Syaikh Yusuf al-Makasari merupakan peletak dasar dari ide komunitas dan ujung tonggak awal mula adanya komunitas Islam di Afrika. Beliau adalah ulama Nusantara yang namanya harum tidak hanya masyhur di bumi Nusantara saja, namun sampai Ceylon (Srilangka dan Cape Town Afrika Selatan). Sayangnya sebagian santri milenial yang mengaku sebagai penerus estafet ulama, banyak yang belum mengenalnya.
Buya Hamka berpendapat bahwa Syaikh Yusuf merupakan salah seorang keturunan dari bangsawan Makassar yang lahir pada 8 Syawal 1036 H. Tepat setelah kesultanan Gowa dan Tallo masuk Islam dengan selang waktu 23 tahun.
Baca juga: Kitab Sirajut Tholibin, Kitab Klasik Karya Ulama Nusantara
Pada awal masa belajar ketika di Makassar, Syaikh Yusuf belajar di bawah naungan Sayyid Ba’alawy bin Abdullah al-Alamah Tahir. Kemudian berlanjut pada Syaikh Jalaluddin al-Aidit (ulama asal Aceh yang berdakwah di Makassar). Setelah itu, beliau melanjutkan rihlah ke Aceh dengan berguru kepada Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Seorang mursyid Thoriqoh Qodariyah wa Naqsyabandiyah. Ia merupakan mufti kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Tsani.
Setelah menyelesaikan studi keilmuan di sana, Syaikh Yusuf kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Hadramaut Yaman untuk menimba ilmu kepada Syaikh Abdullah bin Syaikh Muhammad Baqi. Tidak selesai sampai di situ saja, karena kehausan akan ilmu, beliau kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke kota Zabit dan berakhir di Istanbul Turki.
Baca Juga: Al-Adzkar: Beruntungnya Badui yang Ziarah ke Makam Nabi Saw.
Setelah melakukan rihlah mencari ilmu, beliau kemudian pulang ke Makassar untuk berdakwah di tanah kelahirannya. Namun karena dirasa bukantempat yang cocok dalam dakwahnya, akhirnya beliau pergi ke Banten dan berdakwah di sana. Beliau sangat mengenal sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten, karena merupakan sahabat dekatnya. Di sana beliau berdakwah dengan Syaikh Muhyi Pamijahan untuk mengembangkan agama Islam dan membantu kesultanan Banten. Selain dari pada itu, beliau menikah dengan Siti Syarifah putri dari sang sultan dari Banten tersebut. Sehingga semakin dekatlah hubungan mereka.
Syaikh Yusuf Dipenjara dan Diasingkan
Ketika Kesultanan Banten Belanda gulingkan, Belanda memenjarakan Syaikh Yusuf selama 6 bulan di Batavia. Memandang beliau merupakan orang yang pengaruhnya sangat besar, di mana dengan dipenjara pengaruh beliau masih terus terasa oleh orang-orang setempat. Hingga pada akhirnya, beliau kemudian oleh pihak Belanda asingkan ke kota Ceylon Srilangka pada 12 Desember 1684. Tetapi ketika berada di Srilangka, pengaruhnya terhadap agama Islam tetaplah kuat. Dengan keadaan itu, pihak Belanda merasa semakin geram, sehingga beliau kemudian belanda pindahkan lagi ke Afrika Selatan hingga akhir hayatnya.
Baca Juga: Tipuan dari Sang Iblis
Dalam menyebarkan agama Islam, beliau tidak henti-hentinya untuk berdakwah. Di sana, beliau kembali menyebarkan agama Islam tepatnya di Tanjung Harapan. Uniknya di sekitar daerah tersebut karena kuatnya pengaruh dari Syaikh Yusuf, hingga memberikan nama untuk sebuah pantai dengan nama Maqasar Beach. Beliau wafat usia 73 tahun tepat pada tanggal 23 Mei 1699 M. Hingga sampai sekarang makam beliau tetap ramai banyak yang menziarahinya. Dengan begitu, sisa-sisa hasil buah dakwahnya tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang merasakannya. Melainkan seluruh penjuru dunia juga ikut merasakannya. []
Oleh: Ulin Nuha (B. 02)
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
