HomeArtikelKitab Sirajut Tholibin, Kitab Klasik Karya Ulama Nusantara

Kitab Sirajut Tholibin, Kitab Klasik Karya Ulama Nusantara

0 0 likes 205 views share

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M. dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syeikh Ihsan, adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya dan yang pertama kali merintis berdirinya Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1888 M.

Syeikh Ihsân adalah salah satu ulama nusantara yang dikenal oleh kalangan ulama internasional akan karya monumentalnya yakni kitab Sirojut Tholibin ulasan dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghozali. Dan yang menarik untuk kita ketahui bersama adalah, beliau hanya mengenyam pendidikan (nyantri) kepada ulama-ulama nusantara saja. Dan tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah layaknya ulama-ulama lainnya.

Beberapa Pesantren yang pernah disinggahi oleh Syeikh Ihsan adalah:

  • Pondok Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (Paman Syeikh Ihsan)
  • Pondok Pesantren Jamseran Solo.
  • Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang.
  • Pondok Pesantren Mangkang Semarang.
  • Pondok Pesantren Punduh Magelang.
  • Pondok Pesantren Gondang Legi Nganjuk.
  • Pondok Pesantren Bangkalan Madura di bawah bimbingan KH. Kholil Bangkalan.

 

Problem otentisitas kitab Siraj al-Thalibin

Pada dasarnya tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa kitab Sirâj al-Thâlibîn mengalami problem otentisitas. Karena pada mulanya kitab ini sudah disepakati oleh sejumlah pihak bahwa kitab ini adalah karya dari Syeikh Ihsân Dahlân. Hanya saja pada awal tahun 2009 sebuah penerbit terkemuka di kawasan Beirut Libanon, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, menerbitkan kitab ini dengan nama penulis lain, yakni Syeikh Zainî Dahlân. Hal ini diperparah dengan dibuangnya Taqârîdz (semacam kata pengantar) yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’arî.

Beberapa pihak menduga bahwa kekeliruan ini sengaja dilakukan oleh penerbit tersebut demi mengangkat pangsa pasar. Karena di Timur Tengah nama Syeikh Ihsan Dahlan kurang popular dibandingkan dengan Syeikh Zaini Dahlan. Kemudian masalah ini ditindak lanjuti oleh PBNU dengan meminta klarifikasi kepada penerbit tersebut serta memintanya untuk mengganti nama penulisnya dengan nama Syeikh Ihsân Dahlân kembali.

Di samping itu ada beberapa data yang mengokohkan dan mengukuhkan bahwa Sirâj al-Thâlibin adalah benar-benar karya Syeikh Ihsân Dahlân. Pertama, dalam muqaddimah kitab tersebut ditulis ungkapan:

“Seorang hamba yang mengharap ampunan Tuhannya, yang membutuhkan rahmat-Nya; Ihsân bin al-Marhûm Muhammad Dahlân al-Jampesi al-Kadiri –semoga Allah memperbaiki keadaan dan tingkah lakunya dan menutupi aibnya di dunia dan akhirat- berkata; kitab ini (sirâj al-Thâlibîn) adalah penjabaran yang singkat nan agung atas sebuah kitab yang berjudul Minhâj al-‘Âbidîn karya Seorang imam yang enerjik dan menjadi panutan semua golongan baik orang khâs maupun orang awam. Seseorang yang digelari Hujjat al-Islâm dan memberkahi umat manusia. Ulama yang kesempurnaannya terdengar di telinga semua orang. Reputasi karyanya berada di posisi yang sangat tinggi serta membuat para ulama-ulama lainnya menundukkan wajahnya karena kekaguman mereka atas karyanya. Ulama itu bernama Syeikh Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazâlî –semoga Allah menyirami kuburannya dengan ampunan yang selalu mengalir-. Aku–Syeikh Ihsan- menulis kitab ini dengan tujuan untuk mengingatkan diriku sendiri juga untuk mengingatkan orang-orang yang lemah sepertiku. Aku namakan kitab ini dengan judul, “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-‘Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-Âlamîn.”

Data tersebut dipertegas dalam penutupan kitabnya dengan mengungkapkan;

“Akhirnya penulisan ini -dengan segala kesibukan penulis- telah selesai dalam jangka waktu sekitar delapan bulan. Pada waktu siang hari selasa dan bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1351 Hijriah. Penulisan ini dirampungkan di rumahku, daerah Jampes Kediri, salah satu kota di pulau Jawa.”

Pada cetakan-cetakan selain yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Kitab ini diberikan Taqâridz (kata pengantar) oleh sejumlah ulama Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada akhir jilid kedua dari kitab Sirâr al-Thâlibîn. Taqâridz ini juga mengukuhkan penisbatan kitab ini kepada Syeikh Ihsan, sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari;

“Lembah ilmu-ilmu di sepanjang masa selalu mengalir deras. Taman-taman disiplin ilmu akan selalu berbuah dan daunnya akan selalu hijau. Duhai Allah, ilmu-ilmu itu adalah perhiasan yang amat mulia dan amat menguntungkan. Mengangkat derajat pemiliknya kepada derajat yang tinggi. Pengkaji yang menyibukkan dengan ilmu akan memperoleh manfaat. Sementara ilmu yang paling tinggi nilainya dan paling baik penyebutannya adalah ilmu tasawuf, ilmu yang dapat menjernihkan hati dan watak. Ilmu yang merupakan pokok atau dasarnya ilmu, sementara ilmu lainnya adalah cabang. Karena ilmu ini berkaitan dengan keberadaan Tuhan, jalan menempuh kebahagiaan, dan kebagaiaan yang kekal. Dan salah satu kitab terbaik dalam bidang ini (tasawuf) dan yang dapat memberikan “pemahaman” kepada orang-orang yang berakal. Sebuah kitab yang dinamakan dengan “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-‘Âlamîn” karya seorang Âlim dan Allâmat, seorang yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas, yakni Syeikh Ihsan bin al-Marhum Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri.”

Di samping kata pengantar yang diberikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, ada komentar sekaligus pujian lain yang diberikan kepada Syeikh Ihsan dengan karyanya ini. Pujian tersebut datang dari seorang ulama asal Nganjuk Jawa Timur, KH. Abdurrahman bin Abdul Karim al-Sukri. Pujian lainnya juga datang dari ulama Kediri yang bernama Muhammad Yunus bin Abdullah. Ulama yang disebut terakhir ini berkata dalam kata pengantarnya:

Aku telah membaca sebagian isi dari naskah kitab ini, sebuah naskah yang merupakan penjabaran (atas karya al-Ghazali) yang sangat menawan. Aku menyambut gembira (atas naskah ini), kegembiraan yang dapat memberikan petunjuk atas kajian ini (tasawuf). Semoga Allah membalas kebaikan penulis kitab ini dan ulama-ulama semisalnya dengan sebaik-baiknya balasan.”

Dari paparan dan data-data tersebut, maka kita bisa simpulkan bahwa karya ini (Sirâj al-Thâlibîn) adalah karya Syeikh Ihsan Dahlan bukan karya dari Syeikh Zaini Dahlan sebagaimana cetakan yang diterbitkan oleh Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah.

Wallahu A’lam bis-Shawab

 

________________

–Ihsân Dahlân, Sirâj al-Thâlibîn, (Singapore-Jeddah; al-Haramain,tt)