Tag Archives: NKRI Harga Mati

33 Tahun Mondok ‘Hanya’ Dapat 8 Ilmu?

Hatim al-Asham, seorang wali agung suatu ketika ditanya oleh guru besarnya, Syekh Syaqiq al-Balkhy.

“Sejak kapan kau belajar kepadaku di sini?”

“Sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu” jawab Hatim.

“Diwaktu selama itu, apa saja yang kau pelajari dari ku?”

“Ada delapan hal”

Deg, gurunya kaget. “innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ku habiskan umurku bersamamu dan kau hanya mendapatkan delapan macam ilmu?.”

“wahai guru, benar, aku tidak mengetahui apapun kecuali itu. Aku tidak suka berbohong.” Wali Hatim serius.

“baiklah, sampaikan hal itu agar aku bisa mengetahuinya.”

“Ku lihat manusia.” Hatim mulai bercerita panjang. “semua dari mereka mempunyai kecintaan terhadap sesuatu, dan berharap di kubur ia akan tetap dengan apa yang ia cintai. Ternyata setelah sampai di kubur, apa yang ia cintai meninggalkannya sendiri. Maka aku jadikan amal kebaikan sebagai sesuatu yang kucintai, agar saat aku dimasukkan ke liang kubur, apa yang kucintai itu mau masuk bersama, tidak meninggalkanku.”

“Engkau benar, Hatim.” Gurunya manggut-manggut. “lalu apa yang ke-dua?.” Tidak sabar.

“Ku angan-angan sebuah firman Allah swt. yang berupa :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (Q.S. An-Nazi’at : 40)

“aku yakin kebenaran firman Allah ini. Maka ku paksa diriku dengan sekuat tenaga agar mengikuti kehendak nafsu. Sehingga ia teguh dalam ketaatan kepada-Nya.”

“Ke-tiga, ku angan-angan perilaku makhluk, ku lihat masing-masing dari mereka memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai harga diri dan martabat, ia menjaga dan mepertahankannya. Lalu ku angan-angan firman Allah :

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ

Artinya : “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl : 96)

“Maka saat ku dihadapkan kepada sebuah hal (kebaikan) yang dirasa mempunya keberhargaan, akan ku dedikasikan ia hanya kepada Allah, agar utuh dan kekal terjaga di sisi-Nya.”

“Ke-empat, kulihat semua manusia menjadikan harta, kedudukan dan nasab sebagai pertimbangan utama (pada banyak hal), setelah kuangan-angan, sejatinya semua itu tidak mempunyai arti sedikitpun. Lalu kurenungkan pula firman Allah :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (Q.S. Al Hujurat : 13)

“Maka kutingkatkan ketakwaanku hingga bisa kurai kedudukan mulia di sisi-Nya.”

“Ke-lima, kulihat manusia saling mencela dan mencaci diantara mereka. Penyebabnya adalah sifat hasud. Lalu kurenungkan firman Allah :

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (Q.S. Az-Zukhruf : 32)

“Kujauhi sifat hasud dan kujauhi makhluk, aku yakin disisi-Nya lah pembagian yang terbaik, maka tak kugubris permusuhan orang-orang kepadaku.”

“Yang ke-enam, kulihat makhluk diantara mereka saling berbuat zalim, lalu aku merujuk pada sebuah firman-Nya :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)” (Q.S. Fatir : 6)

“Maka hanya permusuhan setanlah (yang benar-benar kuanggap sebagai permusuhan). Kumaksimalkan diriku dengan mengambil jarak darinya. Karena Allah bersaksi bahwa setanlah musuh sejatiku. Kuacuhkan permusuhan makhluk kepadakku.”

“yang ke-tujuh, kulihat sebagian dari manusia berjerih payah agar bisa mendapatkan sesuap nasi, hingga rela kekakukan hal yang menghinakan diri dan mengambah jalan yang tidak dihalalkan baginya. Lalu kurenungkan firman-Nya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Q.S. Hud : 6)

“aku menyadari sepenuhnya, bahwa diriku termasuk dari binatang melata (yang disebut dalam ayat) yang dijamin rizkinya oleh Allah. Maka kusibukan diriku dengan melakukan amal yang diwajibkan kepadaku hanya untuk Dia semata, dan kubiarkan jatahku di sisi-Nya.”

“ Yang ke-delapan, kulihat manusia memasrahkan urusannya kepada orang lain, kebun ini ia pasrahkan kepada dia, bisnis ini ia pasrahkan kepada dia, orang ini ia suruh mengontrol dan menjaga kesehatannya. Orang ini ia suruh menjaga pekerjaan ini dan itu. Lalu aku merujuk dalam firman-Nya :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya :”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq : 3)

“Maka aku tawakal kepada Dzat yang agung, Ia yang akan menyukupiku.”

Panjang lebar Hatim menceritakan delapan poin ilmu yang ia dapatkan dari sang guru selama 33 tahun mondok kepada beliau. Sang guru semakin kagum.

“Hatim, semoga Allah memberimu pertolongan, sungguh kurenungi ilmu-ilmu yang ada dalam kitab Taurat, Injil, Zabur hingga al-Qur’an. Dan kesimpulanku mengatakan bahwa keseluruhan dari bermacam-macam kebaikan berputar pada delapan kesimpulanmu itu. Siapapun yang mengamalkan delapan perkara ini, maka ia telah mengamalkan (ajaran yang ada dalam) empat kitab suci terbebut.” Pungkas sang guru menyimpulkan pembicaraan mereka berdua. [N.A.]

Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan

Keabsahan ideologi Pancasila yang telah berdiam di tengah bangsa Indonesia sejak lampau kala, akhir-akhir ini terus digugat dan dipertentangkan. Butir-butir sila, juga penerapannya dianggap terlampau jauh dengan konsep yang telah ditata oleh agama, dalam hal ini Islam, sebagai agama terbesar di Indonesia. Agama yang dibawa oleh manusia sempurna, al-insan al-kamil, Nabi Muhammad saw., adalah agama yang sempurna pula. Karenanya, menurut para penggugat itu, seluruh perikehidupan manusia sejatinya harus merujuk kepada dua sendi agama: Alquran dan hadits.

Sementara, apa yang telah menjadi keputusan bangsa Indonesia untuk memeluk Pancasila sebagai ideologi kebangsaannya, masih menurut mereka, tidaklah sesuai, bahkan bertentangan dengan teks yang ada dalam dua sendi itu. Banyak hukum syariat, semacam had dan qishash, tidak mampu dilaksanakan oleh negara. Mereka mendakwa bahwa apa yang sedang dianut bangsa ini adalah kesalahan fatal. Mereka merujuk pada ayat Alquran:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

 “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

 “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (QS. Al-Maidah: 45)

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)

Ayat-ayat yang berderet ini, terucap dalam ayat-ayat yang beruntun, menurut mereka adalah dalil shahih untuk menyatakan Pancasila sebagai ideologi yang salah, bahkan sesat (thaghut).

Namun, apakah Pancasila sesesat itu? Lantas bagaimana sejatinya bentuk negara yang diwajibkan syariat? Lalu, apakah para ulama dahulu, yang lebih memilih menukarkan tanah air ini dengan darah dari pada jatuh ke tangan penjajah, dianggap menumbuhkan kesesatan?

Para intelektual alumni santri Lirboyo, yang tergabung dalam tim bahtsul masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), berusaha meluruskan penggugatan dan pertentangan ini.  Dengan buku berjudul “Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan Ditengah Kebhinekaan”, Mereka membawa tema keabsahan NKRI, terminologi Amr Ma’ruf Nahi Munkar, dan isu toleransi dengan pola kajian yang rinci dan terang. Akan banyak ditemukan kutipan-kutipan panjang dari kutub mu’tabarah (kitab-kitab terpercaya) demi memperkuat tiap keputusan yang ditulis. Juga akan diungkapkan penjelasan rinci dalil-dalil yang sering digunakan para penggugat, yang ternyata salah ditafsirkan, bahkan cenderung mengungkap fakta sebaliknya.

Buku ini mengantarkan anda pada pemahaman bahwa NKRI sejatinya adalah lahan dakwah yang akomodatif: sebuah jalan tengah yang justru berpegang teguh pada sunnah (ketetapan agama). Sebuah bumi yang sepatutnya kita cintai, hingga pada akhirnya muncul kehidupan yang damai dan penuh berkah. Yang mana, kedamaian – sebagaimana menurut Imam Fakhr al-Râzi—adalah nikmat terbesar dan media untuk menggapai maslahat dunia akhirah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr.

______________________________

“Empat pilar bangsa, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah peninggalan para masyayikh Nahdlatul Ulama, termasuk pula masyayikh Lirboyo, sebagai upaya terbaik mencapai kemashlahatan agama, bangsa dan negara. Mari kita jaga dan rawat dengan baik, jangan sampai perjuangan para sesepuh kita sia-siakan. Maka buku ini sangat penting dimiliki dan dibaca, khususnya bagi para santri yang dituntut tidak hanya menguasai kitab kuning, namun juga harus melek terhadap wawasan kebangsaan agar dapat menerapkan ilmu agama dengan maksimal di tengah kemajemukan negara Indonesia.”

KH. M. Anwar Manshur.

______________________________

“Buku ini sedianya merupakah hasil Bahtsul Masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) beberapa waktu lalu. Para mushahih dan perumus LBM berkumpul untuk mendiskusikan dan menyempurnakan hasil bahtsul masail itu hingga beberapa pertemuan. Untuk itu, apa yang ditulis dalam buku ini insya allah sudah melalui pertimbangan matang, dengan mengedepankan tahqiq dan tathbiq ibarat-ibarat ulama yang sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.”

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

______________________________

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan

Pengantar: KH. Maimun Zubair

Mushahih:

  1. KH. Athoillah Sholahuddin Anwar
  2. KH. Romadhon Khatib
  3. KH. Azizi Hasbullah
  4. KH. Ali Musthofa Sa’id
  5. K. A. Fauzi Hamzah
  6. K. Anang Darun Naja
  7. KH. Ibrahim Ahmad Hafidz

Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL

  1. KH. Zahro Wardi
  2. KH. Ridhwan Qoyyum Sa’id
  3. K. Saiful Anwar
  4. K. Thohari Muslim
  5. Agus HM. Adibussholeh Anwar
  6. Agus HM. Sa’id Ridhwan
  7. Agus H. Aris Alwan Subadar
  8. Agus Arif Ridhwan Akbar
  9. Agus M. Hamim HR.
  10. Agus Abdurrahman Kafabihi
  11. Agus M. Syarif Hakim An’im
  12. Ust. Najib Ghani
  13. Ust. Ahmad Muntaha AM.
  14. Ust. M. Mubassyarum Bih
  15. Ust. M. Khotibul Umam
  16. Ust. Ali Zainal Abidin

 

Editor: Ahmad Muntaha AM

Page; Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm

Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL

ISBN: 978-602-1207-99-0

Harga: Rp 22.000

Pemesanan: 0856-4868-4677

Lautan Nahdliyin Mengetuk Pintu Langit

LirboyoNet, Sidoarjo — Istighotsah adalah cara terbaik bagi umat Islam untuk berperan dalam menciptakan suasana negara yang damai dan tentram. Para kiai, santri, dan unsur masyarakat Islam lainnya wajib meyakini kekuatan muslim tertinggi: al-du’â silâhul mukmin. Doa adalah senjata masyarakat Islam yang paling ampuh. Maka sudah barang tentu muslim menggunakannya di setiap hajat peperangan apapun, termasuk dalam memerangi kekuatan-kekuatan musuh dâkhiliyyah dan khârijiyyah, musuh dari dalam tubuh, juga supremasi kekuatan di luar kelompok masyarakat Islam dan negara.

KH. Hasan Mutawakkil Alallah, ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, menegaskan ini di sela-sela acara Istighotsah Kubro Hari Lahir ke-94 Nahdlatul Ulama di Sidoarjo, Ahad pagi (09/04). Beliau menilai, doa bersama adalah kesempatan terbaik bagi umat Islam, terutama nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama), untuk memperlihatkan dukungan yang besar bagi keselamatan dan kedamaian bangsa. “Kita beristighotsah untuk menunjukkan bahwa inilah cara Islam mewujudkan kedamaian bangsa. Bukan dengan cara-cara yang anarkis dan keras,” tutur beliau yang juga alumnus pondok pesantren Lirboyo ini. Istighotsah ini juga menunjukkan kepada dunia luar bahwa Islam dalam segala aspeknya, baik ketika berada dalam kondisi nyaman maupun sedang berada dalam tekanan berat seperti akhir-akhir ini, selalu mengedepankan cara berpikir dan cara bertindak yang adem dan menyejukkan.

“Pagi ini, kita berhasil menunjukkan kepada bangsa Indonesia, bahwa nahdliyin berada di garda terdepan untuk turut menyejahterakan bangsa. Di sini, bukan hanya ratusan ribu nahdliyin berada di tengah-tengah Gelora Delta Sidoarjo. Tapi Gelora Delta lah yang berada di tengah lautan nahdliyin,” ungkap beliau diikuti gemuruh sorak sorai peserta istighotsah.

Menilik foto yang beredar di beberapa media, dari acara yang bertemakan “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh” ini memang terlihat jamaah istighotsah dengan pakaian serba putih menyemut, ‘mengepung’ stadion kebanggaan warga Sidoarjo. Itupun, ungkap KH. Hasan Mutawakkil, masih hanya sebagian kecil dari warga nahdliyin Jawa Timur secara keseluruhan. Karena berbagai lapisan organisasi Nahdlatul Ulama yang berada dalam naungan PWNU, baik PC (pengurus cabang), MWC (majelis wakil cabang), hingga ranting NU memohon maaf karena tidak bisa mengikuti istighotsah bersama ini. “Para jamaah kami banyak yang tidak bisa berangkat. Mereka telah kehabisan armada kendaraan. Sudah tidak ada perusahaan bis maupun p.o. kendaraan lain yang mampu mengantarkan mereka. Seluruhnya telah habis.” Memang, dari pantauan redaksi LirboyoNet, banyak PAC maupun MWC yang gagal berangkat karena kesulitan mencari armada. Dari MWC Pandaan, Pasuruan saja, mereka membutuhkan sembilan bus untuk mengangkut jamaah mereka. Dari satu pesantren di Mojosari, Mojokerto saja, sudah membutuhkan banyak sekali kendaraan untuk mengantarkan tujuh ratus santrinya.

Bagaimana dengan Lirboyo? Tidak kurang dari tujuh ratus santri mengisi penuh enam bus dan tujuh truk tentara. Mereka ‘hanya’ terdiri dari sebagian siswa tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Itupun tidak semuanya. “Setiap angkatan, setidaknya mendapat jatah 240 kursi,” tutur Ade Harits, siswa yang juga menjadi salah satu panitia pemberangkatan.

[ads script=”2″ align=”right”]

Sebelum istighotsah dibaca beramai-ramai, terlebih dahulu dibacakan maklumat PWNU Jawa Timur oleh KH. M. Anwar Iskandar, salah satu wakil Rois Syuriah PWNU Jatim. Salah satunya adalah “Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini.” Bagaimana tidak, menjaga kedaulatan negara adalah salah satu bentuk ikhtiar umat Islam yang paling penting untuk menjaga kontinuitas dalam menabur kebaikan dan nilai-nilai Islam di bumi, terutama bumi Nusantara. Umat Islam Indonesia berkewajiban untuk menghindarkan negara dari pudarnya rasa kepercayaan penghuninya terhadap semua unsur negara dan pemerintahannya.

Setiap masyarakat Islam Indonesia hendaknya memaklumi ini. Karena menyebarkan Islam yang damai, teduh, mengayomi, adalah perwujudan dari Islam yang “rahmatan lil alamin”. “Salah satu ikhtiar besar Islam (untuk mewujudkan kondisi itu) adalah hifdz al-daulah, menjaga kedaulatan NKRI. Keutuhan dan persatuan Indonesia adalah tanggungjawab setiap warga NU,” tegas Gus Anwar, yang juga satu almamater dengan KH. Hasan Mutawakkil Alallah.

Turut hadir Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma’ruf Amin. Dalam amanat yang beliau sampaikan, tugas nahdliyin adalah menjaga bangsa, umat dan negara dari berbagai masalah. “Kita hari ini hadir untuk mengetuk pintu langit. Memohon berkah pada sang Kuasa untuk menyelamatkan bangsa ini dari gangguan-gangguan yang tersebar dari dalam dan luar (tubuh negara dan agama).”

Beberapa hari sebelum hadir di Sidoarjo, beliau bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Beliau memberitahukan bahwa PWNU Jawa Timur akan melaksanakan hajat kubro demi keutuhan negara. “Presiden terharu, dan memang inilah yang harus dilakukan oleh umat Islam. Harus mendukung negara melalui upaya-upaya batiniah,” tutur beliau. Kemerdekaan adalah rahmat, dan mempertahankannya adalah bentuk dari merawat rahmat itu.

Hari itu, tutur beliau, menjadi saksi bahwa kiai adalah sosok yang sangat besar perannya dalam menyelamatkan negara. “Kiai tidak hanya sibuk mencetak santri dan kiai mumpuni, tetapi juga berdoa secara konsisten demi keselamatan bangsa.” Para kiai dan ulama selalu hadir dalam upaya-upaya kebangsaan, dengan mengharap perolehan rahmat dari sang Cahaya di atas Cahaya.

Tidak jauh-jauh, salah satu buktinya adalah apa yang dilakukan pesantren Lirboyo. Beberapa bulan terakhir ini, para santri, terutama kelas Tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, terus dikerahkan untuk membaca aurad-aurad (bacaan wirid) tertentu setiap harinya. “Kami mendapat instruksi ini dari beliau KH. M. Anwar Manshur langsung. Beberapa bulan terakhir ini, setiap malam selepas sekolah kami membaca hizib nawawi dan hizib nashar. Beliau benar-benar mengharap santri untuk ikut ikhtiar dalam mendinginkan situasi negara dengan senjata kami, yakni doa,” tukas Anas Lauhil Mahfudz, salah satu pengurus kelas Tiga Aliyah.

Mari bersama mewujudkan Indonesia yang damai dan berdaulat, dengan terus berupaya dari segala aspek yang kita bisa. Karena dengan ikhtiar yang simultan dari berbagai lapisan masyarakat, sesuai apa yang ditekankan Rois ‘Am PBNU, sekecil apapun amal jika disatukan dengan rahmat Allah, dengan doa yang terus dipanjatkan, akan menjadi besar. Senjata ini akan melipatgandakan impact dan pengaruh ikhtiar lahiriah kita, sehingga bisa berguna bagi kemaslahatan nusa dan bangsa.][

Keramahan Agama Islam

Mudah saja mendefinisikan agama sesuai dengan persepsi masing-masing. Agama secara luas bisa bermakna “berbagai hal”, bagi setiap individu. Ada yang mendefinisikan agama dengan deskripsi singkat, “sebuah kebutuhan”. Ada yang mendefiniskan dengan ramah, “ajaran yang membawa kepada ketenangan dan tujuan hidup”. Tapi ada juga yang mendefinisikan dengan marah, “sebuah candu”.

Terlepas dari semua definisi dan ta’rif, agama memiliki nilai sakral yang sangat mendalam. Bagaimana tidak? Agama merupakan simbol kehidupan. Lebih tepatnya hampir semakna dengan itu. Setiap insan pasti dipertanyakan akan “apa agamamu?”. Pertanyaan itu kurang lebih sama dengan pertanyaan “apa dan bagaimana cara hidupmu?”, sebab agama secara berkesinambungan memiliki watak khas masing-masing. Memiliki ajaran dan ciri khas masing-masing. Semua itu tak jauh-jauh dari “mengatur hidup dan sikap hidup”.

Lebih lanjut, agama juga akhir-akhir ini menjadi semacam “sekat” untuk menghalangi kehidupan sosial. Sebagai seorang Indonesia yang masih banyak percaya mitos, agama yang berbeda seolah sudah membuat orang enggan “berjabat tangan” dan menjalin kerjasama. Apapun itu, baik itu ekonomi, ataupun bermasyarakat. Padahal tidak pernah ada cerita, islam melarang kaum muslimin menjalin kerjasama dengan non muslim. Mu’amalah dan berdagang dengan mereka mutlak diperbolehkan dan hukumnya sah secara fikih. Atau jika kita menelisik dalam aturan kepedulian sosial, bila ada seorang kafir dzimmi yang mati, dan tak ada orang yang mengurusi jenazahnya, hukumnya menjadi fardhu kifayah bagi seorang muslim untuk turut mengkafani dan menguburkan mereka.

Kita tentu ingat Perjanjian Aelia (ميثاق ايليا). Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Khalifah Umar Ibn Khattab RA dengan umat Nasrani di Negri Yerussalem. Dinamakan Perjanjian Aelia, karena perjanjian tersebut ditandatangani di tanah Aelia, nama kuno kota Yerussalem. Berikut kutipan isi perjanjian tersebut,


بسم الله الرحمن الرحيم

هذا ما أعطى عبد الله عمر أمير المؤمنين أهل إيليا من الأمان. أعطاهم أماناً لأنفسهم وأموالهم ولكنائسهم وصلبانهم وسقيمها وبريئها وسائر ملتها.أنه لا تسكن كنائسهم ولا تهدم ولا ينتقص منها ولا من حيزها ولا من صليبهم ولا من شئ من أموالهم، ولا يكرهون على دينهم ولا يضار أحد منهم ولا يسكن بإيليا معهم أحد من اليهود

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Inilah yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, pemimpin orang-orang yang beriman, kepada penduduk Iliya. Ia adalah jaminan keamanan. Umar memberikan jaminan keamanan/perlindungan hak hidup, hak milik harta, bangunan-bangunan gereja, salib-salib mereka, orang-orang yang lemah,orang-orang merdeka dan semua pemeluk agama. Gereja-gereja mereka tidak boleh diduduki, tidak dihancurkan, tidak ada hal-hal (sesuatu) yang dikurangi apa yang ada dalam gereja itu atau diambil dari tempatnya; tidak juga salibnya, tidak harta benda mereka, penduduknya tidak dipaksa untuk menjalankan keyakinan agama mereka dan tidak satu orangpun yang dilukai. Dan di Aelia tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka.”[1]

Perjanjian Aelia menggambarkan bentuk keramahan dan toleransi islam akan pemeluk agama lain. Dibawah kekuasaan islam, kota Yerussalem makmur dan setiap orang tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Pemeluk agama Nasrani tak ada yang diganggu. Bahkan mencuri salib di gereja mereka saja termasuk menyalahi perjanjian. Mereka yang hendak keluar dari Yerussalem menuju negeri Romawi juga akan dilindungi. Adakah sikap dan kebijakan seperti ini salah? Jawaban yang tidak perlu, sebab perjanjian ini dibawah kuasa salah satu sahabat Nabi yang paling dekat dengan beliau. Paling zuhud, dan paling memiliki keluasan ilmu.

Dalil yang lebih tegas lagi adalah firman Allah SWT. Termaktub dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9) الممتحنة: 8، 9

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (8) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang yang zalim. (9)” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Betapa tegasnya perintah menjaga kerukunan, walau antar umat beragama juga tercurah dalam sebuah hadis nabi. Makna tersirat yang mendalam seakan tertuang kala beliau marah besar waktu itu. Ada seorang muslim yang membunuh seorang kafir dzimmi di tengah-tengah pasar kota Madinah. Imam Al-Bukhôri sendiri telah merangkum satu bab khusus tentang hadis Nabi Muhammad SAW yang paling valid, menjelaskan tentang dosa membunuh kafir dzimmi secara lalim.


– حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الحَسَنُ، حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
[2]»

“Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Umar RA. Nabi pernah bersabda: Barang siapa yang membunuh seorang mu’ahad, maka ia tak akan mencium bau surga. Dan bau surga akan ditemukan sejak jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhori)

Ahmad Mursi Husain dalam Maqoshid Al-Syar’iyyah fi Al-Islam menulis, “Berbuat baik dan berlaku adil merupakan dua hal yang harus dilaksanakan seorang muslim kepada sesama manusia dan kepada ahli kitab. Orang-orang non muslim memiliki kedudukan khusus dalam mu’amalah dan undang-undang atau peraturan. Adapun yang dimaksud dengan ahli kitab adalah mereka yang melaksanakan ajaran agama sesuai dengan kitab samawi.”[3]

Pada akhirnya, anjuran untuk teguh menjaga kerukunan antar umat beragama juga kita bawa hari ini. Negeri Indonesia yang meenampung berbagai pemeluk agama seharusnya mampu mencontoh kota Madinah. Kota tempat wafatnya Nabi tersebut selalu memprioritaskan menjaga kesatuan. Perbedaan agama tidak lantas menjadi semacam sekat yang menghalangi penduduk meningkatkan kemakmuran, membangun kesejahteraan, apalagi sebagai pemicu pertikaian. Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pula mewanti-wanti, ketika Indonesia dulu masih labil bentuk konstitusinya. Indonesia waktu itu masih dalam bayang-bayang penjajah.

Telah dimaklumi bahwa manusia niscaya berkumpul, bercampur dengan yang lain. Sebab tak mungkin seorangpun mampu sendirian memenuhi segala kebutuhan–kebutuhannya. Maka mau tidak mau ia harus bermasyarakat dengan cara yang dapat membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak ancaman bahaya darinya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama dan kebersamaan dalam satu kata adalah sumber paling penting bagi kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi terciptanya persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh[4]

Beliau juga telah membaca dan memprediksi, akan pentingnya menjalin kerjasama dan mengesampingkan perbedaan. Lebih-lebih hal itu menjadi pangkal perpecahan. “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran, kemacetan, sumber keruntuhan, kebinasaan, penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka. Bisanya menjalar meracuni hati mereka dan setanpun melakukan perannya. Mereka kucar-kacir tak karuan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan”.

Sejenak, mari kita renungkan arti penting meneguhkan NKRI, dan membawa NKRI ke arah yang lebih baik, dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

 

[1] Rujuk Ibn Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1997, jilid II, hlm. 449

[2] Rujuk, shahih Bukhari, hadis ke 6914

[3] Rujuk Ahmad Mursi Husain, Maqoshid Al-Syar’oyyah fi Al-Islam. Terj Kuwais. Amzah. Hal 7.

[4] Rujuk Muqaddimah Qanun Asasi.

Memperkenalkan kembali Pesantren, Aswaja, dan Nasionalisme

LirboyoNet, Kediri –Penanaman kembali ideologi ahlussunnah wal jamaah menjadi begitu penting akhir-akhir ini. Terutama, ketika melihat fakta bahwa banyak alumnus pesantren, yang mendapat ajaran dan maqalah-maqalah bijak masyayikh (para kiai) saat masih mesantren, kini justru berjalan dan berjuang di jalan yang bertentangan dengan ideologi yang bertahun-tahun diterimanya itu.

Fakta ini diungkap oleh Ahmad Muntaha AM, salah satu anggota Tim Aswaja Center PWNU Jawa Timur dalam pengenalannya akan buku “Khazanah Aswaja” di depan ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo. Berawal dari kegeraman akan fakta inilah, kemudian menjadi salah satu dasar bagi Tim Aswaja Center untuk “menyeduh” kajian-kajian pemahaman bernafas ahlussunnahyang dapat dinikmati khalayak muslim Indonesia yang kemudian berwujud sebuah buku tebal.

Dalam “seduhan buku Khazanah Aswaja” yang ada di hadapan para peserta itu, telah terpapar dengan jelas sejarah berikut analisa kasus seputar ahlussunnah, terutama perseteruannya dengan tawaran ideologi dari firqah lain.”Sangat banyak firqah yang berusaha mengacaukan ajaran ahlussunnah. Puncak usaha mereka, firqah apapun itu, ingin menanamkan ajaran tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat (yang sangat terlarang bagi akidah aswaja). Pada intinya mereka ingin akidah pengikut aswaja menjadi buram,” jelas pria yang juga alumnus Ponpes Lirboyo ini.

Yang marak terjadi dewasa ini adalah usaha untuk menanamkan jargon “kembali ke Alquran dan Hadits” ke dalam mindset muslimin Indonesia. Mereka mengajak untuk meninggalkan kitab-kitab salaf dan pendapat-pendapat ulama. Alquran, kata mereka, adalah kalam Allah, yang terjaga keasliannya dan pasti benar apa yang dikandungnya. Sementara ulama adalah manusia, makhluk yang tak lepas dari kesalahan. “Sampean pilih mana, Alquran yang ma’shum (terjaga) atau kitab-kitab yang dikarang makhluk yang tak lepas dari dosa?” tuturnya menirukan jargon yang sering mengemuka di instansi pendidikan tinggi itu. “Yang mengherankan, banyak santri yang tergerus jargon ini. Bagaimana bisa? Wongpara kiai, masyayikh dan pesantren tidak pernah meninggalkannya (Alquran dan Hadits), kok kita diajak kembali. Kembali ke mana?”

Syaikh Ramadlan Al-Buthi, sebutnya, bahkan menilai jargon ini sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akhtha’u al bid’ah. Seburuk-buruk bid’ah. Karenanya, para santri harus sangat berhati-hati. Propaganda yang dilakukan sudah begitu masif, tidak hanya oleh satu-dua kelompok, namun sudah menjamur dan dilantangkan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat. “Biasanya, mereka merujuk pada persoalan-persoalan besar negara yang tidak terpecahkan. Ekonomi yang buruk, itu karena (kita percaya pada konsep) Pancasila thaghut (sesat). Obatnya apa? Khilafah. Politik yang tidak kunjung adem, obatnya apa? Khilafah. Apa-apa khilafah. Sampai-sampai ada guyonan, panu di punggung obatnya apa? Khilafah.”

Penjelasanini kemudian mengundang pertanyaan dari Isrofi, salah satu peserta kelas tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. “Bukankah alasan-alasan mereka ada di dalam nash? Dan bukankah itu, dengan merujuk bahwa Alquran dan Hadits adalah kabar yang pasti benar,jelas bisa diterima?”

Ahmad Muntaha dalam menjawab kegundahan ini kemudian merujuk pada satu kisah, bagaimana KH. Maimun Zubair, Sarang, pada suatu ketika membacakan kitab di depan para santri. Saat sampai pada teks-teks yang menelaah kekerasan dalam Islam, beliau berujar, “Yo ngunu kui kitab, cung (ya begitu itu teks kitabnya, cung)”. Artinya, nash yang kita baca tidak bisa sertamerta dapat dipahami sekilas, lalu diterjemahkan apa adanya. Satu maqalah arif mengatakan, “an-nash syai’un, wa tadbiruhu syai’un.” Dalil nash adalah sesuatu, sementara pemahaman dan pembicaraan mengenainya adalah sesuatu yang lain. Perlu melihat faktor-faktor lain sebelum merubah nash itu menjadi sebuah keputusan.

“Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari) saat kukuh mendukung NKRI apa tidak tahu ayat itu? Itulah perlunya penalaran lebih dalam mengenai dalil-dalil nash, terlebih jika ingin melakukan tindakan yang subversif seperti akhir-akhir ini,” terangnya.

Di akhir pembicaraan, Muntaha menegaskan bahwa saat ini diperlukan santri-santri yang berjiwa militan dalam memperjuangkan ahlussunnah. Para masyayikh sangat berharap tumbuh para santri yang tak kenal lelah berjuang dan berkiprah di berbagai bidang, terutama lewat budaya literasi. Karena dengan semakin intensifnya karya tulis santri lahir, keutuhan NKRI dan kelestarian agama Islam dapat terus diabadikan.][