sering mendengar kalam Arab berikut:

انظر ما قيل ولا تنظر من قال

“Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakannya.”

Mungkin di antara kita ada yang baru belajar, masih banyak salah, tapi sudah berani mengingatkan kebaikan. Jangan buru-buru menuding “sok alim.” Bisa jadi, di balik keinginan kecilnya untuk berbagi, ada niat besar untuk memperbaiki. Karena sesungguhnya, orang yang menyeru kebaikan sedang menasihati dirinya sendiri paling dulu.

Baca juga: Memahami Tiga Kategori Perkara Syubhat: Perkara Antara Halal dan Haram

Penutup

Maka jangan sampai kita kehilangan ilmu dan nasihat hanya karena gengsi mendengar dari yang sederhana. Hikmah tidak selalu datang dari podium tinggi, kadang dari hati yang rendah. Dan barangkali, justru di sanalah Allah menyembunyikan kebenaran yang sedang kita butuhkan.

Wallahu a’lam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses