Tag Archives: Dakwah

Bahtsul Masail Konferwil NU Jatim

LirboyoNet, Kediri- (28/07/18) Agenda yang tak kalah penting dalam rangkaian Konferwil PWNU Jatim kali ini adalah bahsul masail. Acara yang digelar menempati dua lokasi. Bertempat di Gedung LBM adalah komisi Waqiiah yang membahas berbagai permasalahan aktual. Diantara soal yang dibahas adalah terkait tayangan di salah satu stasiun televisi swasta. Meski dilaksanakan hingga dini hari, para peserta dari perwakilan PCNU se-Jatim itu tetap bersemangat  dalam mengeluarkan berbagai argumen-argumen dan analisanya.

Sedangkan komisi maudhu’iyyah yang bertempat di Aula Madrasah Baru, dini hari tadi membahas seputar kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tensi perdebatan begitu tinggi mana kala pembahasan sampai pada seberapa jauh batasan-batasan toleransi yang tidak melanggar syariat. Namun, tentu saja berbagai silang pendapat antar peserta pada akhirnya terjawab dengan uraian para perumus dan musahih yang memang sudah membidanginya.

Kedua acara yang dimulai sesaat setelah selesai pembukaan Konferwil di Aula Muktamar itu berlangsung hingga menjelang subuh. Nampak hadir sebagai mushahih  dalam komisi Waqiiyyah KH. Yasin Asmuni, KH. Mahrus Maryani, KH. Ali Maghfur Syadzili dan KH. Murtadlo Ghoni. Sementara dalam komisi Waqiiyyah ditashih oleh KH. Romadlon Khotib, KH. Muhin Aman Ali dan KH. Azizi Hasbulloh.

Tidak hanya itu, “Masalah-masalah yang sudah dirumuskan ini nantinya akan ditashih oleh jajaran Syuriah PWNU Jatim agar nantinya dapat menjembatani dan memberikan panduan kepada umat terkait hal-hal yang dibahas dalam bahsu tersebut.” Tutur Ustadz Ahmad Muntaha AM. selaku moderator acara.

Pembahasan komisi waqiiyyah pagi tadi dilanjutkan dengan pembahasan masalah kontroversi hukum wanita karir yang mengalamai masa ‘iddah, pasca ditinggal suaminya. Juga masalah terkait polemik fasilitas umum di pesantren dan tempat ibadah. Sementara komisi maudhu’iyyah pagi tadi mengkritisi pembahasan masalah terkait zakat profesi.

Untuk hasil selengkapnya, silahkan diunduh disini (komisi waqi’iyyah). [IW]

Toleransi dalam Dakwah

Mengapa di kota Kudus hanya ada sate kerbau? Tidak ada sapi? Penjagal sapi juga mungkin tak bisa kita temukan disana. Usut punya usut, konon hal tersebut adalah saksi hidup wujud toleransi yang hingga kini tetap lestari. Sisa-sisa bukti strategi dakwah Sunan Kudus mengislamkan masyarakat kota Kretek tersebut, yang dulunya masih didominasi agama Hindu dan Budha.

Beliau, Sattid Ja’far Shadiq, atau biasa dipanggil Sunan Kudus luar biasa memahami syariat Islam, tabahhur dan alim masalah agama. Dan strategi dakwah yang beliau terapkan jadi bukti kealiman beliau dalam urusan fikih. Kita semua tentu tahu, daging sapi halal hukumnya. Mengkonsumsi daging sapi tidaklah berdosa. Tidak haram. Tapi lantas mengapa beliau melarang para pengikut beliau waktu itu mengkonsumsinya? Ternyata, ini merupakan langkah jitu untuk menarik simpati masyarakat Hindu agar mau mengenal Islam. Dalam ajaran agama Hindu, sapi adalah hewan yang disucikan. Karena menurut keyakinan mereka, sapi menjadi tunggangan dewa Wisnu. Dalam membangun masjid juga beliau sampai meniru arsitektur pura, tempat ibadah orang Hindu. Nyatanya, bentuk bukanlah masalah, yang penting adalah esensinya. Mau dibangun dengan desain seperti apapun, masjid tetaplah masjid.

Beliau memperhatikan adat istiadat dan budaya yang melekat di masyarakat hingga ke sendi-sendinya. Tidak ingin menyinggung hati masyarakat yang terlanjur mengkeramatkan sapi. Akhirnya, strategi beliau berhasil. Meskipun sekarang di Kudus hampir semua orang memeluk Islam, “wasiat” Sunan Kudus tersebut tidak lantas hilang. Hari ini, jika hendak mencari pemeluk agama Hindu di Kudus, anda akan cukup kesulitan. Tapi menyembelih sapi tetaplah jadi hal tabu sampai sekarang.

Startegi semacam ini ternyata pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW juga dahulu dalam berdakwah amat menjaga perasaan masyarakatnya. Beliau tahu betul, bangunan Kakbah waktu itu tidaklah sesuai bentuknya dengan pondasi yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS. Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim AS. bentuknya persegi panjang, bukan kubus. Kakbah jadi berbentuk kubus karena dahulu pernah direnovasi. Namun beliau tidak mau begitu saja mengembalikan bentuk Kakbah kembali seperti pondasi semula. Demi menjaga perasaan penduduk Mekah yang baru memeluk Islam, dan amat mengkeramatkan Kakbah. Ingatkah kejadian ketika peletakan batu hajar aswad pasca pemugaran Kakbah? Hampir-hampir terjadi tumpah darah gara-gara semua orang ingin berebut mengembalikan “sebongkah batu” ke tempat asalnya. Beliau mengutarakan alasannya kepada istri terdekat beliau, Aisyah RA. ”Kalau saja kaummu tidak baru keluar dari kekufuran, niscaya aku sempurnakan Kakbah seperti pondasinya Nabi Ibrahim.”[1]

Dalam berdakwah dulu, sering kali justru Nabi Muhammad SAW mengambil pilihan yang lebih diterima masyarakat, dan mengesampingkan pendapat beliau yang lebih baik. Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa membeberkan hal tersebut. “Nabi mengambil keputusan terkait permasalahan dunia, karena alasan menolong umat beliau, berpolitik, atau alasan ketidak mauan beliau akan adanya perpecahan umat, padahal sejatinya beliau punya pendapat lain yang lebih baik.”[2] Qadhi Iyadh mencontohkan keputusan Nabi untuk tidak memusuhi kaum munafik sebagai salah satu buktinya. Padahal beliau sudah tahu seluk beluk dan bagaimana bencinya hati kaum munafik terhadap Islam. Ini dilakukan demi menjaga perasaan kamu muslimin lain yang berkerabat dengan kaum munafik, dan demi menjaga agar jangan sampai muncul persepsi bahwa Nabi Muhammad SAW telah memerangi sahabatnya sendiri.

Nabi telah berwasiat kepada para sahabat beliau,

(اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada. Susullah perbuatan buruk dengan melakukan kebaikan, maka kebaikan tersebut akan melebur keburukan tadi. Dan berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Menafsiri dawuh Nabi “berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik”, sahabat Ali KRW mengatakan, “Maksudnya adalah, mengikuti masyarakat dalam segala hal, selain perbuatan maksiat.[3] Senada dengan hal ini, Imam al-Ghazali juga mengartikan husnul khuluq, atau berbudi pekerti luhur sebagai tidak egois memaksakan kehendak masyarakat sesuai kemauan diri sendiri. Akan tetapi husnul khuluq adalah mengalah mengikuti apa yang menjadi kemauan masyarakat, dalam konteks ini adalah mengikuti adat dan budaya, selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam.[4]

Kita bisa lihat, apa yang dipraktikkan Sayyid Ja’far Shadiq kepada masyarakat Kudus merupakan pengamalan hadis tersebut sesuai tafsiran sahabat Ali KRW.

Sebagai wujud strategi dakwah, seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ramadhan al-Buthy, bahwa hal terpenting yang harus diperhatikan pertama kali bagi pendakwah adalah mendapatkan tanah air. Mendapatkan posisi. Diterima di hati masyarakat. Baru dakwah bisa berlanjut ke fase selanjutnya.

Jika agama sudah sirna dan terkalahkan, tak ada lagi artinya tanah air, harta, benda dan negri. Semua itu akan sirna dengan cepat tanpa keberadaan agama. Sebaliknya, jika agama kokoh, sendi-sendinya berdiri tegak ditengah masyarakat, dan akidahnya kokoh dalam hati para pemeluknya, maka harta benda, tanah dan negri yang dikorbankan dijalannya pasti akan didapatkan kembali. Bahkan semua itu diraih kembali dalam keadaan lebih kuat daripada sebelumnya, karena dilindungi oleh benteng kehormatan, kekuatan, dan kesadaran.”[5]

Berdakwah tentu butuh pengorbanan. Dan percayalah setiap pengorbanan yang kita berikan akan diganti dengan hasil yang lebih baik dan lebih besar. Kadang tak perlu kita mengedepankan simbol dan bentuk. Yang penting adalah esesi dan hakikat.

 

 

[1] Al-Adab as-Syarat Juz 2. Hal 114.

[2] As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa. Juz 2. hal 200

[3] Mirqatu Shu’udi Tashdiq. Hal 61.

[4] Ayyuhal Walad. Juz 1. Hal 12.

[5] Fiqh Siroh Nabawiy. Juz 1 Hal 92.

Dakwah Damai Bersama Suku Dayak dan Umat Kristiani

LirboyoNet, Pontianak—Selasa siang (15/05) kemarin, ada hal luar biasa terjadi di Kalimantan Barat. Menjelang bulan Ramadan, ribuan manusia berkumpul di tengah lapangan. Mereka berpakaian macam-macam, karena memang latar belakang status mereka beragam. Bukan hanya masyarakat muslim saja yang nampak bergembira siang itu. Ada suku Dayak. Masyarakat Tionghoa. Masyarakat Kristen. Ratusan pendekar Gerakan Silat Muslimin Indonesia (GASMI). Ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna (BANSER). Juga puluhan kendaraan satuan polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Suasana riuh ramai. Mereka semua berkerumun, bercampur aduk. Mereka tak sedang meributkan sesuatu, karena mereka sendiri hidup dalam rasa damai dan tentram. Perbedaan ras, suku, bahkan agama tak membuat mereka berselisih, apalagi berseteru. Lalu untuk apa keramaian itu? Tak lain, mereka sedang menyambut kedatangan saudara-saudara mereka yang telah ditunggu-tunggu sejak lama: empat puluh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Empat puluh santri itu hendak berdakwah di daerah-daerah yang tersebar di Kalimantan Barat. Ada yang ditugaskan ke daerah Tayan. Beberapa ke daerah Ngabang. Yang lain, berpencar ke Sintang, Landak dan Sanggau. Yang paling jauh adalah mereka yang ditugaskan di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong.

Diawali dengan doa oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan, Ketua Umum Pondok Pesantren Lirboyo, delegasi safari Ramadan asal Pontianak resmi diberangkatkan. Para pemuka lintas-agama, kepala suku, dan pemimpin aparat turut merestui keberangkatan mereka.

Seusai doa dipanjatkan, ketegangan yang meliputi bangsa Indonesia akibat teror bom dan tembakan yang terjadi beruntun beberapa hari terakhir ini, leleh dan menguap di langit Kalimantan. Justru kegembiraan akan kehadiran para pendakwah meluap di hati masing-masing dari mereka.

Gembira? Tentu saja. Para santri telah membuktikan diri bahwa mereka adalah pendakwah sejati. Dengan sambutan luar biasa dari bermacam ras dan agama itu, dengan sendirinya menampakkan bahwa dakwah ahlussunnah adalah dakwah terbaik yang bisa dipersembahkan masyarakat muslim kepada bangsa. Dakwah mereka adalah dakwah yang penuh hikmah dan toleran, yang mampu melihat dan menyatukan diri dengan suasana bangsa yang plural dan majemuk.

Ini juga mematahkan persepsi golongan lain, yang berdakwah dengan cara di luar yang dianjurkan ahlussunnah, yakni tasamuh (toleran), tawasuth (moderat) dan tawazun (berimbang).

Terima kasih para tetua suku Dayak, masyarakat Tionghoa, saudara-saudara Kristiani, bapak-bapak aparatur negara, yang telah menyambut kami dengan sedemikian bahagia. Percayalah, kebahagiaan yang ada di hati jenengan semua, menumpuk berlipat di hati kami, keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.][

Kisah-Kisah Santun dalam Berdakwah

Menyeru pada kebaikan tidaklah hanya bermodal wawasan dan ilmu agama semata yang berguna untuk membatasi gerak kita agar tidak sampai berlebihan dan menerjang aturan syara’ dalam berdakwah, akan tetapi masih membutuhkan taktik dan cara lain yang lebih sistemik sehingga bisa lebih menunjang dan mensukseskan sebuah dakwah, dan yang tak kalah penting adalah akhlak, tanpanya dakwah akan hanya berbuntut pada kekerasan dan bahkan akan kehilangan esensinya.

Sebab, seorang penyeru ketika hanya bermodal ilmu saja tanpa di bekali akhlak, ketika dalam prosesi dakwahnya ada dari wibawa, harta atau kedudukannya yang disinggung, maka bisa jadi spirit awal dari dakwahnya yang bertujuan mencari pahala akan beralih pada pembelaan diri sendiri, ada baiknya kita jadikan teladan kisah-kisah orang mulia terdahulu dalam mengajak pada kebaikan.

Suatu saat ada seorang pemuda mendatangi Baginda Nabi saw. Dan berkata dengan polosnya “wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkanku untuk berzina ?” sontak hal ini menyebabkan kericuhan kecil di kalangan Sahabat yang hadir disitu dan beniat hendak berbuat kasar padanya. Tak ingin terjadi keributan, Nabi mengambil alih, dengan lembut beliau bersabda “ bawa pemuda itu kepadaku” pemuda itu mendekat dengan takzim hingga duduk persis di depan Nabi.

apakah kau mau menzinai ibumu” Beliau mengawali, kaget mendengar apa yang di katakana Nabi, pemuda itu menjawab tegas “tidak, semoga Allah melindungiku”.  “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan ibunya” tangkas Nabi. “Apakah kau mau menzinai saudarimu?” dengan jawaban yang sama pemuda berkata “tidak, semoga Allah melindungiku”.

Baginda Nabi membalas “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan saudarinya” pertanyaan Nabi dan jawaban pemuda itu tetap dan terus berlanjut hingga Baginda Nabi bertanya “Apakah kau mau menzinai bibimu?” masih dengan jawaban yang sama pemuda tadi menjawab “tidak, semoga Allah melindungiku” dan Nabi membalas “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan ibunya”.

Setelah itu Baginda Nabi meletakkan tangannya yang mulia ke dada pemuda itu seraya berdoa “ Ya Allah bersihkan hatinya, ampuni dosanya dan jagalah kemaluannya (dari melakukan hal-hal buruk)” setalah kejadian ini, pemuda tersebut menjadi orang paling membeci terhadap perzinaan.

Di ceritakan juga tentang seorang pemuda yang berpapasan dengan Shillah bin Asyim, pemuda  itu  membiarkan jubahnya terurai hingga menyeret di tanah (merupakan perilaku tidak baik), melihat hal ini orang-orang yang melihatnya hendak bertindak dengan kasar padanya untuk mengingatkan.

Namun Shillah bin Asyim mencegah “ tunggu, serahkan urusannya padaku” dengan lembut ia berkata kepada pemuda itu “wahai anak saudaraku (panggilan keayahan), aku ada perlu denganmu” mendengar sambutan hangat ini, dengan lapang dada pula pemuda tersebut mengiyakan “ keperluan apa paman?” “aku ingin kau sedikit mengangkat jubahmu itu” “oh, iya dengan senang hati paman”  iapun sedikit menaikkan jubahnya.

Setelah itu Shillah bin Asyim bekata kepada sahabat-sahabatnya yang tadi berniat berlaku kasar pada si pemuda “kalau kalian tadi bertindak kasar padanya, niscaya ia takkan menuruti permintaan kalian, bahkan ia akan mencaci kalian

Cerita lain tentang seseorang yang memelihara kucing, ia memiliki tetangga bekerja sebagai jagal hewan. Setiap harinya ia meminta sepotong daging pada tetangganya itu untuk makanan kucinya.

Suatu tempo, ia melihat tetangganya tersebut melakukan perbuatan buruk, sebagai seorang muslim sekaligus tetangga yang baik, oleh agamanya ia di anjurkan untuk memberi nasehat. Namun ia melakukan hal yang tak diduga sebelum beranjak memberi nasehat, ia membuang jauh-jauh kucingnya, setelah itu ia pergi menemui tetangganya itu untuk menasehati.

Setelah ia mengutarakan maksudnya, tetangganya yang mungkin merasa telah memberi banyak bantuan kepadanya merasa tersinggung dan berkata mengancam “aku tidak akan lagi memberimu daging untuk makanan kucingmu” ancaman dari tetangganya ini sudah ia duga sebelumnya, sehingga ia membuang kucingnya “aku tidak mengingatkan kebaikan padamu kecuali aku telah membuang kucingku dan berhenti berharap kepadamu”.

Seperti itulah, jika ingin sukses dan  tidak takut dalam berdakwah, selain hal-hal diatas harus terpenuhi, seperti lemah lembut dalam bertindak, juga seyogyanya kita menghilangkan sifat kebergantungan kita kepada makhluk. agar ketika kebergantungan kita di ancam, kita tetap mampu menjalankan dakwah tanpa ada yang menghambat. Selanjutnya hanyalah Allah yang kita harapkan pertolonganNya.

Paradigma Dakwah Islamiah

Urgensitas dakwah dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam merupakan suatu hal nyata yang tidak dapat terbantahkan. Keberadaan dakwah sebagai ujung tombak eksistensi agama Islam menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sebagai salah satu aktivitas yang memegang peran penting dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa diskursus mengenai dakwah banyak ditelaah dan dibahas dalam beberapa literatur klasik maupun kontemporer.

Kata dakwah yang berasal dari literatur bahasa Arab memiliki arti mengajak, mengundang, atau mendorong. Dapat juga dakwah diartikan mengajak ke jalan Allah SWT, yakni agama Islam. Dalam kitab Hidayah al-Mursyidin, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai berikut;

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Pada saat awal mula penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah SAW menjalankan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan samar. Hal ini dilakukan melihat kondisi umat Islam yang masih minoritas dan kekuatan Islam yang masih lemah pada saat itu. Berbeda lagi ketika sudah hijrah ke Madinah, disana Beliau mulai mengembangkan sayap dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Tentu saja hal ini erat kaitannya dengan atmosfer penduduk Madinah yang telah memberikan sinyal positif atas dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW serta keadaan umat Islam yang sudah memiliki kekuatan yang cukup baik apabila ada ancaman yang datang.

Berkaca dari pengalaman Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwahnya, perkembangan dakwah islamiah di masa-masa selanjutnya terus menunjukkan banyak perubahan sesuai keadaan, situasi dan kondisi sasaran yang dihadapinya. Namun pada dasarnya, semua metode dakwah yang ada memiliki pijakan prinsip dan pijakan hukum yang sama, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalannya, dan Dia jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Secara garis besar, para ulama Ahli Tafsir banyak menafsiri kata “bil hikmati wal mau’idhotil hasanati” dengan arti memberi nasihat secara lembut tanpa menyakiti. Strategi ini ditujukan bagi mereka yang masih belum memiliki pemahaman atas syariat Islam. Lebih lanjut, penafsiran kata “wa jadilhum billati hiya ahsan” ditujukan kepada sasaran dakwah yang termasuk golongan yang membantah dan tidak menerima apa yang disampaikan, sehingga Alqur’an mengajarkan bagaimana etika berdebat secara dingin tanpa terbawa emosi yang justru akan menumbuhkan permusuhan dan pertikaian.[1]

Dari pengertian makna kata sendiri, dakwah telah menunjukkan bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan. Karena pada konteks ini, penerapan kata “mengajak” dalam kehidupan nyata lebih cenderung bagaimana seseorang yang menjadi sasaran tersebut menerima dengan apa yang ditawarkan. Apabila lebih mengutamkan cara yang bersifat memaksa, justru hal itu akan membuat seseorang tersebut enggan untuk menerima apa yang ditawarkan kepadanya. Bukankah dakwah itu mengajak, bukan menyepak? Bukankah dakwah itu merangkul, bukan memukul?.

Interpretasi Dakwah di Nusantara

Pluralitas penduduk pribumi merupakan realita yang perlu disadari. Oleh karena itu, mulai awal kedatangannya, dakwah islamiah di Indonesia yang mengusung jargon Islam rahmatan lil ‘alamin lebih mengedepankan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan yang ada. Atas dasar itu pula dakwah yang dilaksanakan oleh para penyebar Islam di tanah air lebih mudah di terima oleh penduduk pribumi.

Pada masa awal masuknya Islam di nusantara, sebagian besar dari para penyebar agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Islam dari Timur Tengah lebih memilih melakukan pembauran dan asimilasi syariat Islam dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Mereka tidak serta merta menolak bahkan menghapus berbagai adat istiadat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melainkan mengarahkannya pada cara yang lebih baik dan diwarnai dengan berbagai praktek yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Strategi ini terbukti berhasil bahwa model dakwah dengan akulturasi budaya sangat cocok dan diterima pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, transformasi sosial masyarakat yang semakin menunjukkan banyak perkembangan sedikit banyak juga telah mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Kemajuan di bidang teknologi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan masayarakat menuntut adanya pembaruan inovasi dan solusi agar produk dakwah yang disampaikan akan tetap diterima sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi yang terus diperbarui. Sehingga bukan suatu hal aneh lagi bila dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sosial yang berkembangsesuai masanya (up to date).

Kejelian dan kepekaan pelaku dakwah dalam mengahadapi sasaran dan medan dakwah sangat diperlukan. Hal ini ditujukan agar mampu memenuhi kebutuhan sasaran dakwah, terlebih lagi melihat medan dan kondisi masyarakat nusantara di era globalisasi saat ini. Sehingga efektivitas dakwah akan membawa hasil dan dampak yang berupa peningkatan keberagamaan dengan berbagai cakupannya yang sangat luas. Selain pendekatan pemenuhan kebutuhan, bagi pelaku dakwah hendaknya menggunakan pendekatan pastisipatif yang menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam proses perencanaan dakwah.

Menurut KH. MA. Sahal Mahfudz, dakwah islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada porsi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan.[2] Disini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang Implementatif yang menjadikan ajaran Islam sebagai alternatif solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya. Sehingga, perubahan sosial masayarakat yang lebih baik sebagai bukti empiris dari buah dakwah dapat dirasakan.

Dengan pemahaman totalitas atas situasi dan kondisi sasaran dakwah yang ada, serta pengamalan metode yang sesuai, diharapkan dakwah islamiah akan semakin menunjukkan kemajuan dari masa ke masa.  Dengan demikian, eksistensi ruh keislaman yang selalu menjiwai masyarakat  akan tetap terjaga dan semakin kuat dalam mengiringi tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa,” (QS. An-Nur: 55). []. waAllahu a’lam.

___________________________

[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 3 hal 103.

[2] Nuansa Fiqh Sosial, hal 122, LkiS.